Tabib Muda Dari Desa

Tabib Muda Dari Desa
BAB 21


__ADS_3

Mereka kembali menajamkan pendengaran nya, berharap suara Kumala dan Fitri terdengar lagi.


Hiiiihiii.....hiiiiihiii....... kowe nggoleki cah wedok loro kae, ora bakal ketemu, mereka kubawa ke tempatku....


Suara serak berganda dari sosok wanita menyeramkan dengan gaun yang kesuluruhannya berwarna merah darah.


Bukan nya takut, Doni malah terbakar amarah mendengar kuntilanak merah itu seakan akan menantangnya.


Seketika itu aura berwarna ungu pekat meledak ledak menyelimuti seluruh tubuhnya. Dengan sekali hentakan kaki, doni melesat menyerang mbak red kunti.


Moodyaaaarrrr kwe......!!!!


Tangan Doni yang terselimuti aura mencoba memukul red kunti, dia menyasar perut nya.


Aaaaaarrrrgghhhh.....!!!!!


Mbak kunti sempat mengelak, namun kecepatan Doni yang tak terukur mampu menghantam perut kanan mbak kunti, hancur berhamburan perut beserta isinya.


Meskipun si red kunti tampak sangat kesakitan, namun dia adalah hantu, dia tidak akan mati lagi hanya karena perutnya jebol.


"Ojo dipateni Don....!!"


Teriak Radit saat Doni hendak menghancurkan kepala mbak kun yang bersandar disebuah pohon jati. Doni pun menarik kembali tangan kanan nya.


Radit yang dari tadi juga mengeluarkan aura berwarna hijau mendekati mbak kun.


Slaaapp.....!!!


Dari jari radit mengeluarkan beberapa larik sinar hijau mengikat mbak kun agar dia tidak bisa kemana mana.


"Dimana dua gadis itu, katakan..!! Kalau kamu tidak mau mengakuĀ  akan kubuat kamu mati untuk kedua kalinya..!!"


Bentak Radit kepada mbak Kunti.


Hiiiihiii....hiii..... cah loro kae wis matiii.....


Mbak kunti terus saja memprovokasi Radit dan Doni.


"Setaaaan alaaass.....!!!!"


Dhuaaarrr.....!!


Kkrraaaaakkkk.....bruuurgghh....!!


Doni sudah tidak bisa mengontrol amarahnya lagi, mbak red kun yang diikat Radit di pohon jati, dihantam oleh Doni tepat di mukanya tembus menghancurkan pohon jati yang lumayan besar, pohon itu pun tumbang dengan suara bergemuruh.


Mbak kun tak sempat menjerit, kepalanya hancur tak tersisa, perlahan lahan tubuh dan serpihan kepalanya berubah menjadi asap kemudian memudar dan hilang. Mbak kunti merah, mati untuk kedua kalinya.


"Aku ora percoyo yen Kumala ro Fitri wis mati"


Kepalan tangan Doni masih tampak bergetar menahan amarahnya.


"Don..., tenangno atimu Don..."

__ADS_1


Kembali Radit berusaha keras menenangkan Doni yang belum pernah semurka ini.


Setaaaan...demiiittt....ibliss... mreneo kabeehh, lawaaan akuu.....!!!!


Doni berteriak sekeras kerasnya untuk melepaskan amarahnya. Radit hanya memandangi sahabatnya tanpa bisa berbuat apapun, pasti dia pun akan melakukan hal yang sama jika diposisi Doni.


Satu satunya petunjuk sudah dibunuh oleh Doni. Di saat mereka hampir putus asa, tiba tiba muncul beberapa kunang kunang terbang lalu berhenti di depan Radit.


Semula Radit maupun Doni tak menghiraukan kunang kunang tersebut, namun alangkah kaget nya mereka ketika tiba tiba tercium aroma yang sangat wangi.


"Simbah...."


Ucap Doni lirih, kini amarahnya sudah terkendali.


Kunang kunang tersebut terbang berputar putar lalu menuju ke satu arah, seakan membimbing mereka untuk mengikuti arah kunang kunang terbang tersebut.


"Hiikksss....hikkkss...aku takut banget Maaall...., bagaimana kalau kita tidak pernah bisa kembali, si kunti merah tadi bilang kalau kita akan mati disini.."


Suara tangis parau Fitri seakan sudah kehilangan harapan.


"Bertahanlah sampai pagi datang, aku yakin ada jalan keluar"


Kumala terus dan terus memberi semangat kepada Fitri, sekuat mungkin dia menepis perasaan yang sebetulnya setuju dengan Fitri.


"Doni..., Radit..., bantu kami...."


Gumam Kumala lirih, dia pun hampir putus asa.


Brraaakkkk.....!!


Dukun bercodet sangat geram karena satu lagi sekutunya tewas. Dia menendang pintu kamarnya untuk melampiaskan kemarahannya.


Sementara itu, Radit dan Doni terus berjalan mengikuti sekelompok kunang kunang, mereka seperti terhipnotis oleh aroma yang begitu wangi menenangkan.


