Sudut Pandang

Sudut Pandang
18


__ADS_3

Happy Reading Y'all


someone laughs someone cries


like clouds in the sky


© Sudut pandang


Melalui sudut pandang kita harus sadar betapa beragamnya pendapat setiap orang.


© storywd


Sepulang kerja Alma mengajak Tita untuk bersantai di lantai paling atas. Mereka menikmati sore hari yang teramat pelik dengan melihat sunset.


"Udah kayak anak senja belum nih kita?," ungkap Tita.


"Belum!kita belum bikin puisi yang puitis,"


"Ka..." Alma menghentikan Tita.


"Si elu gak sopan ya, baru aja mangap,"


Tita sering memergoki Alma melamun di sini. "Si elu suka banget tempat ini ya?,"


Alma malah menatap sekeliling tanpa menghiraukan perkataan Tita, sebelum akhirnya ia menjawab dengan pernyataan yang cukup dalam artinya. 


"Ketika kamu tahu cara menikmati sesuatu maka sesuatu itu akan menjadi sangat berharga," ungkapnya.


"Contohnya di tempat ini gue sering ngeluh tapi pada akhirnya kalian selalu ngasih semangat, mungkin bagi orang lain cuma kalimat biasa tapi bagi gue terasa seperti obat, bahkan pada saat gue kemakan omongan orang tentang seremnya rekan kerja sirna gitu aja, di sini juga gue bisa luapin rasa kesel, marah, sedih, seneng tanpa terusik atau terganggu," 


Tita menangkap gelagat yang berbeda, ia mengerti sekali arti dari pernyataan Alma. 


Alma menyadari perubahan suasana, ia mencoba untuk mencairkannya lagi tanpa membuat TIta merasa tidak nyaman "Akhirnya bisa duduk di atas air," meluruskan kakinya dan terduduk diatas kolam ikan yang dilapisi kaca.


"Itu dilapisi kaca dodol!" di tempat ini ada kolam ikan yang dilapisi kaca, kaca itu tahan meskipun diinjak beban kehidupan.


"Ya anggap aja sih!,"


"Iyain aja dah Iya,"


"By the way, kenapa mau merantau kesini?,"


"Tuntutan keadaan," jawab Tita.


"Berat ya?,"


"Enggak kok, aku teh cuma gabut aja, kelamaan tinggal Bandung jadinya pengen merantau,"


"Memang salah sih naro ekspektasi ke manusia, kirain mau bercerita pengalaman yang menyedihkan taunya cuma gabut,"


"Heh! elu mau gue sengsara gitu? satengilna si eta tapi mun keur serius mah omonganna sok asa nyeredet kana hate" ucapan Tita kali ini tidak bisa dimengerti oleh Alma. 


//Translate: ""Heh! elu mau gue sengsara gitu? setengil apapun dia tapi kalau sedang serius ucapannya selalu sampai ke hati."


Keduanya menikmati hari bersama sambil menyaksikan tenggelamnya matahari. 


Udara hari ini tidak panas tapi tidak pula dingin. Sejuk, cuaca yang diidam-idamkan. Hari ini telah diawali dengan tragedi memuakan, setidaknya pada penghujung hari disuguhi keindahan alam sang pencipta yang menyejukkan.


Ibaratnya, meskipun siangmu mencekam belum tentu malammu tak tergenggam.


"Emang paling bener kalau sore itu pulang daripada nongkrong di lantai atas bareng mojang Bandung yang satu ini,"


"Ih kamu gak tau ya, gini-gini aku teh anak paguyuban SENI, Bandung tiiseun mun gak ada aku," Jujur saja kota Bandung tidak akan kenapa-napa kalau kehilangan penduduknya yang seperti Tita.


"Seni apaan tuh?" tanya Alma antusias, siapa tahu Tita beneran anak paguyuban seni.


"Seni menyakiti diri sendiri Join gak?,"


"Gak ah makasih, gini-gini juga gue limited edition, cuma ada satu di dunia," betul sekali yang dikatakannya. Bagaimanapun juga tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan kamu bahkan meniru dirimu sekalipun dia mempunyai hubungan darah.


"Anyways, makasih ya udah nemenin gue healing sore ini,"


"Kembali kasih, kalau butuh temen healing, calling-calling aja tapi healing versi gue mah lowbudget,"  mereka bagaikan teman lama yang baru dipertemukan.


"Santai aja, gue bukan orang yang suka healing jauh-jauh, capek, mager juga dijalannya." Healing paling tepat bagi Alma adalah menikmati jalan-jalan di sore atau malam hari, sendirian di cuaca yang seperti ini.


See? cara seseorang menikmati waktu untuk penyembuhan dirinya cukup sederhana.


Setelah percakapan tidak penting itu, keduanya memutuskan untuk segera pulang.


