Sudut Pandang

Sudut Pandang
2


__ADS_3

Hari berganti malam,


Cahayanya semakin meredup


Menandakan bahwa gelap akan tiba


Semuanya bersiap menyalakan setitik sinar yang dibuat untuk menerangi gelapnya malam


Yah sayang sekali,


Cahaya buatan itu tidak dapat menyinari gelapnya hati seseorang.


Perasaan yang dianggap tidak lagi hidup.



Aku mau seperti itu tapi nyatanya aku tidak bisa seperti itu-Sudut Pandang


°°°°


Daripada mengorek rasa kecewa terhadap orang-orang sekitarnya lebih baik ia mengerjakan hal lain.


"Eh tunggu loh kok?," Alma menatap lembar kedua bukunya yang berisikan sebuah kalimat.




Ghaftan memiliki 1001 cara dan solusi untuk membuat situasi kembali tenang. Meskipun caranya banyak yang di luar nalar.


"Ada-ada saja, salah buku katanya, andai aja dia gak cheating, udah pasti bakalan jadi role model laki-laki terbaik tahun ini,"


Suara pintu terbuka, rupanya itu Meeya. "Dek maaf,"


Meeya menghampiri Alma yang sedang membaca buku di atas kasurnya.


"Gak ada yang perlu dipermasalahkan," ucap Alma dingin tapi sebenarnya ia tidak berniat untuk mendiamkan sang kakak.


"Jadi adik berat ya?," ucap Meeya.


Alma menggelengkan kepalanya "Kata dokter Zio badanku gak berat apalagi masuk kategori obesitas,".


Masih bisa bercanda disaat Meeya tahu kalau adiknya sedang menahan kesal. "Sekali-kali teriak aja dek, kalau ada apa-apa jangan selalu ngalah dan akhirnya cuma sendirian rasain sakitnya,".


Alma tidak tahu pasti apa motif sang kakak menghampirinya disaat mereka tengah bertengkar hebat hanya karena sebuah gelas yang pecah.


Pillow talk.


"Sekali-kali ngomong kasar gak apa-apa," ucap sang kakak.


"Maaf kak untuk itu aku skip, soalnya tadi siang udah nyoba tapi temenku bilang, gak cocok katanya," mereka berdua tertawa.


"Ya habisnya kamu gak pernah marah-marah, aneh," ucap Meeya.


"Nih coba kak Meey bayangin, pas aku marah bilang anjing ke mqnusia, bukannya menunjukkan kalau kita bodoh? udah tau manusia, malah di sebut Anjing, kan stress!" pikiran Alma tidak salah atau mungkin Meeya yang salah telah mengatakan itu kepada Alma.


"Make sense , bisa-bisanya kamu datengin acara si itu," Meeya sebenarnya takut adiknya berulah di acara tersebut.


"Ali maksudnya? ya memangnya kenapa? kan diundang, kalo aku mampu kenapa harus milih gak datang," ucap Alma.


"Kesana sama siapa? sendirian?,"


"Berdua sih sama Vee, tadinya mau ngajak kakak kata Vee jangan, nanti acaranya bisa hancur," ucap Alma.


Meeya tertawa disela-sela dirinya ditakuti oleh Vee. "Temen kamu itu aneh, segitu takutnya sama kakak,"

__ADS_1


"Ya lagian sih tiap ketemu dia bawaannya dipelototin mulu, padahal  image kakak di kampus itu anggun dan ramah, dia merasa mengenal dunia lain dari diri kakak," ucap Alma.


"Padahal ada Nophel yang bisa nemenin kamu," Meeya berani bilang seperti ini karena Nophel adalah sahabat yang sudah seperti saudara bagi keduanya.


Alma tersenyum sekejap "Kenapa harus kak Nophel? kalau itu kakak aja yang sama dia,"


°°°


Ketika mengedarkan pandangan, mereka bisa melihat segalanya dengan Indah. Salah satunya adalah keindahan alam yang ditawarkan, membuat mata menatapnya dengan tenang, sayangnya kalau salah milih posisi duduk, yang didapat hanyalah pemandangan gedung-gedung kosong bekas rumah sakit.


Tergantung dari perspektif mana mereka melihatnya maka itulah yang akan didapatkan, entah itu positif ataupun negatif.


***


Vee dan teman-teman kuliahnya mampir ke kedai Sudut Pandang, mereka mengerjakan suatu project bersama.


"Alma! kenapa bengong? gak nyatat pesanan kita?," ucapan Vee menyadarkan Alma dari lamunannya.


"Oh iya, silahkan," Alma mencatat semuanya dan kembali ke belakang untuk menyiapkan pesanan.


Tak harus menunggu lama, makanan dan minuman yang dipesan diantarkan langsung oleh Ghaftan. Setelah selesai menatanya di meja, seorang perempuan bernama Vega memeluk Ghaftan, semua orang yang ada di meja itu hanya bisa menonton adegan singkat yang cukup mengejutkan bagi sebagian orang.


"Wow amazing, kenapa ya laki-laki dimuka bumi ini sedang tidak baik-baik saja? Ghaftan juga termasuk," Alma memperhatikan mereka dibalik kasir.


"Jangan dilihatin terus, mending ikuti jejaknya," ucap Tita.


"Udah pernah nyoba tapi gagal," jawab Alma.


"Dark jokes, fokus-fokus," balasnya


"Kayaknya dipeluk gitu hangat deh apalagi kalau lagi di Bandung, katanya Bandung itu kota yang romantis juga ya?"


