
Happy Reading Y'all
"Aku terlalu sering menjadi pendengar
sampai -sampai suaraku tidak pernah didengar"
Sudut Pandang © storywd
°°°
Dengan penampilan yang sudah rapih dari atas sampai bawah. Menenteng tas yang hanya berisi handphone dan sejumlah uang. Meeya melangkahkan kakinya kedalam kedai Sudut Pandang.
Ia memang sering berkunjung tapi kali ini rasanya berbeda. Entah apa yang akan terjadi setelahnya. Mungkin peperangan dingin antar saudara tak sedarah atau akan membuahkan penyelesaian atas pertikaian sebelumnya?
Suara pintu masuk yang tidak begitu terdengar, orang-orang yang tak terlalu mempedulikan sekitar hanya mereka dan pandangannya saja. Meeya langsung memesan minuman dan makanan.
Nampak menarik tatanan baru dari menu yang terpampang disana.
"Seperti biasa," cukup dengan Kalimat itu, Meeya bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Ah sudah dibilangkan kalau Meeya adalah pelanggan tetap disini.
"Kak," satu kata yang cukup bermakna.
"Kita harus bicara dek, kakak gak mau hubungan kita renggang," ungkapnya dengan wajah yang sedikit murung. Meskipun begitu tidak melunturkan parasnya yang rupawan.
Alma hanya mengangguk, ia tak menuruti permintaan Meeya detik itu juga sebab masih memiliki tanggung jawab atas pekerjaannya.
"Jam pulang sebentar lagi."
Alma melirik Ghaftan sekilas. Ia nampak tak peduli dengan sekitar.
"Nah kan nabrak," Secara tak sadar kaki gadis itu kepentok pintu. Alma meringis sakit tapi tidak ia suarakan. Biasalah hanya berlagak tidak terjadi apa-apa padahal aslinya kenapa-kenapa.
"Ada sesuatu yang menggangu pikiran kamu?,"
'Dengan pertanyaan itu I think he always try to saved my life,' Ah mungkin Alma memang harus banyak-banyak bersyukur bahwa masih ada orang yang menanyakan bagaimana keadaannya.
"Aman, makasih," Alma mengatakannya dengan tulus, entah akan dianggap sebagai lelucon atau keanehan semata.
"Tiba-tiba bilang makasih? padahal tadi konteksnya pertanyaan," Ghaftan tidak ambil pusing tapi ia memang pusing dengan Alma.
"Udah-udah, mending kita cari tahu aja siapa pak Tian, saya yakin kamu pasti curiga," benar sekali tebakan Alma.
Pak Tian telah menyebarkan desas-desus kasus yang terjadi beberapa tahun lalu sekaligus melibatkan ayahnya Ghaftan di sana. Mereka tidak akan sembarangan menuduh tapi perlahan bukti mulai mengarah kesana.
Menit selanjutnya menandakan kalau jam kerja Alma sudah berakhir. Dengan langkah yang santai membawanya ke tempat yang sudah di booking oleh Meeya.
"Akhirnya, makasih udah mau ketemu lagi, maaf ya. Andai aja kakak jujur sama kamu mungkin gak akan kayak gini. Kakak juga gak mau kehilangan orang tua dan menjadi orang asing buat kamu tapi ini kenyataan."
"Gak ada yang bisa mengubah kenyataan bahkan saat kamu bilang semuanya bohong," Meeya jarang menunjukkan ekspresi seperti ini di depan sang adik.
Intinya Meeya selalu jutek bahkan seakan-akan tak peduli dengan orang-orang terdekatnya. Sedangkan wajahnya yang ramah, sikapnya yang ceria selalu ia perlihatkan di depan orang lain. Entah motif apa yang ada dibenaknya saat ia besikap seperti itu. No one knows.
"Lucunya, aku anak pertama tapi punya kakak dan ternyata ayah ibu lebih sayang sama kakak,"
"Maaf," Alma tidak memikirkan perasaan Meeya kah? Lagipula siapa yang mau menjadi orang yang hidup tanpa didampingi orang tua. Bersyukur lah dia karena Meeya menyayanginya bahkan sudah tahu sejak awal jika Alma bukanlah adik kandungnya.
"Aku yang salah," Wajahnya nampak memerah, Alma menjerit dalam hatinya. Sangat jelas kalau dia sedang merasakan bagaimana jadi Meeya Sahara, selama ini Meeya tinggal di dalam keluarga yang apa-apa pasti jadi bahan omongan.
Penampilan diperhatikan, pertemanan harus di pilih-pilih, prestasi wajib ditonjolkan, segalanya harus terlihat baik.
"Aku memang gak dituntut untuk cepat menikah tapi tuntutanku adalah harus cepat sukses." ungkapnya mencelos dalam hati.
