Sudut Pandang

Sudut Pandang
25


__ADS_3

Happy reading Y'all


"Maaf gagal bicara sama om Dira, andai aja kak Nophel gak datang pasti akan selesai,"


previous....



๑〜〜๑


Seakan ada kereta api yang melintas dengan desis gelombang udara yang mengganggu pendengaran keduanya.


Tak seharusnya Alma meminta maaf, semuanya memang terjadi begitu saja. Nophel pun tak salah, ia hanya berniat melindungi 'adiknya'.


"Mara coba dengerin baik-baik,"


"Gak mau nanti situ ngejokes, mana kalau nge jokes gak lucu lagi," ungkap Almara. Ia hanya bercanda demi mencairkan suasana.


"Nanti saya coba lagi kasih jokes yang bermutu."


"Hiyaa iya dah iya, coba mau ngomong apa tadi? ke distrac gak?," tujuannya mengalihkan topik supaya Ghaftan lupa, ah sayang sekali laki-laki itu tidak pelupa seperti dirinya.


"Semua yang kamu lakukan berharga, kalau aja kamu gak berani ketemu sama om Dira, sampai kapanpun saya gak akan pernah bicara dengan beliau,"


"Keberanian kamu menurut saya sudah seperti 1/0,"


"1/0? kalau gak salah semua angka gak ada yang bisa dibagi dengan nol, berarti gak bernilai dong?"


Suara hati Alma sempat bergemuruh kecewa padahal ia hanya menyimpulkan sendiri dari sudut pandangnya.


"1/0 hasilnya tak terdefinisi atau tak terhingga yang artinya semua bantuan kamu gak bisa di nilai dengan sebuah angka ataupun kata-kata, levelnya lebih dari itu, sekali lagi makasih," ungkap Ghaftan.


Awalnya Alma sempat tak biasa dengan sikap Ghaftan yang perlahan berubah menjadi orang yang sangat terbuka.


Sosok pria itu keseringan membuat suasana menjadi asing hingga Alma harus banyak bicara agar atmosfer yang tercipta diantara keduanya menghangat.


"Ghaf, lo tau kan kalau gue orangnya perasa banget? ucapan yang barusan lo bilang bikin gue merinding, makasih juga udah menghargai kelakuan gue,"


Alma menatap lekat bunga yang ia terima, "Maaf kalau gue gak pernah nanya tentang keadaan lo, selama ini lo yang selalu dengerin semua omong kosong, celotehan yang bahkan gak akan pernah ada efek sampingnya di hidup lo,"


Kini Almara tersadar betapa baiknya Ghaftan, peran dia benar-benar dibutuhkan dalam hidupnya.


Selama ini Ghaftan selalu meminjamkan telinganya dengan mendengarkan semua ocehan Almara. Kini giliran Alma yang membantu, meskipun resiko yang ia hadapi cukup sulit dan terkesan membahayakan.


"Mara, kamu harus tau kalau kamu itu penting, mungkin aja kalau gak ada kamu di kedai itu saya gak akan pernah terbiasa dengan semua hal yang terjadi, tanpa  disadari kamu selalu membangun suasana yang menyenangkan,"


"Boleh kalau saya yang cerita kali ini?"


Almara mengangguk seakan permintaan Ghaftan tak bisa dibantah.


"Saya sempat gak menerima semuanya, mungkin sesekali kamu pernah berpikir kalau jadi saya itu capek dan jawabannya benar, saya capek Mara."


"Ketika semua hal yang ada di depan mata gak sesuai dengan rencana sebelumnya, keluarga saya perlahan mendapatkan perlakuan buruk dari tetangga, gimana pun juga mereka akan tetap menganggap ayah sebagai pencuri."


"Ghaf, maaf ya gue gak pernah tau, gue juga gak pernah paham situasi yang lagi lo hadapi,"


"Kalian gak perlu mengerti dan memahami situasi yang sedang saya hadapi tapi saya hanya berharap tolong hargai setiap keputusan yang udah dibuat, dan keputusan saya kali ini adalah ninggalin kedai itu termasuk kamu, ah maksudnya kamu gak boleh terlibat lagi,"


Almara sempat terkejut, bagaimana jadinya jika partner yang sangat dekat harus pergi.


Tekanan pekerjaan yang diberikan seakan terlalu berat jika dipikul sendiri.


