
"Kalian jalan duluan, aku sama Radit di belakang saja, pengen nyobain motor baru, hehehe..."
Perintah Doni kepada lek Pardi dan Minto. Mereka pun mengangguk menuruti saja permintaan Doni.
"Mas....keponakanmu dan teman nya itu manusia apa alien tho...."
Tanya Siti sambil menatap lek Pardi yang tampak sedikit gemetar tangannya.
"Nanti saja kita tanya pada mereka, semoga mereka bukan makhluk jadi jadian.."
Jawab lek Pardi gugup keringetan meskipun AC di mobilnya sudah full power.
Kemudian mereka pun kembali bengong tanpa percakapan masih terbayang bayang bagaimana Radit dan Doni membuat begal pipis di celana.
"Aku merasa tambah ganteng naik motor trail ini Ditt hehehe... "
Ucap Doni yang mengendarai motornya bersebelahan dengan Radit.
"Hooh Don...sungguh para begal yang budiman, hahahaha... "
Mereka berdua pun tertawa bahagia sambil sesekali membleyer bleyer motornya.
Dasar bocah gendeng....
Gumam Mbah Sulaeman yang menerawang kelakuan mereka sambil geleng geleng kepala.
Kurang lebih satu jam berselang, mereka sampai juga di rumah lek Pardi.
"Too....mampirlah dulu disini sebentar"
Ucap lek Pardi meminta Minto untuk mampir di rumahnya.
"Matur suwun mas, saya langsung saja, udah kangen banget sama anak anak. Radit, Doni, terima kasih banyak yaa, kalau ada waktu main ke rumahku. Saya pamit dulu..."
Jawab Minto lalu menyalami semua.
"Tolong kejadian yang tadi jangan sampai ada orang lain yang tau ya lek..."
Balas Radit sambil mengedipkan matanya.
Entah mengapa Minto kembali merasa ngeri saat melihat mata Radit, dia pun mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. Kemudian Minto dan adiknya melanjutkan perjalanan ke desa sebelah.
Tampak Dimas dan Desi, anak lek Pardi berlari menghambur di pelukan ibunya, disusul Yanti asisten rumah tangga lek Pardi menyambut kedatangan mereka.
"Waahhh, kalian sudah gede yaah, terakhir ketemu kalian masih pada ingusan..."
Radit tampak gembira bertemu dengan adik sepupunya.
"Ini mas Radit yaa..."
Tanya Dimas sambil mencium punggung tangan Radit.
Mereka menghabiskan hari dengan bercengkrama diselingi gurau canda tawa.
Saat Siti dan anak anak nya sudah tidur, kini hanya tinggal lek Pardi, Radit, dan Doni.
"Ayo kita bersantai di belakang..."
Ajak lek Pardi dan di iyakan oleh Radit dan Doni.
Lek Pardi sengaja membuat smoking area di halaman belakang rumahnya. Gazebo terbuat dari bambu dengan atap rumbia, dibawahnya ada kolam kecil berisi ikan berwarna warni. Ada pula sebuah dispenser lengkap dengan kopi instan sachetan.
"Kopi nya buat sendiri yaa, kasihan kalau mesti bangunin Yanti.."
Tawar lek Pardi sambil menunjuk ke arah dispenser.
__ADS_1
"Nggih lek. Kok kayaknya njenengan gugup gitu lek, ada yang mau diomongin yaa..."
Radit tampaknya sudah tau maksud lek Pardi mengajaknya ke situ.
"Hehehe....iya Ditt....cuma penasaran saja sih, perasaan dulu waktu kalian masih kecil ya biasa biasa saja, kok sekarang agak lain yaa.."
Balas lek Pardi agak canggung. Bagaimanapun juga masih ada kengerian di hatinya, takut kalau Radit tersinggung dengan pertanyaan nya lalu ngamuk menembak nembak ke segala arah.
"Leekk...njenengan mau tak buatin sekalian ga.. "
Sahut Doni sambil mengaduk gelas kopinya.
"Iya Don, makasih yaa.."
Lek Pardi masih menjawab dengan sedikit gugup.
"Saya ceritakan garis besarnya saja ya lek, tapi tolong cukup lek Pardi dan bulik Siti saja tahu..."
Jawab Radit dengan senyum, dia paham kalau paman nya itu sedang dalam posisi canggung nan kikuk.
Kemudian Radit dan Doni menjelaskan secara bergantian dengan bahasa yang mudah dipahami, lek Pardi pun hanya manggut manggut mendengarkan cerita dari mereka.
"Alhamdulillah....sekarang aku sudah lega, ternyata kalian bukan makhluk jadi jadian seperti dugaanku sebelumnya...."
Mendengar ucapan lek Pardi, Radit dan Doni justru tertawa terbahak bahak. Lek Pardi pun hanya garuk garuk kepala sambil cengengesan tak jelas.
Keesokan harinya Doni mengajak Radit untuk berkeliling melihat suasana desa dengan motor barunya, baru saja merampas motor maksudnya yaa.
Radit pun sama antusiasnya masih terbawa euforia mendapatkan motor secara cuma cuma dari pimpinan begal yang berbaik hati memberikan motornya.
"Itu ada apa ya Don kok ramai emak emak, ayo kita kesana.."
Radit penasaran melihat belasan emak emak berkasak kusuk di depan pagar rumah salah satu warga, mereka berdua pun menghampiri para emak emak itu.
"Permisi Buu...mohon maaf, ini ada apa yaa.. "
"Mas mas ganteng ini siapa yaa, kok baru lihat ini.."
