Sudut Pandang

Sudut Pandang
14


__ADS_3

Happy Reading Y'all


"A story i've never seen before,"


°°°°°


Kehidupan ini jika diibaratkan sebuah pohon, maka ia akan terus tumbuh. Tetapi pohon ini tumbuh tanpa adanya daun, meskipun demikian ia mampu bertahan dengan ranting yang bercabang.


Semua orang dibebaskan memiliki pandangan apapun tapi sayangnya beberapa diantara mereka bisa melontarkan perkataan yang menyakitkan.


Ketika Alma memposting kegiatannya di media sosial. Lebih tepatnya foto yang di ambil ketika sedang berada di tempat makan yang ia datangi bersama Ghaftan dan juga adiknya.



"Mereka hanya mampu berkomentar."


"Mereka gak tahu aku yang ada dibalik layar."


"Mereka gak mikirin aku, kenapa juga aku harus mikirin mereka."


"Mereka hanya menggunakan jarinya dan sosial medianya."


"Inget! sosial media adalah ruang pribadi yang dibuat untuk publik. Bagaimanapun ini udah jadi resiko yang harus diterima."


Pikiran Alma sudah kacau tapi ia tetap berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


Inilah kenyataannya. Setiap orang berhak memiliki pandangan apapun tentang kita. Tapi mereka gak perlu tahu kenyataan di balik layarnya seperti apa.


Sekuat apapun mencoba untuk menjelaskan tetap saja tidak akan di dengar. Karena mereka hanya melihat dan mendengar apa yang mereka inginkan.


Hanya kita dan sang pemilik hati yang tahu kejadian sebenarnya. Biarkan asumsi orang lain buruk asalkan itu bukan kenyataannya.


"Terlalu banyak orang yang nuntut melakukan hal yang mereka inginkan tanpa ada yang tanya apakah keadaan gue baik-baik saja menerima semua tuntutan itu," Alma tengah larut dalam pikirannya.


Notifikasi w-mail muncul.


Berisikan surat perjanjian kerjasama yang dimaksud oleh Ghaftan.






*yang disensor artinya belum boleh diketahui sekarang.


"Bukan Ghaftan kalau dia gak nepatin ucapannya, tapi isi perjanjian ini lebih merugikan buat dia."


Alma berinisiatif untuk bertanya langsung daripada ia menandatangani sebelum adanya negosiasi.






Upaya Ghaftan untuk membuat Alma percaya telah berhasil.


°°°°


Suasana kampus yang sejuk dan tenang ternyata bisa mencekam ketika hari-hari ujian dan tugas yang hilir mudik tiada hentinya.


"Gakpapa kan?," Alma takut merepotkan Vee. Jadwal mereka kadang tidak sama. Ia hanya khawatir Vee terseret kedalam kisahnya.


"Sumpil ya, gue pengen nimpuk lo pakai panci yang bunyinya eng ing eng." ungkap Vee.


"Jangan terus menerus  gaenakan, gue bakal bantu apapun asalkan semuanya masih dalam jangkauan."


"Thanks for being a good best friend ever." ungkap Alma dengan ketulusannya.


Dengan tak sengaja kedua sahabat ini menangkap basah seseorang yang sudah diincar untuk di mata-matai.


"Mara coba lihat ke depan deh, bukannya itu Leo ya?," refleks bersamaan menengok ke arah yang di tunjuk oleh Vee.


"Iya, sama siapa itu?,"


"Kalau gak salah dia itu mantannya sekaligus tim departemen Artistik di komunitas kita," ungkap Vee.


"Leo selalu seperti itu, kelewatan batas, dia masih memperlakukan setiap orang sama saja, bahkan setiap orang akan merasa dirinya lebih diutamakan padahal gak satupun dari mereka yang dianggap lebih dari teman."


"Vega adalah korbannya, entah siapa yang salah," Vee harus mengungkapkan ini.


Alma berjalan melenggang menghampiri Leo, ia bertindak tanpa memikirkan risiko yang akan diterima. 'I'm sorry if i speaking without using my brain, to be honest I'm angry and scared at the same time.'

__ADS_1


Akan ada keributan apalagi?


Setelah ini, seorang Leo bisa membencinya atau malah akan menyadarkannya?


"Alma coba tenang ya, bicara pelan-pelan, kita juga harus negur dia kok, toh dia udah punya kak Meeya," Vee membantu menenangkan Alma.


Leo tertahan ketika langkah kakinya menuju ke pintu utama.


"Tunggu,"


"Kangen ya? tumben tiap hari ketemu."


