
Dengan gerakan tak terduga, Doni tiba tiba sudah berada di depan pria itu dan memberikan sebuah tamparan keras yang kembali membuat 2 giginya langsung copot.
Pria ompong itu jatuh tersungkur dengan mulutnya mengeluarkan sedikit darah.
Keparaaaaattttt kau......
3 orang kacung Sukarya lainnya langsung menyerang Doni dan Radit bersamaan saat melihat salah satu kawan nya dibuat rontok giginya.
2 orang masing masing menyabetkan golok mereka ke arah Radit dan Doni, satu orang lagi mencoba memukul kepala Doni dengan linggis ditangannya.
Doni melompat kebelakang sambil menarik tangan Radit yang reflek nya agak nge lag.
"Kowe lungguh o wae, tak atasane wong telu iki..."
(Kamu duduklah saja, biar aku atasi tiga orang ini)
Ucap Doni sambil memasang kuda kuda.
Sebagian energinya difokuskan di kaki kanan nya, lalu dengan satu hentakan kaki Doni tiba tiba saja sudah meluncur di rahang salah satu pria.
Dheeessshh....
Tak ada suara jeritan kesakitan dari pria itu, seketika dia tak sadarkan diri dengan rahang bergeser dari sendinya. Golok ditangan nya pun lepas, dan dengan gerakan yang sangat gesit Doni menangkap gagang golok tersebut.
Traaaaang......
Sebuah sabetan menyasar leher Doni dan dengan mudah di tangkis dengan golok di tangan nya. Golok yang sudah teraliri energi tenaga dalam, mampu membuat golok penyerangnya terpotong menjadi 2 bagian.
Buuugghhh...
Sedetik pria itu melongo melihat golok ditangannya putus, seketika itu juga kembali kaki kanan Doni melesat telak di ulu hati.
Erangan kesakitan dari pria itu justru membuat Doni lebih bersemangat, linggis yang hendak diayunkan kepadanya ditebas Doni putus tepat diatas genggaman tangan pria satunya.
Plaaaakkk.....
Tangan kiri Doni kembali beraksi, beberapa tamparan keras membuat sudut bibir dan hidung kacung itu mengeluarkan darah. Ditutup dengan pukulan sikut berputar yang diiringi suara retakan tulang pipi pria itu.
Radit benar benar menuruti perintah Doni, dia hanya duduk bersila di rumput sambil memperhatikan Doni yang seperti kesetanan menghajar 3 kacung itu dengan cukup sadis.
Sementara Rasti hanya mengintip dari balik tirai jendela dengan perasaan was was khawatir Radit dan Doni kalah.
"Siapa kalian...jangan campuri urusan keluargaku..."
Bentak Sukarya dengan kilatan amarah dimatanya.
"Saya sama sekali tidak mencampuri urusan keluargamu, saya hanya benci dengan pengecut yang hanya berani kepada seorang wanita...cuiiihh...."
Balas Doni lantang sambil meludah ke tanah.
Tentu saja ucapan Doni berhasil membuat Sukarya tambah marah, dengan mulut komat kamit Sukarya mencabut sebilah kujang dari sarungnya.
Aura negatif yang sangat kuat segera membuat suasana di sekitarnya menjadi mengerikan. Lampu lampu taman tiba tiba saja pecah terkena aura iblis yang berasal dari kujang Sukarya.
Lalu seperti ada awan hitam menaungi tempat itu disertai hawa yang sangat dingin. Radit bangkit dari duduknya dan lalu menghampiri Doni saling melindungi jika hal hal tak terduga terjadi.
__ADS_1
Kalian akan matiii....
Teriak Sukarya lantang lalu menghunuskan kujang nya ke atas dengan tangan yang bergetar hebat.
Kujang berukir pamor itu mengeluarkan asap berwarna hitam menyebar kesegala arah, asap asap hitam itu perlahan berubah menjadi puluhan sosok demit.
Semuanya hampir serupa, Demit dengan jubah hitam yang berkibar kibar, sobek hampir si semua ujung bawah nya.
