
Urusan dengan siluman ular sudah selesai, mbah Sulaeman tiba tiba saja sudah berada di belakang Radit. Beliau menempelkan kedua tangannya di kepala Radit dan Doni yang masih tampak sangat lemas kehabisan energi.
Dasar bocah bocah gendeng....
"Dikandani kon ngadoh malah gur ning kene wae..."
(Dibilangin suruh menjauh malah cuma disini saja)
Tentu saja mbah Sulaeman khawatir dengan Diana. Beruntung Radit dan Doni mampu melindunginya dari efek mengerikan benturan energi siluman dan Sulaeman.
Radit dan Doni pun hanya nyengir dimarahi oleh Mbah Sulaeman, lalu kakek kakek serba putih itu menghilang begitu saja.
"Dit, ayo kembali ke desa, kamu yang gendong gadis ini, aku dari tadi sudah dapat bagian ga enak terus..."
Ucap Doni lalu bangkit dan mencoba memandu mereka keluar dari hutan. Radit pun hanya menuruti perintah Doni.
Tampak para warga sudah berkumpul di pinggiran hutan untuk mencari keberadaan Diana yang tadi lari ke hutan karena kerasukan.
Sebelumnya mereka berniat masuk kehutan, namun urung dilaksanakan karena mereka ketakutan mendengar jeritan jeritan mengerikan disertai beberapa kali suara ledakan.
Bahkan terlihat pula kilatan kilatan petir dari kejauhan, padahal suasana di kampung sangat cerah berbintang.
Sementara Pak Burhan hanya bisa pasrah dengan nasib anak nya, dia bersama istrinya hanya menangis berharap ada suatu keajaiban.
Radit dan Doni mengeluarkan kekuatannya agar lebih cepat keluar dari hutan. Setelah kurang lebih 15 menit berlari, sampailah mereka di ujung desa.
Tak tampak lagi kerumunan warga yang tadi hendak melakukan pencarian ke hutan, sebagian pulang, dan sebagian lagi ke rumah Pak Burhan.
"Itu Diana...."
Teriak salah satu warga.
Pak Burhan langsung bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri Radit yang masih menggendong putrinya.
"Putri Bapak baik baik saja, kita bawa masuk dulu Pak.."
Ucap Radit lalu masuk begitu saja ke rumah Pak Burhan dan menuju kamar.
Dibaringkan Diana yang masih belum sadarkan diri, istri Pak Burhan menangis sejadi jadinya di samping Diana. Tangis haru, tangis bahagia, sekaligus tangis sedih karena melihat kondisi anak nya.
"Pak, tolong ambilkan air putih.."
Pinta Radit kepada Pak Burhan.
Gelas besar yang berisi air putih segera diberikan kepada Radit dalam waktu yang singkat.
Telapak tangan Radit tampak mengeluarkan sinar hijau terang, lalu diletakkan diatas bibir gelas. Seketika air di dalam gelas itu mengeluarkan gelembung gelembung seperti air yang mendidih.
"Nanti setelah putri Bapak siuman, segera minumkan sedikit demi sedikit. Saat ini kondisinya masih sangat lemah, besok saya akan kesini lagi.."
__ADS_1
Ucap Radit lalu keluar dari kamar.
"Lalu bagaimana demit yang merasuki anak saya tadi dek..."
Tanya Pak Burhan yang masih khawatir anaknya akan diganggu demit lagi.
"Demitnya sudah di pukulin sampai tewas sama temenku ini Pak, jangan khawatir, putri Bapak sudah aman..."
Jawab Radit sambil menunjuk ke arah Doni sambil cengengesan.
Setelah berbasa basi, mereka pun pamit pulang untuk istirahat, badan mereka berasa seperti habis dipukuli satu kecamatan.
Tepat tengah malam, Diana pun mulai membuka matanya.
"Ayaahh....ibu....."
Suara Diana sangat lirih melihat ayah dan ibunya yang berada disamping tempat tidurnya.
"Kamu sekarang sudah baik baik saja nak...jangan khawatir, ayah dan ibu selalu menjagamu..."
Ucap Pak Burhan dengan beberapa bulir air mata menetes disudut matanya.
Lalu sesuai perintah Radit, Pak Burhan memposisikan Diana duduk, lalu meminumkan air di gelas tadi dengan sedotan.
Setelah bebera teguk, tampak rona wajah Diana yang semula pucat pasi sudah agak merona lagi.
Keesokan harinya Radit dan Doni diantar oleh lek Pardi kembali mengunjungi rumah Pak Burhan.
