
Happy Reading Y'all

"Dia selalu berpikir untuk menolong orang lain padahal dirinya sendiri perlu ditolong."
Sudut Pandang © storywd
Menurut kalian apa yang akan terjadi ketika seseorang yang kalian sayangi malah membawa perempuan lain ke tempat yang tidak seharusnya?
"Kak Meey, jangan tengok kanan," tutur Vee.
Seolah larangan yang dilontarkan Vee adalah jembatan untuk melihat adegan yang tidak seharusnya ia lihat. Setelah mentap tajam kearah dua orang yang baru saja tiba, ia terpikirkan tentang Alma. 'Bahaya kalau Alma yang melihatnya duluan.'
Sebetulnya Meeya tidak terlalu mempedulikan tingkah laku Leo, mau ia berkhianat pun sepertinya Meeya akan mendiamkan saja. Entah mengapa Meeya memilih jalan seperti itu, tapi ia punya prinsip untuk tidak memaksakan orang lain menerima dirinya selain mereka sendiri yang membukakan pintu untuk dia masuk ke dalam hidup mereka.
"Udah biarin aja,"
Vee menggaruk tengkuknya, cobaan macam apalagi yang harus Vee terima. "Hidup mereka terlalu aneh," Vee tak akan ikut campur.
Menyadari Leo datang dengan Vega membuat Nophel lebih dahulu menghampiri keduanya.
"Hai kak," sapa Vega. Nophel membalas sapaan Vega seperti biasanya. Mereka tak menampakkan seperti saudara akrab.
"Na, ke sana dulu ya, ada Vee juga," titah Nophel.
Vega menuruti perintah Nophel, ia juga tak mau ikut campur dengan urusan laki-laki.
"Kenapa lo bawa dia? sadar gak sih kalau Meeya juga ada di sini? gue ajak lo ke sini atas dasar permintaan Alma kalau mau buat mood dia ancur tolong jangan sekarang, jangan hari ini dan gue harap jangan selamanya."
"Santai, gue ajak Vega ke sini atas dasar kasihan lihat dia diperlakukan beda dari teman-temannya," Leo banyak alasan!
"Ketika seseorang diperlakukan beda itu ada dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama, dia memang gak bersalah atau mungkin ada yang salah dari dirinya, orang-orang gak akan menjauhi sesuatu tanpa sebab,"
Nophel mengatakan seperti ini karena ia telah mengenal Vega jauh sebelum Leo. Ia juga mengetahui alasan mengapa Vega diperlakukan berbeda oleh teman-temannya.
Alasan yang Nophel tahu adalah Vega sering memperlakukan orang lain dengan buruk. Saat ada celah orang-orang itu memutar balikan keadaan. switch! giliran Vega yang jadi sasarannya.
Perdebatan antara Leo dengan Nophel tidak terlalu sengit sebab keduanya hanya melempar berbagai argumen yang sama-sama kuat, apalagi keduanya tidak ada yang berniat buruk. Sudahlah biarkan mereka tergabung menikmati waktu bersama di hari ini.
Semoga ini awal yang baik bagi mereka.
Mereka akhirnya larut dalam olahraga yang digemari Nophel sejak kecil. "Cil, gimana progresnya hari ini?," tanya Nophel.
"Udah bisa tapi gak sengaja jatuh,"
Nophel menyadari luka yang ada di kelingking Alma. Ia hendak melihatnya namun terkecoh oleh suara ringisan Vega.
"Aww..." Vega meringis sakit.
"Kamu kenapa Na?," tanya Nophel
Vee baru sadar kalau orang yang ia temani, terlalu suka mencari perhatian orang-orang disekitarnya.
'Mulut gue gatel banget, ayo tahan untuk tidak mengata-ngatai, Inget Vee, semua orang butuh perhatian! ah susah!'
'Itu cuma kegores dikit ya ampun Vega,' Vee sudah berupaya keras untuk tidak kesal dengan adegan palsu yang tengah ia lihat di depan matanya.
Leo membawakan plester, ia membersihkan luka Vega dengan air yang sengaja dibawa olehnya. "Lain kali hati-hati," ungkap Leo.
Meeya pun ikut membantu membersihkan luka yang tidak seberapa itu dibandingkan dengan kelingking Alma yang cukup banyak mengeluarkan darah.
Semua orang tengah fokus memperhatikan Vega sampai lupa kalau Alma pun terluka. Gadis itu tak berniat menginterupsi kegiatan teman-temannya. Ia berjalan sendiri ke kamar mandi untuk membersihkan lukanya dan membawa Betadine dari kotak P3K yang berada di sekitar ruang ganti.
Orang-orang tidak menyadari kalau Alma menghilang.
***
Di area parkiran semuanya sudah bersiap untuk pulang. Namun salah satu diantara mereka akhirnya menyadari kalau Alma menghilang sejak tadi.
