Sweet Dreams

Sweet Dreams
Pengagum Rahasia


__ADS_3

Pagi ini Auris membuat janji temu dengan atasannya Mr Bryan. Bukan tanpa alasan Auris membuat janji temu karena Auris ingin mengatakan mengenai tawaran menjadi seorang Dosen dan juga kuliah lagi untuk jenjang S3. Auris sudah mengatakan perihal ini pada sang Ibunda tadi malam dan Ibunda tercinta mengatakan seperti ini.


"Di kantor sudah ada sekretaris bukan? Kuliah S3 tidak sesulit kuliah S1 bukan? Lagi pula jadi seorang Dosen bukan berarti kamu akan kerja selama 24 jam. Jika memang kamu ragu coba diskusikan dulu sama Mas Bryan siapa tau dia ada solusi buat ini. Ingat Nak, kesempatan ngak datang dua kali," kata Ibu malam itu masih terngiang di telinga Auris.


"Selamat pagi Mr," sapa Auris ketika sudah berada di depan meja Mr Bryan.


"Selamat pagi Auris, ada hal penting apa? Tumben konfirmasinya ke saya ngak nunggu jam kerja dulu?" tanya Mr Bryan pada Auris. Hal ini berhasil membuat Auris tersipu malu dan juga merasa bersalah.


Semua yang Auris ingin katakan telah Auris katakan. Mulai ketertarikannya menjadi seorang Dosen dan tetap ingin mempertahankan posisinya sebagai seorang Manager di perusahaan. Tapi jika dia tidak bisa menghendle semuanya dalam serempak maka Auris akan menjalani salah satunya saja tapi tetap mengambil kuliah S3nya. Mendengar penjelasan dari Auris membuat Bryan mengangguk-anggukan kepalanya.


Bryan tahu pasti jika Auris pegawai yang sudah seperti Adik olehnya karena hubungan dekat keduanya di masa lalu. Bukan pacaran ya tapi ada sebuah kecelakaan yang membuat Auris bisa dekat dengan Bryan.


"Baiklah aku akan mengizinkan kamu mengikuti semuanya, tapi jangan salahkan aku jika aku berlaku keras padamu jika pekerjaanmu sebagai Manager marketting perusahaan tidak kau kerjakan dengan benar. Apa bisa di terima?" tanya Bryan pada Auris.


Dengan sangat bersemangat Auris mengiyakan pertanyaan bosnya itu. Bagaimanapun dia butuh suasana yang lebih segar dari sekedar ruangan 4 petak bukan.

__ADS_1


Hari-hari sibuk Auris telah di mulai. Hari ini dia harus mengerjakan semua pekerjaannya sebelum jam 2 siang. Karena jam 2 siang dia ada janji temu dengan Mr Alex.


"Jenny, tolong bawa semua laporan-laporan yang petlu aku kerjakan dan aku tanda tangani. Jangan lupa atur ulang jadwal pertemuanku dengan Clien! Pastikan jika sebelum jam 2 untuk semua pertemuan hari ini! Karena lewat dari jam 2 aku tidak ada di tempat!" kata Auris tegas melalui sambungan telepon miliknya.


Tidak butuh waktu lama Jenny datang membawa seabrek dokument beserta deadline dokument itu harus siap. Maka bersyukurlah Auris yang terbiasa bekerja cepat tanpa menunda-nunda hingga tidak ada tugas menumpuk.


Auris tenggelam dengan kesibukannya di depan layar komputer, jangan lupakan sebentar lagi Auris harus melakukan meeting mengenai design produk dan juga iklan yang harus di gunakan.


Auris melakukan meeting dengan sangat baik. Setelah memimpin rapat, gadis cantik itu mengambil tumpukan dokument yang tadi di terimanya dan membawanya dalam mobilnya agar bisa di kerjakan setelah nanti dirumah.


Waktu ternyata berputar lebih cepat dari perkiraan. Jadwal ibadah Auris kian berantakan bahkan dia mulai lupa kapan terakhir dia membaca al-qur'an. Hari-harinya di penuhi oleh kegiatan-kegiatan dunia yang tidak ada habisnya.


Puncaknya adalah malam ini. Auris yang merasa kacau setelah mengajar di kelas dia memutuskan pergi ke atap gedung tertinggi di kampus tempatnya berkuliah dan mengajar.


Tiba di atas Auris berteriak sekencang-kencangnya. Tidak kuasa menahan resah dan gelisah Auris menangis keras tanpa ingin di tahannya sama sekali. Auris bekerja keras untuk mewujudkan impiannya untuk hidup ideal dan jauh dari kata miskin agar dia tidak takut lagi menikah, agar tidak ada lagi laki-laki seperti Ayahnya di dunia ini. Tapi jika Auris tidak lagi ada waktu untuk mengafu untuk semua keletihan dunianya maka pada siapa dia harus mengadu? Auris yidak mungkin mengeluh pada Ibunya karena hanya akan menjadi beban fikiran Ibunya saja dan Autis tidak ingin itu terjadi.

__ADS_1


Setelah menangis keras Auris menepuk-nepuk dadanya keras.


"Bismillah, semuanya akan baik-baik saja. Ayo kita jemput kerinduan itu lagi. Luangkan bukan ambil dari waktu yang tersisa, jika memang tidak mampu juga maka aku akan lepaskan salah satu di antaranya," kata Auris mengelap kasar air matanya.


Masih belum mampu menenangkan diri Auris terduduk dan menangis seraya beristigfar terus-terusan. Sedangkan ada seseorang dari kejauhan yang s3dari tadi menatap Auris dengan khawatir. Rasanya ingin sekali mendekat, mendekap dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja dan bertanya kamu kenapa? Apa ada yang menyakitimu? Apa yang membuat hatimu sesak? Tapi apa daya seseorang di balik tembok itu belum berani memunculkan siapa dia. Rasa malu dan tidak percaya dirinya menguburkan semua keinginannya dan mengawasi dari jauh saja. Jujur saja dia khawatir jika saja Auris ingin bunuh diri karena dia berada di kelas tempat Auris mengajar. Meski dia berusaha profesional akan tetapi semua itu tidak bisa di sembunyikan bahwa Auris tidak baik-baik saja.


1 jam Auris menghabiskan waktunya untuk beristigfar dan menenangkan diri hingga Auris bisa benar-benar tenang. Tidak ingin dukanya terlihat Auris mengenakan kacamata gelap dan topi khas pria lalu turun dengan santai.


Auris yang memang Dosen favorit, selain cara mengajar yang asik Auris cenderung berbaur dalam mengajar membuatnya di manapun mudah mendapat perhatian.


Sepanjang jalan beberapa Mahasiswa dan Mahasiswi yang di ajarnya menyapa saat bertemu dengan dirinya dan Auris hanya menganggukkan kepala dan terkadang melambaikan tangan saja.


4 bulan berlalu Auris masih sebagai seorang manager, Dosen dan mahasiswi S3. Gadis itu mengerjakan semuanya dengan baik. Menulis? Masih Auris kerjakan walau tidak seaktif biasanya tapi masih rutin dia lakukan. Kontent yang di buat juga di update secara berkala tidak lagi se intens dahulu. Perkara hubungan dengan Tuhannya Auris menempatkan itu pada skala prioritas number 1nya. Bahkan Auris siap jika harus kehilangan jabatannya jika dia tidak mampu atau tidak di perbolehkan menempatkan hubungannya dengan Allah sebagai prioritas nomer 1.


Bagaimana dengan pengagum rahasia Auris? Apakah sudah menampakkan diri? Jawabannya tentu belum.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2