
2 minggu berlalu, media diguncangkan dengan berita isu Tuan Mahendra korupsi uang partai. Padahal Dhika sudah membayar semua media, namun tidak dapat dipungkiri, banyak musuh Tuan mahendra di luar sana yang menginginkannya turun dari jabatan ketua umum partai.
Keberadaan Dhika memang tidak diketahui media, yang mengetahui dia anak politikus terkenal hanya beberapa orang termasuk Max dan Asya. Asya yang setiap hari meminta uang pada Dhika pun mulai curiga karena beberapa
kartu yang ia pegang di blokir oleh pihak bank.
“pak, kondisi perusahaan sudah diujung tanduk, saham terus menurun akibat beberapa pemegang saham mencium kecurigaan pada kasus korupsi Tuan mahendra dan gagalnya HOUSE CREATIVE mempertahankan kantor cabang.”
“memang siapa yang berani membocorkan identitasku?” bentak Dhika.Dia yakin sekali keberadaanya tidak akan tercium media kecuali ada yang membocorkannya.
“sa..saya tidak tahu pak. Saya sangat setia pada bapak” ucapnya
terbata bata.
Dhika melonggarkan dasinya, melepaskan kacamatanya dan memukul keras meja yang ada di hadapannya, hingga darah bercucuran dari tangannya. Baru kali ini Dhika merasa tertekan, ia sangat tidak suka dengan pengkhianat apalagi jika sampai identitasnya tersebar di public.
“Max! Kamu cari tahu penyebab semua ini terjadi. Laporakan pada saya 2x24 jam dari sekarang!” suaranya menggelegar mengisi seluruh ruangan.
“2x24 jam? Ba.. baik pak” shit! Emang gaada ampun bos ini. Kalu saja keluarga panti asuhan saya bukan tanggungan pak Dhika, saya tidak akan menyanggupinya. Kesal Max dalam hati
Dhika terdiam dan merenung, ia sudah memprediksi jika sampai 2 bulan depan kondisi ekonomi perusahaan belum stabil, ia harus menjual perusahaan untuk biaya PHK seluruh karyawannya.
**
Malam hari di apatemen Dhika, Dhika sedang menghisap rokoknya sambil memikirkan perusahaannya. Tiba2 suara bel terdengar. Sekali.. dua kali.. Dhika mengabaikannya, karena ia pikir itu bel iseng karena ia tidak memberi alamatnya kepada siapapun termasuk Max. Ia Kembali ke aktifitasnya menghisap rokok. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, pintu apartemen Dhika di dobrak secara kasar.
“selamat malam, pak. Saya dari penyidik polda metro jaya. Mohon izin untuk melakukan penggeledahan”
Dhika masih setengah berdiri dengan rokok di tangannya kebingungan, sedikit panik saat mereka bilang identitasnya adalah dari kepolisisan. Apakah ini akhir bagiku, ketahuan sudah identitasku yang selama ini ku rahasiakan
“Menurut informasi, bapak adalah anak dari Pak Mahendra. Bapak dicurigai memakan uang partai dan bersekongkol dengan Tuan Mahendra. Mohon untuk ikut kami ke kantor” ujar petugas kepolisian itu
Malam itu adalah malam yang Panjang. Langit berawan mulai menitikkan air hujan, juga beberapa petir yang terdengar seolah mereka tidak berpihak kepada situasi sulit ini.
--
2 hari setelah insiden penyergapan, Dhika kemali ke kantor. Dhika menunggu laporan yang di berikan Max untuk membuat strategi tempur kedepan.
Tok tok.. suara dari pintu ruangan presdir terdengar lemah
“masuk” titah Dhika
“selamat pagi pak” Max menunduk tidak berani menatap bosnya.
“bagaimana laporanmu”
“ma.. maaf pak..”
__ADS_1
“TIDAK BECUS KAMU!” teriak Dhika menggelegar. Max memejamkan matanya ketakutan.
“Be.. begini pak, Tuan Mahendra menghubungi saya, beliau menitipkan pertanyaan pada bapak. Beliau bertanya apakah bapak sudah mengambil keputusan dari solusi yang Tuan mahendra berikan?”
Dhika berfikir keras. Hanya itu win-win solution yang ada di kepalanya saat ini.
“beritahu Papa untuk datang ke kantorku sore ini” titah Dhika
“baik pak” Max menurut.
**
Sore hari Dhika sudah menunggu Tuan Mahendra di ruangannya. Dhika melipat tangannya dan menyilangkan kedua kakinya memperlihatkan kondisi yang serius.
Tok tok
“masuk” titah Dhika
Tuan mahendra duduk di sofa dan pengawalnya bediri di belakangnya
“nak, kemarin bapak dapat laporan kamu di sergap kepolisian?”
“sudahlah, saya tidak ingin membahas itu sekarang. Lupakan saja akibat dari kebodohan papa itu”
Tuan mahendra terdiam dengan ekspresi campur aduk,
“begitukah? Syukurlah, pemilik AD Group adalah rekan papa, dan siap membantu, malam ini kita bisa jadwalkan pertemuan. Lebih cepat leih baik bukan?” ujar Tuan mahendra sedikit bersemangat
“hm, terserah lah”
Mereka pergi mengunjungi kediaman CEO AD Group dengan mobil yang berbeda. Sampailah mereka di kediaman Tuan Abimanyu damar secara berpisah pisah.
