Sweet Dreams

Sweet Dreams
Mr Alex


__ADS_3

Hari berlalu, waktu setahun tidaklah lama bukan? Akhirnya gelar S2 sudah di tangan Auris. hari ini tepat 1 setengah tahun Auris di UK.


Ya memiliki banyak teman dan juga pekerja keras membuat Auris tidak merasa kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan beberapa bulan ini Auris bekerja sebagai manager di sebuah prusahaan asing.


Seeprti hari ini, Auris masih tenggelam dengan kertas-kertas pekerjaannya. Ada uang penasaran dengan Rose dan keluarganya? Mereka masih di daerah yang sama dengan Auris hanya saja saat ini Auris menempati apartment milik perusahaan tempat Auris bekerja sehingga tidak lagi yinggal bersama Rose.


Ada pesan masuk ke ponsel Auris, tapi memang dasarnya tidak peka dan juga ingin mengerjakan semua pekerjaannya dalam waktu cepat Auris sama sekali tidak melihatnya. Hingga dering ponsel di atas meja Auris mengalihkan atensinya.


"Ya, ada apa?" tanya Auris pada sekretarisnya yang berjaga di depan.


"Nona, ada Tuan Aldrick ingin bertemu. Katanya twlah membuat janji temu dengan Anda?" kata sekretaris Auris.


"Biarkan dia masuk," Auris lantas menutup panggilan teleponnya.


"Selamat siang cantik!" Aldrick memasuki ruangan Auris.


"Selamat siang Abang. Maaf tadi aku tidak melihat ponsel sehingga tidak menyadari jika Abang menelpon dan mengirim pesan," kata Auris.


"Sudahlah Sayang, aku tahu pasti sikapmu akan seeprti itu. Bagaimana pekerjaan mu? Semuanya baik?" tanya Aldrick.


"Alhamdulillah semuanya baik Abang," kata Auris mendekata pada Aldrick saat melihat pria itu mengeluarkan isi paperbagnya dan duduk di sofa ruangan Auris.


"Percaya atau tidak kau pasti belum makan siang sedangkan ini sudah jam 2 siang. Benar?" tanya Aldrick lagi.


Auris hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman. Faktanya memang begitu, Auris tadi hanya mengambil air putih setelah menunaikan sholat zuhur dan kembali ke pekerjaannya.


"Ayo sini, makan! Abang sudah bawakan dua porsi untukmu dan untukku," Auris merasa serba salah.

__ADS_1


"Sudah jangan terlalu banyak berfikir, aku tengah berusaha mencari kuncinya berharap pontu itu bisa terbuka. Sebelum pintu itu terbuka setidaknya biarkan kita jadi teman. Ini sudah satu tahun kita saling kenal bukan?" tanya Aldrick dengan tatapan ramahnya.


"Abang,"


"Ayo duduk, aku tidak boleh memegangmu karena kau bukan istriku bukan. Untuk halalpun kita belum bisa bukan?" tanya Aldrick dengan tawamya kembali.


Keduanya mulai bersantap makanan yang di bawa oleh Aldrick lengkap dengan kopi hangat penghilang ngantuk karena akan berperang dengan kertas deadline bukan?


"Abang dengar dari Rose, kamu dapat tawaran jadi Dosen di universitas tempatmu kuliah dulu?" tanya Aldrick di sela-sela makan karena dia juga merasa canggung dengan Auris.


"Iya Abang," kata Auris singkat.


"Lalu apa sudah terpikir apa tindakan selanjutnya? Universitas itu adalah salah satu Unversitas terkemuka jadi aku rasa tidak ada ruginya jika kamu mengambil peluang ini," kata Aldrick.


"Sedang di pertimbangkan Bang, dua hari lagi aku harus membalas pertanyaan pihak kampus," kata Auris tenang.


"Iya, hati-hati Bang," kata Auris dan di balas dengan senyuman oleh Aldrick.


Hari sudah gelap dan Auris baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Auris bergegas merapikan mejanya dan mengambil kunci mobil miliknya. Auris melihat saldo tabungannya seraya berjalan keluar pintu ruangannya.


"Ya Allah, aku harus berusaha lebih keras lagi agar bisa bawa Ibu umroh tahun ini," kata Auris dengan wajah sedikit sendu. Jujur saja dia merasa lelah. Ini sudah 2 tahun, tapi Auris masih tertatih tapi Auris tidak ingin putus asa.


