
Jeritan jeritan kematian puluhan demit nyaring bersahut sahutan, pun demikian demit demit yang masih merasuki Sukarya dan keempat kacungnya keluar dari tubuh mereka berbentuk asap hitam tipis, lalu lenyap begitu saja.
Awan hitam yang dari tadi menaungi halaman rumah Rasti pun perlahan hilang tertiup angin.
Wis rampung Don.....
Nafas Radit terengah engah, badan nya penuh keringat. Dia baru saja mengeluarkan energi yang cukup banyak. Doni langsung tanggap dengan kondisi Radit, dia menyalurkan sebagian energinya kepada sahabatnya itu.
Hahahahahaa......
Sukarya tertawa getir, tubuh yang sudah kembali seperti semula terbaring lemas di tanah dengan tangan masih menggenggam kujang yang kini sudah hancur menjadi debu berwarna hitam.
"Tak kusangka, kujang sakti ku dikalahkan oleh 2 bocah ingusan, hahahaha...."
Kembali Sukarya seolah menertawakan dirinya sendiri.
Sebagian besar otot maupun syaraf syaraf di tubuhnya telah rusak, untuk sekedar menggerakkan tangan nya saja dia tidak mampu.
Keadaan serupa juga dialami ke empat kacungnya, mereka hanya bisa mengerang kesakitan merasakan sekujur tubuh mereka sakit.
Rasti yang dari tadi menyaksikan pertempuran dari jendela kamar lantai 2 rumahnya, bergegas turun dan menghampiri Radit dan Doni dengan penuh ke khawatiran.
"Kalian baik baik saja kan naak....apa kalian terluka..."
Ucap Rasti panik sambil memeriksa kepala maupun badan mereka berdua.
"Kami baik baik saja Bu...hanya sedikit lemas saja, hehehe...."
Jawab Radit cengengesan sambil garuk garuk kepala.
Raut wajah Rasti pun berubah dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Ma..maafkan..saya..Nyonya....saya terpaksa mengkhianati Nyonya...."
Tiba tiba sopir yang membawa Sukarya keluar dari mobil dan berlari bersimpuh di kaki Rasti dengan tubuh gemetaran.
"Kang Dadang....jadi kamu yang menaruh benda benda aneh disini....keterlaluan..!! Kamu sudah kuanggap seperti saudara, tega teganya kamu bersekongkol dengan iblis itu..."
Rasti terkejut melihat mantan satpam dirumahnya yang ternyata turut andil menebarkan teror selama ini.
"Maafkan saya Nyonya...saya terlilit hutang, saya gelap mata..."
Dadang menangis sesenggukan sambil memeluk kaki Rasti.
Radit dan Doni hanya diam tak ingin mencampuri urusan pribadi mereka. Sedangkan Sukarya masih saja tertawa getir meratapi nasib nya.
"Aku maafkan kamu, bawa iblis itu pergi dari sini....dan satu lagi, kamu jangan pernah menampakkan mukamu lagi disini...."
Rasti menarik kaki nya dari pelukan Dadang, dia memberi kode kepada Radit dan Doni mengajak mereka masuk ke dalam rumah.
Dadang pun dengan susah payah memasukkan Sukarya dan para kacung nya ke dalam mobil, dia sudah ga peduli dengan 2 motor kacung Sukarya yang masih disitu. Lalu dia segera pergi mengantar Sukarya ke rumahnya.
"Bi Ijah, tolong besok suruh suamimu benerin kaca kaca dan genteng yang berantakan. Bi Jum, tolong buatkan minuman kedua anak ku ini..."
Ucap Rasti kepada 2 asisten rumah tangganya yang badannya masih gemetaran karena tadi ikut menyaksikan kejadian di luar nalar mereka.
"Terima kasih nak...kalau tidak ada kalian, mungkin saat ini aku sudah tidak bisa duduk di sini lagi..."
Ucap Rasti dengan mata berkaca kaca.
"Sudah kewajiban kami untuk saling menolong bu...sekarang Ibu sudah aman, Ibu bisa menjalani hidup dengan tenang mulai malam ini..."
Ucap Radit sok bijak dengan senyum kecil di bibirnya.
"Aku laper Bu...masih ada masakan ga yaa...."
