Sweet Dreams

Sweet Dreams
Part Time


__ADS_3

Auris hanya tertegun sejenak mendengar perkataan Rose. Memangnya Auris bisa apa? Bukan wawanangnya untuk menasehati apa lagi sok bijak bukan?


"Apa pendapatmu mengenai pacar Kakakku itu? Bukankah dia sangat kejam? Bahkan bayi itu ada karena perbuatan mereka berdua! Lalu dengan kejamnya Abangku bilang begini 'Tidak mungkin aku memaksakan kehendakku pada wanita yang aku cintai,' oh itu sangat menyebalkan kau tahu Auris," Rose berapi-api pada Auris.


Auris hanya menampakkan ekspressi seadanya. Dia tidak ingin terlalu kepo urusan orang lain.


"Ya sudah itukan pilihan Abangmu, aku juga tidak bisa berkata-kata. Bukan hakku untuk berpendapat mengenai sesuatu yang tidak merugikanku bukan?" tanya Auris dengan santai.


"Oh Tuhan, aku lupa jika teman baikku ini punya slogan bodo amat pada hidup orang lain. Okelah, aku padamu kawan. Ayo kita pulang ke asrama," kata Rose.


Pagi yang sibuk Auris mengawali harinya dengan bermesraan Tuhannya, Auris menangis mengadukan segala kekhawatirannya di waktu tahajjudnya. Setelah bertahajjud ria Auris memilih menjemput kerinduannya dengan membaca al-qur'an. Setelah itu Auris lanjut dengan menyiapkan bahan-bahan yang telah di pelajarinya tadi malam untuk kuliah pagi ini.


Saat Auris mengawali harinya dengan dhuha, pintu kamar Auris di ketuk oleh Rose dari luar.


Auris segera membuka pintu kamarnya dan Rose segera berbaring di kasur asrama Rose. Ya mereka tidak jadi pindah tadi malam karena keduannya terlalu sibuk untuk persiapan presentasi pagi ini.


"Kamu sedang ibadah Auris?" tanya Rose yang mendapati sahabat baiknya mengenakan pakaian dalam dan berwarna putih sehingga hanya wajah yang terlihat.


"Iya, kamu tunggu sebenatar ya. Lagi pula masih ada 1 jam lagi sebelum jam kuliah di mulai," kata Auris yang di angguki oleh Rose. Rose melihat koleksi buku-buku yang di terbitkan atas nama Auris.


Rose membaca salah satu judul buku yang di tulis Auris dengan judul 'Cinta Tulus untuk Mas Arka' tapi ketika Rose membukanya Rose langsung sakit kepala karena semua bahasanya menggunakan bahasa Indonesia dan kabar buruknya Rose tidak mengerti bahasanya sama sekali.


"Ayo Rose, kita berangkat. Aku juga sudah siap-siap tadi sebelum sholat jadi bisa langsung pergi ke kampus saja," kata Auris.

__ADS_1


Rose hanya mengangguki dan mengambil bawaannya. Keduanya bergegas keluar asrama agar tidak terlambat ke kampus. Meski waktu masih lumayan tapi bukan Auris namanya jika tidak mengambil kesempatan. Waktu yang tersisa di sana nanti bisa di gunakan untuk mengerjakan novel online miliknya.


"Ngetik mulu kamu Auris, emang ngak capek?" tanya Rose ketika mereka tiba di ruang kelas dan Auris langsung membuka website novel untuk menghasilkan pundi-pundi keuangannya kembali dan juga menyapa para pembaca novelnya.


"Ya capek sih, tapi demi bisa bahagiain Ibu yang selama ini kasih seluruh yang Ibu punya buat aku, ini belum ada apa-apanya," kata Auris yang hanya di angguki oleh Rose.


"Apa ada novel yang kamu tulis menggunakan bahasa inggris?" tanya Rose pada Auris.


"Ada tapi ngak banyak, juga belum ada yang di terbitkan. Aku cuma dapat royalty saja dari webnya," jelas Auris seraya tetap menulis.


"Belum berarti?" tanya Rose dengan senyumannya.


"Belum berarti akan, semoga yang tersemogakan di dapatkan. Mimpi aja dulu," kata Auris dengan senyuman hangatnya.


Keduanya melihat isi kelas sudah mulai rame karena Mr. Alex tidak suka keterlambatan. Siapa yang terlambat walau kata satu detik setelah Mr Alex masuk maka jangan harap bisa masuk kelas hari ini.


"Selamat pagi semuanya," suara Mr Alex terdengar lantang di ruang kelas.


"Selamat pagi Mr," kata mahasiswa-mahasiswi itu serentak menjawab perkataan Mr Alex.


"Baik, sesuai dengan kesepakatan minggu kemarin jika hari ini akan ada dua kelompok yang presentasi. Kelompok pertama silahkan maju dan presentasikan hasil kelompoknya," kata Mr Alex.


Kelompok pertama melakukan presentasi dengan tenang dan suasana kelas senyap bagaikan kuburan.

__ADS_1


Hingga di sesi pertanyaan, Auris mengajukan pertanyaan. Ya bagi Auris adalah pantangan baginya jika tidak aktif di kelas walaupun harus nyerungsep, belok kiri, belok kanan dan juga tersandung seng penting aku aktif dan dapat nilai yang baik sehingga bisa cepat lulus dan jadi seorang Dosen seperti impian Auris selama ini.


Ya Auris hanya modal nekad untuk bisa kuliah di UK. Pintar itu jauh dari Auris, mampu juga jauh dari Auris tapi satu hala yang memperkuat impian itu serasa sudah dalam pelukan Auris. Ya bukan kah Allah pemilik dunia dan segala isinya lantas mengapa kita harus takut bermimpi? Kita hanya perlu mencurahkan semua yang kita rasakan dalam do'a sepertiga malam dan di setiap kesempatan. Bukankah Allah itu dekat? Bukankah Allah maha mendengar lantas mengapa harus takut bermimpi?


Hingga sesi Auris harus mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Dan harus menerima panjang kali lebar kali tinggi pertanyaan dari sang Dosen muda Mr Alex.


"Baiklah sebelum presentasi ini di tutup oleh kelompok penyaji Saya ada pertanyaan pada kelompok penyaji," kata Mr Alex.


"Kenapa kita perlu mempelajari grammar dalam bahasa inggris? Bukankah bahasa hanyalah sebagai alat komunikasi? Lalu apa peranan penting grammar dalam bahasa inggris? Tolong saudara jelaskan beserta contohnya," kata Mr Alex.


Auris menjelaskannya dengan baik hanya saja masih ada yang kurang bagi Mr Alex.


"Baik bisa di terima, ada yang bisa menambahkan?" tanya Mr Alex kembali di ruangan kelas.


Hingga si murid most wanted di kelas menjawab siapa lagi kalau bukan Evelyn Swift.


"Baik, semuanya sudah baik untuk penampilan kali ini. Hanya saja yang perlu di tambahkan, penampilan selanjutnya harus lebih siap lagi jangan sampai ada yang tidak menguasai materi! Baik hari ini cukup sampai di sini, sampai jumpa minggu depan," kata Mr Alex.


Waktu cepat berlalu, semua mata kulaih telah berakhir hari ini. Auris dan Rose tengah kerja part time di sebuah restoran dan hari telah menunjukkan waktu yang larut.


Ramai kunjungan para pengunjung membuat Auris dan Rose sama-sama sibuk dengan pekerjaannya.


"Auris, nanti aku nginap tempat temanku. Ngak papakan kalau kamu pulang sendiri ke apartment?" tanya Rose.

__ADS_1


"it's okay," jawab Auris.


__ADS_2