Tabib Muda Dari Desa

Tabib Muda Dari Desa
BAB 23


__ADS_3

"Doniii....!!!! Radiiitt... !!! Kami disini....!!"


Dengan sisa sisa tenaganya Kumala berteriak parau memanggil mereka, berharap suara jeritan tadi adalah pertanda kedatangan Doni dan Radit.


Diittt, suarane Kumala...!!! Ning kene..!!


Doni menunjuk ke arah dimana genderuwo tadi berdiri angkuh. Tewasnya demit berbulu tersebut tidak semerta merta membuka pagar gaib dimana Kumala dan Fitri di kurung.


" Ayo don kita hancurkan pagar pelindungnya bersama sama"


Ucap Radit dibalas anggukan oleh Doni.


Sekali lagi mereka mengeluarkan aura yang menyala nyala, mereka menempelkan tangan mereka ke dinding penyekat yang tak kasat mata tersebut.


Hanya butuh beberapa saat, dinding itu mulai retak di semua sisi. Di setiap retakan tersebut seperti bercahaya hijau terang, sama seperti aura Radit saat ini.


Praaaanggg.....!!!!


Pagar gaib itupun hancur lalu runtuh seperti abu. Kumala dan Fitri seperti mendapat tenaga baru, mereka langsung bangkit dan berlari memeluk Radit dan Doni.


"Sudah selesai...semuanya baik baik saja..."


Radit menenangkan Fitri yang menangis terisak di pelukannya, dia mengelus elus punggung Fitri. Pun demikian halnya Doni, tampak Kumala saking bahagianya meneteskan air matanya di pelukan Doni.


Tapi Doni lah yang paling berbahagia saat itu, angan angan nya selama ini bisa terwujud, berpelukan dengan Kumala.


"Kalian pasti sangat haus dan lapar, ayo kita ke sumber air"


Ucap Radit yang terdengar sangat mengesalkan bagi Doni, dia masih ingin berlama lama memeluk Kumala.


"Pegangan yang kuat..!!"


Doni menginstruksikan kepada Kumala untuk berpegangan di lehernya. Dengan aura yang masih menyala, mereka berlari melesat menuju air terjun dengan menggendong Kumala dan Fitri di punggung mereka.


"Minumlah dulu, nanti setelah kalian lebih baik, kita segera pulang, mereka pasti sangat mengkhawatirkan kita"


Ucap Radit kepada dua gadis ayu yang kini tampak sungguh berantakan itu.


Kumala dan Fitri tampak rakus meminum air yang sangat jernih tersebut. Dan entah metik dimana, Doni tiba tiba memberi beberapa jambu air yang tampak sangat segar itu.


"Apakah kita sudah aman...aku takut..."

__ADS_1


Tampak Fitri masih trauma dengan para dedemit yang sudah menerornya.


"Mereka semua sudah kumusnahkan, dan si genderuwo jelek itu sudah kucabut kepalanya, ga rela aku dia main culik culik Kumala"


Jawab Doni yang kembali bisa cengengesan.


Kumala pun hanya tersenyum kecil sambil melempar sisa jambu air yang digigitnya ke arah Doni. Tidak ada kejahilan Fitri kali ini, dia tak punya tenaga lagi untuk sekedar jahil.


Lalu Radit menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Kumala dan Fitri, dia membuang sisa sisa aura negatif sekaligus memberikan energi pemulihan bagi kedua gadis ayu itu.


"Kalau kalian sudah merasa lebih baik, kita pulang, lebih cepat lebih baik"


Ucapan Radit dibalas anggukan mereka bertiga.


Kemudian dua gadis itu digendong lagi di punggung masing masing, aura Radit dan Doni kembali meledak ledak, dalam satu tarikan nafas mereka kembali berlari melesat menembus hutan yang kini tampak terang oleh cahaya yang terpancar dari tubuh Radit.


Tidak sampai setengah jam mereka sudah hampir tiba di ujung desa. Dari kejauhan tampak banyak cahaya obor dan senter.


Beberapa polisi dan para warga memutuskan untuk mencari mereka malam itu juga.


Radit dan Doni masih menggendong kedua gadis itu, namun mereka sudah menyimpan aura nya, cukup Kumala dan Fitri yang tau.


Itu merekaaa....!!!!


