Sudut Pandang

Sudut Pandang
6


__ADS_3


"As long as I'm with you, I got smile on my face"


°°°°°°


"Maaf aku gak bisa menyelamatkan kamu, dirimu terlalu berantakan, kalau aku tetap ada disampingmu nanti aku yang gila," ujarnya tempo hari pada saat acara pertemuan dua keluarga besar.


Bagi Alma tidak masalah jika harus disakiti seperti itu bahkan ia tidak akan mengemis seseorang untuk tetap bertahan disisinya, tapi bagi keluarga besarnya semua itu adalah masalah.


Lantas mengapa keluarga itu datang lagi? kali ini Meeya yang menjadi korban.


"Kak, aku gak percaya sama dia," ucap Alma gusar ketika melihat kakaknya disandingkan dengan Leo.


Baru saja tadi siang mereka berdua dipertemukan, berharap tidak akan bertemu namun kenyataan berkata lain.


"Kenapa? bukannya dia orang baik?," Nophel tak ingin melihat sahabatnya menderita tetapi ia berusaha untuk tetap berpikir positif.


"He's Players, aku gak tahu harus jelasin seperti apa, intinya kak Meeya gak boleh salah pilih orang.," ucap Alma.


"Pokoknya jangan berpikir kalau kakak bisa mengubah sifat seseorang. Mereka gak akan pernah berubah kecuali atas dasar kesadaran dirinya sendiri."


Nophel nampak mengkhawatirkan keadaan Meeya.


"Lagian tante aneh banget sih, orang mau lulus disuruh tunangan, padahal kak Meeya gak pernah bilang apapun soal itu," kesal Alma.


"Take a breathe, kita pastikan dulu kebenarannya jangan sampai salah nuduh, gak baik cil," tutur Nophel, meskipun dia kesal tapi disaat seperti ini bukan waktu yang tepat untuk bertindak gegabah.


"Eksekusi gak sih?," ucap Alma.


"Siapa? cowok itu? bahasamu ketinggian cil, nanti kita introspeksi," jawab Nophel.


"Introgasi gak sih?," pikir Alma.


"Oh iya, ini gara-gara deket kamu, jadi kebawa otak udangnya," ujar Nophel tersenyum sedangkan Alma dibuat kesal mendengarnya.


Entah apa yang sebenarnya Meeya rasakan, kita tidak pernah tahu. Namun dari satu sudut terpampang jelas raut wajah yang bahagia.


"Harusnya gak usah senyum," ucap Alma sinis.


Meeya terkejut mendengar adiknya yang begitu ketus. "Maaf ya dek, seharusnya kakak gak terima, maaf udah nyakitin kamu, maaf udah buat kamu inget kejadian beberapa tahun lalu, maaf.....," berulangkali Meeya memohon maaf dari adiknya.


"Jangan pikirin aku, are you happy ? Don't lie, I don't like him..., but if you happy, I can't do anything," Alma tidak suka basa-basi dengan kakaknya.


"Kakak bisa atasi semuanya, Leo kayaknya baik, dia gak baik buat kamu bukan berarti gak baik buatku," ucap Meeya.


Apa yang dikatakan Meeya ada benarnya. Kalau dia bukan orang yang baik untukmu bukan berarti gak baik bagi orang lain.


"Kak jawab aku sekali lagi, are you happy?," Alma menuntut jawaban sang kakak.


"I'm happy, kelihatan sedih gak? enggak kan? lupain kalau kakak pernah bilang gak mau di deketin sama dia, "


"Meskipun kakak tahu kita gak akan pernah bisa lupain kejadian hari itu. Anggap aja hari ini diadakan untuk menghapus kejadian tempo hari, ingatan saat itu akan berubah jadi baik." tutur Meeya sambil tersenyum.


"Kak tahu gak apa yang lebih nyakitin? melihat kamu tersenyum," Alma segera memeluk kakaknya.


'Maaf Alma, kakak gak bermaksud,".


"Ekhm," Nophel menginterupsi kakak adik yang sedang dalam suasana haru.


"Hai bro!" sapa Nophel kepada seseorang yang bernama Leo.


Rupanya Aca dan Ali pun menghadiri acara ini apalagi sambil bergandengan."Eh hallo Alma,"


'Ini mah namanya pembunuhan berencana,' meskipun hatinya mendelik tapi Alma tetap mengatur ekspresi wajah dengan tenang.


