Sudut Pandang

Sudut Pandang
13


__ADS_3

Happy Reading Y'all


"ketika  suka tapi  takut itulah kondisi saat melihat gulungan ombak dari tepi pantai,"


_


storywd


Khawatir kekacauan akan terjadi setelah memutuskan untuk percaya kembali kepada orang lain. Haruskah Alma mempercayai Ghaftan? mereka bagaikan dua orang yang saling berperang dalam mencari tahu kebenaran.


Alunan udara yang berhembus dingin tatkala menjadikan atmosfer di sore hari  terasa membeku. Pikiran ini mengarahkan antara berkata sejujurnya atau lebih baik menutupi demi menjaga diri.


"Alma? masih ada disini?," Ghaftan menginterupsi kegiatan melamun gadis dihadapannya. Jika saja Ghaftan tidak mencurigakan mungkin Alma akan berterus terang kepadanya.


Alma pernah membaca cuitan sekilas di akun sosial media katanya, jangan terlalu mempercayai teman kantor. Entah itu bukti nyata atau hanya untuk oknum tertentu saja. Intinya Alma tidak menggeneralisir maksud cuitan tersebut.


"Gakpapa kalau belum bisa ngasih tahu sekarang, jangan merasa terpaksa apalagi terbebani, saya belum bisa kasih jaminan apapun, wajar aja kalau kamu hati-hati," tutur Ghaftan.


Alma berucap lega mendengarkan penuturan Ghaftan. Ghaftan berjanji akan menceritakan perlahan. 


"Maaf ya, tapi gue emang sesusah itu buat terbuka dan percaya sama orang asing."


Ghaftan terdiam, 


"Aduhh, bukan gitu maksudnya. Bukannya gak menghargai dua tahun kita kenal tapi ngerti kan yang gue maksud? tetep aja kita itu dua orang asing


"Jangan merasa terbebani lagipula saya yang butuh kamu, mungkin kedepannya akan sama-sama menguntungkan."


Mereka melanjutkan kembali acara makan-makannya. Ghaftan telaten sekali dalam mengurus adik bungsunya. Ia menyuapi Moi dengan hati-hati dan penuh ketulusan. Mumpung adiknya sedang baik-baik saja katanya, ah padahal setiap hari pun Moi baik-baik saja, mungkin??            No one knows.


"Kenapa tatapan mata dia tulus banget, dia gak main-main dengan ketulusan hatinya, ngerti kan bukan tatapn palsu soalnya tatapan palsu itu terasa dingin meskipun kelihatannya hangat, thanks for everything, I learn a lot," Alma memang kagum akan sikap Ghaftan, bukan berarti ia menyukainya ya. Garis bawahi 'hanya kagum'.


"Kamu  sudah tahu kan, kalau pengelolaan Kedai sempat hancur karena isu korupsi?," tutur Ghaftan mengubah dirinya menjadi mode serius.


Sehari-hari sudah serius, kini lebih serius lagi. "Kalau ngobrol sama Ghaftan berasa hadap-hadapan sama dosen killer."


"Iya. Itulah salah satu alasan kenapa saya ada disini," lidah Alma terasa kelu dan kaku kalau pakai gaya bicara seperti ini. Rasanya tidak luwes.


Alma sempat-sempatnya melamun. "Gue lagi ngurusin nasib orang lain, pdahal nasib gue aja belum terdeteksi. Ah elah gini amat kerja di orang, lama-lama bangun perusahaan sendiri aja kali ya."


"Saya tau kamu kurang nyaman bicara formal gini. Senyamannya aja, gak usah di paksa, maaf," tuturnya. Ah Ghaftan memang menyadari hal tersebut.


Alma cengengesan. Ia seperti tertangkap basah melakukan penggelapan dana. Padahal sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berlaku formal.


"Udah gak usah minta maaf, gue aman kok. Seenggaknya bisa belajar gaya bicara yang berwibawa." Yang benar saja Alma? berarti dia mengakui Ghaftan berwibawa di depan orangnya langsung.


Impresive.


"Saya lanjutkan lagi, kamu sudah tahu siapa pelakunya?,"


"Siapa?," sebelum Ghaftan menjawab pertanyaan, Ia di telpon berkali-kali oleh Vega.


Terpaksa ia harus membalas pesan singkat sang adik.


"Kalau  jadi adiknya Ghaftan pasti hidupnya gak akan kesepian, apapun bisa cerita ke dia. Random sekalipun pasti ditanggapi."


"Dia selalu melihat sesuatu dengan cara berbeda, selalu menempatkan dirinya di segala posisi, tapi payahnya kalau lagi ngomong suka pedes nusuk ke hati but I'm grateful to know him," Setelah sadar. Alma merutuki dirinya sendiri.


Ia tidak mau terlalu dalam menganggumi seseorang. Enough!


