Tabib Muda Dari Desa

Tabib Muda Dari Desa
BAB 26


__ADS_3

Tiba tiba terbit senyum kecil di bibir Radit, senyum yang penuh arti.


"Ayo ngopi di warung kang Ahmad, album foton nya biar disini dulu, kalau kamu bawa malah rusak kamu ciumin terus"


Doni hanya menyipitkan matanya melihat Radit yang tiba tiba bisa tersenyum, ada keanehan disana.


Anak ini mencurigakan.....


Doni pun mengekor Radit yang berlalu begitu saja menuju warung Vintage Kang Ahmad.


"Jangan jangan anak ini stress ditinggal Fitri, duuh, kasihan amat temanku ini...."


Ucap Doni lirih, namun masih bisa terdengar oleh Radit.


"Stress raimuu..... Wis tho.. Manuto aku, penaaak penaaak...."


Jawab Radit tanpa menoleh ke arah Doni, bahkan dia mempercepat langkahnya.


"Bukan gimana gimana Dit, kamu tho yang bisa menyembuhkan, lha kalau kamu yang stress, siapa nanti coba yang menyembuhkan.."


Balas Doni yang masih yakin sahabatnya itu sedikit terkena gangguan mental.


Radit diam saja, tak butuh waktu lama, sampailah mereka di warung. Radit segera memesan kopi susu, sangat tidak biasa. Kembali Doni hanya garuk garuk kepala melihat Radit bertingkah aneh.


"Kalian berdua kok bisa beli jaket baru bagus bagus kayak gini, tapi hutang kalian disini malah tidak di bayar, maksudnya gimana gitu..."


Celetuk Kang Ahmad yang memperhatikan jaket yang dipakai Radit dan Doni.


"Nganu Kang....ini jaket bukan yang beli, iki hadiah dari bidadariku kemarin itu lho..."


Jawab Doni malu malu sambil garuk garuk kepala. Radit hanya tersenyum tapi seakan akan pikiran nya tidak disitu.


...****************...


Keesokan harinya, mereka berdua skip jadwal nongkrong di warung Kang Ahmad. Radit dan Doni langsung menuju rumah Pak Lurah dengan memakai jaket baru pemberian para bidadari.


Mereka datang benar benar disaat yang tepat, tampak Fitri, Kumala dan kawan kawan nya sedang menaikkan barang bawaan mereka ke atas mobil. Radit dan Doni pun mempercepat langkahnya bermaksud membantu Fitri dan Kumala.


"Kamu keliatan makin ganteng pakai jaket ini..."


Ucap Fitri sambil cekikikan menggoda Radit. Kumala memutar bola matanya melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Yang ganteng cuma jaket nya, aku gantengnya udah lewat 17 tahun yang lalu, hehehe...."


Balas Radit kalem. Fitri pun hanya tertawa kecil seperti sedang menahan sebuah perasaan yang entah apa namanya.


"Tumben si Radit tampak cool banget, biasanya salah tingkah kalau digodain si Pitri.."


Bisik Kumala kepada Doni. Pun sama halnya, Doni juga heran dengan tingkah Radit semenjak kemarin.


"Iya eh, dari kemarin sikap nya agak aneh memang, anak itu benar benar mencurigakan..."


Balas Doni setengah berbisik pula.


"Aku pamit ya Don...sekali lagi terima kasih. Kamu baik baik disini.."


Kumala pamit kepada Doni sambil meninju pelan dada Doni. Mata Kumala kembali berkaca kaca, dia pun segera masuk ke dalam mobil sebelum air matanya menetes.

__ADS_1


"Diitt...aku pamit yaah, jaga kesehatan.."


Giliran Fitri pamit kepada Radit dengan beberapa air mata yang meleleh di sudut matanya.


"Kamu juga jaga kesehatan, baik baik disana...sampai jumpa lagi masa depan ku..."


Jawab Radit cool dengan senyuman yang menenangkan.


Fitri reflek menutup mulutnya dengan telapak tangan nya karena kaget mendengar kata kata Radit. Pun sama halnya Kumala dan Doni, mereka sama sekali tidak menyangka akan keluar kata kata itu dari mulut Radit.


Kumala yang sudah di dalam mobil pun hanya saling pandang dengan Doni dengan ekpresi heran mendengar Radit.


"Kalau begitu, sampai jumpa lagi di masa depan kita..."


Balas Fitri lalu masuk kedalam mobil.


Mobil Kijang kinclong yang dikendarai Bagas pun perlahan meninggalkan pelataran rumah Pak Lurah, Radit dan Doni hanya bisa melambaikan tangan sampai mobil itu pun hilang dari pandangan.


Note: Semua percakapan dalam bahasa jawa saya translate langsung ke bahasa indonesia sesuai permintaan dari beberapa pembaca setia novel ini.


"Kamu itu kenapa tho Dit... Asliii...aku jadi makin kuatir sama kamu. Kepalamu ga kenapa kenapa kan Dit..."


