

Berhenti untuk membuat semuanya merasa tidak nyaman terutama dirimu sendiri.
Menjaga kepercayaan orang lain itu diperlukan, bahkan akan membuat mu dipercayai balik.
°°°°
Setelah kecanggungan yang mengikis jarak, menjadikan keduanya semakin akrab. Tidak tahu apa yang membuat mereka sedekat ini, yang jelas semuanya mengalir begitu saja.
"Pernah gak, lagi sakit tapi malah dikatain lebay?,"
"Sejauh ini gak pernah, kamu sakit Mara?" Alma menggelengkan kepalanya segera, sebagai tanda dia baik-baik saja.
"Ghaf, orang yang nyakitin kita banget! banget! banget!!! maafin jangan?" tanya Alma dengan menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Coba kamu pikir...,"
"Jangan nyuruh mikir, konteksnya itu nanya," bantah Alma dengan nada yang kesal.
"Tadi belum selesai bicara, coba simulasikan kamu jadi dia....,"
"Tapi gue bukan dia," bantahnya lagi.
"Almaaa...," panggil Ghaftan pelan namun membuat fokus Alma buyar, ia sedikit tertawa.
"Hahahaha sorry yaudah lanjutin,"
"Singkatnya kamu maafin dia karena dia manusia," Ghaftan ini bukannya memberikan solusi malah membicarakan fakta.
"Kalau dia hewan gimanaa?," tanya Alma.
"Hewannya bisa minta maaf gak? enggak kan? memangnya kamu ribut apa sama hewan? ini aneh sih tapi berhubung yang ngajak ributnya kamu jadi gak terlalu mengejutkan,"
"Sembarangan! paling ngajak ribut ayam pernah sih, soalnya berisik, ihhh balik lagi ke topik awal,"
Alma senang mengajak Ghaftan diskusi disela-sela jam istirahatnya yang membosankan. Sebab orang ini selalu merespon hal-hal yang selama ini ingin Almara dengar, beberapa kalimat yang keluar dari mulut Ghaftan memang bagaikan magic word terlepas dari siapa mereka dan apa statusnya.
"Manusia bisa berubah kapanpun," Ghaftan sedang mengerjakan beberapa tugas-tugasnya sambil mendengarkan Alma bercerita.
"Yang bisa berubah kapanpun mah Boboiboy, manusia gak bisa," jawab Alma.
Alma kalau lagi gabut bikin orang lain kesal dengan mendengarkan semua ocehannya. "Bukan berubah secara fisik."
"Coba bayangkan, kamu gak maafin dia tapi dia udah jadi orang yang lebih baik, dendam itu cuma ada dipihak kamu sedangkan pihak dia jiwanya udah tenang," dengan rinci, Ghaftan menjelaskannya.
Inilah jawaban yang diharapkan. "Oke intinya maafin aja karena kita sama-sama manusia," Alma menyimpulkan.
"Ya, terserah mau nyimpulin seperti apa asalkan jangan salah pemahaman, apalagi salah tangkap maksud ucapan saya," Ghaftan tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Oke thanks konsultasi dan solusinya, gue mau balik ke tempat kerjaan dulu," Setelah mendapatkan konsultasi gratis, Alma pun pergi meninggalkan Ghaftan.
Ghaftan tahu Alma hanya butuh didengarkan, ia tak perlu merespon berlebihan, itu sebabnya Ghaftan tak pernah menunjukkan kepeduliannya terlalu dalam. Takut Alma salah paham dan menyimpulkan yang tidak -tidak.
'Dia seperti dokter yang mampu memberikan obat penawar'
Pesan: Pak Tian (Manajer 1)
Sebelum kamu masuk kesini, orang itu gak nyuruh kamu aneh-aneh kan?
Keruangan saya sekarang!
Baik pak
"Gue muak deh berurusan terus dengan misi-misi kayak gini! ah elah hidup ini memang seperti lolipop, berputar dan warna-warni." keluh Alma.
****
__ADS_1
Tiba-tiba saja Alma menghampiri Vee dengan raut wajah penuh amarah, dia membawa tiga lembaran foto dan satu berkas yang berisikan surat gugatan hak merek dagang.
isi berkasnya

"Maksud kamu apa?," Alma berusaha meredam emosinya seperti biasa.
