Tabib Muda Dari Desa

Tabib Muda Dari Desa
BAB 27


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Doni sudah sampai di kota Semarang.


"Nanti suatu hari kita main main kesini sama Fitri dan Kumala Don..."


Tiba tiba Radit mengucapkan kembali kalimat yang membuat Doni terheran heran.


"Kayaknya kepalamu memang sedang bermasalah Dit..."


Balas Doni tanpa menoleh kearah Radit.


Selanjutnya tidak banyak lagi percakapan yang terjadi. Doni lebih fokus mengemudi karena jalanan lumayan padat, Radit lebih banyak diam, namun sering senyum senyum sendiri. Sedangkan lek Pardi dan Siti tertidur di kursi belakang.


Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, sampailah mereka di pelabuhan Merak.


"Lek...sudah sampai Merak, bangun lek..."


Doni menyuruh Radit untuk membangunkan paman nya.


Karena hari sudah malam, mereka harus menunggu sampai keesokan hari untuk menyeberang ke pulau Sumatra.


"Seharian belum ngopi aku Dit, ayo cari warung kopi di depan.."


Ajak Doni yang tampak kelelahan. Dia belum terbiasa menyetir jarak jauh. Radit pun setuju dengan ajakan Doni.


"Ditt...kamu aneh banget belakangan ini, jangan jangan kamu ketempelan demit di hutan kapan hari.."


Ucap Doni membuka percakapan di sebuah warung kopi.


"Raimuu....demit lho lihat kita langsung kabur, bagaimana mau nempel ke aku. "


Balas Radit lalu menyalakan sebatang rokok. Radit menghisap dalam dalam rokok kretek ber logo angka 234 dalam dalam, lalu menghembuskan asapnya ke atas..


"Kamu ga usah heran, ga tau kenapa, tiba tiba aku merasa yakin aja kalau suatu hari nanti kita akan ketemu Fitri dan Kumala lagi..."


Sepertinya Radit sudah kembali normal seperti sedia kala.


"Aku kadang berpikir Dit, nanti suatu hari aku ketemu dengan Kumala, namun saat itu dia sudah bersama pria lain. Sekedar membayangkan saja rasanya sudah sesakit ini.."


Sahut Doni sambil matanya menerawang jauh ke langit yang lumayan cerah.


"Aku paham kemana arah bicaramu, belum tentu juga Kumala dan orang tuanya hanya mau dengan pria berharta.."


Balas Radit yang kini beralih ke mode bijaksana.


"Ayo balik Dit, aku capek banget..."


Doni mengajak Radit untuk kembali ke mobil, mereka berdua memilih untuk tidur di dalam mobil. Sedangkan lek Pardi dan istrinya tidur di penginapan tak jauh dari sana.


Tolooong....toolooong.... Jangan ambil tas saya....


Tiba tiba seorang ibu ibu berteriak minta tolong saat ada jambret yang sedang berusaha menarik tas ibu ibu tersebut.


Wanita itu mempertahankan sekuat tenaga tas di tangannya, namun tenaga si jambret itu jauh lebih kuat. Si ibu ibu itu jatuh tersungkur mendapat tarikan sekuat tenaga dari pria penjambret itu. Dan tas ditangan nya kini sudah berhasil direbut.

__ADS_1


Saat pria itu hendak kabur membonceng motor temannya, tiba tiba....


Buukkkk....


Sebuah batu seukuran bola pimpong menghantam tengkuk penjambret tadi, seketika itu pula pria berjaket kulit itu tersungkur menabrak motor kawan nya.


"Kembalikan tas itu, dan lekas pergi dari sini, suasana hatiku sedang tidak bagus.."


Ucap Doni datar yang tiba tiba sudah di belakang kedua komplotan jambret itu.


"Jangan sok sok an jadi pahlawan, mampuuss kau....!!"


Pria yang berada diatas motor turun lalu mengambil golok yang diselipkan di pinggangnya. Tampak kilatan mata golok yang begitu tajam di tebaskan ke arah pundak Doni.


Doni pun dengan gerak refleknya melompat kebelakang. Radit menarik ibu ibu tadi agak menjauh dari mereka bertiga, dia sama sekali tidak tertarik untuk ikut bertarung, Radit fokus untuk mengobati luka wanita itu akibat terbentur bibir trotoar.


"Kita bunuh saja anak ini bang.."


Ucap jambret yang tengkuknya kena lemparan akurat Doni tadi. Kawan nya pun mengangguk setuju lalu menyerang doni bersamaan.