Di sekitar mereka sebetulnya ada banyak lelembut sekutu Ki Codet, sebelum kunang kunang tersebut datang, mereka hampir saja mengeroyok Radit dan Doni. Namun aroma wangi tersebut juga sangat dikenali oleh para lelembut.


Mereka adalah saksi mata di masa lampau saat mbah Sulaeman memporak porandakan istana demit di hutan ini. Mbah Sulaeman membinasakan ribuan demit seorang diri, maka wajar saja, hanya mencium aroma harumnya saja para demit ini langsung ciut nyali dan memilih pergi menjauh.


Dari kejauhan ada 3 buah jenglot bermata merah menyala yang selalu mengawasi Radit dan Doni. Mereka pulalah yang melaporkan setiap kejadian kepada Ki Codet.


Tak ada yang tau nama ki Codet yang sebenarnya, hanya karena ada codet panjang di pipi kanan nya, dia dipanggil Codet.


Akhirnya setelah kurang lebih setengah jam, kunang kunang yang menuntun mereka berhenti disebuah air terjun yang tidak terlalu besar.


Begitu mereka masuk ke area air terjun, seketika itu pula para jenglot kehilangan pandangan mereka. Seperti ada tabir gaib mengelilingi air terjun tersebut.


Mlebu o lee....!!


Suara mbah Sulaeman dari sebalik air terjun memanggil Radit dan doni.


Mereka berdua pun langsung masuk menembus air terjun. Tampak mbah Sulaeman sedang duduk bersila, namun bukan duduk menempel ke tanah, mbah Sulaeman melayang dengan posisi bersila, di seluruh tububuhnya terselimuti aura berwarna putih.


"Lungguh o, kowe podo ora eling welingku, manunggalo karo alam, alam ugo sing bakal menehi pitudhuh. Ojo kuatir karo kancamu, kuwi gur gawe mancing awakmu"

__ADS_1


Mbah Sulaeman berkata dengan nada sedikit kecewa, mereka lupa dengan ajaran pertama dari beliau, justru malah menuruti amarah.


Mbah Sulaeman lalu menyuruh mereka berdua untuk bermeditasi di dalam gua kecil disebalik air terjun tersebut.


Aura positif begitu terasa di tempat itu, mereka jauh lebih tenang sekarang. Terlebih saat mendengar bahwa Kumala dan Fitri dalam keadaan aman saat ini.


Claaapppp....


Mbah Sulaeman merubah posisinya menjadi berdiri, namun kakinya masih melayang. Kedua tangan beliau memegang kepala Radit dan Doni, cahaya putih menyilaukan seperti ditembak kan masuk kedalam kepala mereka.


Sekitar beberapa menit cahaya tersebut terus mengalir ke dalam kepala mereka.


Radit dan Doni seperti orang yang kena sengatan listrik tegangan tinggi, bahkan mereka seperti hilang kesadaran.


Saat mbah Sulaeman selesai menembak kan cahaya menyilaukan mata tersebut, Radit dan Doni langsung jatuh lunglai seperti tak bertulang, mereka ambruk bersebelahan dengan kesadaran yang hilang entah kemana.


Mugo mugo cah loro iki iso diandalke....


(Semoga anak ini bisa diandalkan)


Gumam Mbah Sulaeman lirih, kemudian tubuhnya seperti memudar perlahan dan lalu hilang.


Saat matahari mulai tampak di ufuk timur, Radit dan Doni masih belum sadar juga, mereka seperti orang yang tertidur sangat dalam.


...****************...


Di depan Rumah Pak Lurah, sudah begitu ramai sejak subuh tadi, ditambah ibu nya Radit dan Doni yang ikut panik karena anak nya juga ikut menghilang.


"Kumala karo Fitri durung ketemu, malah di tambahi Radit ro Doni...mumet aku.."


Ucap Pak Lurah pada Bu Lurah yang akan segera melanjutkan pencarian.


"Mas Bagas, semalam mereka pergi ke arah mana"


Tanya Pak Lurah pada bagas yang sudah siap dengan outfit ala pendaki nya.


"Ke arah sana Pak"


Bagas menunjuk arah utara, artinya mereka harus masuk ke dalam hutan yang di masa lampau sangatlah angker.


Pencarian pun dimulai, hanya laki laki yang berangkat, mereka tidak mau mengajak emak emak, pasti akhirnya hanya merepotkan saja.


Tidak ada pilihan lain, sesuai petunjuk Bagas, mereka langsung bergegas masuk ke hutan, hanya ada 1 kelompok pencarian, mereka sekitar tiga puluhan orang. Hampir semua warga yang laki laki ikut dalam pencarian.


Setelah satu jam lebih mereka berjalan....


"Paak...., ada pohon jati tumbang, sepertinya baru saja ini Pak, daun nya saja masih kelihatan segar"


Mereka pun langsung penasaran, berjalan tergesa menuju pangkal pohon jati yang cukup besar itu. Dan alangkah terkejut nya mereka saat melihat penyebab tumbang nya pohon itu.


"Iki wit jati atos e koyo ngene iso ambyar, apa kena rudal nyasar yaa..."


Ucap Pak Lurah sambil garuk garuk kepala.

__ADS_1


Ada bercak darah disini Paak....!!


__ADS_2