Rumah Alma.

__ADS_1


Ada apa ini, tumben rumah Alma ramai. Ah kumpul keluarga ternyata, untungnya ia membawa banyak makanan dari kedai yang sengaja dipesan untuk orang tua dan kakaknya.


"Gimana mau punya uang kalo kerjaannya beli makanan yang mahal-mahal, boros banget. Jangan kayak anak kecil, meskipun kamu anak bungsu tapi sekarangkan udah gede!,"


Satu hal yang membuat Alma selalu menghindar dari pertemuan keluarga adalah tantenya. Semua hal pasti diperhatikan dan dikomentari. Alma tak bisa melawan dan tak mungkin mengelak karena ucapannya terkadang benar tapi cara penyampaiannya saja yang salah.


Untuk sementara waktu Alma hanya bisa mendumel dalam hatinya. Ia tak mungkin melawan orang tua. "Apapun yang aku lakukan akan selalu bernilai buruk dari sudut pandang mereka,"


Tibalah Meeya di rumah dalam keadaan yang sudah kehabisan energi karena seharian berinteraksi dan bersosialisasi. Terlebih lagi ia magang ditempat yang mengharuskannya untuk bertemu banyak orang.


"Enak kayaknya kalau langsung tidur," Meeya salah, di rumah sedang banyak orang. Ia tak mungkin langsung masuk ke kamarnya.


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsallam, baru pulang ya? sini makan dulu,"


"Makasih tawarannya tapi Meey sudah makan pak de, aku izin ke kamar dulu ya,"


"Nanti kesini lagi, jangan gak sopan, semua orang kumpul di ruang tamu masa tuan rumahnya di kamar," ucap tante vien.


"Iya tan," terpaksa Meey hanya bersih-bersih dan kembali berkumpul di ruang tamu.


'Alma, inget lo harus banyak bersyukur meskipun sedikit kesel sama tante Vien,'


'Arghhhh aku emosi tapi gak bisa teriak, harus tenang, inget tenang!'


Sebagai anak perempuan, keduanya dijaga baik oleh orang-orang terdekatnya.


"Kapan lulusnya Meey? kok lama ya, padahal tetangga tante udah pada lulus yang seumuran kamu, ditambah lagi mereka punya usaha sendiri, ada juga yang udah kerja di perusahaan top 3," tante Vien didatangkan untuk menguji mental para keponakannya.


Kepala Meeya sudah berapi saat ini, ia juga ingin cepat lulus tapi belum waktunya. "Meey masih magang tan, belum waktunya aja tapi sebentar lagi lulus kok, sekarang udah garap tugas akhir." jawabnya.


"Kalau Alma sih gak mungkin cepet lulus ya, soalnya kamu udah nunda banyak semester, belum lagi kalau harus ngulang mata kuliah, ya kan?" Tante Vien benar-benar memperhatikan semua keponakannya tapi dengan cara yang salah.


"Iya," Alma enggan ikut campur, enggan berkomentar apapun meskipun dirinya dikritik habis-habisan.


Dulu Alma adalah anak yang paling dibangga-banggakan dan disayang tapi saat melakukan satu kesalahan, keluarga besarnya malu, semuanya berubah.


"Oh iya, gimana hubungan kamu sama Leo, ya kan apa yang tante bilang! Leo itu cocok untuk kamu," Tante Vien adalah orang yang menyetujui hubungan Meey dan Leo.


'Tan maaf-maaf nih ya, cocok darimananya? Leo friendly gitu sedangkan si kakak cuek bebek, gimana mereka bisa cocok yang ada Leo bertingkah kak Meey pingsan,'


Tapi friendly  versi Leo beda, ia tidak bisa membedakan mana yang harus diperlakuan special dan kepada siapa harus membuat batasan. Blunder!


"Leo itu..,"


"Alma anter kakak ketemu Nophel yuk," Meey tidak ingin adiknya kelepasan berbicara tentang Leo. Biarkan sikap Leo jadi urusannya saja, orang lain tidak perlu ikut campur tentang hubungan mereka. 


Meeya menariknya ke halaman depan rumah.


"Kak, masa malam-malam gini mau ketemu kak Nophel, mau ngapain?," 


Mereka sedang nangkring dipekarangan  yang terdapat satu kursi putih .


"Kamu mau bilang apa tentang Leo?,"


"Ya bicara jujur aja," jawabnya dengan enteng.


"Sadar gak sih? kamu itu terlalu ikut campur sama hubungan kita karena kakak gak suka hubungan ini diurusi orang lain, lebih baik hentikan semua kecurigaan kamu ke Leo, jangan rusak lagi semuanya, cukup ya dek!"


Sakit. Tapi ucapan Meeya benar. 