Ini bukan tuntutan kedua orang tuanya melainkan saudara-saudara dari orang tua mereka yang selalu berusaha ikut campur.
Meeya berusaha menyinggung akar dari permasalahan keduanya. "Tentang Leo......,". Namun Alma sedang tidak ingin mendengar cerita tentang pria itu.
Ia mengisyaratkan dengan gerakan matanya yang menatap Meeya lekat bahwa ia tidak mau membahas Leo.
Leo sebenarnya salah apa? mengapa semua orang selalu memiliki pandangan buruk terhadapnya.
Meeya mencoba untuk mengalihkan perhatian Alma. Jangan sampai niat ia berbaikan dengan sang adik dikacaukan begitu saja. Perlahan ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan tenang setelah itu mencoba untuk mengeluarkan senyuman manisnya.
"Nophel ngajakin kita ke pancuan kuda seperti biasanya, mau ikut?," sudah lama sekali ia tidak berkumpul dengan kakak-kakaknya.
__ADS_1
"Bertiga doang?."
"Maunya sama siapa aja?,"
Sudah jelas ia tak mau ada Ali dan Aca. Bukan bermaksud belum melupakan peliknya kisah mereka di masa lalu tapi ia hanya berusaha untuk tidak mengingat kembali kejadian itu.
Kejadian itu yang membuat dirinya kini terjebak di kedai sudut pandang, berbagai pandangan buruk keluarga besarnya atas keputusan yang pernah ia buat dan berakhir mengecewakan.
Padahal ia tidak bermaksud menyenangkan semua orang, hanya melindungi diri sendiri tapi ternyata mereka berharap terlalu banyak.
****
"Kak, bisa lebih hati-hati dalam berteman gak? teman-teman kak Meey semuanya palsu mereka cuma manfaatin ketenaran kakak," Meeya terlalu baik di depan semua orang.
Alma risih dengan perkataan buruk tentang kakaknya bahkan kalimat itu terucap dari seseorang yang katanya mengagumi Meeya.
Katakanlah mereka iri terhadapnya.
"Suttt...... udahlah lagipula dimanfaatin atau gak dimanfaatin, mereka akan pergi dengan sendirinya, gak perlu repot-repot dipermasalahkan," ini dia sifat Meeya yang Alma tak suka.
Ketika dinasehati malah menyangkal dan menganggapnya sebagai angin lalu.
Diperhatikan tapi tidak diterima dengan baik. Itu yang sering Alma rasakan saat mengingatkan Meeya. Tapi balik lagi apapun yang di katakan oleh orang lain tetap saja semua keputusan ada di tangan 'kamu'.
Seperti biasanya Nophel selalu menemui Alma dan Meeya. Langkah kaki pria itu dibarengi dengan wajahnya yang berbinar.
Apalagi yang sudah pria itu lakukan? Pertanyaan itulah yang muncul dibenak kedua saudara tak sedarah ini.
"Tumbenan banget sumringah?," pertanyaan Meeya belum sempat terjawab.
Mereka mengarahkan pandangannya ke tempat lain. Terdapat seseorang yang mengikuti Nophel dibelakangnya.
Orang itu berparas manis. Meeya dan Alma saling melemparkan tatapan bertanya-tanya.
Bukan bertanya 'siapa dia?' melainkan 'kok bisa sama dia'.
"Mukanya bisa biasa aja gak? Kak Meey juga jangan ngeliatin gitu serem tau,"
Alma menggoda Vee dengan ekspresi wajah. Vee ingin sekali melempar bantal tepat di depan wajah sahabatnya. Bukan bermaksud kekerasan hanya saja raut wajah Alma mengesalkan, Vee tidak bisa digoda seperti itu.
Alma mengangguk.
Berjalan menuju ke parkiran disuguhi dengan langit sore yang tenang dan udara yang tidak begitu sejuk namun jauh lebih baik daripada harus mendengar suara macet dan teriknya sinar matahari.
Vee jalan berdampingan dengan Alma dan membiarkan kedua orang yang lebih tua dari mereka berjalan lebih dulu. "Udah baikan nih ceritanya?,"
"Siapa yang marahan,"
"Kenapa ya kak Meey kalau di depan orang lain itu ceria, ramah, banyak bicara, terus semua orang bisa nerima dia dengan baik. Tapi di depan kita semua yang deket banget malah kebalikannya agak cuek, pendiem, baik sih cuma serem aja liat raut wajahnya," Mulai nih Vee mereview kak Meeya. Ia suka sekali memperhatikan Meeya ketika tidak sengaja bertemu di lingkungan kampus.
