
Edward semakin mengikis jarak diantara dia dan Bella setelah mengajukan pertanyaan tersebut.
Sementara Bella sedang mengendalikan dirinya sendiri dari semua keterkejutan ini. Fakta tentang Edward yang sekarang Vampir tantu begitu sulit untuk dia terima dengan akal sehat.
Tapi dua taring itu, kekuatan pria itu benar-benar membuat kedua matanya semakin terbuka lebar.
Edward bukan hanya membuat Bella terpojok, namun dia pun mulai mengerakkan satu tangannya untuk menjamah tubuh Bella.
"Istri ku," panggil Edward dengan begitu lembut, sampai terdengar seperti hembusan angin.
Bella sudah gila, karena setelah mengetahui semuanya, dia bukannya semakin takut, justru semakin berani. Berani membalas tatapan Edward, berani untuk membuka hatinya lebih lebar lagi.
Semakin mempersilahkan Edward untuk menguasai hati dan tubuhnya.
Kening mereka telah menyatu, kedua bibir Bella mulai terbuka siap menerima ciuman pria ini.
"Bagaimana Bell, bagaimana jika aku tiba-tiba mengigit kamu?"
"Apa artinya aku juga akan jadi Vampir, punya kehidupan abadi?" tanya Bella tanpa takut.
Edward mengangguk. Keabadian bagi ras Vampir adalah petaka, namun bagi manusia biasa itu seperti sebuah anugerah.
__ADS_1
Beda sudut pandang yang sangat jelas.
Beratus-ratus tahun hidup, Edward benar-benar jadi pria yang kesepian. Seperti mengulang beberapa hal yang sama setiap hari.
Bosan sampai rasanya lebih baik mati saja.
karena itulah ketika pertama kali dia bertemu Bella, Edward seperti menemukan tujuan hidupnya yang baru. Seorang wanita dengan aroma darrah yang begitu manis dan tidak pernah dia bisa baca pikirannya.
Bukan hal yang sulit Edward untuk menggilai wanita ini.
Sentuhan Bella seperti angin segar yang menerpa tubuhnya.
"Keabadian bukan sesuatu hal yang indah andai kamu memahaminya Bell, kita terus menyaksikan kelahiran dan kematian, sementara kita tetap berdiri di tempat yang sama," terang Edward, kedua matanya begitu sayu seperti menjelaskan kehidupan yang selama ini dia jalani.
Bella saat ini telah berbaring sepenuhnya di atas sofa itu, dengan Edward yang kembali menindih tubuhnya.
Bella menggerakkan kedua tangannya naik untuk menangkup wajah Edward yang dingin, ingin memberikan sebuah sentuhan yang bisa membuat Edward tenang.
Tidak lagi merasa sendirian di dunia ini karena ada dia.
"Kamu tidak takut padaku?" tanya Edward ketika Bella sudah berhasil menyentuh wajahnya.
__ADS_1
Dilihat oleh Edward, Bella yang mengelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Selama aku hidup, tidak ada satupun manusia yang bersedia membantuku keluar dari kesusahan ini. Aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri. Tapi kemudian seorang Vampir datang dan memberiku sebuah black card," ucap Bella, sebuah jawaban yang menggambarkan semuanya tentang hidup dia.
"Takut? tentu saja tidak, karena Kamu adalah satu-satunya penolong bagiku. Jika kamu menginginkan darrah ku, maka ambilah," timpal Bella lagi.
Dia mendongak dan menyerahkan lehernya kepada Edward.
Sebuah pemandangan yang begitu menggoda bagi vampir tersebut.
Bella hanya akan mati dan menjadi vampir jika dia digigit tepat di Nadi, di aliran darrah.
Namun saat itu Edward benar-benar mengigit leher Bella, namun hanya sedikit.
Gigitan yang tidak akan berpengaruh apapun pada wanita itu.
"Agh!" Ringis Bella, dia telah siap untuk merasakan kesakitan yang lebih dari ini.
tapi cukup kamu menunggu ternyata hanya sesakit sengatan lebah, dan setelahnya pun tidak terjadi apa-apa pada dia.
Bella sontak menurunkan pandangan dan kembali menatap kedua mata milik sang suami.
__ADS_1
"Sudah? apa seperti itu saja? apa aku sudah mati?" tanya Bella.
Namun kemudian dia malah melihat Edward yang tertawa. Dengan perlahan taring itu menghilang.