Sudut Pandang

Sudut Pandang
19


__ADS_3

Satu hal yang mengganjal didalam hati akan mempengaruhi keputusan dikemudian hari.


Dan sudut pandang menentukan bagaimana caramu bersikap.


©storywd.asa


Salah satu rencana yang hendak dilakukan oleh Alma adalah menuruti perkataan Ghaftan setelah tempo hari didiskusikan.


"Ghaf?," Alma ragu, ia masih terikat kontrak kerja antara dirinya dengan Pak Tian. Tapi di satu sisi ia tidak terima dengan ketidakadilan yang didengarnya.


"Investigasi ini masih berlanjut mara," ungkapnya.


Sebetulnya Alma tidak paham dengan hal-hal yang tengah menimpanya.


Bayangkan saja, bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak peduli tentang apapun tapi secara tiba-tiba harus melibatkan diri dengan kasus-kasus seperti ini.


"Kirain udahan, padahal beberapa hari terakhir ini udah adem ayem tuh,"


"Ya itu karena kamu gak memantau perkembangannya seperti apa,"


Alma mulai berpikir sejenak. "Beneran harus nanya sekarang?,"


Ghaftan mengangguk. "Nanya apa? hehe lupa,"


Ia mulai memikirkan apakah salah memilih Alma menjadi rekan dalam mengungkap kebenaran kasus sang ayah.


Ah! rupanya ia tidak salah, hanya saja perlu banyak bersabar ketika menghadapinya.


"Tanya latar belakang kedai ini, siapa tahu Pak Tian keceplosan mengungkapkan pemilik yang baru,"


"Kalau Pak Tian bohong gimana?," Alma perlu mempertimbangkan segalanya sebelum ia bertindak.


Saran yang ia dengar melalui kacamata Ghaftan akan membantunya dalam menentukan langkah apa yang harus dia ambil dan bagaimana caranya bersikap di depan Pak Tian nanti.


"Kita hanya perlu tahu dari sudut pandang Pak Tian, kalau beliau berbohong kita analisis, setidaknya ada garis besar cerita yang mirip," Alma mengira Ghaftan mengambil keilmuan hukum atau sejenisnya.


Wah apa mungkin Ghaftan adalah agen rahasia yang tengah menyamar menjadi mahasiswa akhir yang berlagak tak punya uang? no one knows, selama ini identitas Ghaftan tak terlalu jelas selain tentang adik-adiknya.


"Ah gak mungkin! dia udah mengekspos tentang adik-adiknya, kok jadi curiga gini,"


Suspicious.


Dengan penuh rasa takut nan gugup, Alma memberanikan diri mengunjungi ruangan Pak Tian, sekaligus melaporkan penjualan yang terjadi selama satu minggu terakhir.


"Bagaimana pak hasil laporannya, apakah perlu diperbaiki?," Tanya Alma, ia basa-basi saja karena sudah tahu kalau laporannya tidak akan mendapatkan revisi lagi.


"Aman, kenapa masih disini? ada yang ingin kamu tanyakan?,"


Pada kenyataanya Pak Tian memang baik tapi ada saatnya ia selalu merendahkan orang lain seperti kejadian yang menimpa Alma tempo hari.


"Saya hanya karyawan biasa di sini, apa boleh tahu tentang sejarah kedai ini?," tanya Alma.


Pak Tian nampak berpikir sejenak, ia harus mempertimbangkan banyak hal sebelum akhirnya bercerita.


"Panjang ceritanya,"


"Yasudah kalau begitu saya kembali lagi ya pak, terima kasih," Hasilnya nihil.


Sebelum Alma benar-benar meninggalkan ruangan, pak Tian menahannya melalui suara yang tegas.

__ADS_1


"Atas rasa penasaran atau ada hal lain yang mengganjal?," tanya Pak Tian.


Jelas karena hal lainlah. Tapi tidak mungkin diungkapkan sekarang.


"Sedikit penasaran, nampaknya kedai ini benar-benar menarik perhatian sejak pertama kali kesini, siapa tau saya bisa terpikirkan suatu inovasi untuk mempromosikannya," yah memang benar semua ini hanya alibi.


Alibi yang mudah dipercaya, Pak Tian juga berorientasi pada laba yang akan diperolehnya apabila Alma melakukan inovasi baru untuk kedai ini.


Sebuah sejarah


Kedai ini didirikan oleh Pak Tian dengan sahabatnya yang bernama Dira.


Sudah sangat jelas jika mereka berdua merintis karir dari nol.


Di mulai dari meminjam uang untuk menyewa tempat kecil di lantai 1 yang sekarang dijadikan sebagai halaman utama.


Sampai pada akhirnya mereka memperbaiki sedikit demi sedikit manajemennya sampailah pada titik dimana kedai ini menjadi salah satu daftar yang paling sering dikunjungi oleh orang-orang.


Tapi akibat naiknya usaha membuat hubungan kerja sama antara Pak Tian dan Dira menjadi rumit.


Cerobohnya adalah mereka tidak membuat surat perjanjian kerjasama yang ditandatangani di atas materai sehingga berakibat kepada saling tarik-menarik kekuasaan.