"Gedung kita sebrangan ya jangan pura-pura lupa,"


"Oh iya, pantes sering papasan, ada apa?," tanya Leo dengan ramahnya.


"Sifat friendly lo keterlaluan Leo!," Alma masih berbicara dengan santun.


"Udah berapa banyak yang berharap lebih sama lo? semua orang merasa dirinya diperlakukan khusus. Gak sadar kan? buat batasan! Gak semua orang bisa ngerti apa yang lo maksud."


"Dengerin orang cerita gakpapa wajar karena gue pun selalu cerita dan butuh seseorang untuk dengerin itu semua tapi dengan sikap lo yang terlalu perhatian bikin mereka berharap lebih."


Ah tapi apa bedanya dia dengan Ghaftan? sama-sama sering bercerita dan sama-sama saling mendengarkan cerita.


Oh mungkin bedanya adalah Ghaftan bukan Leo.


Alma masih belum selesai berbicara dengan Leo sedangkan Leo hanya mencoba mendengarkannya dengan seksama.


"I'm done! terserah kalian mau bersikap seperti apapun, tolong jangan buat kecewa keluarga untuk kesekiankalinya," sebenarnya Alma tidak berani berbicara seperti ini, ia ragu.


"As you know, your sister is also friendly and we met like destiny. kita biasa aja dengan semua ini, paham?,"


"Udah gak beres sih kalian berdua," tak habis pikir dengan tanggapan Leo.


"You act like you're okay, always happy and cheerful, tapi lihatlah sekarang! masih tetap melihat semua orang dengan kehidupan lo di masa lalu. We need to fix a lot. Cukup ya, gue bantu,"


Leo tidak tahu isi hati dan pikiran Alma. Ia hanya melihat apa yang bisa dilihat olehnya bukan menanyakan bagaimana keadaan Alma yang sebenarnya.


Lagi pula apa yang mau di bantu? yang ada Leo akan ikut sakit.


"Thanks, lebih baik gue pergi aja. Jangan mengharapkan kepedulian gue lagi, jalani kehidupan kalian seperti yang kalian inginkan, inget satu hal kalau gak diperbaiki sekarang bisa keterusan, goodbye and good luck." Meeya mendengar jelas bahwa Alma sudah enggan lagi peduli dengan dirinya.


°°°°°


Di dalam ruangan ini Alma bisa tenang meskipun dihadapkan dengan pekerjaan yang menumpuk.


Alma sedang berhadapan dengan cermin.


"Alma! kamu itu drama banget sih! kenapa harus bilang goodbye segala, mau kemana kamu! ah elah gini amat mikirin kejadian tadi. Lebayyyy! lain kali jangan gitu lagi ya!,"


Seolah tengah menceramahi orang lain padahal ia hanya berbicara dengan dirinya sendiri.


"Kamu lucu,"


Kaget bukan main ketika Ghaftan ada di ruangan ini.


"Kacanya diajak deeptalk," sahut Ghaftan.


Malu sekaligus terkejut beradu menjadi satu. 'Woy malu......enyah lo dari sini.'


"Lagian ngapain tiba-tiba ada disini, kalau ada penghargaan si paling tiba-tiba, mungkin aja Ghaftan pemenangnya" sindir Alma.


"Kebetulan lewat," jawabnya.


"Kebetulan yang keseringan. Malu banget ini gimana?," yah sudah terlanjur basah.


"Gakpapa, saya juga pernah ngajak ngobrol cermin," pengakuan macam apa ini.


Ghaftan tidak akan membiarkan Alma merasa dirinya aneh.


"Sepertinya dia kurang percaya orang lain atau dia punya gangguan kepercayaan? merasa orang lain itu ancaman buat dia, dia gak merasa aman dan selalu merasa nyaman sendirian."


'Mungkin dulunya dia gak pernah mendapatkan tanggapan positif dari orang lain, atau orang lain menghancurkan kepercayaannya jadi dia lebih memilih untuk tidak bercerita lagi kepada siapapun?'


'Maaf Alma, gue gak menyadari itu,' pikir Ghaftan.


'Gue bisa bantu tapi cuma bisa nyiapin telinga aja, terserah mau ngoceh sebanyak apapun asalkan lo lega gue juga berasa lega dengernya.'


Terbukti itulah alasan dibalik sikap Ghaftan yang selalu mau mendengarkan cerita Alma. Padahal ia juga sama-sama sibuk. Sama-sama riuh isi kepalanya.


Gak percayaan tapi kepo, itulah Alma. "Serius? ah gak mungkin tapi ngobrolin apa?,"


"Wah ternyata Ghaftan kece," setelah mengatakan ini Ghaftan sendiri yang malu.


