Sudut Pandang

Sudut Pandang
5


__ADS_3


Batasan mu masih terjaga?


°°°°


Setiap hari sabtu kedai Sudut Pandang selalu ditutup lebih awal dengan alasan yang sama. Sebagai karyawan biasa mereka tak ambil pusing, justru bisa dimanfaatkan untuk beristirahat.


Alma tengah merapikan kasir sebelum kedai ditutup, karena masih tersisa beberapa pelanggan lagi. "Alma," panggil seseorang yang hendak memesan minuman.


Alma menatapnya bingung, "Maaf siapa ya?,"


Laki-laki itu begitu bersemangat "Gue Leo,"


Alma mulai mengotak-atik mesin pesanan didepannya sembari meladeni orang yang mengaku mengenalinya. "Maaf saya gak kenal dengan pria yang mempunyai banyak wanita," jawab Alma. Alma mampu mengeluarkan kata-kata sarkas didepan orang yang perlu diberikan peringatan.


Ghaftan yang sedang berada disekitar kasir tersenyum mendengarkan penuturan Alma.


"Bangs......," kalimatnya dihentikan oleh Alma. "Padahal gue mau bilang bang Ali, kepeleset s ini mulut, dikira mau ngomong kasar kan."


"Pesanannya sudah? mulutnya mau pakai karet berapa? biasanya kalau yang pedes dikaretin dua ya," tutur Alma.


"Why you never look at me?," ucapnya.


"Because you still a player, totalnya delapan puluh ribu, " Jawab Alma.


Laki-laki yang bernama Leo memilih untuk duduk di meja dekat kasir sembari menunggu pesanannya selesai dibuatkan. "Berapa banyak sakit yang udah dia terima," Leo hampir saja ketahuan memperhatikan Alma.


"Nih pesanannya, apa kabar lo," ucap Alma .


"Halah, tadi aja ngatain," Leo mendelik.


Alma tersenyum, "Maafin ya,"


Leo hendak menarik Alma, "Inget batasan," Alma memperingati Leo.


"Yahh gara-gara bang Ali, jadi gue yang kena, seharusnya lo milih gue waktu itu," ucap Leo.


"Kalau itu, keputusan yang lebih salah lagi," jawab Alma.


"Bentar jangan balik dulu! kenapa lo gak deket lagi sama Kak Aca? sebelum kejadian itu, kalian deket banget,".


"Sebenarnya gak perlu dijawab pun lo udah tau jawabannya, gue cuma mau membatasi diri aja, takut nyakitin kak Aca sekaligus nyakitin diri sendiri, gini-gini juga gue sayang sama diri sendiri," Jawab Alma.


Leo mengangguk, "Berarti masih ada kesempatan buat gue?," Alma menyunggingkan senyum terpaksanya sebelum kembali menampilkan wajah tanpa ekspresi, "Kartu kesempatan cuma ada dimonopoli, udah sana pulang gue mau tutup kedai!,"


"Masih aja ditolak, gue memang adiknya kak Ali tapi gak menutup kemungkinan berbeda dengan dia," ucap Leo.


"Gak menutup kemungkinan kalau lo sama aja kayak dia, bahkan lebih parah, sana pulang! oh ya nitip salam buat ibu, kemarin gak sempet ketemu,"


Leo hampir saja menjadi adik iparnya tapi ternyata takdir berkata lain. Sudahlah Alma tidak ingin memikirkannya lagi.


Alma kembali ke tempat kerjanya, ia dihampiri Ghaftan, "Lain kali jangan usir pelanggan seperti itu, gunakan sopan santun, sedekat apapun sama pelanggan, kamu tetap pegawai di sini, jangan sampai mereka enggan kembali lagi,"


'Semua ucapannya benar, cara dia negur pun gak pakai emosi, tapi kenapa nyelekit banget sampai ke hati,'


"Maaf,"


"Saya perhatikan bukan cuma sekali dua kali kamu seperti ini, mau saya laporkan kelakuan kamu?," tutur Ghaftan.