Bukan menjawab pertanyaan Radit, ibu ibu itu malah ganti bertanya sambil mengamati Radit dan Doni dari atas ke bawah.
Pun demikian dengan emak emak lain nya, mereka seketika menghentikan aktivitas berkasak kusuk nya demi memperhatikan 2 orang pemuda asing di hadapan mereka.
"Saya keponakan lek Pardi dari Jawa, baru datang kemarin sore.."
Jawaban Radit dijawab "Ooo...." hampir bersamaan oleh para mantan gadis itu.
"Itu loooh mas Ganteng, putrinya Pak Burhan, kasihan banget, sakit sudah hampir 2 minggu ini setiap malam dia selalu teriak teriak, lalu manangis meraung raung, padahal anaknya baik banget..."
Bukan ibu yang ditanya tadi yang menjawab pertanyaan Radit, justru seorang mahmud, mamah muda, berdaster bunga bunga yang menjawab dengan gaya yang dibuat buat.
"Oohh....kasihan ya bu..terima kasih ya ibu ibu, kami pamit pulang dulu, permisi...."
Radit mengajak Doni pulang, dia merasa risih dengan beberapa emak emak yang mulai aktif. Doni pun dengan cepat mengiyakan ajakan Radit, dia lebih merasa risih lagi karena salah satu emak emak dengan lipstik merah merona beberapa kali mengedip ngedipkan sebelah matanya kepada Doni.
Sesampainya di rumah lek Pardi....
"Lek, tadi kami motoran sampai ujung gang sana, banyak emak emak berkumpul disana, katanya anak Pak Burhan sedang sakit aneh, suka teriak teriak kalau malam hari.."
Radit menceritakan kejadian barusan kepada paman nya.
"Nanti malam tolong anterin kesana yaa, sekarang aku mau ke kebun sawit dulu, sudah cukup lama kutinggal"
Lek Pardi pun menstater motor nya lalu pergi menengok kebun sawitnya.
"Ditt.., kamu tadi merasakan ga ada aura gelap yang lumayan kuat dari rumah itu.."
__ADS_1
Ucap Doni serius.
"Hooh Don, bahkan aku juga sempat melihat sekelebat bayangan di dekat pohon samping rumah tadi.."
Jawab Radit dengan serius pula.
Sesuai rencana, setelah sholat magrib, lek Pardi mengajak Radit dan Doni untuk menjenguk anak Pak Burhan.
Took..tookk....Assalamu'alaikum...
Lek Pardi mengetok pintu rumah Pak Burhan.
"Wa'alaikum salam. Ooh Pak Pardi, silahkan masuk..."
Pak Burhan mempersilahkan dengan ramah, meskipun terlihat jelas dari matanya dia menahan kantuk yang teramat sangat.
Saat hendak masuk mengikuti lek Pardi dan Doni, Radit kembali melihat sesosok makhluk di samping pohon yang menatapnya dengan sorot mata tidak suka.
Jangan ikut campur, atau kalian semua akan kubuat seperti gadis itu....
Meskipun makluk itu tidak membuka mulutnya sedikitpun, namun Radit bisa mendengar dengan jelas apa yang disampaikan oleh makhluk itu.
"Maaf kan saya karena baru sempat menjenguk putri Pak Burhan, saya baru saja balik dari Jawa..."
Ucap lek Pardi berbasa basi.
"Ga papa Pak, jangan sungkan begitu.."
Jawab Pak Burhan dengan senyuman yang dipaksakan.
"Sakit apa putrinya Pak..?"
Tanya lek Pardi dengan volume agak dipelankan.
"Saya ga tau Pak, sudah dibawa ke Rumah Sakit, tapi kata dokternya tidak menemukan penyakit apapun. Dan yang membuat hati saya sangat sakit, dokter itu menyarankan untuk memeriksakan anak saya ke Rumah Sakit Jiwa.."
Jawab Pak Burhan dengan matanya yang berkaca kaca.
"Saya juga sudah memanggil beberapa Kyai dan orang pintar, tapi tetap saja kondisinya justru semakin memburuk..."
Lanjut Pak Burhan.
"Putri bapak bukan sakit biasa, dia diganggu makhluk halus, itu demitnya ada dibawah pohon samping rumah bapak..."
Sela Radit yang membuat Pak Burhan sangat terkejut.
"B..benarkah...mas..."
Balas Pak Burhan masih belum percaya. Lek Pardi menepuk pundak Pak Burhan sambil mengangguk, seakan membenarkan perkataan Radit.
"Kalau bapak mengijinkan, saya mau lihat putri bapak.."
Pak Burhan pun mengijinkan Radit dan Doni untuk melihat putrinya.
"Mari mas ikuti saya, putri saya ada dikamar belakang.."
Pak Burhan menuntun mereka menuju sebuah kamar paling belakang. Di dalam kamar ada istri Pak Burhan yang duduk disamping putrinya sambil mengaji dengan suara parau.
Diana, putri Pak Burhan tampak sangat kurus dan pucat, pandangan matanya tampak kosong, dan sekujur tubuhnya kaku.
Melihat suaminya datang bersama 2 orang tamu, istri Pak Burhan pun menghentikan ngajinya dan menyambut Radit dan Doni dengan ekspresi yang menyedihkan.
Tiba tiba Diana bangkit dalam posisi duduk, kepalanya miring miring dengan mata melotot tajam ke arah Radit dan Doni
Suara Diana pun berubah seperti nenek nenek dengan suara serak berganda.
__ADS_1
Kalian jangan ikut campur..,pergiii.....