
Baru saja selesai masalah Diana, kini keponakan Pak Burhan gantian kesurupan. Dia pun segera bergegas menuju rumah Jamal.
“Maaf saya tinggal dulu sebentar, kasihan si Jamal...”
Ucap Pak Burhan kepada Lek Pardi.
Sebenarnya ingin sekali Pak Burhan meminta tolong lagi kepada Radit dan Doni untuk menangani Jamal, namun dia merasa sungkan karena sudah terlalu merepotkan sebelumnya.
Namun jiwa penolong Radit dan Doni yang tanpa pamrih menggerakkan hati mereka untuk menyusul Pak Burhan yang setengah berlari menuju rumah Jamal yang jaraknya sekitar 100 meter dari rumahnya.
“Ayo Don…olah raga meneh…”
(meneh \= lagi)
Radit berlari kecil mengejar langkah Pak Burhan sambil tangannya memberi kode kepada Doni untuk ikut dengannya.
Tak berselang lama, tibalah mereka bertiga di rumah Jamal. Di dalam rumah sudah ada beberapa warga sekitar yang membantu sesuai kemampuan mereka masing masing.
Ada yang mengaji berharap bisa sedikit menenangkan Jamal yang seperti orang kesurupan. Sebentar dia sadar, lalu sebentar lagi dia teriak teriak tak karuan sambil badan nya kejang kejang seperti menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Hal itu tentu saja membuat Yayuk, ibu Jamal dan kedua adiknya menangis histeris melihat kondisi Jamal.
Jamal sendiri adalah anak dari almarhum adik Pak Burhan, Ayah Jamal meninggal 3 tahun yang lalu akibat sakit paru paru.
Pak Burhan segera masuk membelah kerumunan orang di dalam rumah kecil Yayuk, lalu masuk ke kamar Jamal. Disitu ada Yayuk, adik ipar Pak Burhan yang tampak begitu khawatir dengan keadaan anak pertamanya.
“Sejak kapan Jamal seperti ini Yuk..”
Tanya Pak Burhan sambil memegang dahi Jamal.
Saat ini Jamal hanya diam nafasnya tersengal sengal seperti sedang kecapekan. Sebelumnya Jamal berteriak teriak sambil memukul mukul badan nya sendiri dengan mata melotot seperti hendak lepas dari rongganya.
“Baru tadi subuh Mas, semalam baik baik saja…”
Jawab Yayuk sambil mengusap air mata dipipinya.
Radit dan Doni akhirnya bisa sampai ke pintu kamar setelah agak kesulitan karena sebagai orang asing harus menjawab pertanyaan pertanyaan konyol dari orang orang yang berada disitu.
“Looh Deek…syukurlah kalian ada disini, saya sungkan mau minta tolong kepada kalian tadi…”
Ucap Burhan yang tampak bahagia melihat Radit dan Doni menyusulnya.
Namun rona kebahagiaan Pak Burhan hanya sesaat, Radit tidak menjawab sapaan Pak Burhan. Dia hanya diam memandangi Jamal dengan mata yang berkaca kaca, Radit menggeleng lemah tanpa sepatah kata pun. Doni menepuk pundak Radit dari belakang, hanya dia yang tahu mengapa Radit seperti itu.
“Kenapa Dek…bisakan sembuhkan ponakan saya…”
Ucap Pak Burhan dengan nada memohon. Raut wajah yang sebelumnya tampak bahagia kini berubah seketika dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Radit kembali hanya menggeleng lemah menjawab pertanyaan Pak Burhan. Dia menghela nafas cukup dalam, mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sesungguhnya.
“Mohon maaf Pak, Ibu… Saya hanya bisa menyembuhkan, saya sama sekali tidak punya kuasa untuk menunda kematian…”
Ucap Radit lirih sambil terus memperhatikan kondisi Jamal. Doni paham situasi, dengan hormat dia menyuruh orang orang yang berkerumun di depan kamar untuk keluar terlebih dahulu.
Sontak kata kata Radit di sambut dengan tangis histeris dari Yayuk dan kedua adik nya, Jamal yang menggantikan posisi ayahnya menjadi kepala keluarga sekaligus tulang punggung menjadikannya sangat dekat dengan ibu dan kedua adik nya.