Doni memegangi kepala Radit mencari cari siapa tahu ada yang retak atau apalah.


"Huusss...sudah ku bilang kan, tenangkan hatimu, aku masih Radit yang sama..."


Jawab Radit yang kini dengan gaya cool yang dibuat buat.


Tak ayal Doni semakin tidak mengerti dengan kawan nya ini.


Gumam Doni lirih.


Radit yang masih bisa mendengar gumaman Doni pun hanya tersenyum lantas malah siul siul dengan suka cita.


Tiiinnn..tiiinnnn....


Baru setengah perjalanan, mereka dikagetkan oleh klakson mobil lek Pardi dari belakang.


"Dari mana kalian..., ayo masuk..."


Lek Pardi menghentikan mobilnya dan menyuruh mereka berdua masuk.


"Looh deek....kok kamu pulang..."


Tanya Radit yang kaget karena melihat adik perempuan nya ikut pulang.


"Hooh mas, asrama putri mau di pugar, jadi kami diliburkan dulu, kayaknya agak lama. Mas Radit dari mana emangnya..."


Jawab Kartika, adik Radit.


"Kakak mu dari nemuin calon kakak iparmu dek..."


Celetuk Doni membuat bu Anik dan Kartika kaget.


"Emang ada yang mau tho sama kamu Dit.."


Lek Pardi menyahuti dari depan. Radit pun hanya senyum senyum malu malu garangan.

__ADS_1


Tak lama kemudian, sampailah mereka di rumah bu Anik.


"Begini Dit... Aku sudah bilang ke ibumu, mumpung Kartika ada di rumah cukup lama, aku mau minta tolong kamu sama Doni mengantar lek mu ini pulang ke Jambi, dan ibu mu juga sudah setuju.."


Ucap Lek Pardi kepada Radit dan Doni. Bu Anik pun hanya mengangguk tanda membenarkan perkataan adik nya.


"Waahh...saya mau mau saja lek, tapi ga tau di kasih ijin sama emak bapak atau engga.."


Sela Doni mendengar ajakan lek Pardi.


"*Jangan khawatir, aku yang akan memintakan ijin ke orang tuamu, habis ini kita ke*rumahmu..."


Balas lek Pardi. Kemudian tak lama berselang, lek Pardi pun ke rumah Doni bersama Radit.


Dengan sedikit oleh oleh yang dibeli dijalan tadi, lek Pardi mengutarakan niat nya kepada orang tua Doni. Berkat negosiasi ulung lek Pardi, Doni pun diperbolehkan pergi ke Jambi.


Tampak rona wajah gembira di wajah Doni, keinginan nya untuk mencari pengalaman ke luar pulau sebentar lagi bakal kesampaian.


Lek Pardi pun lalu pamit kedua orang tua Doni, dan akan pulang ke Jambi keesokan harinya.


Malam hari nya Radit dan Doni mempersiapkan barang barang secukupnya untuk dibawa ke Jambi besok, tentu saja jaket pemberian Fitri dan Kumala masuk dalam daftar ter atas.


Singkat cerita, esok hari pun telah tiba. Radit maupun Doni sudah berpamitan kepada orang tuanya, tak lupa meminta doa restu beserta uang saku tentu saja.


"Doonn...berhenti sebentar, kita pamitan dulu sama Kang Ahmad..."


Radit meminta Doni menghentikan mobil di warung Kang ahmad. Lalu Radit mengajak Doni untuk menemuinya sebentar.


"Kang, kami mau ke jambi, ga lama, paling sebulan, jangan dikasih bunga utangku yaa, hehehehe...."


Radit berpamitan sambil bercanda dengan Kang Ahmad.


"Jangan kangen ya Kang..."


Sahut Doni cengengesan. Kang Ahmad pun hanya tertawa garing lalu menyalami keduanya.


Mobil lek Pardi pun kembali melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan desa Sumber Wangi. Doni yang bertugas sebagai juru kemudi, Radit duduk disebelahnya. Sedangkan lek Pardi dan istrinya duduk di bangku belakang.


...****************...


Sementara itu di kost Fitri dan Kumala...


"Heeiii masa depan nya Radit...!! Banguuun....molor mulu sih.."


Kumala membangunkan Fitri yang bangun sangat kesiangan karena semalam sama sekali tidak bisa tidur terngiang ngiang perkataan Radit.


Fitri pun bangun lalu merubah posisinya menjadi duduk, kesadarannya belum pulih sempurna.


"Mall...aku bermimpi Radit bilang ke aku kalau aku ini masa depan nya..."


Ucap Fitri sambil mengucek ngucek matanya.


"Mimpi lututmu geser....bukaannn...aku jg dengar sendiri kemarin dia bilang itu ke kamu..."


Jawab Kumala dalam mode judes. Fitri pun hanya melongo mencoba mengembalikan memori di otaknya.


"Radit..."

__ADS_1


__ADS_2