'Kapan lagi ngusir pelanggan? perasaan, baru kali ini, paling ngobrol sama Vee, itupun saat jam istirahat, saat gue bukan berperan sebagai karyawan,ah emang nyari-nyari kesalahan aja nih orang.'

__ADS_1


"Laporkan saja jika memang saya melanggar aturan," jawab Alma, suasananya berubah menegangkan, yang pasti Alma mengubah intonasi dan cara bicaranya.


"Kamu terlalu akrab dengan pelanggan tadi, katanya gak kenal," ucap Ghaftan.


'Apaan maksudnya,'


"Saya rasa Anda gak perlu tahu, makasih pak Ghaftan sudah menegur kesalahan saya, izin kembali bekerja, sepuluh menit lagi harus tutup supaya TAAT ATURAN," penuh penekanan, side eyes Alma menjelaskan kalua ia tengah kesal.


"Ya silahkan, bereskan dalam waktu tepat sepuluh menit, saya bantu," Ghaftan meninggalkan Alma yang hendak melanjutkan pekerjaannya.


Sepuluh menit telah berlalu dan mereka hendak keluar.


Alma larut dalam lamunannya. "Misi rahasia apa sih, kok sampai sekarang belum dikasih tahu, meskipun gaji yang diterima gede tapi bingung juga sebenarnya fungsi gue double kerjaan itu untuk apa?,"


"Mau bareng?," tanya Ghaftan menyadarkan Alma.


"Eh gak usah," jawab Alma.


"Yaudah, saya cuma nawarin aja gak ngajak beneran, pamit duluan ya," Ghaftan pergi begitu saja setelah membuat Alma tercengang dengan ucapannya.


"Emang dia agak rada-rada! meskipun kelakuannya gitu tapi kebaikannya pun besar banget, sering jadi agen pencari solusi untuk permasalahan gue," Alma hendak emosi tapi ia kembali mengucap sabar.


"Gue harus coba minta bantuan Alma, buat menyelidiki kasus itu."


.......


Isi percakapan Ghaftan dan adiknya Vega.



Ghaftan melajukan kendaraannya untuk segera pulang. Di sisi lain, Alma secara tidak sengaja bertemu dengan perempuan yang bernama Key.


"Untuk acara pertunangan," jawab Alma.


"Aku bantu boleh?," ucap Key.


Alma dari awal terpesona melihat kecantikan Key, wajahnya terlihat tenang, "Makasih kak,"


Setelah selesai memilihkan bunga, Alma hendak beranjak pergi, "Jangan lupa datang lagi ya," ucap Key.


"Ini toko milik kakak?," tanya Alma penasaran.


"Coba kamu baca nama tokonya," Key menunjuk ke arah papan nama yang berada di sebelah Alma.


"KeyLava Florist, ah iya baru ngeh aku," jawab Alma sambil tersenyum malu.


Key meresponnya dengan tersenyum pula, "Makasih ya,"


Alma dibuat bingung dengan Key, "Karena apa? eh iya sama-sama," mungkin karena ia pelanggannya Key.


"Ghaftan pernah kebingungan untuk meresponku tapi kamu bantuin ngingetin dia, akhirnya dia lebih terbuka dan kita bisa lancar berkomunikasi, mau ngucapin makasih saat itu tapi baru ada kesempatan pas kita udah gak sama-sama lagi." ucapan yang di keluarkan oleh Key tidak terlihat seperti orang galau atau bahkan tidak menampakkan sedang sakit hati.


Ghaftan sama Key ini satu tipe tapi kenapa ya mereka harus pisah?, kira-kira itulah yang tengah Alma pikirkan.


"Sama-sama, malah aku gak inget habis bantu apaan kak," Alma tertawa renyah. Ia tak mau membuat mereka berdua berada dalam situasi canggung.


"Aku mau mengubah semuanya, tentang diriku dan juga penampilanku," ucap Key.


"Semoga kakak mendapatkan jalan terbaik atas semua keputusan yang udah dibuat, mungkin sakit-sakitan dulu abis itu baru pulih lagi," ucap Alma.


"Kalau seandainya kamu yang deket sama Ghaftan, meskipun itu sebagai temen jangan lupa untuk menjaga diri," ucap Key.

