

Happy reading Y'all
Alma dan Ghaftan tak sengaja bertemu di taman. Sepertinya Ghaftan tengah membawa adiknya berjalan-jalan sebelum berangkat kerja. Gadis kecil yang bernama Moi itu tengah berlarian mengejar seekor ayam yang nyasar ke taman.
"Kasian ayamnya nanti trauma."
"Di dunia per-ayaman ada psikolog nya gak? kasian ih itu ayam di kejar-kejar sama Moi," Alma heboh sekali melihat anak kecil, lebih tepatnya ia takut Moi jatuh karena berlarian.
"Pikiran kamu harus di rem dikit, mana ada hewan jadi dokter. Dokter hewan aja Manusia,"
"Kenapa sih kalau ngomong gak pernah salah, fakta mulu, kan gak bisa di sanggah,"
"Itu namanya kelebihan,"
"Kenapa gue selalu mikir hal-hal gak jelas deh,"
"Gakpapa wajar, lagi masa pertumbuhan," Mereka berdua berbincang sambil memperhatikan Moi.
"Makin hari, makin gila," mulut Alma harus di asah lagi supaya lebih halus.
"Ucapan adalah doa."
"Heh bener! ih gue masih pengen waras, cara narik ucapan gimana ya,"
"Minta maaf sama diri sendiri, gak akan ngata-ngatain lagi,"
Alma nurut saja lagi dengan saran Ghaftan "Maaf ya Almara tadi cuma gimik, janji gak lagi. Janji? ah gak usah deh ntar keceplosan terus minta maaf lagi,"
Ghaftan sudah tak asing dengan tingkah Alma, ia hanya geleng-geleng kepala memperhatikannya. "Gue kira dulu udah paling aneh ternyata ada yang lebih aneh lagi."
°°°°
Siang ini Vega menyempatkan diri untuk datang ke kedai sudut pandang. Begitupun dengan Vega, ia hendak menemui kakaknya. Kebetulan Ghaftan sering mengambil banyak job freelance, hal itu yang membuat Vega sulit untuk menemui sang kakak.
"Alma itu orangnya seperti apa?," Vega ingin mengulik fakta tentang Alma, entah karena tertarik untuk menjadi temannya atau justru sebagai cara untuk mencari tahu kelemahan Alma. Kita semua tidak ada yang tahu selain Vega dan isi kepalanya.
"Kamu gak akan tahu dia sebelum kenal secara personal, bahkan gue aja yang kenal dia bertahun-tahun tetep gak tahu semuanya, jadi kalau ditanya Alma seperti apa katanya jawab aja seperti yang lo lihat karena dia gak bisa membuat semua orang melihat dia seperti yang dia inginkan," Vee masih sangat menjaga persahabatannya dengan Alma.
"Tapi menurut gue Alma orangnya egois, emang gak ngerasain? bahkan dia bisa saja merebut sesuatu yang menurut lo berharga Vee," wah kacau, Vega semakin bertingkah macam-macam.
Vee tak terima dengan perkataan Vega. "Cukup jadiin pandangan lo sendiri aja, jangan menggiring opini orang lain buat menebar kebencian,"
Vega mendelik mendengar respon Vee, sepertinya bukan tanggapan itu yang diharapkan.
"Eh kak! sini dulu," Vega menarik kakaknya untuk duduk, kebetulan Ghaftan baru saja tiba, beruntunglah ia memiliki kakak yang mau menuruti semua keinginannya.
"Kalian kan sama-sama gak punya pasangan nih......,"
"Vega, jangan macam-macam deh," sahut Vee.
Perkataan Vega barusan membuat Vee terdiam sedangkan Ghaftan hanya melirik Vee sekilas kemudian menyanggupinya.
'loh kok? plot twist macam apa ini? hidupku seperti permen nano-nano rasanya nyampur-nyampur kadang manis tapi asem juga eh lama-lama kok ada asinnya,'
Vee panik dengan permintaan Vega.

