Sudut Pandang

Sudut Pandang
20


__ADS_3

'It's more than enough for me'


storywd.asa



Melalui buku catatan ini, Alma mencantumkan semua keluhannya. Dengan maksud agar semuanya tidak terlupakan. Namanya juga mencatat kalau lupa bisa dibaca ulang.



Dalam suasana yang canggung, Vega mencoba untuk bersikap tenang. 


"Memangnya kalau miskin gak boleh berekspresi?," Sepertinya Vega tidak bisa lagi membiarkan dirinya diinjak-injak.


"Gak ada yang melarang, cuma sayang aja gitu kalau disebarluaskan padahal lo cuma numpang foto sama kita-kita, secara kan tempat ini vibesnya mahal," ada benarnya juga.


"It's my own social media, gue gak peduli!!." Vega tidak berniat untuk membodohi followers-nya, ia juga tidak berminat untuk dinilai sebagai orang kaya.


"Mungkin dulu lo itu kaya raya, segalanya punya tapi sekarang beda, harus bisa menyesuaikan diri!!."


''Memangnya kalau gak kaya harus dibatasi ya? cik, aneh. Padahal sama-sama aja hidup.'' lIhatlah Vega mulai terpancing amarah.


Secara kebetulan Alma mendengar langsung pertikaian mereka. "Gue punya ide."


"Kak, lewat sana yuk," Alma menarik Meeya dan Nophel untuk melintas dihadapan Vega dan teman-temannya.


"Kalau semua orang yang disebut 'miskin' harus bermental cetek mana mungkin bisa berkembang, what's wrong with those people? merasa paling punya segalanya padahal hidup di dunia aja hasil anugerah-Nya, kita semua cuma numpang, ya kan kak!"


Biarkan mereka merasa tersindir, Alma tak tega kalau Vega diperlakukan seperti itu. Mereka semua bungkam, alhasil Vega tak mempedulikan siapapun lagi. Salah dia juga, kalau sudah tidak diterima dalam suatu lingkungan, untuk apa masih bertahan?.


"Gue bertahan karena gak bisa cut off pertemanan gitu aja." pikir Vega.


Alma berharap dirinya berhasil membuat Vega merasa lebih baik. "Kakak suka keberanian kamu tapi caranya kurang tepat," ujar Meeya.


"Anak kecil ini perlu rem, biar gak sering keceplosan," ungkap Nophel.


"Ih apa salahnya sih bantu orang lain, apalagi kita kenal sama dia,"


"Kamu pernah berpikir gak? mungkin aja orang yang kamu tolong malah merasa gak nyaman karena ditolong?," Meeya tak ingin adiknya terlibat dengan masalah orang lain, bisa mengancam keselamatan.


"Just incase, ternyata mereka merasa bisa menjaga dirinya sendiri tanpa bantuan dari orang lain, gimana kalau dia malah berbalik dendam sama kamu, cil," yang Nophel katakan juga tak ada salahnya.


"Iya-iya semuanya salah aku, maaf ya, gak ngulangi lagi." Pasrah adalah cara yang tepat ketika semua argumen sudah merujuk kepada inti masalah.


Pesan: G.Muzza


Ghaf, adek lo ada di resto yang tadi sore gue mention


siapa tau dia mau cerita sesuatu


Ada kejadian apa di sana? dia gak buat kamu kenapa-napa kan?


Hey chill, kok lo malah tanya keadaan gue?


Terakhir kali, dia isengin kamu kan?


Iya sih tapi gakpapa santai aja, 


kalau mau kesini jangan kelihatan panik


Memang saya pernah terlihat seperti itu?


Enggak juga sihh, heh cepetan kesini

__ADS_1


Udah dari tadi.


Loh, kapan berangkatnya?


Lagi ada meeting sama client buat nentuin konsep foto, kebetulan lagi di resto yang sama.


Lo gak perlu jelasin ke gue sih


Kelepasan.


Setelah selesai berbincang dengan Alma melalui sambungan jaringan internet, akhirnya Ghaftan yang bergerak menemui sang adik.


Vega enggan beranjak dari sana, ia tak tahu harus bersikap seperti apa. Bagaimanapun juga Vega tetap merasa bahwa mereka adalah teman-temannya.


"Gue benci banget situasi ini! Should I make a movie script of this incident?"


"Na...." panggil Ghaftan ketika melihat adiknya yang tengah duduk sambil melamun diantara temannya yang sedang asik berbincang.


"Gue pulang duluan," merasa seperti didatangkan sesosok pahlawan.


"Yah kak Ghaftan cuma tukang foto, padahal dulu dia keren banget, kok keluarga mereka bisa jatuh gitu ya."


Mereka tidak tahu saja kalau tukang foto yang sedang digunjingkannya mendapatkan penghasilan yang lumayan besar. Lagipula apa salahnya jadi tukang foto? justru mereka berjasa mengabadikan semua momen yang tak mungkin terulang.