Sambut Pak Burhan pada Lek Pardi dan duo selengehan dengan mata yang agak bengkak karena kurang tidur.
"Kami mohon ijin mau lihat Diana Pak.."
Ucap Radit yang langsung mendapat ijin dari Pak Burhan.
Dikamar Tampak Diana yang sedang disuapi bubur oleh ibunya. Mereka pun sejenak menghentikan aktivitasnya menyambut kedatangan lek Pardi beserta keponakannya.
"Maaf Ibu, Diana, kalau diijinkan saya mau membersihkan pengaruh negatif dari demit yang merasuki Diana kemarin.."
Ucap Radit dengan sangat sopan.
Pak Burhan dan istrinya yang sudah menganggap Radit dan Doni adalah pahlawan bagi putri nya pun tanpa ragu mempersilahkan nya. Dan Diana pun hanya mengangguk karena kondisinya masih sangat lemas.
"Don...bantu aku.."
Radit meminta support energi dari Doni seperti sebelum nya. Pak Burhan dan Istrinya pun memilih keluar dari kamar memberikan ruang untuk Radit dan Doni.
Kedua tangan Radit ditempelkan di punggung Diana, sedangkan tangan Doni menempel di punggung Radit. Cahaya hijau dari tangan Radit menjalar ke seluruh tubuh Diana, perlahan gadis itu merasakan hangat disekujur tubuhnya.
Sekitar 10 menit berselang, Radit melepaskan tangan nya dari punggung Diana.
__ADS_1
"Gimana rasanya sekarang..."
Tanya Radit kepada diana dengan senyum.
"Badanku sudah tidak terasa sakit mas...tapi masih lemes banget..."
Jawab Diana dengan suara pelan.
"Kalau itu gampang, kamu makan yang banyak, habis itu pasti ga lemes lagi..."
Sahut Radit dengan cengengesan, Diana pun tersenyum malu malu.
Mendengar suara tawa kecil dari dalam kamar, Bu Burhan pun segera berlari ke kamar dengan penuh harap.
"Dianaaa...kamu sudah sembuh naakk...."
Wanita itu memeluk putrinya disertai tangis haru, pun demikian pula dengam Diana, diapun terbawa suasana. Dua wanita beda usia itu menangis menumpahkan rasa bahagia.
Mata Radit dan Doni pun berkaca kaca melihat betapa bahagianya kedua orang di depannya. Lalu mereka keluar kamar memberikan kesempatan kepada ibu dan anak nya tersebut.
"Sebenarnya apa yang dialami putri saya dek.."
Tanya Pak Burhan kepada Radit.
"Mohon maaf jika jawaban saya kurang berkenan di hati Pak Burhan, tapi saya rasa anda berhak tahu. Putri bapak ditumbalkan oleh seseorang, tapi kami tidak tahu siapa dan mengapa..."
Jawab Radit sambil memghembuskan nafasnya kasar.
Tentu saja Pak Burhan sangat terkejut mendengar bahwa putri tercintanya ditumbalkan oleh seseorang.
"Dedemit yang merasuki Diana kemarin mengambil sedikit demi sedikit sari kehidupannya, beruntung putri bapak masih bisa diselamatkan.."
Pak Burhan seperti tercekat, lidahnya kelu tak dapat berkata kata. Hampir saja dia kehilangan putri semata wayangnya.
"Tak bisakan dilacak siapa yang sudah tega menumbalkan putri saya dek..."
Ucap Pak Burhan yang tidak terima Putrinya dijadikan tumbal.
"Tidak perlu Pak, saat tumbal gagal didapat, nanti yang menumbalkan putri bapak yang akan kena dampak nya, jiwanya sudah tergadai oleh iblis, maka iblis itu pula yang akan mengambil jiwa orang itu..."
Sahut Doni dengan penjelasan yang susah dimengerti oleh Pak Burhan.
"Maksudnya gimana ya dek..."
Tanya Pak Burhan lagi sambil garuk garuk kepala karena dia sama sekali tidak paham dengan hal hal seperti ini.
"Kira kira begini Pak gampangnya, nanti kalau ada orang mengalami hal yang persis seperti Putri bapak, maka besar kemungkinan dialah orang yang menumbalkan putri bapak"
Kali ini Radit memberi penjelasan yang lebih dimengerti oleh Pak Burhan.
__ADS_1
Tiba tiba salah seorang saudara Pak Burhan datang dengan nafas terengah engah berteriak dari luar pintu.
Mas Burhan....Jamal kesurupan mas....tolong mas.....