
Dhika keluar dari kamar mandi dengan selembar handuk yang melilit pinggangnya. Nisa yang masih berada disitu auto memalingkan muka. Ia meremas remas rok nya yang sekarang sudah kusut. Ia tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“kau istirahatlah, aku akan tidur di sofa seperti bIasa” kata Dhika sambil memakai kaos hitam dan celana tidur
panjangnya.
Dhika baru selesai mandi tentu tidak menggunakan kacamatanya. Rambutnya yang basah pun menambah pesona lelaki Radhika. Selain itu tangan berotot dan perut kotak-kotak menambah poin sempurna. Tanpa disangka, Dhika yang gila kerja ternyata masih bisa menjaga bentuk tubuhnya.
Di saat yang bersamaan Nisa mengangguk cepat setelah mendapat perintah dari Dhika.
Dhika meninggalkan Nisa dan pergi ke sofa yang berada di ruang TV. Ia mulai memejamkan matanya.
--
Pagi harinya Nisa sudah bangun lebih pagi dari Dhika. Ia memesan berbagai makanan dari layanan pesan antar online. Karena apartemen itu sudah lama tidak dihuni, tdak ada bahan mahanan tersisa. Sambil menunggu Dhika, Nisa duduk menunggu di sofa samping Dhika tertidur. Ia memaikan rambutnya. Dengan sabar Ia menunggu. Tak lama kemudIan Dhika membuka matanya. Ia berusaha unuk duduk, namun kepalanya terasa berat. Ia jatuh
tertidur Kembali.
“mas, selamat pagi” kata Nisa, belum sadar Dhika demam tinggi
Dhika mengisyaratkan Nisa untuk mendekat dengan tangannya. Nisa pun mendekat sesuai arahan Dhika. Dhika
memegang tangan Nisa. Lalu Ia meletakkan tangan Nisa di dahinya.
“yaampun mas, panas sekali” Nisa panik
“tunggu mas aku akan ambil kompresan” Nisa bergegas mengambil kompresan.
Setelah Nisa mendapat kompresan tersebut Ia langsung bertindak cepat mengompres dahi Dhika. Nisa menyentuh pipi Dhika, leher Dhika, tangan Dhika, semua terasa panas. 30 menit berlalu, Nisa masih setIa di samping Dhika.
Nisa ingat keduanya belum sarapan. Ia pun segera mengambil makanan pesanannya. Dhika terlihat sangat
lemas. Ia tidak tega melihat Dhika, Dhika bIasanya sangat sinis dan cuek,sekarang terbujur lemas di sofa.
“mas, di sofa tidak nyaman. Mas mau pindah ke kamar?”
“bantu aku berdiri
Nisa pun membantu membopong Dhika sampai ke kamar. Sampai di kamar Nisa langsung menyelimuti Dhika. Setelah itu Ia Kembali membawa makanan yang Ia pesan ke kamar.
__ADS_1
“mas sarapan dulu ya, bIar cepat sembuh” kata Nisa sambil mengelus pipi Dhika, memastikan suhu tubuh Dhika turun
Dhika mengangguk lemas.
Nisa memberikan makanan yang Ia pesan untuk Dhika. Untung saja Nisa membeli sup, jadi lebih mudah untuk dimakan Dhika.
Dhika berusaha keras untuk bersandar ke kasurnya. Akhirnya Ia sanggup untuk duduk. Ia memegang sendok dan
menyendokkan supnya. Tangannya tampak bergetar.
“aku suapin ya mas” kata Nisa khawatir
Dhika tidak menjawab. Di saat bersamaan, Nisa mengambil makanan Dhika. Ia mulai menyuapi Dhika dengan penuh perhatIan. Sesekali Nisa mengelap bibir Dhika yang terkena sup makanannya. Selesai makan, Ia
membIarkan Dhika tidur kmbali. Nisa pun memakan makanannya di meja makan sendirIan.
Setelah selesai, Ia mencuci piring dan membereskan apartemen yang penuh debu. Sudah ditinggalkan 8 bulan, apartemen menjadi tidak nyaman dihuni. Nisa membuka balkon untuk mempersilakan udara segar masuk dan Ia pun memulai pekerjaanya. Menyapu, mengepel, mengelap kaca, semua Ia lakukan sendirIan.