"Tega?" Telinga dan wajah Alma sudah memerah menahan amarah yang ada dalam dirinya.
Vee mengeluarkan smirk kemenangan dalam dirinya. "Lebih tega lo yang gak pernah ngertiin orang lain tapi mau selalu dimengerti, situ princess kah?,"
Vee akan menuntut kedai Sudut Pandang karena menggunakan nama yang sama dengan kedai miliknya, padahal yang berdiri lebih dulu adalah kedai Sudut Pandang tempat Alma berkerja.
Rasanya Alma ingin menangis detik ini, "Vee... kita temenan udah bertahun-tahun," matanya memanas.
"Gak ngaruh! mau puluhan tahun atau ratusan tahun pun kalau lo gak pernah ada di saat gue membutuhkan untuk apa berteman? malah tambah nyakitin! setiap minta bantuan gak pernah ada yang digubris, seakan-akan gue cuma pajangan dihidup lo! apalagi sifat lo yang harus selalu gue pahami! apa susahnya sih bilang! kalau ada apa-apa itu jangan diem!" bentak Vee.
Alma sudah berkaca-kaca, sakit. Pertemanan bisa hancur hanya karena sebuah kekuasaan dan sejumlah uang. "Kenapa lo lakuin ini? apa yang lo mau Vee?,"
"Membuat mati orang dalam keadaan hidup!" ucap Vee sarkas. Maksudnya apa? Vee mau membunuh mental temannya sendiri? Setelah semuanya yang mereka jalani sama-sama?
Alma meraih tangan Vee namun segera ditepis olehnya, "Ini bukan kedai gue," Bahkan mereka melanggar rules persahabatan yang sudah dibuat dari dulu.
"Yang terpenting mereka bakal cap lo munafik!" Vee benar-benar tersenyum penuh kemenangan, matanya diluputi oleh amarah yang susah di redam.
"Maaf." Tak ada kalimat lain yang bisa Almara lontarkan selain kata maaf, Vee memang punya segalanya berbeda dengan Alma yang harus berusaha dulu untuk bangkit baru bisa mendapatkan semua yang ia inginkan.
"Sampah! maaf itu udah gak berlaku, ini pelajaran buat lo yang selalu egois!" Vee meletakan telunjuknya tepat di dahi Alma dan ia mendorong perlahan kepala Alma dengan jari telunjuknya.
Prok!prok!prok!
Suara tepuk tangan keluar seseorang yang bernama Nophel, ia telah menonton adegan dan pembacaan naskah film pendek hasil garapan Vee.
"Cut...... Sumpah Vee dialognya gini?" Alma dibuat merinding dengan dialog yang dibuat Vee.
Vee sedikit tertawa "Ini untuk short movie, project dari komunitas,"
"Ngeri berkhianat beneran," Alma mengucapkannya sambil membayangkan betapa horrornya adegan yang mereka lakukan tadi.
"Parah mikirnya kejauhan," Vee sampai geleng-geleng kepala mendengar ocehan Alma.
"Eh tapi itu bohongan kan? gue gak pernah ada ya buat lo? maaf Vee jangan kayak gitu ya," ucap Alma.
"Yeh si mbak malah dijadin bahan overthinking, dasar bocah gemblung," Vee menjentikan jarinya di depan wajah Alma supaya dia tersadar dari lamunan yang menggerogoti isi kepalanya.
Menyudahi perdebatan dengan mengalihkan pembicaraan dengan Nophel.
"Meeya mana?," tanya Nophel.
"Ada teknologi namanya SMS," jawab Alma.
"Ya lagian, chat aja langsung, sana!" Alma memberikan saran terbaiknya.
"Kakak kamu itu mirip singa kalau udah belajar, diganggu dikit aja bisa diterkam," jawab Nophel.
Vee hanya menjadi pendengar mereka. Seakan setia mendengarkan live report radio secara langsung. Vee selalu merasa canggung sekaligus gugup jika berurusan dengan Nophel.