Wajahnya tidak kelihatan, bahkan mata mereka berwarna hitam sempurna. Tangan mereka terlihat seperti hanya tinggal tulang berbalut kulit keriput dengan kuku kuku lancip memanjang yang tampak begitu tajam.
Mereka melayang layang mengitari Radit dan doni dengan suara suara aneh, suara mengerikan tapi menghipnotis siapun yang mendengarnya.
Radit dan Doni paham situasi, mereka berdua pun dengan segera mengeluarkan aura mereka. Warna hijau terang aura yang dikeluarkan Radit sangat membantu menerangi halaman rumah Rasti yang sudah gelap gulita ternaungi awan hitam misterius.
Whhhuuzzzzz......
Para demit itu berterbangan berputar putar sambil cakar cakar tajam mereka berusaha mencabik Radit dan Doni.
Aura ungu pekat dari kedua tangan Doni segera membentuk wujud tangan yang kali ini dimodifikasi oleh Doni mengeluarkan cakar untuk mengimbangi para demit jubah hitam.
Radit yang melihat Doni agak kuwalahan mengeluarkan jurus barunya, lima larik sinar hijau masing masing dari kedua tangan nya memanjang saling melilit dan menjadi 2 buah cambuk dengan ujung terbuka. Cambuk bermata 5 di kedua tangan Radit dipecutkan kesana kemari menghalau demit demit yang mencoba meraih mereka.
Suara aneh seperti dengungan ribuan tawon bersahut sahutan seiring para iblis itu menyerang mereka berdua dengan membabi buta.
Setiap demit yang terkena cambuk Radit maupun cakar aura Doni seperti meletup menjadi gumpalan asap yang memudar, namun tak lama asap itu kembali menyatu berubah lagi menjadi demit.
"Demit demit iki ora iso dipateni Dit...ndang pikirno coro liyane..."
(Demit demit ini tidak bisa dibinasakan Dit, segera pikirkan sebuah cara..)
Mata Radit langsung mengarah ke Sukarya yang dari tadi komat kamit sambil memegangi gagang kujang itu dengan kedua tangan nya yang bergetar.
"Kujang Don..."
Ucap Radit kepada Doni setelah dia mengetahui bahwa kekuatan para demit berjubah hitam itu berasal dari kujang yang dari tadi dimantrai oleh Sukarya. Doni mengangguk paham dengan apa yang dimaksud oleh Radit.
Serangan keduanya pun berpindah kepada Sukarya, puluhan demit itupun terbang seolah membuat pagar pelindung bagi Sukarya.
Beberapa kali serangan Doni dan cambuk 5 jari Radit nyaris mengenai tangan Sukarya, dia dan para demitnya terdesak.
"Sialan bocah bocah ingusan itu, mereka tahu kelemahanku....tidak ada cara lain...."
Gerutu Sukarya sambil beringsut mundur menjaga jarak agar tak terkena serangan dari dua pemuda itu.
Sukarya kembali komat kamit membaca mantra, kali ini terdengar keras suara nya dan lebih cepat.
Ukiran pada bilah kujang yang dipegang Sukarya tampak bergerak gerak seperti hidup, lalu tak lama kemudian muncul kembali asap hitam pekat dari kujang itu.
Asap asap itu masuk ke tubuh 4 orang kacung Sukarya melalui lubang hidung dan mulut mereka. Tiba tiba keempat orang itu seperti kejang kejang, matanya melotot, namun sekarang mata mereka sudah berubah warna menjadi hitam sempurna.
Keempatnya bangkit dengan mengeluarkan aura gelap siap untuk menyerang Radit dan Doni.
Kekuatan mereka menjadi bertambah berlipat lipat dari sebelumnya, bahkan sebuah tinju mampu membuat Doni terdorong ke belakang.
Mereka berdua kembali dihadapkan dengan dilema, bagaimanapun juga mereka melawan demit di dalam tubuh manusia. Namun mereka bisa celaka jika hanya bertahan.
__ADS_1
Kembali Radit berfikir cepat, dia menghajar kaki kaki keempat pria kerasukan itu dengan cambuknya. Dia ber asumsi, jika wadah yang digunakan sudah lemah, maka demit itu juga tidak akan bisa berbuat banyak.