Sedangkan Gahftan sedang mencoba menjaga Vega, ia tak mau menasehati adiknya di depan orang lain apalagi mempermalukannya.
__ADS_1

Tindakan yang dilakukan mungkin tepat dimatanya tapi tidak untuk Vega. Ia akan merasa dibodohi dan dibohongi secara bersamaan oleh kedua orang yang menurutnya bisa dipercaya.

Setelah dipikirkan berulang kali, ia rasa untuk kali ini tak perlu menceritakan kejadian tadi kepada Alma. Dan Vee sedang mencoba untuk menyelamatkan dirinya dari lingkungan yang bisa mendoktrin melakukan suatu hal yang bertentangan dengan hidupnya.
Konon katanya pemikiran seseorang mampu mempengaruhi hidupmu. Oleh sebab itu, harus berhati-hati.
***
"Aku duluan," Meeya lebih dulu berpamitan. Ia sedang berada di lantai 2 kedai bersama dengan Nophel juga.
Sedangkan Vee menghampiri Alma, ia meninggalkan Vega sejenak.
"People call me 'Nophel', but you can call me tonight,"
Alma hanya tak habis pikir dengan perkataan Nophel barusan. "Selamat membadut ya kak,"
"Nyemangatinnya jelek banget," Nophel beranjak pergi mengikuti Meeya yang berjalan lebih dulu dibandingkan dirinya.
Vee jelas mendengarkan ocehan Nophel. "Almaaa sejak kapan kak Nophel jago flirty kayak gitu?,"
"Sejak saat pertama kulihat senyumannya, dalam hati berkata inikah pertanda," bukannya menjawab pertanyaan justru Alma malah bernyanyi. "Kenapa Vee? makin tertarik kah? modelan jamet metal loh itu."
"Jamet yang modelan kak Nophel pasti gue pick sih."
Alma sudah kehabisan kata-kata untuk menyerang Vee.
Tak mau menghilangkan kesempatan, Alma meminta Vee untuk mencari tahu alasan dibalik kak Meeya yang menerima Leo. "Malam ini ada acara di cafe Kendati, kita harus ikut," Vee orangnya cukup terkenal, ia bisa tahu informasi tentang leo yang menghadiri acara di cafe Kendati. Relasi Vee luas.
"Ada perlu apa pak?," Alma tak mau kecolongan, bukan untuk berburuk sangka tapisebagai bentuk antisipasi. Sebelum terjawab, Pak Tian meminta Alma untuk tidak mengganggu orang tadi.
Perlahan Alma masuk keruangannya ternyata disana ada Ghaftan yang sempat mengintip aksi Alma.
'Sus banget, ada apaan sih? apa jangan-jangan itu pemilik kedai? ah tapi kan kita semua belum pernah lihat orangnya, lagipula kenapa harus ditutup-tutupi, aneh, jangan-jangan..... kedai ini tempat penyelundupan barang haram!' pikir Alma, ia langsung membekap mulutnya sendiri.
"Tolong jangan banyak bicara," ucap Ghaftan.
"Baru aja narik nafas, gue belum ngomong apapun ya Muzza!!"
"Muzza?,"
"Gahftan Muzzaki? bentar nama lo siapa?,"
"Bukannya kita sepakat untuk berbicara formal di ruang kerja?," Ghaftan dan Alma membuat perjanjian untuk berbicara lebih formal. Supaya bisa membedakan ketika mereka berada di jam kerja dan saat-saat biasanya.
"Lupa, lagian sih Lo...,"
"Eh Anda, ngendap-ngendap gitu, mencurigakan tau!,"
"Kamu lebih mencurigakan," timpal Ghaftan.
Loh kok mereka berdua saling mencurigai satu sama lain? apakah ini ada hubungannya dengan misi rahasia yang dimaksud keduanya?
Sebelum Ghaftan meninggalkan ruangan kerjanya ia menoleh sebentar untuk mengatakan, "Bilangin ke temen kamu, saya gak akan lakuin keinginan Vega, kecuali dia mengizinkan dan satu hal lagi saya lakuin ini untuk menjaga Vega sekaligus temen kamu itu dari hal-hal yang gak diinginkan kedepannya,"
Alma belum sempat menanyakan apa yang mereka lakukan, ah makin penasaran saja.
"Nangis ajalah kalau gini ceritanya, capekkk kok ya susah banget buat hidup tentram aman damai sentosa, apa jangan-jangan aku yang kurang bersyukur? sujud ku kurang lama? ah Ya Allah maaf, Alma terlalu jauh,"
__ADS_1
"Nangis aja. Nangis memang gak menyelesaikan masalah tapi membuat hati merasa lega," Ghaftan kembali untuk mengambil handphonenya yang tertinggal di atas nakas, ia meninggalkan Alma sendirian seperti sebelumnya.
Yang kalian inginkan itu sosok seperti Ghaftan dan Nophel tapi ternyata yang ditemui adalah manusia seperti Leo.
Leo? dia itu pandai menguasai situasi, perempuannya dimana-mana, tapi anehnya tidak ada satupun yang mengeluhkan sikap Leo? katanya Leo sangat baik dan tidak ada alasan untuk membencinya. Aneh!
***
Alma dan Vee memakai gaun berwarna hitam dipadukan dengan aksesoris yang membuat keduanya terlihat elegan.
"Gaya kita kayak orang mau pesta,"
"Anggap aja lagi acara ulang tahun," ucap Vee.
"Gak ada yang ulang tahun bulan ini Vee," cicit Alma.
Inilah yang membuat Vee harus banyak bersabar jika bersama Alma. "Kan anggap aja, bukan beneran ada yang ulang tahun,"
"Eh itu Leo," ucap Alma.
Vee menurunkan telunjuk Alma. "Ini temanya jadi agen rahasia, jangan main tunjuk-tunjuk aja Almaa, ahhh kak Nophel tolongin akuu,"
"Yeuu itu maunya kamu, dah sini cepet," Alma menarik Vee untuk duduk.

