
"Cuma lihat lihat kok mbak... Pasti nya motor itu sangat mahal kan, uang saya ga cukup..hehehe....."
Jawab Doni cengengesan karena menahan malu, tapi telunjuknya mengarah ke sebuah motor trail yang walaupun second masih kelihatan seperti baru.
"Silahkan pilih yang mas mas suka, ini gratis buat mas...."
Ucap mbak dealer dengan riasan agak mencolok tersebut sambil mempersilahkan mereka masuk ke dalam.
Apa ga bahaya tah mbaak....
Jawab Radit dan Doni hampir bersamaan. Keduanya melongo heran tak percaya dengan perkataan mbak cantik itu.
"Enggaaaa...amaan....wong ibu bos yang nyuruh saya kok, itu beliau duduk disana..."
Jawab mbak itu dengan gaya agak centil sambil menunjuk ke arah seorang wanita paruh baya yang duduk sambil tersenyum.
"Loohh....ibu kan yang dijambret kapan hari.."
Ucap Radit lalu bergegas menghampiri ibu ibu itu dan mencium tangan nya. Doni pun melakukan hal yang sama dengan Radit.
"Doaku dikabulkan, akhirnya aku bisa bertemu dengan kalian lagi..."
Ucap ibu ibu itu lalu memeluk Radit dan doni dengan beberapa air mata meleleh dari sudut matanya, dan pastinya malah membuat bingung mereka berdua.
Lalu ibu ibu pemilik dealer motor itu mengajak Radit dan Doni masuk ke ruangan nya.
"Maafkan saya, waktu itu pikiran saya sedang kalut sampai sampai lupa menanyakan nama kalian. Perkenalkan, namaku Rasti..."
Ucap bos dealer itu dengan senyum ramah.
"Saya Radit bu..."
"Dan Saya Doni, kami dari Jawa tengah.."
Mereka pun memperkenalkan nama mereka.
"Ibu baik baik saja...sepertinya ibu kurang sehat..."
Sela Radit yang melihat raut muka bu Rasti agak pucat.
"Saya baik baik saja nak, hanya kurang tidur. Seingatku sudah 3 hari ini aku tidak bisa tidur..."
Jawab Rasti yang kali ini dengan ekspresi sedih.
"Kalau kalian tidak keberatan, sudikah kalian kerumahku. Saya cuma ingin sekedar mengajak kalian makan bersama dirumahku, anggaplah sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolong saya tempo hari.."
Rasti mengalihkan pembicaraan dengan mengajak mereka kerumahnya yang tidak jauh dari situ. Radit dan Doni pun mengiyakan permintaan wanita yang usianya seumuran dengan ibu nya.
Hanya butuh kurang dari 10 menit mereka sudah sampai di depan gerbang sebuah rumah mewah yang cukup luas.
Sopir Rasti turun lalu membuka gerbang kemudian mengantar mereka tepat di depan pintu utama yang terbuat dari ukiran kayu jati khas jepara.
"Rumah sebesar ini kok ga ada satpam nya Buk..."
Ucap Doni sambil matanya memindai ke segala arah karena dia merasakan ada energi negatif di sekitar rumah itu.
"Sebelumnya ada, dia mengundurkan diri beberapa hari yang lalu karena tidak kuat.."
Jawab Rasti dengan senyum getirnya.
Lalu Rasti mengajak mereka menuju ruang makan sesuai janjinya tadi. Dalam waktu singkat 2 orang asisten rumah tangga sudah menghidangkan beberapa menu makanan di atas meja. Setelah selesai makan, mereka kembali ke ruang tamu.
"Jika saja anak ku masih hidup, pasti dia sekarang seumuran dengan kalian..."
Rasti membuka obrolan dengan mata berkaca kaca.
Radit dan Doni justru dibuat sangat canggung dengan suasana itu.
"Dulu waktu dia masih SMP, divonis menderita kanker darah oleh dokter. Sudah berbagai cara kami lakukan untuk menyelamatkan hidupnya, namun Tuhan berkehendak lain, anak ku hanya bertahan selama kurang dari setahun.."
__ADS_1
Kali ini Rasti bercerita sambil meneteskan air mata. Radit dan Doni pun hanya menyimak, mereka tahu bahwa saat ini Rasti sangat butuh seseorang untuk sekedar diajak bercerita.
