Sudut Pandang

Sudut Pandang
17


__ADS_3

Happy Reading Y'all


Perlu orang untuk diajak cerita tapi orang itu menolak untuk mendengarkan seluruhnya padahal kita cuma butuh didengarkan tanpa ada interupsi apapun'


© sudut pandang



***


Mengawali pagi dengan semangat adalah hal yang perlu dilakukan. Tak lupa untuk menyemangati diri sendiri dengan mengatakan hal-hal baik akan terjadi. Tapi kalau yang duluan menimpa adalah kejadian terburuk, jangan salahkan siapapun, karena rencana manusia memang tak sepenuhnya dapat terlaksana kecuali atas kehendak-Nya.


"Datang-datang mukanya di tekuk gitu kenapa?,"


Alma datang dengan keadaan badmood "Tadi kan kita bawa motor, terus gak sengaja kena razia," tutur Alma.


"Bentar jangan cerita dulu, biar aku bisa fokus dengerinnya," Nophel yang tengah membuka laptop pun langsung menutup dan mengubah posisi agar  bisa mendengarkan dengan nyaman.


"Nah udah, yuk lanjutin ceritanya,"


"Alhamdulillah nya enggak sampai ditilang, karena kita taat aturan tata tertib lalu lalang,"


"lalu lintas Mara," ingat! untuk menghadapi Alma kuncinya adalah sabar.


"Iya kak, diem jangan protes!,"


"Yaudah lanjutin," 


"Pas cek berkas-berkas kelengkapan, pak polisi itu nanya-nanya lah," Nophel hanya memperhatikan dan mendengarkan cerita Alma dengan seksama.


"Dia nanya kayak gini 'mau kemana?' kak Meey jawab, 'mau kuliah pak' terus pak pol nanya lagi, ah berasa interview dadakan kata aku teh."


Alma kebanyakan gaul dengan Tita jadi kebiasaan pakai logat sunda. Meanwhile Tita yang gak tau apa-apa, 'Ih ari kamu kunaon sih! nyebut-nyebut aku, ngefans ya, padahal aku daritadi tidak ikut campur loh!'.


Kembali lagi ke Alma dan Nophel.


"Langsung ngomong ke pak pol nya? kalau kalian gak nyaman ditodong pertanyaan?"


Alma menggelengkan kepalanya "Ya enggak lah kak! itu bergumam dalam hati aja, mana berani aku, kecuali kak Meey tapi kan kak Meey mana mau ngurusin yang gak penting,"


"Hahah iya iya, terus abis dia nanya gimana lagi?"


"Pak pol nanyain jurusan kita apa, kesel dikit soalnya lagi buru-buru."


"Dijawab sama Kak Meey, kalau dia ambil administrasi bisnis. Kamu tau gak kak, pak pol nya ngomong apa?"


Nophel menaruh atensi penuh dengan celotehan Alma. "Enggak, kamu kan belum cerita, coba cerita dulu sampai beres,"


"Yaudah lanjut, pak pol bilang harusnya ambil kebidanan aja atau bidang kesehatan pasti nyari kerjanya mudah, disitu Kak Meey udah murka,"


"Kebayang banget muka si Meey nahan emosi."


"Ya kan? aku aja kesel, sebelumnya kita berterima kasih atas saran pak pol tapi kita kan punya bakat masing-masing, gak semua orang mampu dibidang itu dan yang paling penting semua jurusan pun kalau waktunya nyari kerja susah ya susah aja gak ada embel-embel karena kamu ambil jurusan itu sih jadi susah kan cari kerja, gak gitu kan kak?"


"Iya, lagipula apapun jurusannya gak harus dibandingkan, semuanya sama, tergantung kapasitas kita sampainya dibidang apa."


Bagi siapapun yang mendengarkan celotehan Alma pasti tak akan merasa bosan, sebab Alma punya daya tarik tersendiri ketika bercerita. "Eh aku ngomongnya kebanyakan ya kak?," tapi sisi lemahnya adalah, ketika ia sadar terlalu banyak bicara disaat itulah dia akan menjadi orang yang pendiam.


"Enggak kok, aku udah biasa dengerin kamu ngoceh dari bayi,"

__ADS_1


Alma mendelik, namun dalam hatinya berucap syukur telah dikenalkan dengan sosok Nophel.


"Kak kalau mau ke kampus jangan sampai kesiangan, inget udah tua,"


"Heh berani-beraninya kamu bilang aku tua!," disambut tawa keduanya.


"Mulut ku typo, maksudnya semester tua, udah sana berangkat! kak Meey juga udah sampai,"


"Loh, aku ke sini untuk nungguin dia kenapa dia berangkat duluan,"


"Itu karena kakak terlalu fokus dengerin aku ngomong,"


"Ah kamu sih cil! yaudah kakak berangkat ya, kerja yang bener, biar dapat gaji yang berkah,"


"Syap..."