Sementara Radit terus memecutkan cambuk nya ke arah kaki mereka berempat, Doni memukul sekenanya bagian tubuh mereka.
Siasat mereka berhasil, serangan ke empat pria itu mengendur dan justru berubah ke mode bertahan.
Sukarya berteriak teriak frustasi mengetahui demitnya bisa ditahan oleh Radit dan Doni, dia kembali merapalkan mantra. Telapak tangan kirinya disayat menggunakan kujang di tangan kanan nya, lalu darah yang keluar dari lukanya seperti terhisap oleh kujang itu saat di tempelkan.
Asap hitam kembali keluar, kali ini lebih pekat dan energi hitamnya pun jauh lebih besar. Sukarya mendongak ke atas sambil mulutnya terbuka, asap itu masuk semua ke tubuh Sukarya.
AAARRRGGHHHH.....
Sukarya berteriak seperti merasakan kesakitan yang sangat hebat saat asap itu merasuki tubuhnya.
Otot otot di tubuh Sukarya membesar, tubuhnya sekarang menjadi kekar dengan jalan darah berwarna hitam menonjol di bagian tubuhnya.
Sukarya sudah sangat paham, ini adalah ilmu sekali pakai. Kalah atau menang nanti, sebagian otot otot dan syaraf nya akan rusak. Bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan.
"Nganggo coro opo maneeeh iki Diit..."
(Mau pakai cara apa lagi ini Dit)
Ucap Doni yang mulai khawatir karena merasakan tekanan aura hitam dari tubuh Sukarya menjadi sangat kuat.
"Tetep incar Kujang itu..."
Radit menarik cambuknya. Lalu duduk pada posisi teratai penuh, Doni langsung berdiri di depan nya untuk melindungi jika tiba tiba Sukarya menyerangnya.
Radit mengambil sebanyak banyaknya energi positif di sekitarnya, tak lama kemudian aura hijau terang berkobar. Radit menyatukan telunjuk dan jari tengahnya, tiba tiba muncul aura memanjang laksana pedang di kedua jarinya.
Sllaaassshhh.....
Radit menghentak kan kakinya, dan dalam sekejab melesat menyerang Sukarya dengan pedang jarinya. Kujang ditangan Sukarya pun mengeluarkan energi yang tidak kalah kuat, suara dentingan nyaring terdengar memekak kan telinga saat pedang jari Radit beradu dengan Kujang iblis Sukarya.
Doni memanfaatkan kesempatan itu dengan melakukan hal yang sama dengan Radit sebelumnya, dia menyerap sebanyak banyaknya energi lalu mewujudkan aura ungu pekatnya menjadi seperti gada.
Kini Sukarya dikeroyok oleh kedua pemuda itu dari dua sisi, Sukarya yang dirasuki demit pun membabi buta menebas nebas ke segala arah dengan kujang nya.
Dentaaangg.....
Gada Doni beradu dengan kujang Sukarya menimbulkan percikan api, Radit melompat tinggi. Aura ditubuhnya semakin membara, bahkan area disekitarnya menjadi terang benderang.
Tercium aroma yang sangat wangi dari arah atas, Sukarya mendongak kaget saat Radit tiba tiba meluncur kebawah menghujamkan pedang jarinya ke arah kepala Sukarya.
Krraaaaakkkk......Dhuaaaaarrrrr.....
Sukarya menahan hujaman pedang jari Radit dengan kujang iblisnya, seketika itu terdengar suara benda remuk lalu terdengar suara ledakan memekak indra rungu.
Kaca kaca rumah Rasti pecah hancur berantakan terkena efek benturan energi, bahkan tidak sedikit genteng rumah berterbangan seperti tersapu angin topan.
Jeritan jeritan kematian puluhan demit nyaring bersahut sahutan, pun demikian demit demit yang masih merasuki Sukarya dan keempat kacungnya keluar dari tubuh mereka berbentuk asap hitam tipis, lalu lenyap begitu saja.
Awan hitam yang dari tadi menaungi halaman rumah Rasti pun perlahan hilang tertiup angin.
Wis rampung Don.....
__ADS_1