Ghaftan di mata Alma bagaikan tokoh fiksi tapi sosoknya nyata.


Dia ada dihadapanmu tapi tidak untuk kamu. Dia bernafas sepertimu tapi tidak akan pernah berkata bahwa kamu adalah separuh nafasnya.


Hidupmu dan hidup nya berjalan beriringan tapi tidak dengan saling mengisi satu sama lain. Semuanya berbeda.


"Alma belum mengenal Ghaftan, bisa saja pandangannya berubah."


Isi chat Vega dan Ghaftan.


__ADS_1





Ghaftan menyimpan kembali ponsel yang sedang dipegang. Ia memusatkan atensinya kepada seseorang yang duduk dihadapannya.


"Boleh saya bertanya di luar pembahasan tadi?,"


Dahi Alma berkerut menandakan kalau ia sedang berpikir apa yang akan ditanyakan oleh Ghaftan. "Sebentar baru sadar satu hal, Kok gak manggil kamu pake kak ya? Gak apa-apa kan kak Ghaftan."


"Saya udah bilang berulang kali ya Mara, senyamannya kamu. Toh usia kita gak terpaut jauh." tuturnya.


"Yaudah deh kalau gitu mau tanya apaan?,"


"Kamu satu kampus sama Leo kan?,"


"Yang namanya Leo di kampus gue bukan cuma satu, aduhh gimana ya jawabnya, eh tapi mungkin yang dimaksud Leo anak Teknik bukan?." Ghaftan hanya mengangguk, semoga mereka sepakat dengan Leo yang itu.


Ghaftan bisa menggali lebih dalam tentang pria yang diceritakan adiknya barusan. "Maaf kalau pernyataan saya aneh, apa benar dia sudah bertunangan?,"


Alma mencium bau-bau keanehan. "Gak aneh sih cuma sedikit mencurigakan, ada apa?," tanyanya.


"Cuma mau tau aja, saya ngerti itu privasi jadi kalau gak dijawab pun sebenarnya gakpapa," ungkap Ghaftan.


"Wah padahal sekali-kali paksa atau gimana gitu, ini dia pasrah banget jadi orang."


"Mau lanjutin ke Pembahasan awal?," pertanyaan Ghaftan membuat Alma terdiam sejenak.


Sebenarnya ini kesempatan Alma untuk mengubah fokus pembahasan sehingga membuat Ghaftan lupa dengan pertanyaannya seputar isu kedai.


"Oh yang tadi? Leo udah tunangan kok," terpaksa mengalihkan lagi pembahasan. Cari aman dulu.


"Ada buktinya?,"


Ini pertanda apalagi. Akankah permasalahan menumpuk tanpa ada penyelesaian. Padahal niatnya membereskan satu-satu tapi malah berdatangan yang baru.


Ah jadi benar ucapan Vega barusan. Ghaftan memastikan hal itu supaya tidak salah paham. Takutnya hanya spekulasi dan gosip belaka. Tunggu! Itu artinya Ghaftan harus menjaga Vega agar tidak terjerumus mencintai orang yang tidak akan pernah bisa bersamanya.


'Maaf. Lagi-lagi kamu harus mengalah,' pikir Ghaftan ketika membayangkan posisi adiknya.


"Makasih informasinya,"


"Iya sama-sama, Moi kelihatannya udah ngantuk deh, pulang aja yuk. Pembahasan tadi simpan dulu, pada intinya kita akan kerjasama,"


"Saya akan cari cara biar kamu merasa aman menceritakannya kalau perlu nanti dibuatkan surat perjanjian."


Wih ngeri. Alma tidak mau terlibat tapi sudah terlanjur berada di dalam lumpur. Sekalian nyebur biar kotornya gak nanggung.


"Saya antarkan kamu pulang dulu," ungkap Ghaftan.


"Tapi kalau Moi ketiduran gimana? nanti yang jagain siapa? pasti gak akan fokus,"


"Kalau dia tidur ya tinggal merem, gak akan bergerak juga," ungkap Ghaftan. Wah pikirkan laki-laki memang beda.


"Gini aja deh, mau ikut anterin Moi setelah itu pulang sendiri juga gakpapa," saran Alma sudah paling tepat, ia tak tega membiarkan anak kecil itu sendirian, ya meskipun ada car seat tetap saja Alma was-was. "Anak selucu Moi harus dijaga dan dilestarikan, pokoknya gitu deh bahasanya, maaf gak pandai berkata-kata."


"Tapi saya harus ngurusin asuransi dulu, nanti kamu kelamaan pulangnya,"


fyi: asuransi merupakan sebuah mekanisme perlindungan terhadap pihak tertanggung apabila mengalami resiko di masa yang akan datang dimana pihak tertanggung akan membayar premi guna mendapatkan ganti rugi dari pihak penanggung.


'Nih orang udah tampan, tulus, orientasinya langsung ke masa depan dan keluarga, apa gak terlalu perpect ya?'