Sudah cukup hari ini ia awali dengan terkena razia dadakan jangan sampai ada kejadian yang lebih buruk lagi. "Alma, bisa tolong ke ruangan sebentar?,"


"Yuk! mulai kerja lagi dengan semangat, walaupun fisik dihajar habis-habisan tapi tetap harus strong!," Alma berusaha menyemangati dirinya sendiri.


"Semangat Alma!," ungkap Tita.


"Hanupis,"


"Eh tau kata itu dari siapa?"


"Itu kan kamu yang sering bilang hanupis-hanupis, apalagi sehabis kecebur got terus ditolong kak Ghaftan,"


"Heh! henteu-nya! aku teh tidak pernah kecebur got,"


"Eh pernah deh kemarin,"


"Artinya tau?,"


"Enggak!,"


"Dodol pisan ih! itu teh kepanjangan dari hatur nuhun pisan yang artinya makasih banyak, awas jangan salah digunakan,"


"Ya sip," jawab Alma singkat sambil mengacungkan jempolnya.


****


Ruang rapat terlihat sangat mencekam. Akan ada apalagi setelah ini.


"Kemarin saya gak sengaja mendengarkan percakapan Pak Tian entah sama siapa,"


"Ih kamu nguping pasti ya, hayoloh!!" Alma ada-ada saja sedangkan Ghaftan diam saja, kemudian mereka berdua malah terdiam.


"Hahaha maaf-maaf, bercanda doang,"


"Ya. yaudah saya lanjutin, oh ya tadi saya mau ngomong apa?" seolah-olah lupa dengan apa yang akan disampaikannya.


"Mana saya tauuu, udah cepet kak mau ngomong apaan?."


"Pak Tian sengaja menempatkan kamu di dua posisi untuk menutupi kasus itu dari saya, lebih tepatnya dia memanfaatkan kamu. Meskipun gak sepenuhnya memanfaatkan karena kamu pun dapat keuntungan."


"Loh yang bener? tapi iya sih kadang suka kepikiran kenapa gajiku gede dan anehnya lagi dikasih dua posisi sekaligus padahal diposisi kedua udah cukup orang."


"Sebenarnya saya memang terkecoh dengan kamu dan saya tidak lagi memikirkan kasus itu di beberapa bulan yang lalu."

__ADS_1


Alma sebetulnya terkejut tapi lebih terkejut lagi dengan pernyataan Ghaftan yang ambigu, ia tak bisa menangkap maksud laki-laki itu.


"Ih tapi usaha Pak Tian sia-sia aja, kita malah kerjasama, mana deket banget lagi."


Ah Alma sepertinya baru sadar kalau pernyataan yang terakhir terlalu ambigu. "Maksudnya kita kenal dekat tanpa bermusuhan."


"Karena udah ada beberapa petunjuk kita harus coba tanya langsung ke pak Tian"


"Nanya apaan?,"


"Udah makan belum pak? makan bareng yuk," jawab Ghaftan. Alma membeku, bisa-bisanya Ghaftan nyuruh Alma melakukan itu.


"Kok! ogah ah! kamu aja sana!,"


"Alma sini deh, mau permen gak?,"


"Boleh, mana?,"


"Ciri-ciri orang yang mudah diculik,"


"Apaan Ghaftan, jangan gak jelas deh pagi-pagi gini! gue orangnya gampang percayaan jangan sampai dibohongin, awas aja kalau kepercayaan gue dihargai semurah itu."


Ghaftan berhasil membuat Alma tercengang dan ia pun tertawa dibuatnya.


"Aturannya kalau dikasih permen itu nolak,"


"Wih aturan macam apa itu, gak jelas banget, yaudah ih apaan? harus nanya apa ke pak Tian?,"


"Tanyain kenapa pemilik yang baru gak pernah nemuin kita, basa-basi aja,"


"Kenapa harus gue?,"


Ghaftan menatap Alma sekilas. "Maksudnya kenapa harus aku kak?,"


"Saya sudah pernah coba tanya dan jawabannya adalah 'kamu gak perlu tahu, untuk apa tau? mau korupsi lagi seperti ayahmu?' itu yang pak Tian bilang."


Kalimat terakhir yang Ghaftan lontarkan membuat Alma tercengang. Ia masih mencerna maksud Ghaftan.


"Iya, ayah saya yang dituduh korupsi, dulu tempat ini dikelola oleh ayah tapi sekarang sudah berubah,"


"Kok aku makin curiga sama pak Tian ya,"


"Hari ini pak Tian keluar kota, besok kita bisa mulai mencari tahu,"


'Tapi maaf kak, aku juga curiga sama kamu,'.


***


Pada akhirnya aku yang tetap di salahkan'


"Secara tidak sadar aku selalu menyelesaikan semuanya sendirian"


*


**


to be continued.......


lanjut nanti see u.

__ADS_1


sering update di Tiktok storywd.asa


__ADS_2