"Kak Meeya, aku mau pinjem Leo sama Kak Nophel dulu ya mau ngobrol sebentar," Alma meminta Nophel untuk menarik Leo menjauhi kerumunan.


Leo tetap tenang meskipun ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini, "Yang bener aja lo! itu kakak gue loh bukan orang lain! bilang ke gue kalau lo cuma pemeran pengganti," tutur Alma.


"Cil tenang," Nophel mencoba meredam emosi Alma.


"This is a real life not a fake life, pemeran pengganti? yakali, kebanyakan nonton film ni bocah," ucap Leo.


"Ya terus maksudnya apaan? kakak lo udah pernah mempermalukan keluarga ini, kalau sampai kejadian dua kali dapet piring retak lo!,"


"Alma biarin kakak yang ngomong ya," Nophel tidak mau membiarkan emosi menguasai diri Alma.


"Jelasin niat lo apa? lo serius gak sama Meeya? kalau cuma bercanda mending enyah sekarang juga!," Nophel tidak emosi, ia tidak ingin menyelesaikan permasalahan dengan berantakan, semuanya harus rapih.


Leo tersenyum, ia hafal betul dengan Nophel. Bagaimana pun juga mereka pernah berteman saat SMA.


"Lo tau kan apa yang sebenarnya terjadi di hidup gue? perihal ini bukan untuk dijadikan bahan candaan, gue memang gak pernah kelihatan serius tapi ingat gue juga manusia sama seperti kalian, ada saatnya candaan itu adalah topeng dibalik sifat keseriusan yang dipunya, gue rasa gak perlu mendeskripsikan diri kepada siapapun, biarin orang lihatnya seperti apa, niat? dari awal niat gue udah baik, dan satu lagi gue cuma mau lindungi Meeya aja," tutur Leo.


Bayangkan saja melihat Leo yang sering flirty dan gak pernah serius tiba-tiba tanpa ada kisi-kisi apapun muncul dalam keadaan mau menjalin hubungan serius dengan kakaknya.


'And again, I'm sorry Alma, gak mudah jadi lo tapi gak mudah juga untuk kakak lo,'

__ADS_1


Mengapa semuanya nampak seperti permainan belaka.


"Kalau tujuan lo baik, gue gak akan pernah menghalangi apapun tapi jangan sampai macam-macam, jangan keulang lagi hari dimana lo hampir mati di tangan gue!," ucapan Nophel kali ini berhasil membuat Alma tercengang. "


"Bukan gue yang kecepetan tapi lo yang telat, gak ada waktu untuk menyesal," Leo mengatakan seperti ini karena mengerti kalau Nophel pernah tertarik dengan Meeya, meskipun tidak terucap secara langsung tetapi sorot wajahnya nampak begitu jelas di mata Leo.


Alma tidak menyangka kalau Nophel hampir membuat orang lain terbunuh.


Perbincangan mereka berakhir dengan ketegangan, Leo dipanggil kembali untuk menyapa tamu yang hadir sedangkan Alma meminta Nophel untuk merundingkan sebuah misi.


"Mau ngapain kita?," tanya Alma.


"Kita harus menjaga sebelum sesuatu itu menjadi rusak," Nophel membisikan sesuatu kepada Alma.


"Kak, kalau boleh jujur kenapa hidup gue penuh misi dan rahasia deh, gak di tempat kerja, di sosial media, sekarang realita keluarga pun terseret arus," 


"Satu bulan dari sekarang ya cil kalau bisa," bisik Nophel.


"Aku pikirin dulu ya kak, bukan hanya menyangkut kak Meeya aja tapi semua hal yang ada di hidupku, untuk kali ini aku gak mau gagal menyelesaikan misi,"



*****


Sejenak melupakan hari bahagia yang penuh tanda tanya. Alma segera menghubungi Vee. Semalam ia tidak menghadiri acara Meeya karena harus menyelesaikan tugas kelompoknya. Semoga saja hari ini Vee tidak sibuk.



Percakapan antara Vee dan Vega



Sebenarnya Alma sedih, sebab teman yang ia punya saat ini hanyalah Vee. Tak tahu harus bercerita ke manusia mana lagi disaat seperti ini.


"Hari ini Pak Tian manggil kita keruangannya," ucap Ghaftan menyadarkan Alma.


"Hmm ok," Alma hanya menjawab seadanya.


