Tabib Muda Dari Desa

Tabib Muda Dari Desa
BAB 28


__ADS_3

Esok hari pun tiba, Lek Pardi dan istrinya sudah kembali dari penginapan. Setelah sarapan, mereka masuk ke kapal untuk menyeberang ke pulau Sumatra.


Doni yang baru pertama kali naik kapal pun merasakan mabuk laut.


Hoooeekkk.....


Doni beberapa kali bolak balik ke toilet karena muntah muntah.


"Kepalaku pusing banget Dit... Buruan sembuhkan..."


Ucap Doni sambil memijit mijit keningnya, dan satu tangan lain nya memegangi perutnya yang terasa sangat mual.


"Hahaha....ya ndak bisa Don, percuma kalau ku sembuhkan sekarang, ga lama kamu juga bakal mabuk lagi, sudah...nikmati saja dulu mabuk laut nya..."


Jawab Radit sambil tertawa.


Meskipun Radit juga baru pertama kali ini menyeberang laut, namun dia tidak merasakan apapun. Maklum saja, dia mempunyai ilmu kesaktian penyembuhan.


Lek Pardi dan Siti pun hanya tertawa kecil melihat ekspresi Doni saat mabuk laut, antara kasihan dan geli.


"Aku lapar sekali, semua isi perutku sudah habis..."


Ujar Doni dengan wajah memelasnya.


"Tahan lah dulu Don, nanti makan setelah sampai bakahueni saja. Mending kita kesana dulu saja, beli wedang jahe sambil ngrokok disana, siapa tahu mual mu berkurang"


Ajak lek Pardi lalu bangkit dari duduknya. Radit dan Doni pun mengikuti lek Pardi di belakangnya.


Di jaman itu, dia atas kapal banyak sekali penjual makanan, minuman, asongan, bahkan jual mainan anak anak pun ada. Entah kalau sekarang, mungkin sudah lebih rapi.


"Masih lama ga sih nyampe nya.."


Tanya Doni yang tampak sudah tidak sabar untuk kembali ke daratan.


"Paling setengah jam lagi kita sampai"


Jawab lek Pardi lalu menyruput kopi pahit nya.


"Kamu itu lho Don, mosok jagoan kok mabuk laut..."


Sahut Radit cengengesan dengan nada mengejek.


"*Raimuuuu Diiit, aku kan pendekar daratan, bukan pendekar lautan*..."


Jawab Doni dengan cengengesan pula.


"Ayo habiskan minuman kalian, kita sudah hampir menepi"


Perintah lek Pardi, lalu mereka menuju ke parkiran mobil.


"Aku saja yang nyetir, kamu istirahat saja dibelakang"


Lek Pardi menyuruh Doni pindah ke belakang, dia tak tega melihat wajah Doni yang sudah pucat pasi.


Radit yang duduk disebelahnya segera menyalurkan energi penyembuhan kepada Doni. Aura hijau tipis tampak menyelimuti telapak tangan nya, perlahan rona wajah Doni berangsur segar kembali.


"Aduuh....perutkuu...Diitt...."


Rintih Doni sambil meremas perutnya.


"Ya kalau itu aku ga bisa sembuhin, kalau lapar ya sembuhnya pakai makanan lah.. "


Balas Radit sambil memukul punggung Doni.

__ADS_1


"Ohh iyaaa...lupa aku....ayo mampir makan dulu.."


Sahut lek Pardi dari depan sambil menepuk jidatnya.


Mobil mereka pun menepi di sebuah rumah makan Padang. Doni pun terselamatkan.


Setelah selesai makan, kembali mereka melanjutkan perjalanan. Doni beralih lagi menjadi juru kemudi, dia sudah segar bugar seperti sedia kala.


"Di persimpangan itu, belok kanan, terus lurus saja ikuti jalan utama sampai ketemu POM bensin"


Ucap lek Pardi memberi petunjuk jalan.


Lalu tak ada lagi suara dari bangku belakang, lek Pardi sudah tertidur lelap. Pun demikian Siti.


"Jalanan lubang lubang begini, mereka bisa bisanya tidur pules.."


Bisik Doni kepada Radit.


"Ya memang begitu Paklek ku, diem sebentar aja langsung ketiduran.."


Balas Radit dengan volume sengaja agak dikencangkan, namun tak juga membuat mereka berdua terbangun.


Jalanan yang sudah berlubang dimana mana, membuat waktu tempuh menjadi lebih lama.


Hari sudah malam, lek Pardi menyuruh Doni untuk mengisi solar lalu menepikan nya di depan POM bensin kecil yang terlihat begitu kotor dan kumuh.


"Kita tidur disini, kita lanjutkan perjalanan besok pagi.."