__ADS_1
Tetapi tidak berselang lama, Alma menghampiri mereka dengan kondisi yang baik-baik saja, tentunya ia menyembunyikan luka dengan memasukan tangan kirinya ke saku jaket yang tengah ia kenakan.
"Mampir ke rumah dulu yuk!," ajak Nophel, ia terdengar sangat antusias sebab sudah lama rumahnya tidak kedatangan teman terdekatnya.
Meeya dan Alma menyanggupi ajakan Nophel sedangkan Vee dan Vega menolak, mereka ada urusan lain katanya. Kemudain Leo tidak bisa ikut karena harus mempersiapkan beberapa file kegiatan yang akan ia pimpin beberapa minggu lagi.
"Yaudah kalian pulangnya dianterin Leo aja ya," Kali ini Meeya justru menyarankan Leo untuk mengantarkan orang lain dibandingkan dirinya yang menyandang status sebagai pasangan.
''Bagiku status aja kurang lengkap tanpa perasaan, biarin bebas kalau merasa ada yang salah pasti dia sadar, kita bukan anak remaja lagi yang menghadapi situasi seperti ini dengan rengekan,"
Dewasa, itulah julukan yang tepat untuk Meeya. Ia tak pernah meributkan yang tidak penting, bahkan dengan senang hati berpikiran terbuka.
Padahal ia bisa saja membiarkan teman adiknya itu untuk pulang sendirian, namun ia memilih untuk memberikan kesempatan kepada Leo bertanggung jawab. Ia yang membawa Vega ke sini dan secara otomatis harus mengantarkannya pulang dengan selamat.
Mereka mulai berpencar untuk sampai ke tempat tujuannya masing-masing.
Satu pria dan dua wanita yang sempat menyetujui untuk pulang bersama, kini sudah berada di lingkungan perumahan megah yang amat sejuk, pohon-pohon di sini sangat terawat bahkan memberikan kesan yang nyaman.
Saat tiba di dalam rumah milik kedua orang tua Nophel, mereka berpencar. Meeya lebih memilih anteng duduk di sofa ruang tamu, Nophel sedang mengganti baju, katanya ia mau mandi karena tadi tidak sempat sedangkan Alma sudah menyambangi ibunya Nophel yang tengah bergelut di dapur bersama para pembantu di sana.
"Tante lagi apa nih?," tanya Alma basa-basi ketika melihat ibunya Nophel sedang menyiapkan hidangan.
"Tante lagi main salon-salonan," Mereka sudah sangat dekat jadi tidak perlu heran melihat keduanya saling sapa dengan santai tanpa kaku.
"Tapi kan itu lagi masak,"
Ibunya Nophel mencubit pelan pinggang Alma. "Nah itu tau, berarti kamu gak perlu nanya,"
"Aww ampun tan sakit hehe, aku basa-basi aja sih, udah lama gak ketemu takut canggung,"
"Kayak yang gak ketemu puluhan tahun aja, tapi iya juga sih kamu jarang kesini,"
"Sibuk tan,"
"Sibuk ngapain?," masih berkutat dengan peralatan masak sambil berbincang santai dengan tamu tak di undangnya.
"Untung tante ini sabar ngadepin kamu,"
"Alhamdulillah tan, itu artinya tante keren, kalau aku jadi tante mungkin udah ngusir diriku sendiri." lagi-lagi Alma tersenyum.
Rumah Nophel memang sangat nyaman. Bukan hanya tempatnya saja yang menawarkan kenyamanan melainkan keluarganya juga, mereka menerima semua orang dengan baik. Sehingga tak jarang, rumah ini selalu dijadikan tempat pelarian Alma dan Meeya saat mereka di marahi oleh kedua orang tuanya waktu kecil.
Dulu mereka bertetangga namun keluarga besar Alma pindah dan pada akhirnya rumah mereka berjauhan.
"Ini tante nanya sekali lagi dengan serius ya, kamu kenapa udah jarang main ke sini? gak suka sama tante ya? atau tante buat salah sama kamu,"
"Ih tante ngomong apa sih, gak ada yang berbuat salah, aku itu lagi jadi orang sibuk beneran, udah bukan anak kecil lagi yang kalau di marahin ayah ibu pasti larinya kesini,"
Tak lama seorang tuan muda yakni, anak pemilik rumah ini akhirnya datang ke dapur sebab terdengar kericuhan saat ia sedang melintas untuk mengambil air minum.
"Lagi ngapain sih kalian di dapur asik banget kayanya," Nophel sudah berganti pakaian, ia hanya mengenakan kaos dan celana yang santai.
"Mami lagi direcokin sama anak gadisnya Tesia, udah lama gak ketemu,"
"Mau aja direcokin sama anak kecil ini mi,"
"Yah itu dia! mami juga heran, kenapa anak ini gak pernah berubah dari kecil."
