Tabib Muda Dari Desa

Tabib Muda Dari Desa
BAB 22


__ADS_3

"Iki wit jati atos e koyo ngene iso ambyar, apa kena rudal nyasar yaa..."


Ucap Pak Lurah sambil garuk garuk kepala.


Ada bercak darah disini Paak....!!


Bagas bergaya bak detektif sambil memperlihatkan serpihan kayu dengan darah yang sudah mengering.


"Kemungkinan besar mereka sudah lewat sini, ini pasti darah salah satu dari mereka.."


Seru Bagas lagi yang masih dalam mode detektif dadakan. Artinya ini adalah sebuah petunjuk penting untuk melanjutkan pencarian.


Pak Lurah pun memerintahkan seluruh tim untuk berpencar di sekitar pohon tersebut, berharap ada petunjuk lain nya.


Pencarian benar benar berjalan sangat lambat, selain bercak darah tadi, sama sekali tidak ada petunjuk lain nya.


"Kita kembali ke desa, kita sudah terlalu jauh masuk ke hutan, jangan sampai kita kemalaman disini"


Dengan sangat berat hati Pak Lurah menyudahi pencarian. Mereka semua pun berjalan pulang, dan benar apa yang di ucapkan Pak Lurah, mereka sampai di ujung desa saat magrib menjelang.


Sementara itu di goa, Radit mulai membuka matanya perlahan, dia mencoba mengingat ingat kejadian yang dialaminya. Setelah beberapa saat, suara air terjun mengingatkan bahwa dia sedang berada di sebuah gua bersama Doni.


"Doon....!! Tangiii...wis esuk..!!"


Radit mengguncang guncang tubuh Doni agar segera bangun. Radit mengira remang cahaya dari luar goa adalah pertanda pagi menjelang. Namun dia salah, remang cahaya itu adalah bergantinya sore ke malam.


"Ayo dit goleki meneh..!!"


Ada rona penyesalan di muka Doni, dia tidak mencari Kumala tapi malah tertidur.


"Don..ini bukan pagi, lihat mataharinya, terbenam.."


Radit mematung di mulut goa, dia tidak percaya kalau ternyata sudah tidak sadarkan diri seharian. Doni pun diam membisu, artinya sudah 24 jam Kumala dan Fitri hilang.


Radit menepuk pundak Doni, seakan paham dengan apa yang sedang dipikirkan Doni.


Saat matahari sudah benar benar terbenam, muncul aroma harum itu lagi, Radit dan Doni seperti paham, mereka langsung memposisikan duduk bersila lagi, mereka berusaha menyatu dengan alam sesuai wejangan dari mbah Sulaeman.


"Kumaall....aku haus...rasanya sudah ga kuat lagi...."


Fitri yang sangat lemas hampir menyerah, sudah 24 jam mereka tidak makan dan minum sama sekali. Belum lagi teror dari demit demit sekutu ki Codet benar benar menjatuhkan mentalnya.


Sedangkan Kumala, dia lebih banyak diam, dia benar benar mencoba menghemat sisa sisa tenaganya. Bukan nya tanpa usaha, Kumala sudah mencoba menendang nendang, memukul mukul dinding ruang sempit nan gelap gulita tersebut, namun semuanya sia sia.


Waktu terasa begitu lama bagi mereka berdua. Namun harapan untuk ditemukan tetap masih ada.


Sementara itu, Pak Lurah memutuskan untuk melaporkan ke Polsek, karena mereka sudah hilang 24 jam. Jarak kantor Polsek dengan desa Sumber Wangi lumayan jauh, ditambah akses jalan yang sudah rusak, menambah lama waktu tempuh mereka.

__ADS_1


Radit dan Doni tampak mengeluarkan aura menyelimuti tubuh mereka, aroma harum masih tercium menenangkan jiwa.


Don... aku sudah tidak kuat...tolong aku....


Kepala Doni seakan menangkap suara hati dari Kumala, Doni mencoba bersikap tenang, dia mencoba menyatu dengan alam, alam pasti akan menunjuk kan jalan.


Radit pun sepertinya mendapat penglihatan, dia segera bangkit dan melesat begitu saja ke arah dimana Doni membunuh mbak kunti.


Doni pun ikut melesat menyusul Radit, badan mereka terselimuti aura yang seperti meledak ledak, gerakan mereka tampak sungguh enteng.


"Kamu sekarang bisa lihat demit demit itu kan Don.."


Tanya Radit yang berhenti berlari di dekat pohon tumbang.


"Iso Dit, sekarang lebih gampang buat kita membinasakan mereka.."


Doni pun sekarang sudah terbuka mata batin nya, mungkin Mbah Sulaeman lah yang membuka nya semalam.


"Dengarkan sebelah situ, aku mendengar suara nafas seseorang.."


Radit menunjuk ke arah genderuwo yang tampangnya begitu menyeramkan, mata merah menyala, dan 2 gigi taring yang terlihat sangat tajam.


"Berarti Kumala sama Fitri di sembunyikan oleh gendruwo jelek itu, ayo Dit pothol ndase...!!"


Balas Doni dengan amarah yang sudah terkendali. Aura ungu pekat langsung berkobar menyelimuti Doni, pun demikian pula Radit, aura hijau nya tampak meledak ledak menyilaukan.