Impiannya punya rumah sebentar lagi akan terwujud, tapi list untuk umroh bersama sang Ibu harus dia tunaikan terlebih dahulu. Terlebih beberapa bulan lalu Auris baru saja membeli mobil dengan hasil tabungannya sendiri secara cash tentu saja sedikit banyak mempengaruhi saldo tabungan Auris.


Auris memakai masker di wajahnya agar tidak di sangka aneh karena dia ingin beristigfar untuk menambah saldo akhirat. Hidup bukan hanya di dunia bukan? Hidup pasti akan mati jadi sangat penting untuk menyiapkan bekal bukan?


"Selamat malam Nona," sapa satpam dan Auris menganggukkan kepalanya dan mata Auris menyipit karena gadis itu tersenyum.

__ADS_1


Auris mengemudikan mobilnya seraya mendengarkan murottal qur'an. Hatinya terasa damai sekali, sesekali matanya melirik indahnya kota London. Auris sebenarnya merindukan kampung halamannya di Indonesia tapi Auris sangat menikmati pekerjaannya sekarang. Belum lagi Auris sedang merintis usahanya sendiri.


Jangan lupakan slogan Auris yang lainnya adalah ingin punya suami ganteng jadi ya Auris ingin berburu bule dulu. Begitulah sekiranya, tapi meski begitu jodoh tidak melulu laki-laki bukan. Boleh jadi jodohmu adalah ajalmu sendiri jadi Auris ingin memperbaiki diri sebaik mingkin.


Auris mampir di minimarket untuk membeli cemilan, ya meski sudah bekerja tetap saja kontent dan novel masih Auris kerjakan. Mau tahu kenapa? Auris ingin punya perusahaan sendiri di bagian penerbitan novel. Semoga saja bisa segera terlaksana.


Setelah selesai Auris mampir di sebuah masjid yang biasa Auris hampiri ketika dia pulang malam. Bukan untuk sholat isya tapi untuk mencari ketenangan hati dengan sholat ataupun membaca al-qur'an.


Auris berwudhu dan langsung sholat dua rakaat. Dalam sholatnya Auris mengadukan semua keluh kesahnya. Auris melepaskan semua kegelisahannya di usia 27 tahun ini, perkara jodoh, perkara umroh, perkara kematian hingga perkara karir semuanya Auris ceritakan dengan tangisan.


Tanpa Auris sadari ada seseorang yang sudah lama memperhatikan Auris dari kejauhan. Pria itu sudah lama menanam kekagumanya pada Auris akan tetapi masih ingin memendamnya. Bukan karena tidak punya keberanian tapi dia masih ingin memperbaiki dirinya. Dia sendiri masih butuh waktu karena itu juga dia hanya mampu dan berani mendo'akan tanpa berani mengungkapkannya.


Setelah Auris selesai mengaji dan memejamkan matanya sejenak ponselnya bergetar. Auris langsung mengangkatnya.


"Selamat malam, maaf dengan siapa ini?" kata Auris ketika mengangkat telepon.


"Malam, Auris ini saya Mr Alex. Dosen yang mengajar di Universitas X tempat kamu menuntut ilmu waktu S2," kata Mr Alex melalui sambungan telepon.


"Massyaallah, Mr Alex. Saya benar-benar minta maaf, tadi saya tidak tahu," kata Auris langsung merasa sungkan.


"Ya santai saja, sekarang kamu sudah bukan Mahasiswi saya lagi. Jadi tidak akan ada yang memberimu nilai C. Oh iya saya ingin menanyakan mengenai kesediaan kamu sebagai Dosen untuk mengahar Mahasiswa S1 di sini. Kebetulan Universitas butuh dalam waktu dekat. Sekalian saya ingin menginfokan jika kamu lulus beasiswa untuk pendidikan S3 di universitas ini," kata Mr Alex.


"Maksudnya Mr? Saya tidak ada mendaftarkan diri untuk S3?" tanya Auris heran.


"Maafkan saya Auris, saya mendaftarkan kamu secara diam-diam berdasarkan hasil nilai kuliah kamu dan juga surat rekomendasi karena kamu Mahasiswi berprestasi, jadi jika kamu mau tinggal mengikuti saja lagi," kata Mr Alex.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2