Suamiku Gila Kerja

Suamiku Gila Kerja
Episode 21


__ADS_3

Nisa Kembali duduk di sofa di ruangan itu. Ia menyantap spagettinya hambar. Sesekali cairan bening keluar


dari matanya. Entah apa yang salah dengannya, iya tidak ingin melihat Dhika. Cukup untuknya, tidak ada harapan.


DIa langsung hentikan pekerjaannya saat pacar dewasanya itu datang. Sedangkan aku dIanggurkan


berjam-jam hanya untuk memintanya makan. Nisa mulai membandingkan dirinya dan Asya. Dari fisik, usIa, cara berbicara dan lainnya. Di bandingkan dengan Nisa, asya jauh lebih mengenal Dhika.


1 jam 30 menit berlalu. 1 jam 30 menit terpanjang dalam hidup Nisa. Dhika memasuki ruang kerjanya lagi. Dan


seperti yang Nisa pikirkan, Dhika langsung membuka laptop, dan bekerja.


Nisa menghampiri Dhika dengan membawa tas kulIahnya.


“mas aku pulang ya..”


“tunggu”


“sampai kapan?”


“kau tunggu saja”


“tidak bisa, aku pulang.” Ucap Nisa kesal


Nisa mendekati pintu. Ia membuka pintu perlahan. Sesaat sebelum pintu terbuka Dhika menahan pintu tersebut.


Sekarang posisi Dhika tepat dibelakang punggung Nisa.


Nisa berusaha keras menahan tangisnya. Ia tidak mau melihat wajah Dhika. Ia sudah tidak akan berharap


apapun darinya. Dhika memperlakukannya dengan baik karena hubungan bisnis perusahaannya dengan perusahaan ayahnya. Ia baru tersadar akan hal itu. Itu bukan hal specIal bagi Dhika.


“Nisa..”


“buka pintunya mas”


“jika berbicara pada seseorang tataplah matanya. Kau kenapa”


Nisa berbalik badan dan melihat Dhika. Matanya berkaca-kaca.


“sIapa yang menyakitimu lagi? Sudah jangan menangis” Dhika mengusap pipi Nisa lembut

__ADS_1


Kamu mas" ucapnya sedih di dalam hati tidak mampu ia ungkapkan


Dhika mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa. Dhika bernIat mencium Nisa. Saat bibir Dhika hampir menyentuh bibir


Nisa, Nisa mendorong bahu Dhika pelan, memalingkan wajahnya.


Nisa menolak ciuman Dhika. Dhika menyiritkan dahinya, saat ini sepertnya ada yang salah dengan Nisa. Dhika tidak bisa berfikir jernih sekarang.


Dhika menarik tangannya dari pintu, melihat ekspresi Nisa yang masih kesal namun matanya berkaca-kaca.


“yasudah, pulanglah.” ucap dhika. dhika merasa ada sesuatu yang salah dengan istrinya itu, namun ia tidak mau mengusiknya lebih lanjut. melihat nisa yang menolak ciumannya menjadikkan dika termenung dan tidak percaya diri


Setelah itu Dhika meninggalkan Nisa begitu saja.


Nisa segera keluar dari ruangan Dhika. Meluncur pulang ke apartemennya.


--


Waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi. Dhika belum pulang ke rumah. Nisa sudah berpikir yang tidak tidak terkait


kejadIan sore tadi antara Dhika dan asya.


Mereka pasti sedang menghabiskan malam bersama. Nisa memikirkan hal tidak-tidak mengenai dhika dan Asya.


hal ini. Nisa hanya kecewa kepada ekspektasinya yang tinggi terhadap Dhika.


Besoknya Nisa melakukan rutinitas yang sama. Ia ke kampus untuk kulIah. Kali ini dIa menggunakan kacamata minus ½ miliknya. Ia ingin menutupi mata sembabnya. Nisa jarang menggunakan acamatanya karena baginya Ia masih bisa melihat dengan jelas. Minusnya sangat kecil.


Ia terheran-heran mengapa rasanya banyak yang memperhatikan Nisa. . Nisa belum mengetahui gossip yang tersebar antara dirinya dan fahmi yang berpacaran.


--


Ia pulang ke apartemen namun Ia tidak mendapati Dhika disana. Rasanya Dhika memang sudah benar-benar


melupakannya. Dhika pun tidak menghubungi nisa sama sekali.


Hari-hari terus berganti. Perlahan Ia sudah mengikhlaskan kepergIan Dhika. Walaupun statusnya suami-istri, nisa


tidak ingin terlibat lebih jauh dengan perasaan, apalagi Ia merasa jika cintanya bertepuk sebelah tangan. Karena usIanya yang masih muda, nisa memang belum cukup memahami makna istri sesungguhnya.


Memecah keheningan malam, suara pintu apartemen terbuka. Benar saja, akhirnya pemilik apartemen ini

__ADS_1


memperlihatkan batang hidungnya.


Nisa sudah jauh terlelap sebelum Dhika datang. Dhika yang kelelahan langsung membaringkan tubuhnya di Kasur sebelah nisa. Ia teringat badanya masih lengket efek kerja seharIan. Ia pun


membersihkan diri tanpa membangunkan nisa.


Setelah selesai mandi dan mengenakan baju santainya, Ia menghamiri nisa yang terlelap. Dalam diri Dhika, Ia


bersyukur memiliki bidadari kecil yang lembut seperti nisa.


Walaupun Dhika bIasa tidur di sofa, kali ini Dhika memutuskan untuk tidur di Kasur. Dhika sudah dalam posisi


tidur menghadap nisa.


Terimakasih sudah membuka pintu hati yang selalu ku tutup. Kamu adalah satu satunya cinta yang tulus. Maafkan


aku yang telah mengabaikanmu. Beri aku sedikit waktu untuk membangun perusahaanku kembali, aku tidak mau bidadari kecilku nantinya hidup dalam kesengsaraan. Aku mencintaimu. Ucap Dhika dalam hati. Ia pun mengecup


kening nisa hangat. Ia pun terlelap.


--


Matahari mulai malu malu memancarkan sinarnya. Nisa yang semalam bermimpi indah, mendapati dirinya tertidur di pelukan Dhika.


Apakah ini mimpi? Nisa masih tidak mau bangun. Terlalu nyaman berada dipelukan sang suami. Nisa memegang


pipi Dhika, mengusap ngusapnya lembut. Dhika masih belum terbangun. Wajah Dhika tanpa kacamata membuat nisa terkagum-kagum. Ia merasa beruntung bisa melihatnya walau untuk waktu yang sebentar saja.


Seandainya ini mimpi, aku tidak apa untuk terus tertidur. Namun, Setelah Ia sepenuhnya tersadar dari


indahnya mimpi. Ia menyadari bahwa Ia tidak seharusnya Kembali berharap. Nisa


sangat paham akan hal tersebut. Ia pun meninggalkan Dhika yang masih tertidur


ke kamar mandi. Ia memulai hari dengan membersihkan dirinya.


Setelah selesai mandi, nisa melihat Dhika masih terlelap. Ia segera membuatkan sarapan untuknya dan untuk Dhika. Selama Dhika tidak ada, nisa memasok bahan baku makanan sendiri. Ia pergi berbelanja sendiri, masak sendiri dan makan sendiri.


Saat ini nisa menunggu Dhika bangun untuk saran Bersama, namun Dhika tak kunjung muncul.


Apa yang ku harapkan?

__ADS_1


Nisa pun mulai menyantap makanannya sendirIan.


--


__ADS_2