__ADS_1


Alma tidak mengetahui apa maksud ucapan Key barusan. "Iya kak, aku aja gak kepikiran deket sama kak Ghaftan, aneh banget kok jadi bahas manusia itu, kalau boleh tahu ada apa ya kak?,"


"Kamu gak perlu paham sekarang, cari tahu sendiri ya yang terpenting kamu harus ngerti kalau adiknya Ghaftan susah mengizinkan orang lain masuk dalam kehidupannya, siapa tahu mau join," ucap Key sambil tertawa dan Alma pun ikut tertawa dibuatnya.


......


Hari ini adalah hari pertunangan kak Sahara Meeya dengan seorang pria yang belum diketahui identitasnya oleh Alma. Terkesan buru-buru? ah tidak. Memang semuanya telah direncanakan namun rencana itu hanya dilakukan oleh keluarga besarnya sehingga Alma lepas tangan dan tahu beres saja.


Meeya sempat ragu didetik-detik seperti in, Entah keputusan yang tepat atau justru fatal.


"Kenapa sayang?," tanya ibunya.


Alma barusan mendengarkan kegilaan Meeya. Ia menarik kakaknya ke taman belakang. "Kak yang bener aja? cukup aku yang bikin malu keluarga tempo hari, jangan terulang lagi," ucap Alma.


Wajah Meeya gusar "Masa tiba-tiba dieknalkan orang itu, tante aneh! adiknya ayah tuh suka ngada-ngada, mana yang kena selalu kakak,"


Alma menghela nafas, "Kak Meeya yang cantik, baik, dan pintar, please think twice before you act, mungkin tante sayang sama kakak, makannya dia mau bikin kakak bahagia dengan cara ini,"


"Ini bukan cara yang tepat, malah bikin tekanan batin, lagi pula kakak selalu merasa jadi anak angkat dikeluarga ini," ucap Meeya.


"Apaan sih mulutnya minta diselepet, hah?! mikirnya jauh banget, dikira Film kali ya! justru kalau dipikirkan lebih dalam lagi gue yang berasa anak angkat, kak Meey selalu mendapatkan yang terbaik, jangan lupa kalau keluarga kita selalu membanggakan kakak," ucap Alma.


"Lo! gue! gak sopan!," Meeya melirik Alma.


"Masih aja galak disaat seperti ini," sindir Alma.


Nophel menghampiri mereka berdua. "Kak please marahin kak Meeya, dia mau kabur," ucap Alma.


"Apa kita iket aja ya? tuh di sana ada pohon palem," timpal Nophel.


"Kalian berdua bukannya bantuin mecahin masalah, malah ngejek terus," Meeya berdecak kesal.


Nophel tersenyum kemudian memikirkan beberapa cara, "Kamu tahu gak kenapa dikasih jalan seperti ini?,"


Meeya menggelengkan kepalanya.


"Mungkin akan ada hal baik yang disiapkan setelah acara ini, berprasangka baik dulu sama sang pencipta, kalau kenyataannya dia bukan orang yang terbaik dengan sendirinya akan pergi," ucap Nophel.


"Kayak Ali," ucap Alma.


Meeya dan Nophel saling menatap kemudian mengarahkan pandangannya ke Alma. Padahal Maksud Nophel bukan kesana. "Apasih kalian melototin gitu, tadi itu cuma ngasih contoh biar kak Meeya ada gambaran," jawab Alma.


"Yaudah, makasih semuanya mungkin kalian bener," ucap Meeya.


Alma memeluk Meeya meskipun mereka berdua sering ribut tapi kenyataannya mereka tetap saudara yang saling menyayangi satu sama lain.


"Lo gak ikutan! atau gue pukul sampai bunyi eng-ing-eng," ucap Meeya.


'Tetap bahagia Meeya, ini saatnya lo bahagia'


To be continued..........



gimana hari ini?


tiba-tiba laperr byee lanjut nanti....


ikutin terus dan pantengin sosial medianya storywd.asa dan wullandar1


__ADS_1


__ADS_2