
Bella berjalan mendekati suaminya yang sudah berdiri di sana. Sementara keluarga yang lain lebih pilih menyingkir dan membiarkan sepasang suami istri itu menyelesaikan masalahnya berdua.
Salah satu pintu masih terbuka hingga membuat angin malam masuk dengan leluasa ke dalam rumah tersebut, sepoi-sepoinya membawa hawa dingin yang begitu menusuk.
Mommy Lilyana, Daddy Gilbert, kak Serine, kak Lucas bahkan Andrew sudah pelan-pelan menjelaskan semuanya kepada Bella.
Bahwa ini juga tidak mudah untuk Edward, apalagi di saat pria itu harus memilih diantara dia dan anak mereka.
Tapi takdir selalu terjadi di luar kendali, nyatanya Bella masih tetap bisa hidup bersama anaknya.
Dan Andrew pun bisa memastikan bahwa anak itu tidaklah berbahaya, berada di dalam kandungan Bella pertumbuhannya memang begitu pesat. Tapi ketika telah lahir nanti, bayi itu akan jadi bayi manusia pada umumnya.
Andrew adalah satu-satunya yang bisa berkomunikasi dengan bayi itu, Karena itulah dia bisa bicara demikian.
Kini Bella sudah berdiri tepat di hadapan sang suami, mereka saling tatap dengan begitu intens.
"Maafkan aku," ucap Edward, itulah satu-satunya kata yang ingin segera dia ucapkan kepada sang istri.
Seumur hidup Edward akan terus mengucapkan permohonan maaf itu hingga Bella bersedia memaafkan dia.
__ADS_1
Tatapan Edward turun, melihat perut sang istri yang nampak membuncit.
Sungguh, tiap kali melihat perut itu selalu ada perasaan bersalah yang menghantui Edward. dia telah menempatkan Bella pada bahaya.
"Aku akan memaafkan kamu, tapi aku mohon, terima anak ini. Kata Andrew dia tidak berbahaya," terang Bella langsung. Dia ingin Edward sama seperti dia yang menerima keberadaan Bayi mereka.
dan mendengar permohonan istrinya itu, Edward tidak langsung menjawabnya. Dia lebih dulu membuang nafasnya dengan sangat kasar.
"Percaya padaku Ed, dia adalah anak kita yang baik," mohon Bella lagi, kedua matanya menata permohonan.
Edward tidak punya pilihan untuk menolak.
Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah mengikuti takdir yang telah tergaris untuk mereka berdua.
dengan sentuhan seperti itu, Edward bisa merasakan sesuatu yang bergerak di dalam sana.
Deg,!
"Lihat lah, Dia memberikan salam untukmu, Dia adalah anak kita sayang," ucap Bella, kini kedua matanya nampak berkaca-kaca.
__ADS_1
Sungguh, Bella masih sama seperti para wanita di luar sana, ketika dia merasa sangat berbahagia saat pertama kali mengetahui bahwa tengah hamil.
bahwa sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Rasa haru dan bahagia itu bisa Edward rasakan dengan jelas, hingga membuat hatinya pun berdebar. Sebuah perasaan asing mulai menguasai dirinya.
Tentang harapan bahwa mereka akan jadi keluarga yang bahagia dengan kehadiran anak mereka.
"Maafkan aku sayang," ucap Edward sekali lagi.
"Tapi kita terima dia ya? kita besarkan bersama-sama, kamu mau kan?" tanya Bella pula, saat ini dia sudah mulai menangis. air matanya keluar tanpa dia perintah, juga tidak bisa dihentikan begitu saja.
Dan akhirnya setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya Edward pun menganggukkan kepalanya menyetujui keinginan sang istri.
Ya, dia setuju untuk membesarkan anak mereka.
Edward menganggukkan kepalanya dengan sangat jelas, hingga membuat Bella makin menangis dan segera memeluk suaminya tersebut.
Bahagia sekali.
__ADS_1
Sangat bahagia sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Rasa bahagia yang bahkan sampai kepada anak mereka.