"is that you? Ghaftan," dengan tak percayaan mendengar kalimat narsis dari mulut Ghaftan.


"Saya juga pernah aneh jadi jangan kaget,"

__ADS_1


'Gue pernah hampir stress dan gak punya tujuan, lebih dari sekedar ngobrol sama diri sendiri. Bersyukur Alhamdulillah, sekarang semuanya tenang.'


"Welcome muzza,"


"Siapa dia?,"


Alma ini kebiasaan namain sesuatu sesuai keinginannya.


"Ghaftan untuk kamu yang sikapnya tegas dan kaku. Muzza untuk sisi lainnya,"


"Tapi saya tidak ada masalah kepribadian ganda," jawab Ghaftan dengan polosnya.


"Ya I Know, tapi terdengar lucu aja,"


"Udah berani ya kamu,"


"Ampunnn gak jadi serem,"


Keduanya sama-sama tertawa. Alma perlu banyak-banyak bersyukur masih ada yang peduli dengannya.


Ghaftan saja yang bukan siapa-siapa terpikirkan untuk membantunya untuk meringankan beban yang sedang dipikul meskipun beratnya tidak bisa dibagi namun mampu menghadirkan kelegaan didalam hati.


Dulu Ghaftan sama saja seperti kebanyakan orang. Hidupnya bebas, tidak terbebani apapun, tidak punya tanggungan tapi sekarang sudah berubah. Ghaftan masih Ghaftan hanya saja memiliki pola pikir yang lebih dewasa.


That night change everything.


'My darkside' pikir Ghaftan.


Alma memperhatikan Gahftan yang sedang menata barang-barang dan memasukkannya ke dalam dus besar.


"Mau kemana? tumben beres-beres,"


"Apa wajah saya kelihatan orang yang gak pernah beres-beres?."


"Ya iya sih." jawab Alma, hahaha rupanya gadis itu tidak serius. Sudah pasti Ghaftan ini anaknya rajin.


"Saya akan pindah," jawaban Ghaftan bisa membuat seorang Almara terdiam beberapa saat.


"Ghaf yang bener aja? terus perjanjian kita? kerja sama kita? gimana kelanjutannya?," baru saja tadi malam keduanya menandatangani perjanjian.


"Ya tetap berlanjut," enteng sekali cara menjawabnya.


"Tapi kan lo pindah, emm sorry kamu pindah!," kali ini Alma merasa di tipu.


Ah ternyata semua sama saja. Tidak mau di samakan tapi nyatanya gak ada bedanya.


"Saya pindah sekalipun gak akan ngalangin kita buat ketemu kan?," Ghaftan tetap dengan raganya yang menjawab dengan tenang.


"Tapi kamu jadi jauh,"


"Kata siapa?," Ghaftan menghentikan kegiatannya sebentar.


"Yang namanya pindah pasti jauh, gimana sih," Alma kok takut ya kalau Ghaftan pindah? mungkin karena dirinya sudah terbiasa dengan kehadiran Ghaftan?.


"Kamu tau belum saya pindahnya kemana?," itu dia, Alma tidak tahu Ghaftan akan pindah kemana, dia takut tidak bisa bertemu kembali.


"Enggak sih,"


"Liat ke arah jam 9pm.,"


"Heh apa-apaan ini," perasaan Alma tidak melihat meja itu saat dirinya ada disini.


"Ini namanya bukan pindah, tapi ganti posisi meja aja," terlanjur malu.


"Tetap aja namanya pindah," Ah Ghaftan memang tidak salah tapi Alma juga benar.


"Izin mau meratapi nasib," Alma berlalu melintas kehadapannya menuju pintu.


"Kemana?."


"Lagi mendalami rasa malu, kirain mau pindah beneran," kasian Alma, sudah malu satu kali ditambah lagi dengan yang kedua kalinya.


"Kalau saya pindah jauh pun tetap gak akan ngaruh karena kita pasti bisa ketemu lagi," dengan yakin Ghaftan menegaskan kepada Alma bahwa mereka pasti akan bertemu.


"Yakin?." untuk apa mereka menyakinkan satu sama lain? oh ya mungkin hanya untuk sebuah perjanjian.


"Harus yakin, perjanjian itu selesai kalau kita menyelesaikan misinya," ucap Ghaftan final.


Alma keluar dan Ghaftan kembali membenahi barang-barangnya.


Semuanya hanya sebatas perjanjian. Atau sebuah perasaan takut kehilangan setelah menemukan?.


to be continued.....


see u mau makan seblak dulu, lanjut nanti


info update ada di IG & TikTok storywd.asa

__ADS_1


atau di IG wullandar1


byee


__ADS_2