

"Selucu apapun anjing, tetaplah anjing, gak akan pernah berubah menjadi kucing"
***
Setelah malam itu Alma pulang kerumah dengan keadaan kepala yang pusing menahan segala beban pikiran yang tiba-tiba menghantuinya secara bersamaan.
Alma dihubungi oleh Ghaftan.

Entah apa yang akan Ghaftan bicarakan.

"Ah ada ide! kalau kita kerja sama otomatis gue bisa cari tahu tentang dia, siapa tau Ghaftan orang yang di cari, no one knows, kesempatan gak boleh terlewatkan," bermonolog. Seperti tercerahkan atas gelapnya clue yang ia punya.
Malam yang cukup mencekam diantara Alma dengan Meeya, keduanya tidak bertegur sapa bahkan sempat dicurigai oleh kedua orang tuanya.
"Drama banget sih, seharusnya dari awal bilang aja kalau dia bukan kakak gue, gak sesusah itu padahal. Bukan udah gak sayang, situasainya aja yang beda."
"Mungkin semua orang gak bisa diajak cerita tapi entah kenapa Alma merasa nyaman bercerita kepada-Mu, terima kasih atas segala kecukupan yang diberikan hari ini, mau tidur dulu." Ia segera memejamkan matanya mengakhiri hari yang melelahkan.
Mungkin tidur tidak menyelaskan masalah tapi dengan tidur bisa mengembalikan tenaga untuk menghadapi berbagai keadaan yang masih samar.
Seperti memandang jalan dengan ketebalan kabut yang tinggi.
_______ Friday Morning____
Alma berpamitan, ia memilih berangkat duluan dengan alasan ada kelas pagi. Padahal hanya alibi, ia tidak ingin bertemu dengan Meeya untuk sementara waktu sampai menetralkan kembali riuhnya isi kepala.
Sesampainya di koridor, Alma mengedarkan pandangannya ke segala sudut, ia menemukan sesuatu yang merusak pemandangannya pagi ini. "Loh Leo sama Vega kok deketan gitu," ini sudah menyangkut kakaknya ia tidak bisa tinggal diam.
Leo dan Vega mencoba menghindar ketika Alma tiba di dekatnya. "Permisi ikut duduk," sikap Alma yang seperti ini membuat Vega mendengus kesal. Tapi tidak ada perlawanan dari mereka.
"Nanti malam gue datang kok, permisi," Vega beranjak pergi dari sana.
'Lama-lama si Alma ini annoying banget' pikir Vega.
Leo sudah siap menerima sumpah serapah atas kecerobohan dirinya di depan publik.
"Mana yang katanya mau jagain si kakak?," sindir gadis yang tingginya tak lebih dari 160 cm.
"Bukannya udah gak peduli sama dia? dia bukan kakak kandung lo, itu yang lo bilang kemarinkan? kalau gak peduli gak usah campuri urusan kita," Sialnya Leo tau kalau Alma masih emosi tentang kejadian kemarin malam.
"Ya tapi kan.....gak gitu! semua ini akan jadi urusan keluarga besar Le,"
Leo hanya tersenyum, "Your sister is still my number one,"
Alma memutar bola matanya dengan malas, "Iya sih still number one soalnya abis one ada two-three-four kan?,"
"Kak Meey cuma ada diurutan pertama bukan jadi satu-satunya, iya kan? Kalau mau brengsek tuh jangan tanggung, pake acara punya sisi baik lagi! nih kalau di cerita-cerita fiksi, lo itu tokoh ambigu, tokoh yang gagal berkarakter, gak punya pendirian!"
Leo tetap menanggapi dengan tenang, "Kalau yang nerima pertunangan kemarin itu elo, setiap harinya gue bakalan dirujak, paling parah dijadiin jemuran kali ya, tenang aja adek ipar, gue gak akan bikin kakak lo menderita sedikit pun, jangan suudzon mulu, percaya deh,"
"Untungnya gue percaya sama lo apaan? yang ada dibohongi terus! sama aja kaya Ali,"
Leo tersinggung. "Boleh banget ngata-ngatain gue laki-laki brengsek atau apapun itu tapi jangan pernah sekalipun bandingin gue sama Ali, kita beda." Nyali Alma menciut, ia takut dengan raut wajah Leo.