"Gue cuma dianggap orang lain ternyata. Wajar sih soalnya kakak selalu bisa melakukan semuanya sendirian tanpa bantuan siapapun. Maaf."


Akhirnya Alma hanya bisa diam, ia tak menggubris apapun lagi dan satu kata yang keluar dari mulutnya hanya permintaan maaf. Setelah itu Alma berjalan keluar.


"Kak, aku mau beli kertas dulu ya, bilangin ke orang rumah sebentar aja kok,".


Meeya mengangguk paham. Ia menyesal telah mengatakan perkataan seperti itu.


"Gue selalu saja seperti ini, mencampuri orang lain, pantes aja hubungannya gak pernah berhasil, kak Meey bener. Gue memang penganggu dihubungan mereka."


Alma sedang menikmati jalan-jalan malam menuju ke depan komplek perumahan untuk mencari toko peralatan sekolah.


"Lagi ngapain disini?," tanya Ghaftan yang muncul secara tiba-tiba dilingkungan perumahan yang Alma tempati.


"Lah, situ yang lagi ngapain? jauh banget mainnya,"


"Ada project deket sini,"


"Oh ya?," jawabnya singkat. Alma hendak pergi setelah membayar belanjaannya ke kasir.

__ADS_1


"Pulang?,"


"Ikut?," tawaran Alma hanya bercanda.


"Yaudah, hati-hati," Ghaftan tidak salah bertemu dengan Alma dimalam yang penuh keluh kesah, setidaknya ia akan tersenyum untuk memunculkan kembali doorngan energi itu.


"Makasih? Oh ya, kalau boleh tau ada project apa? siapa tau kan ya gak ada yang tau," Alma mulai deh gak jelas. Tapi ia tidak cerewet seperti biasanya. Baterainya sedang habis malam ini.


"Eh gak jadi nanya deh, gak enak, gue kepo banget jadi orang, dah mau pulang dulu, assalamualaikum," lanjutnya setelah menyadari kalau ia memang terlalu penasaran pada hal yang tidak seharusnya dipertanyakan.


"Jangan dibiasain gak enakan,"


"Ya susah! kan udah terbiasa,"


"Makannya jangan dibiasain,"


"Ya,"


"Freelance photographer," ungkap Ghaftan.


"Hah?," kini Alma yang kebingungan, ia masih mencerna maksud Ghaftan.


"Itu tadi nanya kan ada project apa, saya lagi ambil job photography,"


Alma terlihat antusias, "Ih kapan-kapan kita kerja sama ya,"


"Kerja sama?," mengangkat satu alisnya dengan heran, kali ini apalagi yang akan Alma katakan. Kira-kira seperti itulah isi hati Ghaftan.


"Iya,"


"Jadi apa?,"


"Katanya photographer berarti bisa foto dong,"


"Enggak sih, saya cuma bisa mencangkul." jawaban Ghaftan dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi ini malah membuat Alma terkekeh sendiri. 'Lucu'


"Ada produk yang mau di foto atau kamu mau jadi model?," sesekali Ghaftan bertanya serius, siapa tahu job nya akan bertambah banyak dan bisa segera mengumpulkan pinalti yang telah disepakati ayahnya.


"Enggak,"


"Terus?,"


Alma nampak berpikir sejenak, "Jadi photographer di acara pre-wed gue, meskipun gak tau kapan," Alma menjawabnya dibarengi dengan tawanya.


"Ya, nanti kalau saya niat,"


"Dih kok gitu, tidak profesional,"


"Terserah saya,"


"Bener juga sih, heh dah lah capek mau istirahat,"


"Sendiri pulangnya?" tanya Ghaftan.


"Seperti yang bisa lo lihat? apakah gue rombongan?,"


"Yaudah hati-hati,"


"Hati-hati mulu perasaan," ini bukan kode. Alma hanya bosan saja mendengarkan kata hati-hati yang sedari tadi mengiringi percakapn tidak penting mereka berdua.


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsallam, hati-hati!" seru Ghaftan. "Nah kan bener nabrak tiang lagi,"


Nampaknya Alma memang grasak-grusuk. Buktinya ia beneran nabrak tiang listrik di depannya, beruntung tidak terjatuh.


Hanya sedikit malu.


"Maaf Alma, gue harus melibatkan lo, karena cuma lo yang bisa bantu semuanya."


to be continued.......


sampai jumpa lagi


part kali ini santai dulu ya, mumpung libur ini suasananya lagi adem jadi episodenya pun adem.


War nya nanti aja meskipun gak kedapatan war tiket, tapi gak papa have fun 😀🙏


info update: Tiktok © storywd.asa atau Instagram storywd.asa


fyi : Sebenarnya di daerah tertentu, Bandung tetap panas.

__ADS_1


__ADS_2