Jujur saja kali ini Alma tidak tahu harus berbuat apa, ia tak pandai menghibur seseorang yang tengah berduka.


"Ghaf suka jalan-jalan gak?" biarpun pengalihan topiknya tak mulus namun Alma telah berusaha, harap dihargai.


"Jalan-jalan di?"


"Jalan-jalan dijalanan lah," sesekali Almara membuat Ghaftan terkekeh.


"Maksudnya kemana? kamu kalau jalan-jalan pasti gak punya tujuan," sindir Ghaftan.


Meskipun benar adanya tapi ia mau menampik. "Sembarangan, cepet jawab mau gak?"


"Baru kali ini di paksa, iya mau,"


"Naik motor? gue kan bawa motor," Almara tidak sadarkah kalau kendaraannya tengah mogok?.


"Sambil dorong motor kamu?"

__ADS_1


"Lah iyaaa motor gue mogok, yaudah pinjem mobil lo biar gue yang nyetir,"


"Saya boleh jujur gak?"


"Boleh lah masa orang jujur dilarang, sok cepet jujur apa? nanti keburu hujan,"


"Meskipun saya capek, saya gak mau menyerah dan saya pun gak mau mati muda, seenggaknya jangan dulu deh, kalau udah takdir mah gakpapa tapi jangan dulu,"


Almara mengangguk kemudian ia tersadar kalau ucapan Ghaftan barusan tengah mewanti-wanti kalau Almara yang bawa mobil pasti grasak-grusuk.


"HEH! iya deh gue hati-hati bawa mobilnya, please percaya sama gue,"


Seketika Ghaftan mengalami trust issue, karena Almara memang kurang begitu lancar bawa mobil miliknya.


Dulu Ghaftan juga sempat disetirin oleh Alma dan ujung-ujungnya Ghaftan tetap mengambil alih posisinya sebagai driver.


Keduanya berjalan kembali menuju KeyLava Florist karena kendaraan milik Ghaftan terparkir di sana.


Mereka tak berpamitan kepada Key, sebab wanita itu tengah sibuk dengan pelanggannya.



Sempat hening sesaat, hingga akhirnya Almara meminta izin untuk memutar playlist jalan-jalannya.


"Boleh?"


"Asal jangan musik rock aja nanti kamu teriak-teriak di sini,"


"Ya kali gue teriak-teriak, nanti lo tambah stress denger suara gue,"


Setidaknya playlist yang diputar Almara benar-benar santai.



"Kalau jalan-jalan bawaannya seneng? by the way playlist kamu isinya lagu orang kasmaran," ungkapan Ghaftan barusan berhasil membuat Almara malu.


"Oh iya kenapa gue yang seneng kan harusnya dia, hiyaaa ini malu gimana ya caranya ngeles,"


"Lo gak boleh menghina playlist orang lain, gimana kalau gue muter playlist dj? mau dikatain?"


"Mulai serem,"


"Nah betul, abaikan aja liriknya untuk sementara waktu,"


Semilir angin dengan awan mendung cukup menjadikan indahnya cuaca di sore hari, padahal tadi siang terik dan cerah. Benar-benar tak ada yang bisa diprediksi.


Perlahan rintik hujan berjatuhan ke bumi, bulir air yang mengalir alami itu seakan terbebas terjun dari atas.


"Bumi kalau lagi hujan gini abu-abu ya, ada orang yang sedih ada juga yang senang sama kehadirannya,"


"Dan sekarang kita lagi pakai baju Hitam-Putih, nyatu banget gak sih sama suasana sore ini," ungkap Almara.


"Our colors are gray, white and black,"


"Aahaha menarik, keren banget gak sih 3 warna yang seakan punya arti kuat,"


"Tiga warna yang dianggap tidak berwarna," lantas Ghaftan mengatakan ini bukan tanpa sebab.


Mereka menyudahi deeptalk tiba-tiba di sore hari ini.


Entah apa yang sedang Alma pikirkan, kini ia membelokkan kemudinya kemudian berhenti di sebuah supermarket.


"Mau beli sesuatu?," tanya Ghaftan.


Alma terdiam. "Memangnya lo gak sadar ya? itu hujan loh kita gak mau berteduh dulu gitu?"


Bukankah yang harusnya tersadar itu Almara ya?


"Mara, coba kamu perhatikan sekitar, kita lagi ada di mana?"


