Sudut Pandang

Sudut Pandang
8


__ADS_3

Happy reading Yáll


"Menemukan sesuatu yang baru melalui kacamata orang lain."


***


Nophel mengantarkan Alma ke kedai Sudut Pandang. Sesampainya disana mereka sempat berbincang sebentar.


"Kamu gak mau seperti kakakmu?," Nophel bertanya dengan hati-hati, takut malah melukai Alma.


Rasanya Alma ingin sekali hidup terlepas dari bayang-bayang sang kakak tapi itu tidak mungkin sebab mereka keluarga, sampai kapanpun akan selalu dikait-kaitkan. "Aku bukan kakak, semudah itu padahal jawabannya," Jawab Alma.


Nophel tersenyum, "Maksudnya mau sampai kapan merasa tidak pantas?,"


"Sampai aku melupakan peristiwa itu." Ah iya Alma sudah mengerti kemana arah pembahasan Nophel.


Orang yang dianggap sebagai kakak keduanya ini mungkin mengkhawatirkan kondisi Alma, ia hanya takut Alma tidak mau berhubungan dengan siapapun lagi. "Cepet sembuh deh, kelihatannya sih biasa aja tapi isinya udah kayak bubur diaduk," timpal Nophel. Keduanya sama-sama menertawakan sesuatu yang tidak lucu.


"Kakak mau jadi obatnya gak?," lagi-lagi Alma hanya melontarkan candaan, ia tak serius dengan ucapannya.


"Pernah gak dokter bilang kalau minum obat bisa langsung sembuh? enggak kan, nah itu dia jawabannya,"


Alma mencoba memikirkan maksud Nophel, "Hahahah bisa aja, yaudah deh aku lanjut kerja dulu makasih udah nganter sampai sini," Nophel mengangguk kemudian beranjak keluar kedai.


Di ujung sana sudah ada Ghaftan yang hendak bersiap-siap melanjutkan pekerjaannya.


"Vega minta kamu pulang, katanya Moi nyariin," Ghaftan hanya mengangguk.


Alma merasa dirinya diacuhkan kembali memaksa Ghaftan untuk menjawab. "Bilang dulu gini 'Iya makasih',"


"Makasih?," tanya Ghaftan.


Mengapa pria ini membuatnya merasa kesal. "Gak jadi deh, yuk siap-siap kerja,"


"Saya sudah siap daritadi," jawabnya.


"Bener juga," Alma kembali ke tempat kerjanya namun tertahan oleh Ghaftan. "Sebenarnya Vega udah chat saya tapi makasih, maaf merepotkan,"

__ADS_1


Lah kenapa Alma yang merasa bersalah ketika Ghaftan meminta maaf. 'Vega bener-bener definisi ngeselin sampai ke ubun-ubun, ini mah gue yang dikerjain,'


°°°°


Ketiganya hanya mengikuti kemana arah yang Meeya inginkan tanpa membantu atau menghalangi apapun. "Alma gak boleh tahu sampai kapan pun tolong jangan pernah memberitahu dia," Meeya hanya ingin menjaga adiknya.


Sesampainya di rumah, Alma merangkul Meeya dengan wajah yang sumringah.


"Anti physical touch tiba-tiba ada yang rangkul, rasanya ingin menghempaskan tapi sadar kalau dihempas bisa bikin kamu gedebruk jatuh terguling-guling," Meeya itu sedikit bercanda banyak seriusnya.


"Huh lebay banget cuma dirangkul aja misuh-misuh," Alma ini tipe adik yang sering memancing keributan dengan kakaknya yang hanya menginginkan hidup damai, tentram, dan kalem.


Alma butuh kakaknya saat ini, ia perlu mengeluarkan sedikit beban yang ada dipikirannya, meskipun Meeya ini cuek bukan berarti tak peduli dengan semua celotehan Alma.


"Beberapa orang bilang Vega itu gak baik, bahkan ada yang nyuruh untuk hati-hati dengan sikapnya dan setelah dipikir-pikir ada benarnya juga. Dia selalu memandang aku berbeda bahkan dia mencoba untuk mendoktrin pergerakan Vee itu sih yang dirasakan beberapa hari belakangan ini, apa jangan-jangan aku benci sama dia?,"


Meeya dengan tatapan matanya yang sayu membuat adiknya bungkam. "Ketika gak suka sama salah satu sifatnya bukan berarti harus membenci orang secara keseluruhannnya,"


Lagi-lagi kakaknya punya seribu kata yang mampu membuat Alma mempertimbangkan cara dalam menyikapi suatu masalah.


"What should I do?,"


"Karena membenci seseorang itu cuma bikin kamu capek, mudahnya coba jawab pertanyaan ini, apakah orang itu peduli kalau ada yang membencinya? enggak kan? nah itu dia jawabannya, sifat itu memang susah berubah tapi dibalik buruknya orang ada kebaikan yang gak diperlihatkan," Meeya memang kakak yang bijak.


Inilah sebabnya Alma tidak pantas untuk disamakan dengan sang kakak, bahkan dari segala sisi pun ia dan kakaknya sangat bertolak belakang. "Yaudah makasih atas waktu dan pidatonya, saya cukupkan sekian dahh mau lanjut tidur." Alma masuk ke kamarnya setelah meninggalkan sang kakak yang sedang menahan emosinya.


"Inilah gunanya jangan banyak ngomong kalau punya adik yang setipe dengan Alma," ucap Meeya.


Alma dan Vee jarang sekali berdebat, persahabatan mereka memang sangat tentram tapi sesekali terjadi ketegangan jika sudah berurusan dengan yang namanya Nophel.



"Makin kesini susah buat Vee percaya sama gue ya? padahal dia tahu sendiri kan alasannya."


"Gara-gara kak Nophel narik gue ke misi rahasinya, malah merambat kemana-mana masalahnya."


Alma baru teringat sesuatu yang membuatnya terlibat satu misi dengan Nophel "Kok Leo kelihatan sayang banget sama kak Meeya, padahal mereka baru aja kenal," Alma mulai mencari-cari jawaban dengan mengkolerasikan fakta yang ada.

__ADS_1


"Mending besok ajak Vee aja kali ya untuk nyamar jadi intel."


"Pokoknya Vee harus bisa tanpa tapi," tekadnya sudah bulat.


Ia tak mau menunda-nunda lagi semuanya, agar satu persatu misinya terselesaikan.


°°°


Disisi lain Ghaftan selalu berusaha untuk membuat adiknya merasa nyaman.




Dibalik sikap seseorang yang menyebalkan ada suatu hal yang membuat mereka terbentuk menjadi orang seperti itu.


Semuanya ada sebab-akibat.


"Kayaknya gue harus mendekatkan kak Ghaftan sama Vee, biar bisa bikin cerita yang judulnya 'Sebuah cerita cinta yang ditulis oleh seseorang yang belum pernah merasakan cinta' bagus untuk tugas akhir semester ini."


Ah apa jangan-jangan Vega hanya menjadikan kakaknya sebagai bahan percobaan dari semua kasus tugas kuliahnya?. Jika ketahuan bisa-bisa Ghaftan akan menceramahi adiknya berhari-hari.


"Maaf untuk kesekian kalinya, Alma."


To be continued.....


segini duluuuu mau nyuci bajuu


sampai jumpa nanti


info :


Instagram & Tiktok


storywd.asa


wullandar1 (IG)

__ADS_1



__ADS_2