"Nu ngomong Bandung romantis, kadieu siah lawan aing! romantis! romantis matamu! nu aya mah tiris!" kadar sabar Tita memang setipis benang jahit dibagi seratus.


"Ah tapi bagi sebagian jalma mah emang romantis ceunah, atuh da abdi teh gak tahu jadi hampura weh nya mun salah ucap."


"Gak perlu tahu, mending fokus lagi yuk mencari cuannya," Tita ujung-ujungnya cengengesan sedangkan Alma berharap mendapatkan subtitle sunda dadakan.


Siang ini kedai Sudut Pandang sudah tutup, sang owner menginginkan acara tertutup untuk keluarganya tanpa ada karyawan bahkan pengunjung lain.


Lama sudah semua karyawan membersihkan kekacauan yang ada untuk menutup segera kedai ini. Tak jarang mereka saling melemparkan candaan untuk melupakan rasa lelah yang terjadi selama jam kerja.


"Enaknya jadi owner," tutur Alma.


Ghaftan terkekeh "Coba aja rintis bisnis,"


Alma hanya tersenyum mendengarnya "Ide bagus, pan kapan deh,"


"Kamu pulang bareng temenmu itu?," tanya Ghaftan.


Alma hanya mengangguk. "Bareng aja, Ana temennya temenmu juga kan? kebetulan dia bawa mobil," ucap Ghaftan.


"Gak efektif banget pemilihan katanya,"


"Suka-suka saya,"


"Ya iya juga sih, tapi kan...Ah elah!"


Ghaftan hanya terkekeh.


Sebenarnya Alma tidak ingin terlibat masalah dengan rekan kerjanya tapi kesempatan kali ini bisa dimanfaatkan untuk membantu Vega, ia pernah mengalami rasanya sakit hati hanya karena seseorang yang sudah dipercayai menghancurkan kepercayaannya.


Support Women! Intinya ia ingin memberikan dukungan yang positif sebagai sesama perempuan.


"Kak Ghaftan juga ikut pulang?," tanya Alma.

__ADS_1


Ghaftan menggelengkan kepalanya "Ada urusan sama Key, tolong jangan kasih tau Ana ya,"


Alma benar-benar terkejut mendengarnya. Mana mungkin ia diam saja. Ini sudah keterlaluan, apalagi melibatkan dirinya dikisah mereka.


Ia tak habis pikir tentang kehidupan di dunia ini, banyak hal tak terduga yang terjadi di sekitarnya.


Pantesan capek, hidup di dunia sih!


Vee melihat Alma selalu melamun akhir-akhir ini. "Mara, lagi mikirin apaan sih?" tanya Vee.


"Gak kepikiran apa-apa," jawab Alma.


"Anyways, kenalin aku Vega Nataza nice to meet you," ucap Vega.


Alma membalasnya dengan ramah. 'Lama-lama kata nice to meet you jadi kalimat sakral di kamus hidup Alma,'


"Kamu kuliah dimana?" pertanyaan Vega memang sederhana tapi cukup bingung untuk dijawab.


"Lagi gak kuliah, aku cuti lama gak tau kapan baliknya," balas Alma.


"Maaf atas pertanyaannya," Vega tidak enak hati setelah melontarkan pertanyaan tadi.


Beberapa pertanyaan memang tidak bisa sekaligus mendapatkan jawabannya. Sekalipun ada jawaban, rasanya tidak perlu diungkapkan kepada orang lain.


"Santai Aja Ana," Ucap Alma.


"Ana?" Vega mengernyitkan dahinya seolah mendengar panggilan tak asing.


"Ah iya tadi kak Ghaftan yang bilang, kalau aku panggil Ve nanti si kurcaci ini nengok," ucap Alma.


Vega hanya mengangguk paham.


"Jadi dia udah deket sama kak Ghaftan"


"Yaudah yuk pulang."


Diperjalanan pulang, mereka tak banyak bersuara entah itu fokus pada benda pipih nan canggih ataupun menatap jalanan yang teramat padat.


Alma dan Vee melangkahkan kakinya keluar, diikuti oleh Vee. "Kapan mau di lanjut lagi pendidikannya?"


Alma terdiam dan hanya bisa senyum tanpa menjawab apapun.


"Aku nanya gitu cuma mastiin aja keputusannya mau gimana, bebasin aja jangan merasa ada tekanan," Vee hanya bertanya untuk membuat Alma memikirkan kembali keputusannya.


Alma berterima kasih karena Vee selalu memahami tanpa harus Alma katakan. Tapi lama-lama Vee juga akan kesulitan jika Alma tidak mengatakan apapun atas semua keinginannya.


Ada satu waktu mereka mengatakan "Bicarakan apa yang kamu inginkan, kita gak akan tahu sebelum kamu kasih tau,"


"Tapi nyatanya sampai saat ini, aku tidak bisa mengatakan apapun. Aku tidak bisa terbuka dengan siapapun, aku terlalu menutup diri sampai-sampai tidak mengizinkan orang lain mengetahui siapa aku selain sisi yang bisa ku tunjukkan,"


"Maaf ya Vee, kamu harus punya temen kayak aku, semoga orang-orang baik selalu membantu kamu, terima kasih," Alma memperhatikan mobil yang melaju menjauhinya.


"Ah lupa! kan mau tanya-tanya ke Vega, dasar terlalu mudah ke distract." Alma sedang merutuki dirinya sendiri yang teramat ceroboh.


°°°


to be continued......



Gimana hari ini ? bacanya sampai selesai?


Terima kasih sudah baca, see you next time......


IG & Tiktok storywd.asa

__ADS_1


Wullandar1



__ADS_2