Entah ada rumor apa yang menyebabkan kedai perlahan menjadi usaha yang suram, hampir jatuh. Namun keduanya bertemu dengan seseorang yang bersedia mengambil alih kepemilikan kedai dengan catatan pengelolaannya masih di bawah kendali Pak Tian dan Dira.


Setelah itu keduanya masih tetap saling merebut posisi tertinggi, sayangnya Dira dinyatakan mengambil dana kedai yang jumlahnya cukup fantastis. Itulah yang mengakibatkan kebangkrutan sebelum berpindah tangan kepemilikan.


Semuanya telah diselidiki oleh pemilik baru Kedai Sudut Pandang dan membuat Dira diberhentikan atas tuduhan korupsi oleh pemilik baru. Sampai saat ini kasusnya masih berlanjut.


Dira harus membayar ganti rugi sejumlah dana yang telah disepakati.


°°°


"Wow speechless!."


"Gue takut cuma dimanfaatkan sama Ghaftan,"


"Gimana coba kalau ternyata Ghaftan hanya mencari cara supaya ayahnya lolos dari kesalahan dan gak nanggung semua perbuatannya,"


"Ya Allah tuh kan, suudzon lagi,"


Pertemuan Alma dengan Pak Tian malah membuatnya merasa gelisah.


Belum tentu Pak Tian jujur tapi gak menutup kemungkinan kalau itu semua adalah fakta.


"Perlu ngerefresh otak biar seger," kata Alma.


Alma masih memproses beberapa hal yang baru saja diterima syaraf-syaraf otaknya.


"Hari ini terlalu rollercoaster buat orang yang suka naik komedi putar," ungkapnya.


Seseorang yang datang keruangan Alma tanpa perlu mengetuk pintu ialah Ghaftan. "Belum makan kan? dimakan ya, permisi,"


Wah inikah yang dinamakan sogokan. Alma tak mau makan sendirian. "Bahaya kalau diracun, tapi gak mungkin sih, Alma!! please stop it! berhenti berpikiran buruk dan berlebihan, kamu pikir hidup kamu potongan adegan film!!,"


"Mau makan dimana? bareng aja, ajak Tita juga,"


Ketiganya berjalan ke tempat biasa. Lantai paling akhir dari Kedai Sudut Pandang. Sudah tidak diragukan lagi viewnya.


"Loh itu ada kacang merahnya Ghaf, gak teliti banget kalau pesan makanan," Alma tahu karena mereka sudah sering makan bersama sebagai rekan satu tim.

__ADS_1


"Bukan saya yang salah pesan tapi ibu Aci lupa malah memasukan kacang merah, saya gak enak kalau harus minta diganti, kelihatannya ibu Aci belum ada yang beli dagangannya,"


Bisa-bisanya Ghaftan rela alergi demi gak bikin bu Aci rugi, tapi kalau tahu Ghaftan terkena alergi karena masakannya justru malah membuat bu Aci merasa bersalah.


"Ah elah, sini makanannya," Alma menukarkan makanan Ghaftan dengan miliknya.


Kebetulan mereka berdua membawa dua jenis makanan yang berbeda.


"Makasih,"


"Iya, sama-sama,"


"Ih pak Ghaftan lain kali jangan nyari mati," ungkap Tita. The real ceplas ceplos.


"Huss, Tit kamu tuh kalau ngomong suka bener," timpal Alma.


Katanya Alma curiga dengan Ghaftan tapi ternyata ia masih peduli. "Peduli sebagai sesama manusia."


Mereka menikmati makanan dengan tenang. Sampai pada akhirnya Tita meninggalkan Alma dan Ghaftan.


"Aku teh mau beresin kasir, kalian lanjutin aja makannya, sekalian mau pamit pulang, udah ditungguin ayam geprek depan gang," pamitnya.


Alam melambaikan tangannya sambil menatap Tita menjauh.


"Gimana tanggapan pak Tian?," tanya Ghaftan.


'Lah kirain udah lupa.'


"Sempet diem beberapa menit terus ujung-ujungnya cerita,"


"Cerita apa aja?," tentunya Ghaftan penasaran namun alarm di handphone nya sudah bergetar menandakan kalau ia harus segera beranjak dari sana.


"Lanjut nanti ya, saya harus ke tempat lain," ungkapnya.


Alma sedikit lega tapi ia tiba-tiba merasa kasian dengan Ghaftan.


"Mau kerja?,"


"Iya,"


"Capek ya kerja diberbagai tempat sambil belajar juga?,"


"Mau gimana lagi? apa yang bisa dikerjakan ya dikerjakan aja, udah jalannya kayak gini saya gak bisa nolak,"


'Pekerja keras tapi dia juga smart sih,'


"Gue punya pertanyaan, Dira itu siapa? Atau Dira itu ayah lo?," tanpa memberikan jawaban, Ghaftan pergi setelah berpamitan.


"Nanti saya jelaskan lagi, lanjutin makannya saya pamit, Assalam'ualaikum,"


Sudah sepatutnya Alma menaruh kecurigaan tapi sayangnya ia tidak bisa dengan mudah menyimpulkan.


'Ghaf, apa gue tertarik sama lo ya?'


"ketika kamu dipercaya tapi kamu sendiri gak bisa percaya"


©storywd.asa


lanjut nanti........

__ADS_1


happy weekend ⛅


May Allah bless you


__ADS_2