Ucap lek Pardi lalu turun dari mobil dan menuju ke sebuah warung kopi yang tidak kalah kumuh nya dengan POM bensin di seberangnya.


Radit dan Doni pun mengekor dibelakangnya.


Di warung kecil itu sudah ada beberapa orang yang bernasib sama dengan lek Pardi, mereka menunggu pagi untuk melanjut kan perjalanan.


Seorang kenalan lek Pardi menyapanya.


"Ehh.... Minto, aku dari jawa, pengen nengokin mbakyu ku, kebetulan ada saudara yang nikahan juga.."


Jawab lek Pardi sambil menyalami tangan Minto, tetangga desa lek Pardi. Mereka pun terlibat obrolan ngalor ngidul tak jelas sekedar untuk membunuh waktu.


"Maaf lek, memangnya kenapa kita tidak boleh melanjutkan perjalanan di malam hari..?"


Tanya Radit menyela pembicaraan 2 pria dewasa tersebut.


"Bukan nya ga boleh dek, tapi demi keselamatan kita saja. Kami takut kena begal, sudah sering terjadi soalnya..."


Bukan lek Pardi yang menjawab, tp justru Minto yang mencoba menjelaskan keadaan disitu.


"Untuk mencapai desa berikutnya, kita harus menembus hutan yang berkilo kilo panjangnya. Kalau ada apa apa, ga akan ada yang nolongin kita.."


Sahut lek Pardi meneruskan penjelasan dari Minto.


"Kan kita bisa konvoi jalan bareng beberapa kendaraan gitu, pasti begal nya juga mikir mikir kan.."


Kini Doni ikut nimbrung dalam percakapan.


"Iya benar dek, tapi begalnya ini juga rombongan, ada yang bawa senjata tajam, ada pula yang bawa senjata api rakitan, pokoknya mending engga lah kalau saya..."


Jawab Minto lagi sambil menggoyang kan telapak tangan nya tanda tidak mau.


Radit dan Doni pun hanya manggut manggut. Alasan mereka sangat bisa dimaklumi.


Malam pun semakin dingin, lek Pardi dan Istrinya tidur di dalam mobil. Sedangkan Radit dan Doni masih di samping warung kopi.

__ADS_1


Pemilik warung sengaja menggelar beberapa tikar yang sudah tampak sangat lusuh, sengaja menyediakan sebagai tempat istirahat sementara ala kadarnya.


"Kira kira Kumala lagi apa yaa... Kangen aku Diit..."


Ucap Doni sambil merebahkan badan nya di gelaran tikar.


"Yang jelas dia lagi ga kangen sama kamu Don..."


Jawab Radit tertawa jahil.


Raimuuuu.....


Radit dan Doni pun larut dengan pikiran masing masing, tak lama kemudian mereka tertidur.


...****************...


Eeehheemmmm.....


Suara dehem Kumala yang sengaja dikeraskan mengagetkan Fitri yang sedang melamun di teras kost kost an.


"Kumaaallll....jahil amat sih, baru juga asik membayangkan masa depan..."


Gerutu Fitri dengan muka dilipat lipat.


"Cieeee.... Lagi mikirin si Radit yaa...."


Balas kumal yang kini lebih jahil dari pada Fitri.


"Iyaaa dong....mosok mikirin Doni...."


Jawab Fitri masih dengan nada kesal yang dibuat buat seimut mungkin.


"Sampai sekarang aku masih heran loh Pit, seperti sebuah dongeng saja. Mereka berdua mendapat kesaktian hanya lewat mimpi..."


Kini Kumala beralih ke mode serius.


"Seandainya saja yaah, kita juga mendapat kesaktian seperti mereka. Lalu kita gabung udah kayak pilem Power Rangers, aku jadi ranger Pink..."


Balas Fitri dengan pikiran nya yang semakin ngaco.


"Asliiii....kamu kebanyakan ngehalu Pit..."


Sahut Kumala sambil melorotkan tubuhnya di kursi.


"Tapi jujur nih Mal, kamu kepengen ketemu mereka lagi ga sih..."


Fitri pun ikut melorotkan tubuhnya agar sejajar dengan Kumala.


"Ya pasti lah...nanti kalau kuliah sudah selesai, aku rencananya mau liburan ke desa itu lagi..."


Fitri menegak kan kembali tubuhnya saat mendapat jawaban dari Kumala.


"Terus, kamu ajak aku juga ga.."


Tanya Fitri mengiba.


Gaaaaaakk.....


Jawab Kumala menggoda Fitri, lantas bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


Fitri hanya mendengus kesal dengan kejahilan Kumala.


Kumaaaaalllll...... Ayoo buruan selesaikan kuliahnya.....

__ADS_1


__ADS_2