"Jam istirahat Saya ada pekerjaan, kalau mau ngoceh saya temenin," secara tersirat Ghaftan menawarkan diri untuk menjadi pendengar.


"Makasih," Alma tidak tahu harus mengatakan apa selain terima kasih.


Alma kembali ke ruangan kerjanya, ia harus mempersiapkan laporan sebelum menemui Pak Tian, yakni manajer mereka.


"Kali ini pak Tian mau ngasih tau apalagi? berasa jadi mata-mata mereka, tapi gakpapa simulasi jadi agen BIN," ungkap Alma.


Ada yang mengetuk pintu, "Ayok, pak Tian udah datang,"


Alma tidak siap untuk dimarahi saat ini, tolong jangan dulu, mentalnya tidak akan kuat.


Saat memasuki ruangan rapat suasananya menjadi tegang. Pak Tian sangat tegas apalagi saat terjadi kecerobohan karyawan. "Silahkan Alma untuk memberikan laporan lima bulan terakhir terkait penjualan," ucap Pak Tian.


Alma mulai berdiri, "Mohon maaf pak,.."


"Kenapa?," pak Tian bertanya dengan nada mengintimidasi.


"Laporannya belum saya backup, dan laporan aslinya ...,"


"Sebentar saya potong dulu, dengarkan! inilah sebabnya saya ragu ketika memilih kamu untuk masuk tim, kecerobohan ini bisa menghancurkan semuanya, saya terima kamu karena saya pikir kamu akan melanjutkan pendidikan tapi ternyata dari awal saya salah," ucap Pak Tian dengan nada yang meninggi. "Saya berusaha untuk memanfaatkan situasi."


Ghaftan melirik Pak Tian, "Maaf, seharusnya bapak dengarkan terlebih dahulu apa yang akan di sampaikan, penilaian bapak bisa saja salah, Alma akan mengatakan kalau laporan yang asli ada di saya, jadi saya yang akan presentasi kali ini," ucap Ghaftan dengan tegas.


Entah mengapa Pak Tian nampak menurut saja dengan ucapan Ghaftan.


Setelah selesai presentasi, Alma langsung keluar menuju balkon. Banyak kursi dan juga meja bekas yang sudah usang.


"Bodoh banget sih! apa yang terjadi kalau Ghaftan gak punya data itu? habis Alma! lo gak akan pernah ada lagi di kedai ini! mana sampai sekarang misi itu belum terungkap, ceroboh!," ucap Alma.


Ia hampir memaki dirinya sendiri dengan keras, seperti tak ada toleransi lagi untuk dirinya sendiri.


Ghaftan membuka pintu balkon dengan tenang sampai tak terdengar oleh siapapun,"Kamu memang ceroboh bukan berarti kamu bodoh, masih mau mengatai diri sendiri atas semua hal yang udah kamu lakukan? jangan terlalu keras sama diri sendiri,"


Alma melirik sekilas ke belakang. "Kenapa kesini?,"


"Saya cuma gak mau ada yang bunuh diri di kedai ini,"


Alma melirik sarkas dengan tatapannya meskipun tak berani berlama-lama menatap lawan bicaranya "Lo pikir gue sebodoh itu mencelakai diri sendiri?,"


"Nah itu tau, berarti kamu gak bodoh cuma pelupa, coba deh inget-inget kalau kamu pernah memberikan berkas itu ke saya lewat email tengah malam," tutur Ghaftan.


Alma tak bisa mengingat apapun untuk saat ini, pikirannya tak mampu mengorek lebih dalam lagi. "Gak ingat apapun, tapi makasih udah gantiin presentasi tadi," ucapnya tulus.


"Minta tolong sama orang lain itu hal yang wajar, kamu bisa minta tolong saya atau bahkan  kasih tau saya kalau ada apa-apa dengan pekerjaan, kita satu tim,"


Alma mengerti apa yang Ghaftan sampaikan, mungkin saja Ghaftan memang takut dikeluarkan juga. "Lo lagi menyelesaikan tugas rahasia ya?," tanya Alma.


"Namanya juga rahasia, perlu saya jawab pertanyaan kamu?," Ghaftan dengan wajahnya yang tenang meskipun kalimatnya nampak sarkas untuk didengar.

__ADS_1


'Bener juga yang dia katakan tapi kan siapa tau aja misinya sama jadi bisa menerjang badai sama-sama,'


"Boleh numpang cerita gak?," tanya Alma.