Tanpa dikomando hampir seluruh orang yang disitu berlari menghampiri keempat orang tersebut. Ucapan puji syukur pun menggema di ujung desa Sumber Wangi.


Setelah sampai di rumah Pak Lurah, mereka berempat disambut oleh isak tangis bahagia. Suasana malam itu sungguh mengharukan.


"Kamu sebenarnya pergi kemana, kami benar benar sudah hampir hilang harapan"


Tanya Pak Lurah setelah para warga membubarkan diri.


"Kemarin saat hendak sholat magrib ke masjid, kami diculik makhluk halus Pak, kami disekap di hutan, untung Radit sama Doni menemukan kami"


Jawab Kumala yang masih menyisakan sedikit trauma. Sedangkan Fitri masih asik melahap makanan dengan rakusnya, dia sungguh kelaparan.


"Tempo hari mereka menyelamatkan anak ku, sekarang kalian, mereka benar benar diluar dugaan...."


Gumam Pak Lurah lirih.


Berbeda dengan Kumala dan Fitri, Radit dan Doni justru mendapat omelan tanpa jeda dari ibu mereka. Wajar saja, ibu mana yang tidak khawatir anak bujang nya hilang.

__ADS_1


Malam yang mengerikan sudah berlalu, mereka ber empat tidur dengan sangat pulas, terlebih lebih Kumala dan Fitri, mereka merasakan capek yang begitu luar biasa.


Keesokan harinya, mereka sudah tampak jauh lebih baik, walaupun masih menyisakan sedikit trauma buat Kumala lebih lebih Fitri.


Hari ini pun mereka berdua ijin kepada kawan kawan nya untuk tidak ikut ke balai desa, mereka ingin memulihkan kebugaran nya terlebih dahulu.


"Kok mbak Kumala sama mbak Fitri bisa diculik makhluk halus yaa, kata bapak sudah sejak lama di desa ini sama sekali tidak pernah ada isu makhluk halus"


Tanya Rahma yang ikut nimbrung di teras.


Rasa penasaran nya sangatlah wajar, sejak mbah Sulaeman membantai para dedemit di masa lampau, desa Sumber Wangi benar benar steril dari gangguan makhluk halus.


Kumala ingin cerita tapi takutnya nanti justru mengungkit trauma Rahma saat dilecehkan Angga, kumala berfikir bagaimana menjelaskannya. Belum sempat mendapat ide, Fitri sudah nyerocos bercerita, Kumala pun hanya menghela nafas.


"Jadi ceritanya gini dek, waktu Angga pelet dek Rahma kan pakai perantara jin, nah pas kita tolongin kamu itu, jin nya di bakar sama Radit, dibacakan ayat ayat ruqyah, naah ini temen nya ga trima deh, mau balas dendam, aku sama Kumal diculik buat mancing Radit, gituuuu..."


Fitri menceritakan tanpa rasa bersalah, Kumala pun mulai khawatir karena melihat ekpresi Rahma berubah, ada kilatan dendam dimatanya.


"Benar benar bawa sial saja itu makhluk mesum..."


Jawab Rahma dengan nada marahnya, namun yang dikhawatirkan Kumala tidak terjadi, Rahma memang sempat teringat peristiwa pelecehan tersebut, namun dia sangat beruntung karena baru di ***** ***** saja.


Mereka pun kemudian bercanda canda seperti tidak pernah terjadi apa apa. Justru dengan peristiwa peristiwa tersebut, hubungan mereka semakin dekat layaknya keluarga.


...****************...


Sementara itu di warung kang Ahmad yang bernuansa eksotis.


"Tak kiro kowe ilang tenanan cah, lak yo utangmu mau ga mau aku anggap lunas"


Celetuk Kang Ahmad dengan nada yang selalu menjengkelkan.


"Wolhaaa, eman utange dari pada nyowoku kang, asemm..."


Jawab Radit yang dibalas tawa cekikikan oleh kang Ahmad.


"Dit..ning nggone Pak Lurah yoo, cuma pengen memastikan kalau mereka berdua baik baik saja"


Doni tampak nya mulai ber alih ke mode garangan dengan sejuta modus.


"Helleeehhh..... omong ae pengen nemoni Kumala.! Aku gelem mbok jak mrono, tapi gendong yoo, wkwkwkwk...."

__ADS_1


Balas Radit sambil tertawa renyah.


"Kene tak seret tekan kono..!!"


__ADS_2