Tiba tiba sebuah jenglot melesat dari samping menyasar leher radit ingin menghisap darah nya.


"Kreeekkkk....!!


Tanpa menoleh sedikitpun, tangan Radit menangkap jenglot itu dan meremasnya bagai biskuit. Seketika itu pula jenglot hancur jadi serpihan.


Radit dan Doni maju mendekati genderuwo yang kini menampak kan seringai nya, tatapan membunuh demit berbulu itu seakan akan ingin menelan mereka berdua hidup hidup.


Pyyuuuhhh....!!


Tiba tiba sesosok pocong melompat tepat dihadapan Doni dan meludahi nya, cairan hitam berbau sangat busuk itu tertahan oleh aura Doni yang makin membara.


Dheeesshhh.....


Tanpa babibu, kaki Doni melesat menendang pocong tak ber etika itu, pocong itu terlempar jauh entah kemana.


Melihat jenglot dan poci kalah dengan mudah, pasukan dedemit dari berbagai arah menyerang Radit dan Doni.


Ada kuntilanak, wewegombel, banaspati, siluman macan, dan berbagai makhluk halus menyeramkan lain nya. Hanya suster ngesot yang tidak tampak hadir disitu, entah apa alasannya.


Dan tentu saja tidak akan ada Badarawuhi. Karena ini KKN di desa Sumber Wangi, bukan KKN di desa penari.

__ADS_1


Radit dan Doni yang semalam baru saja mendapat tambahan kekuatan yang sangat besar, yang bahkan membuat mereka pingsan seharian, membantai para dedemit itu dengan mudahnya, tinggal genderuwo yang masih berdiri jumawa disitu.


Bisa dipastikan, genderuwo tersebut pasti pemimpin pasukan dedemit ini, aura nya pun berbeda, jauh lebih kuat.


Haaa...haaaa.haaaa.....!!


Genderuwo tertawa menggelegar membahana lalu menyerang Radit dan Doni dengan sangat beringas. Posturnya yang sangat besar, hampir 3 kali lipat tubuh Doni, tampak mengamuk dengan segala kesaktiannya.


Radit dan Doni pun menambah kekuatan mereka, kali ini tidak boleh main main lagi.


Aura mereka semakin tebal, tampak kilatan mata mereka begitu penuh intimidasi. Genderuwo masih tampak meremehkan, saat dia hendak menyerang, tiba tiba Radit dan Doni mengeluarkan aroma yang sangat wangi.


"Wangi iki....Sulaeman...."


Genderuwo tersebut kaget bukan kepalang mencium aroma yang sangat tidak asing bagi dia. Di masa lampau dia nyaris tewas dibantai mbah Sulaeman, dia hanya bernasib baik saja karena mbah Sulaeman mengira dia sudah tewas dan lalu meninggalkannya.


Nyali demit berbulu itu benar benar sudah jatuh, hal tersebut tidak disia siakan oleh mereka berdua. Sekali hentak, keduanya melesat dengan kecepatan tak terukur menyasar perut dan dada genderuwo itu.


Buuuggghhh.....arrrrgggghhhh.....!!!!


Terdengar jerit kesakitan membahana saat kaki Radit dan Doni menghajar dada dan perut, demit itu terlempar beberapa meter lalu memuntahkan darah berwarna hitam pekat dengan bau yang sangat busuk.


Tak puas sampai di situ, Doni benar benar melakukan apa yang tadi dia katakan. Doni melesat lagi, kini kakinya mengincar leher si wowo.


Modyaaaaarrrr kwee....!!!!


Dengan sekuat tenaga, tangan berselimut aura ungu pekat itu menarik kepala genderuwo sampai lepas dari lehernya. Dibantingnya kepala itu ke tanah.


Claappp......!!!!


Radit menembak kan ratusan sinar dari jari jarinya untuk memastikan bahwa genderuwo itu benar benar tewas. Perlahan tubuh genderuwo dan kepalanya yang sudah terpisah berubah menjadi debu berwarna hitam pekat, kemudian hilang tertiup angin.


Sementara itu, di kamar ritualnya tampak Ki Codet mengelepar gelepar seperti ayam yang baru disembelih. Semua sesajen dan benda benda klenik disitu hancur berantakan, seperti baru saja terjadi sebuah ledakan.


Memang, saat genderuwo tewas, tentu saja ber efek fatal pada tuan nya.


Akhir hayat Ki Codet benar benar mengenaskan, bahkan saat nafas nya sudah tersengal sengal hampir menemui ajal, 2 jenglot piaraannya yang tersisa, justru menggigit leher dan menghisap darah Ki Codet, sungguh tragis.


"Fitriii....!!! Banguuun...!! Kau dengar suara jeritan barusan, mudah mudahan itu Doni sama Radit"


Fitri yang juga mendengar suara teriakan kematian si genderuwo tersebut langsung memeluk Kumala, di matanya kembali terpancar harapan.


"Doniii....!!!! Radiiitt... !!! Kami disini....!!"


Dengan sisa sisa tenaganya Kumala berteriak parau memanggil mereka, berharap suara jeritan tadi adalah pertanda kedatangan Doni dan Radit.


Diittt, suarane Kumala...!!! Ning kene..!!

__ADS_1


__ADS_2