Merasa Lelah, Ia beristirahat sejenak. Meneguk air putih dingin dan duduk di sofa TV. Ia telah banyak berkeringat.
Ia merasa lengket dan memutuskan untuk membersihkan diri.
Saat memasuki kamar, Ia masih melihat Dhika tertidur pulas. Nisa pun berjalan ke toilet dengan meminimalisasi
Nisa keluar kamar mandi hanya memakai handuk yang Ia lilitkan di dadanya. Ia lupa membawa bajunya ke kamar
mandi. Mumpung Dhika tidur Ia segera mengganti baju di depan lemari. Setelah itu Ia merapikan rambutnya dan memoles sedikit pelembab ke mukanya.
Tak lama setelah Nisa berkaca, Dhika akhirnya bangun. Nisa mendekati Dhika, lalu memengang Kembali kening Dhika.
“syukurlah demamnya sudah turun mas” ucap Nisa lega
Dhika terdIam saja. Lalu Ia ingat akan pekerjaannya yang menumpuk di kantor. Dhika meminta Nisa untuk
mengambilkan kacamata dan ponsel miliknya. Nisa segera mengambilkan keduanya. Dhika mengecek semua email yang masuk, trade ekonomi dunIa hingga perkembangan finansIal perusahaan. Sejak 8 bulan kerja keras Dhika bekerja di luar negara, hasilnya mulai terlihat. Ada perubahan pesat di sector Kerjasama luar negeri.
"aku akan pergi ke kantor sekarang. banayk pekerjaan yang belum selesai. harus beres hari ini agar bisa mengerjakan pekerjaan yg baru" kata dika jelas
"mas.. sebaiknya mas istirahat dulu. aku akan izin kuliah untuk hari ini"
__ADS_1
"tidak bisa. kau kuliah saja agar cepat lulus"
Dhika akan bersIap ke kantor namun Nisa mencoba melarangnya lagi dan lagi. Tentu, jika masalah pekerjaan Dhika akan bersikap professional. Dhika tidak akan melibatkan perasaan pribadi saat bekerja. Nisa tidak bisa beruat apapun, Ia juga tidak berani membantah.
Entah mengapa Nisa merasa sedih ketika Ia dIabaikan oleh Dhika. Dhika pun pergi ke kantor seolah melupakan kejadIan romantic semalam.
--
Di kantor Ia disambut rIang karyawan2 yang lain.
“selamat datang Kembali, pak Dhika”
Dhika hanya mengangguk, bahkan tersenyum pun tidak. Ia melanjutkan langkahnya ke lift presidir dan memasuki
ruangannya tanpa menatap sIapapun yang Ia lalui.
Dhika membuka laptopnya dan sIap untuk bekerja.
“pak,
--
Di rumah Nisa bersIap untuk ke kampus. Ia masuk sIang karena jadwal paginya digunakan untuk merawat Dhika.
Hanya tersisa satu mata kulIah hari ini. Sepertinya Ia bisa langsung pulang pukul 3. Ia pun ganti baju menggukakan dress longgar seperti bIasa, hari ini Ia mengikat setengah rambutnya. Ia ingin membIarkan bekas tamparan kemarin angin segar. Namun hal tersebut malah membuat Nisa semakin cantik.
Sudah setengah perjalanan, Nisa mendapat kabar bahwa kelas sIang dibatalkan karena dosen izin tidak bisa hadir.
Nisa ada ide untuk mampir ke kantor Dhika. Nisa sedikit khawatir karena pagi tadi tubuh Dhika sangat panas. Ia mencoba mengirim pesan.
Drrt drtt drrt
Nisa Aksani Damar
“halo mas, apakah aku boleh datang ke kantor mas?” tanya Nisa to the point
Mas Radhika
“datanglah”
__ADS_1
"Pasti mas Dhika sibuk banget". Ujarnya dalam hati
Sebelum pergi ke kantor Dhika, Nisa membeli beberapa makanan sunda kesukaan Dhika. Ada cah kangkong, ikan asin, sambal dan ikan gurami goreng. Ia membungkus 1 porsi masakan tersebut. Sedangkan Nisa memesan spaghetti do resto lain karena Ia sedang malas makan menggunakan tangan.