
Malam harinya, sesuai perkataan Nisa, Nisa akan lebih sering menelpon Dhika. Ia akan lebih perhatIan agar permintaan maafnya diterima oleh Dhika.
Kali ini Tuan Dhika tidak ingin dipanggil Tuan. Aku coba trlpon dIa dulu deh.
sambil memegang dadanya yang berdegup kencang, Nisa memberanikan diri untuk menelepon Dhika.
“halo Kak Dhika”
“aku bukan kakak mu. Ku tutup.”
Jawab Dhika singkat dengan suara yang serak
Nisa bingung, harus memanggil Dhika apa. Tak lama, Ia mencari sebutan nama yang tepat di internet. Namun saat itu juga telpon Nisa bergetar
Tuan Radhika
“aduh, aku belum dapat sebutan yang dIam au, dIa sudah telpon lagi” gumamnya panik
“ha.. halo.. Tuan?”
“sudah saya bilang saya bukan Tuan mu”
“saya binging harus panggil apa”
“apa tadi kau panggil saya?”
“kak”
“ganti”
__ADS_1
“Tuan?”
“kau tidak punya telinga?”
“om?”
"aku tidak setua itu"
"um.. mas?"
Dhika terdIam. Ia bingung di panggil mas, pasalnya dIa orang sunda (wkwkwk). Tapi DIa rasa mas tidak buruk.
“iya” jawab dika setelah berpikir panjang
“oke, mas Dhika, hehe”
Entah kenapa jantung Dhika terasa berdetak lebih kencang
“ko dek sih, emang aku adeknnya mas?”
“tapi kau jauh lebih muda dariku” dhika mengejek nisa
“kalau begitu, apa mas mau aku panggil om?” kesal Nisa. Nisa tidak sadar sebenarnya pangilan "dek" itu adalah salah satu ungkapan rasa sayang versi Dika.
“jangan berani kau, Nisa Aksani Damar” ucapnya sambil tertawa kecil.
“hehehe, mas sehat?”
“tidak, kau tidak dengar suaraku hampir habis?”
“oh tuhan, apa Mas baik-baik saja? Mas harus makan makanan yang sehat,
__ADS_1
beli lah madu dan jahe. Mas bisa membuat minuman sederhana Pereda serak mas” jawab Nisa penuh perhatIan
"Aku sudah cukup perhatIan kan?" Tanya nisa dalam hati
“entahlah, disini dingin. Salju mulai turun”
“pastikan kau pake jaket tebal ya mas, hangatkan dirimu dalam ruangan. Jangan lupa membawa penghangat tubuh juga, agar mas tetap hangat”
“hei, sejak kapan kau jadi begitu cerewet anak kecil”
“sejak kau bilang kau belum memaafkanku”
Entah mengapa jawaban Nisa tidak terdengar menyenangkan di kuping Dhika.
“apa jika saya bilang saya sudah memaafkanmu, kamu tidak akan perhatIan lagi padauk?
Nisa terdIam, pertanyaan macam apa lagi ini. Mengapa kau begitu sulit dimengerti.
“sudahlah, kau tidak perlu memaksakan diri memberiku perhatIan, aku sudah memaafkanmu”
“tapi..”
“ku tutup.” dika mengakhiri telponnya sedikit kesal
Beep… tanda telpon dIakhiri.
Kau maunya apa sih mas, mengapa kau begitu sulit dimengerti. Nisa yang tadinya semangat menjadi sedikit murung mendengar respons terakhir Dhika yang seperti itu.
Nisa mencoba menghubungi dhika lagi, sebenarnya nisa masih ingin berbicara dengan dika, namun apa daya dika tidak mengagkat telepon tersebut tak peduli seberapa kali nisa mencoba misscall dika
Keesokan harinya dan hari hari berikutnya Nisa tidak menelpon Dhika lagi, Ia sedikit kesal akan respons Dhika. Ia juga berpikir bahwa Ia telah dimaafkan, jadi yasudahlah
__ADS_1
di sisi lain, dika kembali ke pekerjaannya. Dhika sedikit menyesal saat itu tidak mengangkat telpon nisa. ia juga bingung apa yang telah terjadi pada dirinya sampai ia merasa lebih emosional dari biasanya. Rasa cemas mulai menghampiri, namun Dhika mencoba meredamnya dengan mensibukan diri dengan pekerjaan yang setumpuk