"Karena dia tau kalau dengan orang terdekatnya gak perlu repot-repot menunjukkan itu semua. Mungkin juga dia berpikir kalau orang terdekatnya menerima dia tanpa harus berusaha keras agar diterima."
Kalian akan kaget kalau tahu mimik wajah Meey yang berubah drastis disetiap situasi dan lingkungan yang berbeda-beda, Alma sering mengira kakaknya ini pandai berakting padahal Meeya hanya menerapkan prinsip 'Menyesuaikan, dengan siapa dia bicara maka berubahlah cara bersikapnya.'
"Padahal orang terdekat yang lebih membutuhkan validasi," sindir Vee.
Alma mendelik. Tapi ada benarnya juga. "Biasanya yang ditunjukin dimuka umum itu sifat cuek tapi ini sifat cerianya, yang kalau di lihat oleh kita aneh karena seperti bukan dia,"
Mereka berdua sengaja melambatkan langkah kakinya dibandingkan dua orang yang sudah sampai di depan pintu mobil.
"Ah udahlah bahas sudut pandang kita terhadap orang lain gak akan ada habisnya yang muncul tetap spekulasi kita entah itu beneran atau cuma firasat aja,"
Sedekat apapun hubungan persaudaraan mereka tetap saja ada rahasia yang mungkin tidak bisa terungkapkan.
'You think you know me more than me?'.
°°
Di sisi lain kebahagiaan kecil tidak pernah muncul dihadapan Vega, itu menurutnya mungkin saja Vega tak menyadari kalau kebahagiaan bisa hadir kapanpun sesuai yang ia mau.
Vega sedang berkumpul dengan teman-temannya, mereka berada di salah satu sudut kampus yang paling populer dikalangan anak DKV.
"Kalian mau beli ini gak?,"
__ADS_1
"Ih itu bagus, ayok kita beli,"
Vega mencoba untuk nimbrung di obrolan mereka. "Bagus tapi itu lumayan mahal loh,"
"Gakpapa daripada nanti nyesel karena gak kebeli,"
"Jangan pikirin masalah uang, tenang aja Vega,"
"Ih gue gak ikutan beli ya soalnya udah punya satu di rumah, lebih bagus dari itu kayaknya,"
Vega benar-benar tidak bisa terus-terusan ada didekat mereka. Mereka baik tapi inilah yang terjadi.
Merasa beda padahal sama-sama hidup.

Pesan dari Ghaftan.
"Kenapa orang-orang selalu menyombongkan uang? padahal lebih bersyukur lagi kalau mereka beneran peduli, emang sih uang itu penting tapi **** gue gak bisa jelasin apapun lagi. I hate you but I need you!."
Leo tak sengaja berjalan di depan kerumunan teman-teman Vega.
"Pinjem Vega sebentar," ungkapnya. Bagaimana Vega tidak menyukai pria ini kalau sikapnya saja bisa membuatnya salah paham.
"Ada apa Le?,"
"Naskah kemarin bagus, next project yang nulis naskah lo aja ya,"
Padahal Naskah itu dibuat oleh Vee. Vega lupa mencantumkan nama Vee disana.
"Iya,"
"Lain kali kalau gak nyaman jangan dipaksa, masih banyak orang yang mau menerima lo tanpa harus berusaha keras terlihat seperti mereka,"
"Adaptasi boleh tapi tempatkan dimana lo bisa diterima dengan baik,"
"Kok bisa tahu?,"
"Wajah lo kelihatan kayak mikirin beras yang abis sekarung," ungkap Leo.
Senyuman manis terpatri di wajah Vega.
"Mau ikut berkuda gak?,"
"Dimana? tempat biasa?,"
"Iya, mau dimana lagi emang? di sana ada si Vee sama Alma,"
Vega tetap akan ikut sih walaupun Vee dan Alma tak mengizinkan.
"Nanti gue bilang ke mereka mau ngajak lo, lagi pula ada Nophel di sana, kalian saudara kan?,"
Bagaimana Leo bisa tahu?
Leo memang mencari-cari masalah. Sudah tahu permasalahan kemarin saja tidak terselesaikan kini sudah mendatangkan masalah baru.
Untungnya Alma sudah menyerah. Terserah mereka mau melakukan apapun. Yang sakit hati pun toh bukan dia.
Padahal Alma hanya ingin setiap kesalahannya yang pernah dilakukan tidak akan terulang kembali.
to be continued......
sampai sini dulu ya
lanjut nanti sekalian revisian
kehidupan real life ku sedang menumpuk
see u when i see u
jangan lupa belajar kalo ga belajar nanti di hajar 😄
biasa update di Tiktok © storywd.asa atau IG nya
__ADS_1
bye bye wup ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