Slaaasshh....Traaaanggg...


Kembali golok ditebaskan ke arah leher Doni. Seketika telapak tangan Doni mengeluarkan cahaya ungu pekat menangkap golok yang tinggal satu inchi dari lehernya, dan lalu dipatahkan begitu saja dengan mudah oleh Doni.


"Kalian membuat suasana hatiku semakin buruk"


**Plaaaakkk....plaakkk...


Jambret satunya hanya melongo dan tiba tiba tremor seluruh badannya.


"Ampuun baaang...."


Plaaaakkk....


Suara tamparan yang cukup nyaring kembali terdengar saat pria itu memohon ampun kepada Doni.


Tampaknya Doni hanya ingin memberi pelajaran kepada 2 pria itu, meskipun kemungkinan membuat sebagian besar gigi pria itu goyah.


"Woiii malah bengong, dasar goblo** kembalikan tas nya, kamu ga lihat apa aku dipukulin terus...!!"


Bentak pria yang masih dalam cengkraman Doni kepada kawan nya yang makin tremor.


Plaaaaakkk....


Kini pria itu malah menampar kawan nya karena dari tadi melongo melihatnya dihajar oleh Doni.


"I...iyaa...baang....ini tas nya kukembalikan...."


Setelah mendapat tamparan yang cukup keras dia baru sadar lalu memgembalikan tas nya kepada ibu ibu itu dengan tangan yang bergetar hebat.


"Sudah Baang, ampuunnn....biarkan kami pergi..."


Pria satunya berlutut sambil tangan nya menyembah memohon ampun saat melihat tangan Doni kembali diangkat ke atas.

__ADS_1


"Sana pergi, jangan jambret lagi, kerja yang bener. Terima kasih, kalian sudah membuat suasana hatiku menjadi jauh lebih baik...."


Ucap Doni dengan senyum mengejek, lalu menghampiri Radit yang masih memeriksa luka ibu ibu tadi.


2 Jambret itu pun lari dengan mendorong motornya. Saking takutnya, mereka sampai tidak berhasil menyalakan motor.


"Bagian mana lagi Bu yang masih terasa sakit.."


Tanya Radit kepada wanita itu.


"Looh, kok sudah ga sakit lagi badanku, terima kasih ya mas, kalian benar benar anak anak yang baik..."


Jawab wanita itu terharu. Radit pun hanya tersenyum melihat ibu ibu tersebut sudah tidak merasakan sakit lagi.


"Lain kali lebih hati hati lagi ya Bu...Kalau bisa jangan pergi sendirian, apa lagi malam malam.."


Ucap Radit menasehati dengan sesopan mungkin.


"Biar saya panggilkan taksi saja, Ibu akan lebih aman"


Ucap Doni dan berlalu begitu saja memanggil taksi di seberang jalan.


"Terima kasih banyak yaa, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian. Dan saya berharap kita bisa berjumpa lagi suatu hari nanti"


Ucap wanita itu sebelum memasuki taksi. Radit dan Doni pun menyalami tangan wanita itu sambil mencium punggung telapak tangan nya.


"Ayo kita jalan Pak..."


Perintah wanita itu kepada sopir taksi. Tampak beberapa bulir air matanya kembali menetes disudut matanya karena terharu dengan sikap Radit dan Doni.


Bahkan saat wanita itu memberikan beberapa lembar uang 50 ribuan, Radit dan Doni menolaknya dengan halus.


"Tadi anak nya kok tidak ikut Bu.."


Tanya sopir taksi berbasa basi sebagai bentuk keramahan kepada penumpang.


"Bukan anak saya Pak, bahkan saya sampai lupa menanyakan nama mereka, tapi saya sangat berharap mereka mau menjadi anak saya..."


Wanita itu menjawab pelan, seperti tidak ingin melanjutkan percakapan. Dan sopir itu pun faham, dia tidak lagi bertanya tanya walaupun hanya sekedar basa basi.


...****************...


"Ckckck...golok sekeras ini kamu patahkan seperti lidi...."


Radit mengambil patahan golok itu sambil geleng geleng kepala dengan heran.


"Aku pede aja sih Dit matahin golok itu, kalaupun gagal kutangkap dan tanganku luka, kan ada kamu yang bisa ngobatin, hehehe...."


Balas Doni cengengesan.


"Raimuuu Doon....ayo istirahat, perjalanan besok masih sangat panjang.. "


Balas Radit sambil memasuk kan golok patah itu ke tempat sampah.

__ADS_1


__ADS_2