

Happy Reading Y'all
Masih dengan suasana café Kendati yang ramai dan desain mewahnya. Beberapa orang akan mengira makanan disini mahal namun ternyata tidak seperti yang mereka pikirkan. Bahkan café ini ramah untuk mahasiswa yang sedang mengirit pengeluarannya.
"Kakak kelamaan, Leo udah pulang," tutur Alma.
"Loh kamu yang telat, aku udah daritadi di sini," benar adanya, dia sejak sore telah berada cafe, entah apa yang sedang dilakukannya.
Sejak kedatangan Nophel gerak-gerik Vee terlihat gusar. Ia selalu saja seperti ini, katanya kalau dekat kak Nophel berasa demam pangung. Mulut terasa kelu, badan terasa kaku sehingga pergerakan jadi terbatas dan serba salah. Vee itu gak lebay hanya saja kita yang gak tahu karena kita bukan Vee.
"Kakak lihat ada teman kerjamu di sana,"
"Nice info." Alma mengernyit, ia tak terlalu butuh informasi tersebut.
Baru saja dibicarakan, Ghaftan dan Vega melintas di depan mereka.
"Gak sekalian aja kita makan bareng? supaya kak Ghaftan sama Vee lebih deket lagi," ide Vega memang sudah sepatutnya hanya dipendam saja.
Ghaftan tak memberikan respon apapun selain menyapa kemudian berpamitan dan menarik perlahan Vega untuk pulang bersamanya.
"Dimana lagi kalian bisa menemukan kakak yang sebaik itu," ucap Nophel.
"Itu bukan baik tapi dijadiin babu sama adiknya," timpal Vee. Vee keceplosan, ia tak seharusnya berbicara seperti itu, khawatir image nya di depan kak Nophel menjadi buruk.
"Vee jangan gitu ya, siapa tau dia memang dijadikan babu beneran," tawa Nophel hanya sekilas.
'Kirain mau di ceramahi,'
"Heh kalian berdua gak boleh julid gitu, dosa!." tutur Alma.
Mereka kembali fokus dengan permasalaham yang sedang diselidiki.
"Boleh ngerujak si Leo gak sih! gue paling kesel sama laki yang modelan kayak gitu,"
Nophel melirik Vee sekilas. "Jangan kotori tangan yang bersih, ingat kita gak tahu apa yang sebenaranya terjadi, itu hanya perspektif kita tentang Leo dan itu artinya belum tentu benar, kebenarannya masih patut untuk dipertanyakan."
"Kak, emosi sekali-kali deh sini aku ajarin," Seketika Alma membekap mulut Vee.
Mereka bertiga tertawa tanpa aba-aba. "Cukup deh ngurusin orang lainnya, belum tentu juga mereka mau ngurusin kita." yang dikatakan Alma benar.
"Mau gak kakak kenalin ke seseorang? kamu harus move on dari Ali, gak pantes juga kalau masih mikirin dia,"
Sebagai orang yang dimaksud Nophel, Alma hanya mampu merespon dengan tersenyum.
"Harus banget punya pasangan sekarang? santai aja, lagian umurku masih segini, percaya banget ya kalau didekatkan sekarang bakalan langsung nikah? apalagi cuma pacaran, memang banyak sih kasusnya yang happy ending tapi yaudahlah jalanku bukan di situ,"
__ADS_1
Vee memberikan dua jari jempolnya kepada Alma.
"Oh ya satu lagi, aku udah lama move on dari Ali, bukan orangnya yang bikin berpikir ratusan kali untuk memulai hubungan lagi tapi ada faktor lain."
"Last but not least, mungkin kalo gak ketemu dia gak akan sakit tapi aku gak akan seperti sekarang, inget gak? kata guru kita waktu SMA? beliau bilang kalau pengalaman adalah guru kehidupan dan yang dikatakannya ternyata benar, kita banyak belajar dari pengalaman."
"Aku banyak melakukan hal yang lebih baik, mungkin fasenya melelahkan tapi aku seperti ini terbentuk karena bertemu dengan orang-orang seperti dia,"
Nophel memperhatikan cara Alma berbicara, ia sangat bangga kepadanya. "I proud of you, yang terpenting untuk sekarang adalah sehat, kakak doakan yang terbaik buat kamu cil,"
Tak bisa dipungkiri kalau Vee sesekali iri melihat interaksi mereka berdua, ia tak bisa melarang apapun sebab mereka memang sudah bersama-sama sejak dulu sebelum Vee bergabung bersama mereka. "Gue bersyukur kenal kalian." ungkap Vee secara tiba-tiba.
"Kak ada yang suka kakak loh,"
Vee was-was bukan main sedangkan Nophel hanya melirik Vee sekilas.
"Dia gak akan menyesal dengan keputusannya dan kakak gak akan membuat dia menyesalinya,"
Nah loh! jantung Vee seketika berpacu begitu cepat, pasokan udaranya hampir habis. Inikah ulah Alma? Ah tolong jangan biarkan keinginan Vee mencintai Nophel dalam diam malah terbongkar.
'Lah kak Nophel tahu darimana? fix gue disadap, gak deh canda,'
"Gak usah kaget gitu, lanjutin makannya kita pulang sebentar lagi,"
Alma masih memikirkan tentang Leo, hatinya tak tenang dengan fakta yang baru saja didengarnya. Jika ini hanyalah permainan belaka, tolong akhiri segera, kak Meeya sudah banyak berkorban.