__ADS_1
"Maaf. Jangan takut sama gue ya. Soon kita akan jadi saudara," ungkap Leo.
Perlahan hendak mendaratkan tangannya dipuncak kepala gadis itu namun Nophel datang untuk mencegahnya.
Alma masih setia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Nophel berbisik kearah Leo 'Jangan lakuin hal ini ke perempuan kalau lo gak mau bikin dia ngira yang macem-macem,'
Leo mengurungkan niatnya, ia perlahan sadar bahwa yang dilakukannya berlebihan meskipun maksud awalnya hanya karena kasihan.
Perempuan bisa saja menangkap maksud tertentu seperti mengira kalau Leo peduli karena menyukainya padahal yang ada di dalam hatinya hanya sebatas rasa kasihan. Miris!
"Yaudah gue pamit," Leo beranjak meninggalkan Nophel dan Alma.
"Hey cil, coba lihat kakak, kamu kenapa? kok tadi pagi udah berangkat duluan? biasanya kita sama-sama kan?" ungkap Nophel.
Kejadian kemarin malam belum sempat diceritakan kepada Nophel. Ah biarkan saja Nophel tidak tahu, toh dia bukan siapa-siapa.
Hal yang ditakutkan ketika Nophel tahu semuanya adalah menghindari Meeya. Sedangkan Alma dengan Nophel sedang bekerja sama untuk melindungi Meeya.
Alma tak akan sanggup bila harus berusaha sendirian dengan kasus seperti ini. Apalagi berhubungan dengan keluarga Leo.
"Aku berangkat duluan karena ada tugas dadakan yang harus diselesaikan, tau sendirilah kak kalau jurusanku laporannya kayak gimana,"
"Heran sih kenapa kamu masuk jurusan itu padahal kakakmu ambil administrasi bisnis,"
Alma sekarang merasakan maksud Leo. Ketika dirinya tidak mau disamakan atau dibandingkan dengan kakaknya.
Mereka berjalan-jalan sampai berada disekitaran gazebo. Tempatnya teduh dengan banyak pohon yang mengelilinginya. Udaranya yang sejuk membuat para mahasiswa memilih tempat ini untuk melepaskan penat.
"Eh ada kak Nophel," Sapa Vee disambut hangat oleh Nophel.
"Girls talk," hanya dengan mengatakan itu, Nophel segera beranjak pergi.
"Dasar bucin, kita mau bahas cerita kemarin malam pikun kah?,"
Alma benar-benar menceritakan semuanya kepada Vee. Atas dasar apa? atas dasar Vee sudah seperti saudaranya sendiri. Keduanya berteman baik meskipun beberapa kali tidak mengenyam Pendidikan di bawah instansi yang sama.
Kalau kata Tita "Duduluran mah ti mana wae oge jadi." artinya saudara itu datangnya bisa darimana saja tak melulu yang sedarah.
Meanwhile Tita merasa telinganya berdengung karena diomongin, "Aduh sarieun di gibahkeun kieu, ceuli urang ngahiung jiga tukang putu."
"Aku harus apa? maksudnya gimana cara gak canggung sama kakak, sebelum tau ini aja udah canggung apalagi sekarang? takut kehilangan kak Meey." Alma panik mengetahui salah satu fakta yakni Meeya akan dibawa pindah oleh Leo.
Bayangkan saja betapa takutnya seorang adik pisah dengan sang kakak. Gak akur bukan berarti gak sayang.
"Listen to me, apapun yang terjadi di antara kalian, kalian itu tetap adik-kakak, fakta yang kemarin kamu dengar sepenuhnya benar tapi ingat gak ada yang berubah kalian bisa ngobrol seperti biasanya,"
Alma merasa lega sepersekian detik. "Vee balik ngampus ada jadwal gak?,"
"Ada sih, itu loh Pemutaran Perdana Short Movie minggu lalu."
Ah pantas saja Leo dan Vega janjian, ini toh alasannya. "Yaudah deh gue berangkat sendiri aja, padahal gak mau berduaan, ini bukan kencan tapi mau bahas kasus, agak ngeri,".
