Sweet Dreams

Sweet Dreams
Menutup Rapat Hatinya


__ADS_3

Aldrick telah melewati masa kritisnya akan tetapi belum sadarkan diri. Sonya Alderson masih menjadi incaran polisi, razia di lakukan di mana-mana untuk menemukan wanita yang telah tega membiarkan Tuan Z selaku selingkuhannya menikam Aldrick.


Suasana di rumah sakit kini masih sendu walaupun Aldrick telah melewati masa kritisnya. Rose, Auris dan kedua orang tua Aldrick ada di ruangan Aldrick menunggu Aldrick sadar dari pengaruh obat biusnya.


Mommy Alena tampak sedari tadi masih sesekali menyeka air matanya yang turun tanpa di minta. Auris berdiri mengambil air hangat untuk Mommy Alena.


"Mom, minum dulu. Insyaallah Kak Aldrick akan baik-baik saja, Mommy jangan terlalu cemas lagi," kata Auris mengusap punggung Mommy Alena.


Mommy mengambil gelas berisi air dari alena dan meminumnya. Mommy memegang tangan gadis berhijab itu, dan menatapnya lamat. Mommy ingin tersenyum tapi sungguh dia tidak mampu.


"Terima kasih, sayang," kata Mommy dan air mata seorang Ibu tangguh iyu kembali mengalir.


Auris hanya menganggukkan kepalanya, gadis berhijab itu mengambil tisu di samping Mommy dan mengelapkan secara perlahan di wajah wanita yang masih terlihat cantik meski usianya tidak lagi muda.


Cemas, letih, takut tidak terasa Mommy dan Rose tertidur. Sedangkan Daddy keluar dari ruangan Aldrick untuk mencari udara segar, hatinya yang sesak namun tidak bisa rapuh di hadapan orang yang di cintainya. Setidaknya Daddy butuh tempat untuk menyendiri.


Auris membaca Al-qur'an dengan suara pelan, hanya suara lirih tapi masih terdengar merdu itulah pengisi suara di ruangan itu.


Tangan Aldrick bergerak, entah mengapa dia merasakan sangat damai hatinya saat mendengar suara nyanyian yang merdu itu. Ya dia pernah mendengar ini beberapa kali saat berkunjung di kediaman sang Adik dan Rose mengatakan jika Auris tengah membaca Al-qur'an. Aldrick rasanya ingin bangun dan mengatakan.


"Apakah kau bisa mengeraskan bacaannya sedikit lagi? Hatiku tenang mendengarnya dan aku menyukainya," namun sayang perkataan itu hanya Auris katakan lewat telepati alias di dalam hati sedangkan Auris tidak mampu mendengar.

__ADS_1


Hingga suara Aldrick terdengar serak dan lemah mengalihkan atensi Auris dari bacaannya.


"A...A..Auris.." tangan itu bergerak lemah dan mata itu menatap letih pada Auris.


Auris yang girang sontak langsung berteriak dan segera memanggil dokter. Teriakan Auris dan juga pintu yang di buka secara cepat membangunkan Mommy Alena dan Rose.


Kedua wanita beda generasi itu menghampiri Aldrick dengan perasaan haru. Aldrick tersenyum lemahnpada keduanya, sekali lagi terbayang wajah marah Rose saat lagi-lagi dia masih menjalin hubungan dengan Sonya. Belum lagi sang Ibunda yang sangat marah karena baginya Sonya adalah wanita tanpa hati dan perasaan karena telah 3x membunuh anak yang ada di rahimnya sendiri. Tapi Aldrick masih begitu buta dan mencintai Sonya tanpa kata tapi, hingga perselingkuhan Sonya dan Ziolin tertangkap basah oleh Aldrick dan mengakibatkan Aldrick terkapar di rumah sakit seperti sekarang ini.


Dokter masuk dan langsung memeriksa keadaan Aldrick. Setelah selesai memeriksa kondisi Aldrick, Dokter tersenyum kearah Aldrick dan menatap Mommy Alena.


