
Nisa Aksani Damar. Itu adalah nama kontak Nisa di ponesl Dhika. Ia kaget yang menghubunginya bukanlah sekretarisnya melainkan Nisa.
“ha.. halo Tuan”
“kamu sudah gila menelponku sepagi ini?
“ah, maaf Tuan saya kira Tuan masih di singapur, kalau begitu aku akan tutup telponnya. Maaf mengganggu Tuan” Nisa lupa, perbedaan waktu IndonesIa dan AustralIa adalah 4 jam.
“ada apa?”
“um, apa Tuan sehat? Bagaimana dengan makanmu? Apa kau cukup tidur?”
“apa aku sedang diintrogasi sekarang?”
“um, tidak Tuan, maaf aku mengganggu, aku.. aku hanya belum berterimakasih atas kejadIan kita terakhir,
terimakasih telah menyelamatkanku”
“baru sekarang kau berterimakasih?”
“aku minta maaf Tuan, aku sangat takut mengganggu kesibukanmu, aku belum sempat sampai akhirnya waktu tak terasa terus berjalan”
“sama-sama”
“eh?”
“ya sama-sama. Apa jawaban yang kau inginkan?”
“kau tidak memarahiku? Maksudku, aku memang salah Tuan”
“kau cari tahu saja cara lain untuk meminta maaf dengan benar. Aku belum benar2 menerima terimakasihmu. Ku
__ADS_1
tutup.”
Beep, suara telpon mati
POV NISA
Semalam Ia bosan di rumah, Ia memainkan ponsel pemberIan Dhika dan mengecek berita-berita terkini. Ia juga
membuat beberapa medIa sosIal seperti Instagram dan facebook. Setelah lama menatap layer ponsel Ia memutuskan untuk mendengarkan Kembali lagu Ardhito Pramono, Ia mendengarkan music dengan seksama. Ia terbawa suasana dan menikmatinya. Saat lagu berganti, ibalah saatnya Nisa Kembali memikirkan Dhika.
Ia mendengarkan lagu berjudul “Cigarettes of ours” Ia teringat lagi pada Dhika. Pasalnya dIa memang perokok. Apartemen Dhika pun beraroma rokok. Nisa teringat bahwa Ia belum menyampaikan terimakasih dengan benar. Malam adalah waktu untuk Dhika beristirahat, pikirnya. Jadi Ia akan mengumpulkan keberanIannya untuk menelpon Dhika di pagi hari.
POV END
--
Masih di AustralIa, banyak kejadIan yang tidak Ia sangka. Berhari-hari di AustralIa terasa sangat lama. Dari
lain yang dihadapi Dhika. Terkadang Ia mengabiskan 1 bungkus rokok dalam sekali hisap. DIa benar-benar membutuhkan support system untuk mendukung dirinya.
“bro, minggu lalu kita di club, gue ga salah denger kan?” tanya billy
“emang gue bilang apa?”
“lo bilang lo udah punya istri”
“bener ko, gue punya istri”
“lo ko ga bilang, sIapa orangnya? Asya asya itu? Atau…..”
“bukan bro, lo gaakan kenal sIapa dIa, anak konglomerat pokonya”
__ADS_1
“wih gila, mantap dong”
“apanya bro”
“itunya lah” kata billy dengan wajah mesumnya
“haha.. baru aja berapa bulan bro, udh gue tinggal ke luar negeri juga dIa”
“wah lo pasti dah ga sabar balik kan, buat mantap mantap hahaha”
“mantap mantap?” tanya Dhika heran
“makanya lo jangan kerja aja bro, urusin istri lo”
“hm.. ini gue cerita ke elo aja nih ya, gue dijodohin sih sama dIa, gue juga ga pengen punya istri bro
sebenernya, kerja aja cukup”
“hah gila lo, mana foto istri lu? Emang dIa gak bisa muasin lo apa hahaha”
“gue puas ko” kata Dhika mengingat Kembali bayang bayang tubuh Nisa
“kalo ga cinta jangan diterusin bro, cape sendiri lo”
“gabisa bro udah kesepakatan, bisnis pokonya. Bisnis is bisnis bro”
“terserahlah, tapi awas kalo cekep, gue ambil ya, lama2 gue jadi om om girang di AustralIa hahaha”
Keduanya pun tertawa akan obrolannya yang mereka anggap lucu itu.
--
__ADS_1