Sudut Pandang

Sudut Pandang
22


__ADS_3

Ketika menyukai satu barang yang diincar oleh semua orang tapi kenyataan mengatakan bahwa, kamu adalah salah satu orang yang sangat jauh untuk mendapatkannya.


how do you deal with it ?


©storywd.asa


Ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan semuanya kepada Alma.


Dira adalah adik dari ibunya Ghaftan dan ayahnya Ghaftan ditunjuk oleh Dira untuk memegang posisi keuangan.


Dira mencoba untuk mengalihkan suatu perjanjian serta mentransfer dana menggunakan identitas orang lain. Dan ternyata ayahnya Ghaftan dimanfaatkan untuk melakukan itu semua sehingga semua tuduhan mengarah ke arah ayahnya Ghaftan ketimbang Dira.


Pak Tian tahu tentang ini semua tapi ia tidak mau terlibat sehingga membiarkan ayahnya Ghaftan menjadi tersangka kasus ini.


Dira sekarang bebas.


Segala denda yang harus dibayarkan oleh Dira terpaksa dilunasi oleh ayahnya Ghaftan, inilah awal mula kehidupan Ghaftan dan keluarganya berubah drastis.


"Ayah tetap dinyatakan bersalah karena dia menandatangani perjanjian itu, apalagi semua dana disimpan dengan identitas ayah,"


"Dira harus mengakui semua kesalahannya, perbuatan kotor ini harus diselesaikan, enak aja yang bersalah berkeliaran bebas, gak adil namanya!" ungkap Alma.


Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mendekati Dira dan mencari tahu keberadaannya, selain itu Pak Tian serta pemilik kedai yang baru harus ikut andil dalam mengungkit kembali kasus ini.


Masalahnya adalah Dira masih belum diketahui jelas keberadaannya sedangkan pemilik kedai tidak pernah menampakkan dirinya.


"Saya minta tolong kamu buat menemui Dira," ungkap Ghaftan dengan entengnya.


"Gue?"


"Saya gak akan paksa kamu kalau gak mau,"


Semua keputusan ada ditangan Alma.


"Ih bukan gitu, kenapa gak lo aja? atau kita barengan,"


"Dia om saya Mara, pasti bakalan curiga kalau tiba-tiba nanya-nanya kearah sana,"


"Apa yang perlu gue lakuin?" sepertinya Alma siap buat menjalankan misi ini.


"Setelah dipikirin lagi, mending kamu gak usah terlibat jauh," namun Ghaftan yang malah ragu, ia sebetulnya merasa bersalah sejak awal melibatkan Alma.


"Ghaf, tau kata kagok gak? gue udah nyebur tinggal berenang aja tapi malah ditarik naik ke atas lagi,"


"Yakin?," selama ini Ghaftan selalu yakin dengan keputusannya tapi tidak untuk kali ini.


"Gue ragu, gak mau, Alma bukan siapa-siapa di sini, dia orang asing yang sengaja dilibatkan,"suara hati memang tidak pernah salah.


Tapi sejak awal inilah tujuan Ghaftan, ia berusaha membuat orang lain yang mengungkapkan kasus itu agar keluarganya cepat terbebas.


"Halooo, everybody's here??" Alma menyadarkan Ghaftan dari lamunannya.


"Jangan deh,"


"Ghaf, lo kok jadi gak percayaan gini sih? Lo yang nyuruh gue percaya tapi lo yang gak percaya sama gue,"


Sepertinya Alma belum sadar kalau dirinya hanya dimanfaatkan.


"Om Dira terbebas dari kesalahannya sendiri, dan sekarang dia sering nawarin investasi" Ghaftan menjelaskan situasi Dira kepada Alma.

__ADS_1


"Real investasi atau investasi bodong?"


"Itu yang saya kurang tahu,"


"Ih kak kok kasus si om Dira ini nyebelin banget, bikin susah orang"


Ghaftan tertawa ketika melihat Alma emosi sendiri dengan kasus ini.


"Eh maaf,"


'Gitu-gitu juga masih keluarganya, ah Mara suka kelewatan gitu kalau ngomong.'


"Gak perlu minta maaf, kamu gak berbuat salah."


"Jadi apa ih yang harus gue lakuin?"


"Chat om Dira, ajak ketemu terus dengerin dia ngoceh soal investasi abis itu kamu tanya tanya sedikit seputar investasi dan yang paling penting singgung tentang kasus di kedai,"


"Ghaf, lo tau gak kalau gue gak paham sama sekali soal investasi?,"


"Serius? yaudah kalau begitu saya ajarin kamu dulu,"


"Ghaf gue cuma mau bilang jangan galak-galak ya," dengan nada bicara yang dipelankan, sejujurnya ia segan ketika melihat Ghaftan. Coba saja kalau Ghaftan bukan rekan kerjanya sudah pasti Alma akan menghindari percakapan denganny.