"Setelah kematian anak ku, suamiku jadi sering sakit sakitan karena dia merasa gagal menyelamatkan putranya, beberapa bulan yang lalu, dia menyusul anak ku. Tinggalah aku seorang diri..."
Rasti menjeda ceritanya, dia mengambir cangkir di depan nya lalu menyruput kopi di dalam nya.
"Setelah kematian suamiku, tiba tiba adik iparku menuntut ingin meminta sebagian harta almarhum suamiku.."
Rasti melanjutkan cerita dengan ekspresinya marah.
"Dan waktu aku dijambret tempo hari, itu adalah orang suruhan adik iparku. Dia tau di dalam tasku ada dokumen dokumen penting, andai saja dia mendapatkan dokumen itu, saat ini mungkin saya sudah terusir dari rumah ku sendiri..."
Lanjut Rasti sambil tersenyum ke arah Radit dan Doni.
"Maaf menyela Bu, saya merasakan aura negatif di luar rumah ibu, tampak nya ini ada hubungan nya dengan cerita ibu.."
Sela Doni yang dari tadi sebenarnya tidak sabar untuk mengutarakan hal itu.
"Dugaanmu benar nak, berbagai teror sudah kualami. Baik itu teror fisik maupun ghaib, setiap malam tiba tiba banyak makhluk halus berdatangan dan mengganggu saya, dan seperti yang saya bilang tadi, sudah 3 hari ini saya tidak bisa tidur. Bahkan satpam di rumah ini memilih keluar karena tak kuat menghadapi gangguan gangguan setan.."
Kali ini Rasti bercerita dengan ekspresi pasrah, dirinya seperti sudah kehilangan semangat.
"Jika ibu mau, malam ini kami akan tinggal disini berjaga jaga jika ada sesuatu. Kepulangan kami bisa ditunda esok hari.."
Radit menawarkan diri untuk menjaga rumah Rasti malam ini, dan Doni pun mengangguk pertanda sependapat dengan Radit.
"Tentu saja saya mau...saya sangat senang mendengarnya..."
Rasti tampak berbinar mendengar ucapan Radit. Dia begitu merindukan sosok anak nya, kehadiran Radit dan Doni mungkin bisa sedikit mengobati kerinduannya.
Rasti yang sudah tidak tidur tiga malam pun berpamitan untuk istirahat. Radit dan Doni langsung berinisiatif membersihkan energi negatif di sekitar rumah.
"Opo ikiii....pocong kok cuiliiikkk..."
(Apa ini, pocong kok kecil banget)
Doni menggali tanah di halaman depan rumah karena mendapati aura negatif yang cukup kuat. Setelah beberapa senti meter, terlihat bungkusan kain kafan kecil yang mirip pocong.
(coba dibuka Don)
Radit pun penasaran dengan isi bungkusan kain kafan itu.
"Iki lemah kuburan Dit..."
(Ini tanah kuburan)
Jawab Doni singkat. Lalu dia mengeluarkan aura ungu pekat di telapak tangannya dan kemudian meremas bungkusan itu.
Asap putih kehitaman mengepul dari tanah kuburan tersebut, lalu seperti meletus dan mengeluarkan asap yang lebih banyak.
Kemudian mereka berdua berkeliling rumah untuk mencari lagi sumber sumber energi negatif disitu.
Mereka menemukan beberapa benda aneh terkubur di sekeliling rumah mewah tersebut. Ada jeroan ayam yang dibungkus kain hitam mengeluarkan bau busuk yang teramat sangat, ada pula bungkusan kain putih yang berisi rambut yang digulung gulung, dan beberapa kain yang tertulis rajah dengan aksara jawa kuno.
"Omah iki diubengi pager dhuwure semene, kiro kiro sopo sing ngubur barang barang iki ning kene..."
(Rumah ini dikelilingi pagar yang tinggi, kira kira siapa yang mengubur benda benda aneh ini disini)
Ucap Radit dengan ekspresi curiga.
"Iyo Dit, ora mungkin wong njobo, wong wingi wingi ono satpam ning kene.."
(Iya Dit, tidak mungkin orang luar, wong kemarin kemarin ada satpam disini)
Sahut Doni membenarkan dugaan Radit, sambil memperhatikan bungkusan bungkusan yang sepertinya sudah tertimbun lumayan lama.