"Gak apa-apa, paling cuma sebentar kan?"


Mereka berakhir pulang bersama dengan rute langsung mendatangi sebuah perusahaan asuransi. Ghaftan melakukan ini agar kejadian tempo hari tidak terulang, saat keluarganya sedang bermasalah dan tidak ada yang bisa membantu atau bahkan menanggung risiko kerugiannya.


Selesai mengantarkan adiknya pulang ke rumah dengan selamat. Giliran dia mengantarkan Alma pulang kerumahnya.


"Boleh minta tolong mampir dulu ke toko bunga gak?,"

__ADS_1


"Boleh,"


Alma sudah tak tahan lagi berbicara formal. Ia segera mengganti gaya bicaranya. "Tapi gue yakin lo gak akan suka."


'Kalau Alma lagi bicara santai serasa jauh banget jarak antara kita,'


"Kenapa? ada alasan yang bisa bikin saya gak akan suka ke toko bunga itu?,"


"Mungkin? ini tuh toko bunganya Keylava."


Ghaftan sempat berpikir sejenak. "Memangnya punya siapa?,"


Loh Ghaftan gak tau toh. "Maaf sekali lagi. Itu punya kak Key yang katanya mantan lo, ih maaf ya bukannya sok tahu tapi gue beneran tahu dari Vega." Aduh Alma ini kebiasaan banget minta maafnya kebanyakan, padahal cukup sekali saja, toh tak melakukan kesalahan yang fatal. Tujuannya agar ia tak meremehkan kata maaf. Soalnya kata maaf bagi sebagian orang sangatlah sakral.


"Oh yaudah. Saya antar, toh kita gak punya masalah apapun,"


'Nah kan smooth banget hubungan mereka.  Padahal kelihatanya cocok. Harusnya sih balikan aja tapi jangan balikan pacar-pacaran, mending langsung pada serius, gak jelas banget deh kalau cuma pacar-pacaran, nanti mereka putus lagi, gitu aja terus sampai rapunzel punya cucu.' pikir Alma.


Mobilnya tiba-tiba rem mendadak. Alma hampir berucap kasar. Ia marah-marah sendiri ketika melihat pengguna jalan yang menyalip tiba-tiba. Hampir saja kecelakaan.


"Udah marahnya? simpan energi kamu."


"Sekali-kali cobain berkata kasar deh. Itu orang gak sadar atau gimana sih!? bisa nimbulin kecelakaan beruntun. Amit-amit astagfirullah nauzubillah jangan sampai sih."


"Tawaran kamu ditolak. Saya tidak akan mengotori mulut dengan kata-kata kasar seperti yang kamu pikirkan."


'Demi apapun! ni cowok standarnya setinggi harapan orang tua. Wah emang keputusan yang tepat join mengagumi ni orang, high value banget kelihatannya. Ayo Alma! lo juga pasti bisa meskipun gak beauty with my face seenggaknya beauty with my brain."


Sesampainya di toko bunga keyLaVa, tidak ada kecanggungan sama sekali.


"Apa kabar Key?," tanya Ghaftan.


"Baik Alhamdulillah, lama ya gak bertemu,"


"Iya. akhirnya impianmu terwujud," Ghaftan terlihat seperti proud ex banget. Ia melihat Key dengan tatapan kagumnya.


"As you know, ini udah ada planning sekitar 3 tahun lalu dan akhirnya jadi,"


"Proud of you. Aku pamit ya," ungkapnya.


Wow. Seorang Ghaftan bilang aku pemirsa? inikah yang dinamakan pisah baik-baik?.


Alma tidak berniat menguping tapi percakapan mereka terdengar kalem dan terasa adem. Tidak ada istilahnya saling mendelik karena ketemu mantan.


"Kak Key kayanya cantik, baik, anggun, positif vibes ya?," tanya Alma setelah mereka kembali ke dalam mobil.


"Cari tau saja sendiri jawabannya," Wah Ghaftan ini agak lain memang.


"Konteksnya nanya loh,"


"Mau jawaban yang seperti apa?,"


Mau dapat jawaban aja harus milih ya? Emang apa-apa itu gak bisa dapat keduanya. Kalau salah pilih bisa bikin sakit hati.


Akhirnya sampai juga di rumah. "Terima kasih telah menghabiskan waktu liburnya."


'Tiba-tiba banget dibilang makasih.'


"Iya sama-sama."


"Lusa kita bahas perjanjiannya. Saya sudah kepikiran cara untuk melindungi kamu."


'Woy lah kok tiba-tiba mau di lindungi. Astagfirullah.'


To be continued.....


info update ada di Tiktok © storywd.asa dan instagramnya.


atau bisa juga di Instagram wullandar1.


Besok-besok lanjut investigasinya ya.

__ADS_1


Sekarang mau makan dulu bye bye lov.


__ADS_2