"Ajak aja adiknya kak Ghaftan, sekalian simulasi,"
"Simulasi di roasting? masa ngajak Vega! yang ada hidupku terancam punah,"
"Heh marboah! maaf mbak mar saya pinjam nama. Back to the topic, adik Ghaftan yang kamu kira anak dia, inget gak? nah suruh bawa aja biar gak ada kehilafan yang terjadi diantara kalian,"
Alma mengangguk mengingat-ingat betapa malunya dia menuduh Ghaftan sebagai seseorang yang berselingkuh. "Ya lagian ngapain juga khilaf? aneh deh,"
"Sebagai manusia kita harus waspada dan mengantisipasi ketika akan melakukan sesuatu, siapa tau kan ya! gak ada yang tau."
__ADS_1
Keduanya menghentikan obrolan pagi ini, sudah ada panggilan dari kelas masing-masing.
"Nice to see you," pamit Alma.
"I know," Vee melambaikan tangannya dengan berlagak sok angkuh.
***
Hari ini Alma menyerap materi begitu banyak sehingga membuatnya ratusan kali beristighfar.
Ghaftan dan Alma memutuskan bertemu. Atas saran yang diberikan Vee akhirnya Alma meminta dia untuk membawa adik bungsunya. Rupanya ia tak keberatan sama sekali.
"Moi itu definisi boneka hidup, cantiknya masyaallah, hidungnya mancung, bulu matanya lentik, pipinya tembam, terus senyummnya bisa bikin yang lihat juga senyum, ajaib!'
"Hallo kakak! ini Moi," bayi dewasa itu menyalami Alma dengan lembut.
"Mau punya bayi macam Moi tapi gue gak tau caranya, maksudnya gak punya calonnya, gak jadi deh nanti aja, tugas masih di depan mata tabungan juga belum terkumpul sempurna," Alma dan isi kepalanya.
"Hallo sayang, sini sama kakak biarin kakakmu pesan makanan dulu." Alma menuntun Moi menuju sebuah tempat yang nyaman.
"Mau pesan apa?," Ghaftan menawarkan diri untuk memesankan makanan, konsep restoran ini memang kalau pesan harus ke kasir.
"Apapun gue makan, asal bukan daging orang,"
"Yaudah kalau gitu saya pesan daging orang aja,"
Alma mengerutkan dahinya. "Apa maksud!?"
"Biar kamu gak makan," Ghaftan terkekeh. Wah ini bukan Ghaftan.
"Orang lain kalau ngajak makan itu disuruh makan yang banyak ini malah dilarang makan, heran dikit tapi karena ini Ghaftan jadi gakpapa, harap maklum. Dah lah sana pesan! keburu malam kasian anak kecil di luar lama-lama," Alma memotong perseteruan di antara keduanya.
Setelah semua pesanan tertata rapih, mereka menikmati makan dengan tenang. Termasuk Ghaftan yang telaten memberikan makanan kepada adiknya.
"Moi anaknya gak rewel ya,"
"karena udah terbiasa sendiri," ucapan Ghaftan barusan membuat Alma terkejut.
Setelah dipikirkan, paling hanya candaan. Tidak mungkin anak umur segitu sudah mengerti tentang kebiasaannya.
Selesai makan, mereka memulai percakapan yang serius. "Saya akan pelan-pelan aja nyeritainnya, gak harus semuanya sekarang. Asalkan kita punya tujuan yang sama,"
Alma mengangguk paham. Ia mewanti-wanti dirinya untuk tidak terjebak atas segala hal yang terjadi.
"Kenapa kamu menerima tawaran menjalankan misi itu? ada hal yang di rahasiakan? kamu bisa ceritain dulu ke saya detailnya," pinta Ghaftan.
Otaknya sedang mengolah dan mencerna permintaan Ghaftan sebelum diungkapkan melalui lisan.
"Aduh! gimana ya jelasinnya. Takut salah ucap nanti gue yang kena imbasnya."
to be continued...
bye lanjut nanti ngantuk setitik.
Oh ya kalau mau info biasanya di TikTok dan Instagram @storywd.asa atau bisa juga mampir ke instagramnya @wullandar1.
Thanks a lot, sleep well Yáll

__ADS_1