Mereka pun lalu memusnahkan benda benda itu dengan cara serupa seperti saat Doni memusnahkan pocong berisi tanah kuburantadi.
Saat Bu Rasti sudah bangun, mereka pun menceritakan tentang semua benda benda yang mereka temukan. Mereka pun meminta ijin untuk mencari benda benda ber aura negatif di dalam rumah, dan tentu saja Rasti mengijinkan nya.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam mencari, mereka hanya mendaptkan 3 bungkusan kain rajah. 1 di kamar Rasti, 1 lagi di kamar mandi, dan yang terakhir ditemukan di bawah sofa ruang santai.
"Kalau Bi Ijah dan Bi Juminem tidak mungkin, mereka juga mendapat teror yang sama denganku. Bahkan kami sering tidur bertiga di kamarku..."
Ucap Rasti menanggapi kecurigaan Radit dan Doni.
"Setelah benda benda itu kami musnahkan, semoga tidak ada lagi teror makhluk halus di sini..."
Ucap Radit berusaha menenangkan pikiran Rasti.
Malam pun tiba, Radit dan Doni nongkrong di teras ditemani kopi dan satu toples cemilan.
"Kalian masuklah, diluar dingin..."
Ucap Rasti kepada duo pemuda itu dengan gaya seorang ibu yang menasehati anaknya.
"Sebentar buk...habisin rokok dulu.."
Jawab Doni lalu menghisap kembali rokoknya.
Praaangg.....
Tiba tiba sebuah batu dilemparkan dari luar pagar dan mengenai kaca jendela hingga pecah.
Radit dan Doni langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju pintu gerbang. Sementara Rasti hanya mengintip dari balik tirai jendela karena khawatir terjadi teror lagi seperti sebelum sebelumnya.
"Woiii.....berhenti....."
Teriak Doni kepada 2 orang yang kabur dengan sepeda motornya.
"Bos...ada 2 orang pemuda di rumah Rasti, terpaksa kami kabur.."
Ucap pria berpakaian hitam kepada bosnya.
"Dasar tolol....kalian kan juga berdua, tinggal gebukin mereka terus acak acak rumah Rasti. Percuma aku bayar kalian..."
Sukarya memaki maki kedua anak buahnya karena gagal meneror Rasti.
"Ayo kembali kesana, biar kukasih contoh gimana cara neror orang..."
Sukarya tampak emosi dengan anak buahnya yang tidak becus melakukan tugas sederhana darinya.
Sukarya naik sebuah sedan BMW bersama sopirnya, diikuti oleh 4 kacungnya yang menaiki 2 motor RX King menuju ke rumah Rasti.
Sesampainya di depan gerbang, Sukarya tampak kaget....
"Dimana makhluk makhluk halus yang kutanam disini, kenapa tidak tampak satupun..."
Ucap Sukarya, adik ipar Rasti sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok sosok makhluk astral yang sebelumnya di tempatkan dirumah Rasti dengan perantara benda benda yang tadi dimusnahkan oleh Radit dan Doni.
Datang bersama bos nya, membuat keempat kacungnya menjadi lebih berani. Mereka berempat mulai merusak pos satpam kecil di samping gerbang dengan linggis.
"Ibu masuk lah ke kamar bersama Bi Ijah dan Bi Juminem, biar kami atasi mereka..."
Radit dan Doni yang mendengar keributan diluar menyuruh Rasti dan 2 asisten rumah tangganya untuk berlindung di kamar. Lalu mereka berlari keluar menuju pintu gerbang.
Seorang pria dengan linggis di tangan nya berhenti memukuli kaca pos satpam setelah melihat Radit dan Doni. Pria itu melongo menampakkan beberapa gigi yang ompong dengan raut wajah khawatir.
"Oohhhh....masih kurang tamparan yang kuberi tempo hari....sini....kukasih lagi...."
Ucap Doni yang mengenali pria ompong itu.
"Boos....dia yang tempo hari menghajarku boos...."
Pria itu mengadu kepada Sukarya dengan terbata bata.
Plaaaakkkk.....
Dengan gerakan tak terduga, Doni tiba tiba sudah berada di depan pria itu dan memberikan sebuah tamparan keras yang kembali membuat 2 giginya langsung copot.
__ADS_1
Pria ompong itu jatuh tersungkur dengan mulutnya mengeluarkan sedikit darah.
Keparaaaaattttt kau......