"Kak Meey berubah gak tan?," tanya Alma penasaran akan pandangan orang lain tentang kakaknya.
"Dari dulu Meeya kan anaknya pendiem, sampai sekarang pun tetap sama, kalian harus sering-sering ajakin Meeya ngobrol mami takut dia menutup dirinya dari orang-orang, inget gak kasus tentang anak-anak yang terlihat sempurna dari segala sisi tapi gak lama setelah itu malah terdengar kabar kalau mereka sakit jiwa bahkan ada yang menggugurkan dirinya sendiri."
"Ih tante! serem banget kasusnya." semoga saja Alma menyadari sesuatu tentang kakaknya. Kalau dipikirkan ulang, dirinya tidak terlalu bisa memahami perasaan Meeya.
Kekhawatiran orang tua memang tidak pernah salah. Sebagai anak pertama, Meeya sering kali memendam semuanya sendirian, ia enggan memberitahu kepada siapapun tentang hari-harinya, bahkan tak ingin dianggap sebagai orang yang lemah.
Ditambah lagi dengan fakta kalau dia bukan kakak kandung Alma, hal itu yang membuat Meeya lebih baik bertahan sendirian.
Setelah mendengarkan wejangan dari ibunya Nophel, tiba-tiba saja Alma mengampiri kakaknya untuk sekedar memberikan pelukan.
__ADS_1
"Kak aku minta maaf pake banget ya,"
Meeya tak menggubris ataupun membalas pelukan dari sang adik. "Kalau tahu rasanya dipeluk kaya gini, kenapa gak dari dulu aja. Rasanya nyaman dan aman."
"Kamu aneh, sikapnya mudah berubah-ubah gitu, lepasin ngeri deh!," masih saja denial, padahal yang ada dihapannya adalah adiknya sendiri. Memang gengsi itu terkadang harus disingkirkan perlahan agar tidak menyesal atas kehilangan.
"Dulu gue selalu nimbrung peluk-pelukan kalau sekarang gak mungkin, yang ada di tampol duluan," ungkap Nophel.
Meeya melemparkan bantal kearah Nophel. "Noh peluk bantal! empuk,"
Ketiganya menampakan wajah yang sumringah, seakan sore ini sangat menarik untuk ia lihat. It's such a beautiful day.
"Bentar deh, tangan mu kenapa?," nah kan pada akhirnya mereka menyadari juga luka yang ada ditangan Alma.
Belum juga menjawab, eh papa nya Nophel datang. "Perempuanku dimana?,"
Meeya dan Alma tidak menjawab apapun selain tersenyum ke arah pria yang usianya jauh di atas mereka.
"Papi itu bisa gak sih manggil mami dengan normal," ujar Nophel.
"Iri ya? makannya jangan kelamaan sendiri."
Nophel sudah tidak kuat di roasting tiap hari oleh sang ayah.
Alma menertawakan Nophel. Eh ternyata dia juga kena sindiran "Alma juga ya, jangan ngetawain, ingat! kalian itu senasib, semangat!,"
Giliran Nophel yang menertawakan Alma diikuti dengan Meeya.
"Yahh, om gak bisa lagi deh ngata-ngatain Meey,"
"Mending Papi samperin Mami sana, daripada disini ngeledek mulu kerjaannya,"
"Ih kamu gak tau ya, ngeledek anak muda itu hiburan buat Papi. Oh ya, daritadi om lihat tangan Alma berdarah gitu, cepet obatin, kalian ini sibuk haha hihi tapi lupa diri, dijaga itu adiknya,"
Nah kan mereka sampai lupa dengan Alma. Meeya dan Nophel langsung menatap lekat ke arah Alma. "Gak kenapa-napa, diem jangan ada yang tanya-tanya lagi, aku bukan artis dan kalian bukan wartawan!"
"Infeksi loh nantinya,"
"Gak mau, pokoknya kalian diem jangan ada yang tanya-tanya lagi, ini cuma keseleo terus kegores dikit aja, jangan lebay deh,"
"Awas aja kalau tiba-tiba tanganmu dioperasi," ungkap Meeya.
"Ih kakak doainnya jelek banget!,"
Terus aja mereka ribut, untungnya Alma, Meeya dan Nophel telah kembali seperti semula.
Hubungan mereka membaik.
Tunggu, ada sesuatu yang mengganjal hati Alma.
Pesan: Kak Ghaftan
Saya mendengar alasan kamu dijadiin staff di sini, masih belum tahu kan?
Nanti dijelaskan, untuk sekarang have fun ya
Tadi saya dengar dari Ana, kalau kalian habis main bareng
Makasih udah mau berteman sama dia
to be continued........
lanjut nanti
Hai kalau suka boleh di vote
thanks, have a nice day
__ADS_1