Sahut Doni cengengesan sambil mengelus elus perutnya.
Selain memang dia merasa lapar karena sudah terkuras energinya, dia pun bermaksud mencairkan suasana.
__ADS_1
"Hahaha....adaa.....Biiii.....tolong bikinin nasi goreng yaa.... "
Jawab Rasti sambil tertawa, lalu menyuruh 2 asistennya untuk memasak.
Mereka bertiga benar benar tampak seperti sebuah keluarga, tak tampak lagi kesedihan di wajah Rasti. Meskipun dia tahu, sebentar lagi akan ditinggal kedua pemuda yang sudah dianggap seperti anak nya.
Keesokan harinya Radit dan Doni bangun agak kesiangan karena semalam tenaga mereka hampir habis terkuras.
Di depan sudah ada Kang Cecep, suami Bi Ijah yang juga sopir pribadi Rasti sedang membersihkan pecahan pecahan kaca yang tercecer di teras.
"Kaseeep pisan anak anak Nyonya..."
Ucap Cecep saat melihat Radit dan Doni menghampiri Rasti yang duduk di teras.
"Kasep itu apa ya Bu..."
Tanya Radit kepada Rasti.
"Kasep itu ganteng...Kang Cecep bilang kalau kalian ini ganteng sekali, gituu...."
Jelas Rasti sambil mengacak rambut Radit.
Ooohhh....
Jawab Radit dan Doni bersamaan.
"Kalian pulangnya besok saja yaa...gapapa kan kalau Ibu minta tolong untuk bantu bantu Kang Cecep benerin genteng..."
Ucap Rasti bermaksud mengulur ulur kepulangan mereka dengan berpura pura menyuruh mereka membantu Kang Cecep.
Mendengar perkataan Rasti, Radit dan Doni saling memandang satu sama lain lalu mengangguk.
"Baik Bu..tapi besok pagi kami pulang yaa..."
Jawab Radit yang kini juga sudah mulai menganggap Rasti adalah ibu keduanya, pun demikian dengan Doni. Rasti pun tampak tersenyum bahagia.
"Yuukk...anterin ibu beli tirai jendela, pada sobek kena pecahan kaca semalam.."
Sesampainya di supermarket yang sangat lengkap, Rasti meminta Radit dan Doni untuk memilihkan tirai jendela. Setelah itu, Rasti mengajak mereka masuk ke toko pakaian yang terlihat sangat lengkap dan mahal.
"Kalian pilih yang kalian suka, kulihat baju kalian semalam sobek sobek, jangan menolak..."
Radit dan Doni pun hanya menuruti permintaan Rasti, lalu mereka mengambil masing masing sepasang kaos oblong dan celana jeans yang harganya tidak terlalu mahal.
Melihat hal itu, Rasti seperti tidak terima. Di tariknya tangan kedua anak barunya itu ke depan rak baju dan celana bermerk.
Rasti mengambil beberapa potong, lalu menempelkan ke badan Radit dan Doni memastikan ukuran yang dipilihnya sesuai dengan tubuh mereka.
Tanpa bicara, Rasti membawa begitu saja pakaian yang dipilihnya tadi ke meja kasir lalu membayarnya. Bahkan dia tidak mengambil uang kembaliannya, Radit dan Doni pun hanya bisa nyengir.
"kita sekalian mampir makan siang yaa, aku lapar..."
Ucap Rasti setelah keluar dari toko baju, lalu mengajak mereka masuk ke sebuah restoran yang cukup mewah.
"Saya pesan steak saja Bu...selama ini cuma lihat di tivi, pengen nyobain, hehehe...."
Ucap Doni cengengesan. Radit pun memesan steak yang sama dengan Doni.
Setelah acara makan yang diselingi canda tawa hangat, mereka pun pulang tak lupa memesan 3 makanan dibungkus untuk kedua asisten dan kang Cecep.
"Loohh....Kang...kok gentengnya sudah beres semua...siapa yang bantuin masang..."
Ucap Radit heran sambil mendongak melihat genteng yang sudah rapi terpasang.
"Anuu...mas...Nyonya tadi kan nyuruh tukang buat benerin, sekarang sudah pulang orangnya..."