"Lanjutkan dulu pekerjaan, pada saat jam istirahat saja," Ghaftan memutar badannya menuju ke pintu balkon.


"Baik tapi galak, makasih deh," ucapan Alma tidak terdengar oleh Ghaftan.


Selama beberapa hari belakangan ini Vee sibuk begitupun dengan Alma. Tapi makin hari Alma merasa Vee semakin menjauh darinya. Apakah ia akan kehilangan Vee?.




Alma tidak bisa memaksakan orang lain untuk tetap berada di sampingnya, ia tak bisa membuat orang lain terus menerus ada untuknya.


Mereka punya kehidupannya sendiri begitupun dengan Alma. Pada intinya tidak usah menggantungkan diri kepada manusia manapun karena ada saatnya waktu mereka tidak lama untuk kamu.


"Satu-satu aku sayang ibu, dua-dua juga sayang ayah, tiga-tiga sayang adik kakak, satu dua tiga siapa yang sayang anak kedua?," Alma membersihkan alat masak didepannya sambil bernyanyi.


"Kamu lagi ngapain?," tanya Ghaftan.


'Lama-lama ni orang kayak jailangkung, tiba-tiba ada tanpa diminta,'


"Fokus kerja Alma," ucapnya.


"Iya, maaf pak Ghaftan! saya permisi," Alma menjauh dari Ghaftan setelah menekankan kata maaf.


"Kalau kamu nanya siapa yang sayang anak kedua, mereka semua sayang sama kamu, ubah aja sudut pandangnya," ucap Ghaftan.


"Ya," Alma menjawab seadanya.


"Ghaftan itu sensitif banget sih! aku suka takut lihatnya, kamu juga kok tahan aja gitu satu tim sama dia,"


"Karena aing kuat," jawab Alma.


"Heh kamu gak boleh ngomong 'aing',"


"Lagian minta diajarin bahasa sunda, nolak mulu,"


"Atuh da kamu mah mintanya diajarin bahasa kasar, mana mau aku, nanti dicirian ku saBandungeun ngajarin anak gadis orang gak bener,"


"Tit, kamu lucu deh, kayak badut, kok bisa gitu humor nya minim, kan jadinya menghibur jiwa-jiwa yang rapuh ini,"


"Tit? atuh ih manggilnya nu bener. Ta aja jangan Tit, kedengarannya kayak kamu nuduh aku teh bintitan,"


"Bintitan itu gimana?."


"Sumpil ya, aku mah mending kamu gak usah kepo deh, capek jelasinnya sampai lebaran pun kayanya gak bakalan ngerti,"


"Dah lah, ngabrut banget dengerin kamu ngomong, aku gak ngerti!"


°°°°


Jam istirahat kali ini Alma memilih untuk berada di lantai dua kedai, selain pemandangannya yang indah, kebetulan udara dari atas sini sangat segar cocok untuk menenangkan pikiran.


"Kenapa aku gak bisa nangis ketika berada di depan orang lain? kenapa aku cuma bisa ketawa di depan mereka? gak suka perasaan ini tapi kalau gak dirasain apalagi yang harus dilakukan? gak ada! selain menerima aja, pasrah dan ikhlas dengan ketetapan-Nya," Alma duduk dengan tenang bersama pikirannya yang berlarian kesana-kemari.


"Melamun itu diperbolehkan tapi gak baik juga kalau keseringan," tutur Ghaftan.


"Kaget! kalau datang tuh intro dulu , ini tiba-tiba muncul gimana kalau gue punya penyakit jantung?!,".


"Jangan,"


"Iya juga sih, jangan deh Alhamdulillah masih sehat," tuh kan Alma selalu teratasi oleh Ghaftan.


"Ada masalah apa?,"


"Maaf saya ulangi, silahkan nikmati waktu istirahatnya," Ghaftan pergi namun ia kembali lagi.


"Apalagi?," tanya Alma.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsallam, ini manusia satu hobinya bantuin tapi kadang ngeselin," Alma hampir tertawa melihat tingkah Ghaftan.


"Maaf Alma,"


to be continued..............


makasih udah baca 🖤


kalau berkenan bisa share atau vote, bye bye lanjut nanti mau makan soalnya


sering post di ig storywd.asa


wullandar1, tktk storywd.asa

__ADS_1


__ADS_2