***
Entah kenapa Vega masih belum sadar, ia itu terlalu memaksa orang lain untuk menuruti keinginannya.
Padahal tak ada seorang pun yang berhak menyetir kehidupan orang lain, bahkan jika itu adalah keluarganya sendiri. Sebab pemegang kemudi hanya ada satu orang, sisanya cukup membantu mengarahkan.
"Kak katanya mau nerima Vee, lupainlah si Key itu oke,"
Ghaftan mengangguk, "Maaf ya dek,"
"Untuk?" Vega menautkan kedua alisnya.
Keduanya sedang berada di tempat bubur ayam pinggir jalan bersama Moi. Mereka berencana menunggu kedua orang tuanya pulang meskipun belum kunjung datang.
"Ternyata kondisi ekonomi keluarga kita gak stabil, mungkin kamu merindukan suasana dulu saat rumah kita selalu hangat apalagi dulu hidup segala berkecukupan, gak seperti sekarang tapi kakak sedang memperbaikinya sedikit demi sedikit biar kamu sama Moi gak perlu kesusahan lagi,"
Ghaftan awalnya tidak ingin membicarakan perkara finansial dengan sang adik tetapi ia perlu mengungkapkannya untuk memberikan pengertian.
"Aku terlalu mengemis perhatian ya kak?," tanya Vega.
Ghaftan menyimpan botol yang hendak ia buka, ia memeluk erat adiknya. "Kakak selalu merasa bersalah karena kalian gak bisa merasakan hal yang pernah kakak rasakan dulu, perhatian kita ke kalian terbagi dengan perkerjaan dan hal lainnya,"
__ADS_1
Vega enggan membalas pelukan kakaknya, "Dan dulu kita hidup baik-baik aja kan? kalau kata orang, masa kejayaannya udah habis tapi gak seperti ini yang mau aku rasakan kak, harus berjuang lagi ya? aku udah menyingkirkan Key dari kakak dan aku minta maaf,"
Ghaftan dan Key adalah pasangan yang bertahan cukup lama tapi satu hal yang pasti adalah sikap Key yang begitu manja membuat Vega enggan mengizinkan kakaknya terus menerus bersama Key. Meskipun saat ini Key sudah berubah 180° tapi Vega tetap tidak ingin kakaknya kembali lagi dengan dia.
Beberapa kali Vega memergoki Key membahas masalah keuangan dengan Ghaftan, hal itu membuat Vega menahan kesal, amarahnya memuncak, ia benci jika semua orang mengungkit-ungkit tentang keuangan.
''Gue tau, gue gak punya uang tapi tolong jangan pernah dibahas atau bahkan mengkhawatirkan uang, gue bener-bener benci sama uang kalau gak butuh gak akan pernah gue sebut lagi itu benda,''
Sekarang tahu kan? bahwa kita hanya perlu melihat dari berbagai sudut?
Vega tidak semenyeramkan itu tapi tidak tahu nanti karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi satu detik kemudian.
***
Di dalam kamar Meeya sedang terjadi keributan. "Kak tolong tinggalin Leo!!"
"Atas dasar apa kakak harus turuti kemauan kamu?"
"Leo bukan orang yang bisa kakak percaya sebagai laki-laki, bahkan dia sempat mendekati aku sebelum malam itu kalian resmi bertunangan dan satu lagi, tadi aku bertemu dia bersama perempuan lain," Alma sudah tidak tahan lagi, kakaknya harus segera membuka mata lebar-lebar sebelum menyesal.
"Kamu ikutin dia? itu namanya penguntit dek! atau jangan-jangan kamu tertarik sama dia? katanya kamu udah gak mau lagi berurusan sama keluarganya?"
"Kak! tega ya tuduh aku kayak gitu??" Tapi yang Meeya bilang tidak salah kok, jelas kalau Alma memang membuntuti Leo alih-alih bertanya langsung.
Meeya menahan adiknya yang hendak keluar kamar, "Jangan biarkan orang lain tahu perdebatan kita, kakak akan tetap melanjutkannya meskipun kamu melarang,"
"Tapi kenapa kak? aku butuh alasan yang jelas, kenapa harus Leo?"
Meeya menenangkan adiknya, meskipun ia tak pandai melakukan hal tersebut setidaknya hal itu akan mengurangi rasa emosi di dalam diri Alma.
"Kamu udah yakin dengerin alasan ini?" Alma mengangguk.
Meeya membawa Alma bertemu dengan Leo di kedai Sudut Pandang. Ia tahu bahwa tempat ini menawarkan pemandangan yang tak biasa sehingga mata bisa sedikit termanjakan dan pikrian tidak akan terlalu riuh jika berada di kedai Sudut Pandang.
"Kenapa harus ketemu dia?," Alma yang sedang kesal dengan pria itu malah dipertemukan secara langsung.
"Lo itu beban Alma," ucap Leo.
Hati Alma langsung tersentak mendengarnya.
To be continued...
bye bye lanjut nanti mau makan ayam goreng soalnya tadi dikerubungi semut
untuk info lanjutan bisa cek di ig ataupun tiktoknya storywd.asa
bisa juga mampir ke instagramnya wullandar1.
__ADS_1