Setiap foto itu punya makna tersendiri.


"Sebelum menjatuhkan orang lain kalian harus mengenal diri sendiri, apakah sudah pantas mengatakan itu atau hanya membuat rendah dihadapan orang lain? buat diri kalian berharga dan bernilai sampai tak punya waktu untuk menjatuhkan orang lain. Maaf saya harus mengatakan ini supaya kita sama-sama belajar,"


People only know what they want to know. They don't care about the facts.


Alma sempat melongo sepersekian detik dengan perkataan Ghaftan. "Tuh kan ngiler jadi adiknya deh, biasanya Ghaftan gak pernah mau ngurusin orang yang julid."


Setelah semuanya aman karena mereka telah menjauh dari restoran itu, Vega mulai berani berbicara.


"Don't mention it! udah sepantasnya mereka sadar, kita memang bukan orang berada tapi bukan berarti gak punya harga diri."


Dengan mudahnya mereka menjatuhkan mental orang lain tanpa memikirkan impact kedepannya.


Vega baru menyadari satu hal, mengapa kakaknya bisa ada di restoran terkenal, kalau dulu sih wajar tapi jika hari ini, menjadi hal yang patut dipertanyakan.


"Kebetulan ada kerjaan di sini."


"Kakak udah pindah kerja, gak di kedai itu lagi?" Ghaftan menjawabnya sesuai dengan fakta yang terjadi.


"Aku akui Alma memang membantu banget tapi tetap aja aku gak suka sama dia, kak!"


"She just trying to have a normal conversation with you."


Kakaknya malah membela orang lain, Vega semakin tidak menyukainya.


Sempat tak sengaja saling melemparkan isyarat dengan Apada saat di dalam restoran tadi.


Melalui pesan kilat, sosok Ghaftan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Alma.


Pesan Mara


Makasih


Untuk? tapi sama-sama deh


untuk pertanyaan kamu tentang Dira saya akan jawab.


kasih nafas dulu kek!

__ADS_1


Loh, kamu gak bisa nafas?


Heh! udah gak usah dibahas,


yaudah besok sepulang kuliah


Oh jadwal ngampus ya?


Iya.


Ok, saya besok gak ke kampus


Gue gak perlu tahu


Maaf kelepasan.


🥲🙏


Makin hari, ada aja kelakuan Ghaftan yang membuatnya merasa ada aura-aura aneh.


"Kalau bener Dira itu Ayahnya Ghaftan, apa gue hentikan aja ya penelusuran ini, toh apa yang mau diungkapkan, kata pak Tian aja Dira yang salah, gue takut salah sasaran, niatnya mau menegakan keadilan malah salah mengadili."


"Gue kok gak bisa berpikiran positif tentang mereka sih, hadeh!"


"Cil, pikiran kamu lagi bercabang ya?,"


"Bisa dibilang iya tapi ternyata enggak juga,"


"Tell me about it atau horse riding mau?"


Meeya mencegah Alma meng-iyakan ajakannya, bukan karena tidak mau tapi mereka sudah banyak dibantu oleh Nophel. Berapa banyak lagi yang akan Nophel keluarkan untuk Meeya dan Alma? bahkan mereka rasa tidak pernah bisa membantu Nophel.


"Tumben kalian nolak,"


"It's more than enough for us, makan di restoran yang mungkin kalau gak sama kakak kita gak akan pernah bisa kesini,"


"Gue gak suka ya kalau kalian selalu membandingkan diri seperti itu, mana Alma yang katanya bilang semua orang sama rata? mana Meeya yang selalu bodoamat tentang hal-hal kayak gini! don't do that to me! kita sama!"


Wah barusan Nophel marah? Gak seperti biasanya.


"Maaf," dengan tulusnya Nophel meminta maaf, ia merasa bersalah telah meninggikan suaranya di depan kedua orang yang bisa dibilang salah satu yang menjadikannya kuat bertahan.


"Kakak gak boleh minta maaf, kita yang harusnya minta maaf selalu membedakan satu sama lain,"


"Yaudah, lain kali jangan gitu lagi. Kalau masih terus membanding-bandingkan lebih baik kita gak usah ketemu lagi,"


Meeya sontak terkejut. "Heh opet! tega lu melupakan persaudaraan kita."


"Ya makannya, udah cukup ya."


Wajar kalau Nophel marah, ia hanya berusaha membuat orang disekitarnya nyaman dengan cara yang dia bisa tapi ternyata malah membuat mereka merasa tidak pantas mendapatkan itu semua.


pesan unknown


Saya gak sengaja menceritakan Dira, tapi ini gak akan berpotensi apapun dengan bisnis kita.


°°°°°


to be continued......


lanjut nanti ya


Happy weekend dear⛅

__ADS_1


__ADS_2