"Syukurlah, Nyonya. Tuan Aldrick sudah melewati masa kritisnya. Tuan, anda beruntung karena memiliki Ibu, Ayah saudara dan Kekasih seperti ini. Semuanya siaga menjaga Anda. Jadi jangan lagi melakukan hal bodoh dengan mencoba membunuh diri Anda sendiri," kata Dokter yang menduga jika Aldrick adalah korban bunuh diri.


"Anak saya di tikam selingkuhan kekasihnya Dokter. Ini bukan kekasihnya, tapi sahabat baik anak saya. Tapi semoga yang Anda katakan jadi kenyataan Dokter, sayapun juga menginginkan Menantu sebaik Auris," kata Mommy Alena yang membuat Dokter merasa malu dan juga Auris yang salah tingkah. Berbeda dengan Aldrick yang bingung dengan perasaan hatinya sendiri.


Sudah satu minggu Aldrick di rawat, lukanya sudah membaik. Aldrick akan pulang 4 hari lagi. Pagi ini adalah hari minggu, Rose dan Mommy tengah mencari sarapan di bawah. Sedangkan perawat baru saja mengantarkan makanan dan obat yang harus di makan Aldrick pagi ini.


"Assalamu'alaikum," salam Auris ketika memasuki ruangan rawat Aldrick.


Sadar atau tidak hati Aldrick merasa bahagia saat mendengar suara Auris.


"Walaikumussalam," jawab Aldrick, bukan tanpa alasan pria itu beberapa hari yang lalu mendengar Auris menjawab telepon dari sang Ibu saat Auris tengah di ruangan rawatnya.

__ADS_1


"Eh Abang sendiri, yang lain kemana Bang?" tanya Auris saat melihat Aldrick hanya seorang diri do ruangan itu.


"Daddy sudah pulang ke rumah pagi-pagi sekali, sedangkan Mommu dan Rose sedang mencari sarapan pagi di bawah," kata Aldrick seraya tersenyum.


"Loh ini baru sampai?" tanya Auris begitu meletakkan buah yang di bawanya di atas nakas dan melihat satu set makanan lengkap dengan buah dan obat untuk Aldrick terlihat masih suci tanpa terjamah sedikitpun.


"Abang nungguin, Rose balik dulu. Soalnya kalau bangkit sendiri dan banyak gerak lukanya kembali berdarah, kemaren waktu Rose kuliah dan Mommy di kamar mandi Abang tidak sengaja banyak bergerak saat mengambil buah dan membuat lukanya terbuka lagi," kata Aldrick menjelaskan pada Auris.


"Auris suapin boleh?" tanya Auris menawarkan bantuan dan Aldrick hanya mengangguk manahan malu dan gugup.


Dengan telaten Auris menyuapi Aldrick bubur yang di sediakan rumah sakit. Suapan demi suapan telah masuk ke mulut Aldrick, kini piring dan tempat lauknya telah kosong karena isinya telah tendas di suapi Auris ke mulut Aldrick.


"Minum obatnya dulu ya Bang," Auris meletakkan obat yang telah di bukanya ke tangan Aldrick. Auris tidak terlalu memperhatikan wajah Aldrick, tapi sadar atau tidak Aldrick menatap lekat wajah sahabat Adiknya itu.


"Abang mau Auris kupaskan buah?" tanya Auris kembali setelah Aldrick selesai mengkonsumsi obatnya.


"Boleh," kata Aldrick dengan senyuman.


Saat Auris menyuapi Aldrick buah, Rose dan Mommy Alena memasuki ruangan.


"Wah, sudah ada Auris rupanya. Awas hati-hati nanti kamu jatuh cinta Bang sama Auris, soalnya Auris sudah menutup rapat-rapat hatinya untuk pria. Bahkan pria paling tampan di kampuspun tidak mampu membuat Auris terpikat," kata Rose yang hanya di tanggapi tawa oleh Auris.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2