"Kamu ada perjanjian apa sama Ghaftan? dia nitip pesan jangan khawatir katanya, ada apa sih? kepo nih,"
Vee memang tak berniat untuk mengurusi masalah itu, toh paling hanya guyonan saja.
"Mungkin tentang adiknya dia kan temenku juga, wajar sih sebagai kakak harus mampu menjaga," wah Vee mulai menyembunyikan banyak hal sekarang.
Mereka fokus kembali ke target "Yahh kecolongan tapi gakpapa soalnya udah tahu kalau tadi dia ketemuan sama perempuan," ucap Alma.
"Yaudah lanjutin makan dulu, udah lama kita gak ngobrol nanti jadi asing," ucap Vee. Ia akhirnya menyadari kalau beberapa hari belakangan ini persahabatan mereka sempat renggang.
Alma dikirimi pesan oleh Leo. Penyamaran mereka tidak berhasil, untungnya tidak ada yang tahu tujuan mereka.

Tak lama Nophel datang menghampiri kedua wanita yang tengah menyantap makan malamnya, ia menggunakan setelan jas. "Vee keren! ngasih ide kostum tema anak-anak konglomerat yang sedang membicarakan urusan bisnis."
Beberapa kali Alma mencoba mengerjapkan matanya setelah tak sengaja menangkap objek menarik melalui sudut matanya. "Lah itu kan orang yang tadi ada di kedai, kok kak Nophel bisa akrab sama dia, kenapa semua orang mencurigakan? jadi yang salah siapa? "
To be continued..........
info update
TikTok & Instagram
storywd.asa
IG : wullandar1
siapa tau lagi gak buka ig storywd.asa
Lanjut nanti mau nyalain lampu duluu
kalau berkenan silahkan vote dan share thank you all wup u

__ADS_1