"He's really knows I exist, but he doesn't know that I love him so much," suara hati Vee yang tidak bisa terungkapkan langsung.
Vee mengirimkan pesan kepada Alma:

Alma kembali mengalihkan dirinya untuk berbincang dengan Nophel. Namun Nophel segera bangkit untuk meninggalkan mereka, seakan terhubung dengan Vee yang menginginkan Nophel menjauh darinya.
Vee kebingungan, "Lah kok pulang beneran?,"
__ADS_1
"Manusia itu udah tau kapan waktu yang tepat buat dia pergi," ucap Alma.
"Maksudnya? jangan puitis dulu, ini lagi kepo," Vee kadang kesal dengan Alma yang bertele-tele, sedangkan dia lebih suka to the poin.
"Look at 9.30 o'clock ," bisik Alma .
"Wow," Vee terkejut mendengarnya.
*
**
Waktu istirahat Alma sudah selesai kini ia harus bekerja kembali. Menghadapi banyaknya laporan yang harus ia buat terlebih lagi menjadi bagian dari tim marketing mengharuskan Alma mencapai target yang sudah disetujui atasannya.
Namun untuk kali ini, Alma tidak berhadapan dengan berkas-berkas, namun dengan beberapa menu yang perlu diuji berulang kali.
"Fokus Ghaf!" pekik Alma ketika melihat Ghaftan hampir membuat tangannya terkena penggorengan panas.
Alma menarik Ghaftan ke ruangan khusus karyawan untuk menenangkan harinya yang mencekam.
"Kenapa? tumben gak fokus?" tanya Alma.
"Kamu udah tahu Key?" Alma mengangguk, beberapa kali mereka pernah bertemu di kedai ini dan jangan lupakan kalau dia pernah menuduh Key selingkuhan Ghaftan.
Kini Alma ingat adegan yang membuatnya mengira kalau Ghaftan dan Vega di jodohkan. "Ah elah masih malu bayanginnya! kenapa diungkit terus sih."
"Kenapa orang-orang pada sedih dan kenapa semuanya nyakitin, Anda gakpapa kan?" ucap Alma. Alma yakin kali ini Ghaftan akan setuju dengan pandangannya.
"Kalau kamu dikasih senang terus nanti gak ada waktu buat bersyukur, lagi pula keputusan Key gak salah,"
"Jodoh gak akan kemana," lanjut Ghaftan.
"Tapi kemana-mana," Alma menjawabnya dengan nada mengejek.
Ghaftan tersenyum sedikit. "Semoga kalian bisa bersatu kembali," ucap Alma sambil mengaminkan doanya.
"Tapi kali ini saya gak akan doain yang sama, kalau kamu bersatu kembali sama si itu, nanti saya kena teguran karena mendoakan keluarga orang lain hancur," jawab Ghaftan.
"Kelihatannya galau tapi gak galau," ucap Alma.
"Untuk apa galau? seharusnya saya mendoakan supaya Key berhasil memperbaiki dirinya, dia bilang gitu," jawab Ghaftan.
'Sulit dipercaya ternyata mereka memutuskan jalan yang benar bahkan Key memperbaiki dirinya agar bisa bersanding dengan pasangan yang baik, meskipun kelihatannya Ghaftan udah baik tapi gak ada yang tahu kan, baiknya dia mungkin bukan buat kak Key.'
"Udah sana kembali lagi kerja, nanti ditegur," titah Alma.
"Satu lagi, saya boleh tanya? kalau mau dijawab alhamdulillah, enggak pun gakpapa. Kamu dimarahin sama Pak Tian kemarin? saya gak sengaja dengar perihal orang yang memberikan tugas khusus, kalau perlu bantuan bisa bilang ke saya, kita satu tim. Meskipun gak bisa bantu banyak."
"Ghaftan denger gak ya waktu Pak Tian nyinggung misi rahasia itu? duh! jadi was-was gini."
To be continued........
gimana hari ini?
everything still oke?
kunjungi IG
storywd.asa (Tiktok)
wullandar1

tunggu kelanjutannya ya see you next time
kalau boleh silahkan share ataupun vote 🖤
__ADS_1