Kang Cecep yang begitu lugu dan jujur, mengatakan yang sebenarnya. Radit dan Doni spontan menoleh ke arah Rasti, dan Rasti pun hanya tersenyum kecut.
"Kalau ga gitu kalian pasti pulang tadi pagi kan..."
__ADS_1
Rasti memeluk kedua lengan anak barunya lalu diajak ke dalam.
Sebenarnya Radit dan Doni juga sudah mulai betah tinggal disitu, mereka pun sudah meresakan kehangatan seorang ibu dari Rasti.
"Ibu ga cari satpam baru lagi bu..."
Ucap Radit di meja makan setelah mereka menyelesaikan makanannya.
"Iya besok aku minta tolong sama kenalan ibu buat nyarikan satpam yang jujur.."
Jawab Rasti dengan senyum keibuannya.
Saat tengah malam, Radit dan Doni berkeliling rumah untuk memastikan tidak ada lagi teror atau demit yang mungkin masih tertinggal disitu.
Esok hari pun tiba, Radit dan Doni sudah selesai berkemas, mereka akan pulang ke Sumber Wangi.
Rasti sudah berada di teras bersama kang Cecep sopirnya. Melihat Radit dan Doni sudah menenteng tas ransel, dia pun memeluk Radit dan Doni bergantian dengan mata berkaca kaca.
"Kalian sudah siap...aku antar sampai depan yaa.."
Ucap Rasti lalu mengajak mereka berdua duduk bertiga dikursi belakang dan dia duduk diantara anak anak barunya.
"Looh...kok ke dealer lagi buk..."
Tanya Radit sedikit curiga.
"Kemarin lusa kan aku sudah bilang mau ngasih hadiah kalian, itu motornya sudah disiapin..."
Rasti menunjuk 2 motor trail yang kemarin diinginkan Doni.
"Ini berlebihan buk...kami tidak bisa menerimanya..."
Jawab Radit lirih sambil menatap wajah Rasti.
"Apakah salah, jika seorang ibu ingin memberikan hadiah kepada anak anaknya...."
Rasti berkata sambil menatap mata Radit dan Doni dalam dalam.
Perkataan Rasti mampu membuat Radit dan Doni tak berkutik, mereka pun mengangguk pertanda menerima hadiah dari ibu barunya.
"Ini helm nya mas, Ibu Bos menyuruh saya membelikan ini, semoga ukurannya sesuai yaa..."
Ucap mbak dealer cantik sambil menyerahkan helm kepada Radit dan Doni.
"Makasih yaa mbak cantik.."
Jawab Doni cengengesan.
"Setidaknya nanti setahun sekali kamu akan kesini buat bayar pajak motor sekalian tengokin ibumu ini..."
Kali ini Rasti tak kuasa membendung air matanya, dan dia memeluk sekali lagi kedua pemuda itu. Mbak dealer cantik yang menyaksikan peristiwa mengharukan itupun ikut menangis. Dia sudah bekerja kepada Rasti cukup lama, dia tahu kalau Rasti sangat merindukan anak nya.
Akhirnya mereka pun benar benar pulang, masing masing mengendarai motor trail pemberian Rasti.
Menjelang magrib, mereka memutuskan untuk beristirahat sekalian menunaikan sholat magrib di sebuah masjid di pinggir jalan.
Setelah selesai sholat, mereka sekedar rebahan di serambi masjid untuk melemaskan otot otot mereka yang kaku setelah beberapa jam mengendarai motor.
"Aku penasaran hadiah opo yoo sing di wenehi Diana kae...."
(Aku penasaran dengan hadiah yang di kasih Diana tempo hari)
Ucap Doni yang tiba tiba teringat dengan kado pemberian adik angkatnya.
"Iyo Don, aku juga nembe keliangan..."
(Iya Don, aku juga baru ingat)
Radit dengan segera membuka tas ranselnya lalu mengambil kotak berbungkus kertas kado yang kurang lebih sebesar 2 buah batu bata yang ditumpuk.
__ADS_1
Dan betapa kagetnya Radit saat membuka kotak itu melihat beberapa gepok uang pecahan 50 ribuan. Saking kagetnya Radit kotak berisi uang itu terlepas dari pegangannya dan beberapa gepok uang itu jatuh ke lantai.
Duittt....Dooon.....