"Memangnya saya pernah galak sama kamu?"


"Enggak sihhh tapi kenapa aura lo sangat mencekam,"


"Tenang aja, selama kamu ngerti," sungguh lucu luar biasa ketika dirinya dianggap sebagai orang yang paling mengerikan oleh Alma.


Padahal Ghaftan itu dari dulu orangnya sangat santai, meskipun pergaulannya yang dulu tergolong buruk.


"Belum dicoba udah bilang gitu?"


"Iyaa deh iyaa mau belajar....," akhirnya pasrah juga dia.


***


Almara kepikiran ide untuk hack akun om Dira tapi permasalahannya ia gak tahu akun Dira itu yang mana.


Ia juga membutuhkan seseorang yang mengerti hukum, untuk menemaninya dalam kasus ini.


"Haish, neng kenapa melamun gitu atuh?" tanya Tita.


"Lagi mikir,"


"Kebanyakan mikir, entar tua duluan baru tahu rasa,"


"Eh Tit, kamu ngerti hukum gak?"


"Aku teh emang pernah ada niatan belajar hukum tapi cuma niat aja, jadi gak ngerti sih cumaaa aku punya kenalan yang lumayan paham, dia masih kuliah sih tapi pengalamannya udah banyak," ungkap Tita.


Ada untungnya juga Alma bertanya.


"Akhirnya, bisa tolong atur janji sama dia gak?"


"Sekarang mau? dia lagi di sini,"


"Ih satsetsatset pisan, aaaa makasihh banyak Tit,"

__ADS_1


"Kembali kasih sok atuh, selesaikan dulu pekerjaan kamu nanti kita ngobrol sama si temenku," ungkap Tita. Alma dan Tita segera merampungkan pekerjaan mereka.


Sekitar 2 jam berlalu akhirnya mereka bertemu.


"Mara kenalin ieu besfren urang, pokokna mah bageur pisan," Tita mengenalkan temannya kehadapan Alma.


"Bageur? oh sejenis bajigur?," sialnya mereka malah tertawa.


"Gue salah kah?," pertanyaan polos terlontar dari mulut Alma.


"Bageur teh baik hati, gitu ah pokokna mah,"


"Oh yang jelas dong!" jawab Alma.


Temanya Tita hanya memperhatikan perdebatan itu sambil sesekali tertawa.


"Itu udah jelas ya, oh iya namanya Digi," Tita kembali lagi mengenalkan temannya.


"Digi? nama panjangnya?,"


"Digidig-gidig-gidig anak ayam turun bergidig," Tita menirukan nyanyian anak kecil.


"kotek syalan 😭," Digi sudah tidak sanggup lagi mendengarkan ocehan Tita yang diluar angkasa.


"Gue masih tidak percaya si Tita ada yang nemenin di sini, hebat pisan ditemenin padahal budakna freak,"


"Hahahaha hiburan, meskipun freak dia bukan orang jahat," jawab Alma


"Enya sih satuju pisan, oh iya tadi mau minta tolong ngapain?" lebih baik Digi mengambil alih perbincangan ini.


"Sebelumnya kenalin gue Mara, lo kan anak hukum nih...."


Ucapan Alma terhenti ketika Tita memotong pembicaraannya, "kela..kela, dia bukan anak hukum tapi anak pak Yayan nu kuliah di jurusan hukum,"


"Ih cicing heula Tit, ah urang ingin menghapuskan maneh ti jajaran babaturan tapi maneh sobat urang terbaik sepanjang sejarah," frustasi juga mengadapi Tita.


"Maksudnya gitu Titaaa.... ini lebih singkat aja," Alma mulai terbiasa dengan Tita, lagipula yang diungkapkan Tita terkadang membuatnya tertawa.


"Iya maaf atuh, da mulut aku teh sok gatel mau ngoreksi kesalahan, sok dilanjutkan aku mau menutup mulut rapat-rapat sekaian izin kebelakang dulu,"


"Jadi apa yang perlu gue bantu?,"


"Langsung intinya aja nih?" tanya Alma.


Keduanya larut dalam pembahasan yang cukup pelik, kerja sama diantara mereka  diharapkan bisa melindungi Alma dan juga membantu kasus ini kembali diangkat.


To be continued......


makasihhh banyak udah baca


sekian,


Biasanya sering update di Tiktok


©storywd.asa


Byee sampai jumpa nanti.....


Minggu ini updatenya di hari senin-selasa

__ADS_1


Minggu selanjutnya di hari weekend 🛵


__ADS_2