"Deket supermarket,"


"Maksudnya kendaraan yang kita pakai apa?,"


Ih padahal tinggal kasih tau aja apa susahnya. Dasar!


"Mobil, terus apa yang salah?"


"Mara, mobil itu ada penutupnya, ada atap dan kita gak akan mungkin kehujanan, sekalipun hujannya besar kalau gak berteduh pun gak apa-apa,"

__ADS_1


Seketika Alma ingin menjadi cacing.


'Lah iya, maluu woy, ini ada yang bisa ngasih tutorial menghilang seperti harapan gak sih'


Almara masih setia mempertahankan raut wajah yang tegas namun sudah memerah. "Gue mau beli makanan kok,"


'Selagi masih bisa ngeles buat apa malu, tapi sejujurnya gue malu, ahhh ini tuh gara-gara keseringan bawa motor trabas hujan pakai jas kelelawar,'


"Biar saya aja, mau beli apa? atau kamu chat aja yang mau dibelinya,"


"Ini gue bingung banget mau beli apaan,"


"Kalau bingung biar saya pilihin aja, makanan sama minuman kan? ada yang lain gak?"


"Gak usah, udah itu aja. Makasih ya,"


Ghaftan keluar dan beranjak masuk ke supermarket.


Akhirnya Almara bisa bernafas lega dan berteriak semaunya.


"MALUUUUUU!!! KAK MEEY, VEE, KAK NOPHEL BAWA AKU PERGI,"


"Pasti dalam hati si Ghaftan udah ketawa-ketawa, eh tapi gak boleh suudzon, ibuuu maluuuu,"


Ghaftan telah kembali dengan membawa satu kantong plastik ditangannya.


"Eh sebentar itu Vega, saya ke sana dulu," Ghaftan kembali turun untuk menyusul adiknya.


Rupanya Vega sedang menunggu angkutan umum, ia baru saja dari rumah temannya.


"Biar saya saja yang nyetir," ungkap Ghaftan setelah Vega duduk di kursi belakang.


Almara menuruti permintaan Ghaftan. Ia bingung harus duduk di mana, takutnya jika di depan tidak sopan, mungkin saja harusnya Vega yang duduk di sana.


"Kamu duduk di depan aja," ungkap Ghaftan.


Ah pasti laki-laki ini peka.


Almara tak pandai basa-basi tapi masa iya dirinya diam saja tak menyapa Vega, padahal keduanya saling mengenal.


"Oh iya tadi kak Nophel nitip undangan buat kalian, memangnya lo kenal sama kak Nophel ya?" Alma kembali berbicara dengan Ghaftan.


"Gak usah terlalu kepo sama hidup orang lain," ungkap Vega.


Meskipun gadis itu menatap ponselnya seolah sedang membalas pesan suara namun Alma merasa tersinggung.


"Makasih undangannya, saya gak bisa memastikan bisa datang,"


Almara hanya mengangguk.


Perjalanan yang harusnya 20 menit terasa seperti lima belas jam. Terlalu mencekam.


Vega datang di saat yang tidak tepat.


"Makasih ya udah coba buat saya terhibur, lain kali jalan-jalannya beneran pakai motor biar kalau hujan neduhnya beneran," Ghaftan sengaja menggoda Alma.


'STOppppppp'


Perlahan kendaraan roda empat menjauhi pekarangan rumah Alma.


"Kalau dipikir-pikir Ghaftan sama kak Nophel sama-sama menarik,"


"Hayo siapa yang menarik?" Vee tiba-tiba ada di balik tubuh Alma.


"Lo tuh sebelas dua belas sama Ghaftan, hobinya bikin orang kaget,"


"Oh ya, ngapain di sini?,"


"Mau dinner sama kak Nophel," ungkap Vee.


Alma tak tercengang sebab sudah sering sahabatnya itu bergurau mengenai kak Nophel.


"Vee kalau gue berhenti kerja di kedai itu gimana ya?" Entah apa yang sedang menghantui Alma.


Apakah ia terpengaruh oleh Ghaftan? lantas bagaimana cara mereka mengungkapkan apa yang sebenernya terjadi di lingkungan itu kalau keduanya tak ada yang bisa bertahan?


to be continued.....


lanjut nanti see u when I see you again wupp you

__ADS_1


__ADS_2