“siap Tuan!” ucap petugas keamanan rumah Tuan Abimanyu damar disertai hormat
“saya ingin bertemu dengan Tuan Abimanyu” ucap Tuan mahendra
“baik pak, silakan masuk, mari saya antar”
“terimakasih”
Dhika dan Tuan Mahendra di sambut hangat oleh Tuan Abimanyu. Terlihat juga putri Tuan Abimanyu yang duduk dengan wajah tertunduk.
“nak Dhika, senang bertemu denganmu. Saya Abimanyu, rekan golf ayahmu” Abimanyu ramah dan menjabat tangan Dhika
“senang bertemu denganmu juga Tuan Abimanyu” balas Dhika dengan senyum kecil.
Setelah mereka berbincang santai sambil menikmati teh yang telah disiapkan, Tuan mahendra mengutarakan maksud dan tujuannya
__ADS_1
“ekhem, begini Tuan Abimanyu, bagaimana jika kita jodohkan putra putri kita ini. Anak saya adalah anak yang tampan dan jenius, dia juga sudah setuju untuk menikahi putri Tuan Abimanyu” katanya dengan singkat padat
dan jelas.
“wah senang sekali, saya sangat setuju dengan perjodohan ini, iya kan nak” Abimanyu melihat putrinya yang masih menunduk
Abimanyu tidak kalah singkat menjawab tawaran mahendra
“Kalau begitu, bagaimana jika kita selenggarakan pernikahan minggu depan? Kebetulan anak saya pemalu, jadi sepertinya tidak memungkinkan untuk mengadakan pesta pernikahan”
Dhika dan Mahendra lega mendengarnya, teringat kasus Mahendra yang sedang panas tidak mungkin menyelenggarakan pesta pikirnya.
“saya sangat setuju Tuan, lebih cepat lebih baik” tanggap mahendra dengan semangat
Setelah mendapatkan kesepakatan, mereka Kembali mengobrol santai hingga larut malam. Dhika memperhatikan calon istrinya secara diam diam.
Kenapa dia terus menunduk, apakah dia malu?
Dhika terus memperhatikan calon istrinya itu, walaupun dia tidak terlalu memikirkan kurang lebihnya wanita itu, yang dipikirkannya sekarang hanyalah cara membangkitkan Kembali perusahaan.
Tujuh hari kemudian, mereka melakukan akad nikah di kediaman keluarga Abimanyu. Pengantin wanita masih berias, walaupn tidak didandan secara heboh, ia tetap tampil sangat cantik, manis dan menyejukkan hati. Sebelum
melakukan akad, Dhika menghamiri kamar rias pengantin wanita. Ia bahkan belum tahu Namanya.
“hei, saya Dhika, semoga kau tak lupa”
Pengantin wanita itu masih diam
Dhika memperhatikan calon istrinya itu, ia sedikit terpana dengan visualnya.
“ekhem, bukan saya tertarik atau apapun, tapi saya perlu nama lengkapmu untuk akad anti” tanya Dhika sedikit ragu
“Nisa… Nisa Aksani Damar” ucapnya pelan
“baiklah.” Jawab Dhika singkat.
Setelah menunggu penghulu dan saksi, pernikahanpun dilangsungkan secara khidmat. Pernikahan telah sah secara agama maupun hukum. Penghulu memberi beberapa nasihat pernikahan agar kedua mempelai saling menjaga satu sama lain, Bersama dalam setiap kondisi dan menyelesaikannya dengan kekeluargaan dan kasih sayang. Dhika terlihat mendengarkan dengan seksama, namun sebenarnya Dhika tidak terlalu eduli akan
hal tersebut. Dhika juga tidak berharap banyak pada pernikahan, yang dia pikirkan hayalah perusahaan yang ia bangun dengan darah dan keringatnya yang diambang kehancuran.
POV NISA
Nisa adalah cantik berumur 21 tahun. Kulitnya putih pucat, matanya sayu dan bibir mungil. Tingginya hanya 155cm. Sekarang nisa sedang menjalani kuliah, dia memilih jurusan ekonomi Internasional karena memang pintar. Namun, Ia memiliki rahasia yang tidak diketahui pubik, Nisa mengidap gangguan mental social anxiety diamana ia bisa tiba2 menangis, marah, teriak tanpa sebab yang elas. Seperti orang gila, jika dilihat dari paradigma masyarakat pada Nisa.
Nisa adalah anak terakhir dari 3 bersaudara. Kakak2 nya memiliki prestasi yang gemilang. Yang pertama adalah Roy yang merupakan pengusaha yg mengikuti jejak ayahnya. Dan kakak yang kedua adalah Naufal, dia mengabdikan dirinya pada negara. Naufal sekarang baru saja dipromosikan sebagai mayor jendral TNI. Sedangkan
Nisa hidup layaknya orang biasa. Ia adalah wanita cerdas yang memilih menyembunyikan identitasnya, ia juga kerap berpindah sekolah karena kasus pembulian. Ia kerap di buli karena sikapnya yang pendiam dan sering dimanfaatkan untuk uangnya. Ia juga sering di buli karena parasnya yang cantik. Namun, Nisa baru mengalami gangguan mental setelah ibunya tiada 6 tahun lalu. Kemudian ayahnya menikah lagi dengan Nyonya Bella.
__ADS_1
POV END