Sweet Dreams

Sweet Dreams
Drama Lee Minho


__ADS_3

Waktu terus berputar tampa ingin kembali, dia begitu sombong bahkan hanya untuk menolehpun tidak ingin. Malam berganti pagi begitu terus siklusnya tanpa henti, minggu berlalu dan bulanpun terlewati.


Tidak terasa Auris udah 6 bulan kuliah di UK. Meski sempat kerja paruh waktu tapi malah tidak tercover olehnya dan Auris hanya bertahan selama 1 bulan bekerja saja.


"Auris, bangun Nak! Katanya mau puasa sunnah," kata Ibu yang terbangun lebih awal saat alarm ponsel Auris berbunyi layaknya penagih hutang yang menggodor pintu hingga hampir roboh.


"Iya Bu, Auris mandi dulu rasanya capek sekali," kata Auris segera bergegas ke kamar mandi. Syukurnya di apartement yang di tempati oleh Auris, Ibu dan Rose memiliki 3 kamar mandi. Setiap kamar ada kamar mandi dan di luar ada satu kamar mandi untuk tamu.


"Cepat, nanti kita malah ngak sempat sahur," kata Ibu.


Auris bergegas mandi agar bisa membuka matanya dengan terang. Karena jujur saja Auris kesulitan untuk menjaga kesadarannya ketika masih merasa ngantuk.


"Eh Rose, maaf ya Nak apa suara Ibu masak membangunkan kamu?" tanya Ibu pada teman satu apartment anaknya itu.


"Ngak kok Bu, Rose malah senang karena maskaan Ibu sangat wangi. Apa Rose tetap boleh ikut sahur walaupun ngak puasa Ibu?" tanya Rose pada Ibu Auris.


"Ya bolehlah Nak, yuk sini kita makan lagi. Nah itu Auris sudah selesai dari mandinya," kata Ibu.


"Ngak dingin apa Auris? Pagi-pagi begini kamu malah milih mandi, hobimu ini loh Ris buat aku geleng-geleng kepala," kata Rose pada sang sahabat.


"Biar seger cintah!" kata Auris dengan tawanya yang menular pada Ibu dan Rose.


"Terserahlah, dirimu memang berbeda," kata Rose.


"Ayo Ibu kita makan dulu yu. Rose udah ngak sabar keliatannya enak banget ayam olahan yang di buat Ibu," kata Rose.


"Ya sudah ayo kita bergegas makan, takut nanti keburu waktu subuh," kata Ibu.


"Ngak kok Bu, masih aman ini," kata Auris.

__ADS_1


Ketiga orang itu makan dengan hikmat dan di iringi dengan canda tawa ke tiganya.


"Bu, Auris ke kamar dulu. Mau caper sama Allah," kata Auris pamit untuk menunaikan ibadah malamnya.


"Bu, aku lihat Auris adem banget. Jarang marah, padahal kelakuan Willy dan teman-teman yang suka gangguin Auris itu bener-bener bikin darah tinggi tapi Auris menghadapi mereka dengan pesona kalemnya itu membuat teman-teman menjadi segan," kata Rose.


Ibu hanya tersenyum saja.


Hari ini hari yang sibuk, di tengah ke sibukan dan juga menjalani puasa sunnah senin kamis yang kebetulan hari ini hari kamis Auris di sibukkan dengan tugas perkuliahannya.


"Auris, kita penasaran gimana apartement kamu dan Rose. Gimana kalau kita mengerjakan tugas di sana, sekalian nanti kita makan dan minum untuk mempererat kebersamaan kita. Apakah boleh?" tanya Ling salah satu Mahasiswa internasional dari China bertanya pada Auris yang tengah mengetik di laptopnya.


"Aku dan Rose tidak hanya tinggal berdua, ada Ibu aku di sana," kata Auris tanpa menoleh.


"Wah ternyata ada calon mertua di snaa rupanya, bagus dong. Kapan kita minta restu untuk pernikahan kita Sayang?" tanya Damian yang berhasil membuat gelak tawa pecah di dalam kelompok itu.


"Pepet trus kepala lu sepet!" teriak Rose kesal.


"Aku ngak akan biarin playboy cap kudanil kayak kalian buat dekatin Auris dan Ibu! Huft itu pacar kamu yang kemarin ngaku hamil anak kamu mau di kemanain Damian! Heran kok kaum laki-laki banyaknya begini," kata Rose sarkas.


"Tanda akhir zaman," celetuk Auris.


"Noh, denger kata uztadzah kita!" kata Willy.


"Tapi kalau kita main ke apartement kamu tanpa ngonsumsi miras sama sekali gimana? Soft drink, kue manis dan makanan ringan aku rasa cukup untuk reman mengerjakan tugas" kata Clara salah aatu anggota kelompok Auris.


"Selagi no alcohol jika di rumah maka aku boleh, tapi kalau ada alcohol jangan harap!" kata Auris yang di setujui semua yang ada di sana.


Dengan menggunakan mobil milik Willy mereka semua meninggalkan kampus untuk mampir ke minimarket. Setibanya di minamarket, mereka semua berburu jajanan. Kenapa? Karena tugas ini banyak dan kemungkinan mereka kana mengerjakannya hingga pagi menjelang.

__ADS_1


"Jangan terlalu banyak beli kuenya! Kebetulan aku punya cake dan juga pudding kemaren yang aku jadikan kontent masak jadi lumayan buat cemilan kita," kata Auris.


"Oh Tuhan, izinkan aku untuk menghalalkan hambamu meski kami beda kepercayaan. Ini istri idaman banget loh Willy," kata Damian kembali dengan 1001 gombalannya.


"Kayak dengar suara tapi kok ngak kelihatan wujudnya ya. Kamu lihat ngak Will?" tanya Auris pada Willy yang berhasil menjadi gelak tawa mereka.


"Yang kamu kok tega banget sama aku," kata Damian pada Auris.


"Sudah jangan banyak gaya, ayonsegera kita ke my sweet home," kata Rose dengan riangnya.


Tidak membutuhkan waktu lama mereka tiba di apartment lantai 15 tempat Auris, Ibu dan Rose menetap selama 6 bulan belakagan ini.


"Asslaamu'alaikum," salam Auris ketika membuka pintu menggunakan sensor sidik jari.


"Selamat sore Tante," sapa teman-teman Auris dan Rose.


"Selamat sore," jawab Ibu Auris.


"Ibu, teman-teman Auris minta mengerjakan tugas perkuliahan di sini ngak papakan Ibu?" tanya Auris pada sang Ibunda tercinta.


"Ngak papa Nak, nanti kalau ada yang di buyuhkan panggil Ibu saja. Ibu siapkan minuman dan makanan dulu buat teman-teman kamu," kata Ibu tapi tangan Ibu langsung di tahan oleh Auris. Wanita 25 tahun itu memeluk sang Ibu dan mencium pipi ibunya di hadapan teman-temannya tanpa malu sedikitpun.


"Ibu istirahat aja, atau nonton boleh juga. Biar Auris dan Rose aja yang menyajikan makanan dan minuman," kata Auris.


"Iya sayang, ya sudah Ibu ke kamar dulu. Semuanya Ibu ke kamar dulu mau nonton drama Lee Minho lagi seru-serunya," kata Ibu bergegas meninggalkan teman-teman Auris.


Sontak hal itu membuat teman-teman Auris dan Rose tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2