Pak Burhan hanya menggeleng gelengkan kepalanya berharap kalimat Radit masih bisa di ralat. Dimata nya, Jamal adalah keponakan yang sangat baik dan sopan.
Tiba tiba Radit mendekati Jamal yang tampak ingin menyampaikan sesuatu, radit menempelkan telapak tangannya di dahi Jamal sekedar untuk memberi sedikit tenaga kepada Jamal untuk menyampaikan pesan terakhirnya.
“Ma..maafkan…saya paman…saya sudah melakukan dosa besar kepada keluarga paman…”
Ucap Jamal terbata bata dengan ekspresi seperti sedang menahan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya.
“Saya khilaf…saya telah menumbalkan Diana, tolong maafkan saya agar dapat mengurangi sedikit dosa yang saya perbuat…”
Lanjut jamal dengan pengakuannya.
Yayuk tiba tiba pingsan mendengar perkataan anak nya. Pak Burhan pun bagai tersambar petir, Jamal yang sudah dianggap anaknya sendiri tega melakukan hal yang begitu keji kepada anak gadisnya. Dia diam sejenak seperti sedang berperang antara pikiran dan hati nuraninya.
“Aku memaafkanmu…“
Ucap Pak Burhan singkat dengan dada yang terasa sangat sesak.
Ucap Jamal dengan tersenyum getir.
“Tidak perlu…biar kubawa Diana kesini…“
Sebelum Pak Burhan keluar, Doni mencegahnya, dia menawarkan diri untuk membawa Diana.
Sekitar 15 menit kemudian Doni kembali bersama Diana dan Ibunya, tentu saja Doni belum mengatakan hal yang sesungguhnya. Dia hanya bilang bahwa Jamal sedang dalam kondisi kritis.
Yayuk sudah sadar kembali saat Diana dan ibunya masuk ke kamar, sementara Radit masih sesekali menyalurkan energi nya ke tubuh Jamal sekedar hanya untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan Jamal.
“Kak Diana…maafkan aku telah berdosa besar padamu…aku sudah bersekutu dengan iblis lalu menumbalkanmu. Maafkan karena tak seharusnya aku mencintaimu…“
Ucap Jamal dengan berlinang air mata, penyesalan benar benar datang sangat terlambat.
Istri Pak Burhan sangat terkejut mendengar pengakuan dari Jamal, dia pun merasakan dilema, antara ingin marah dan iba melihat kondisi Jamal. Diana langsung faham kemana arah bicara Jamal.
“Aku ikhlas memaafkanmu, semoga dapat meringankan hukuman mu kelak…“
Jawab Diana dengan berbesar hati.
Jamal pun tersenyum mendengar jawaban dari Diana. Namun tidak dengan Yayuk dan yang lain nya, tangis mereka semakin pecah.
__ADS_1
“Cukup mas, terima kasih banyak…sekarang saya bisa pergi dengan tenang…”
Jamal meminta Radit untuk melepas tangannya, dan Radit pun hanya menuruti permintaannya.
Tak berselang lama, akhirnya Jamal benar benar pergi dengan senyuman terpatri di bibirnya. Yayuk kembali pingsan saat mengetahui anak sulung nya meninggal, sedangkan kedua adiknya menangis meraung raung mengguncang guncang tubuh kaku Jamal, berharap kakaknya bangun kembali.
Pak Burhan, istrinya, dan Diana pun ikut larut dalam kesedihan. Kejahatan Jamal kepada keluarganya seakan sirna begitu saja mengalir bersama tetes air mata mereka.
Salah seorang warga segera ke masjid untuk memberikan pengumuman kepada seluruh warga, tak butuh waktu lama warga berbondong bondong datang ke rumah Yayuk untuk membantu proses pemakaman. Jenazah Jamal dimakamkan hari itu juga tanpa kendala.
Setelah pulang dari rumah Yayuk, Pak Burhan bertanya kepada Diana yang sudah tampak lebih segar soal Jamal.
“Maaf ini nak, bapak cuma ingin tahu, memangnya apa yang kamu lakukan sehingga Jamal begitu tega menumbalkan kamu…”
Tanya Pak Burhan dengan hati hati.
“Sepertinya Jamal menyalah artikan kedekatan kami, dia sudah kuanggap saudara kandung. Tiba tiba dia bilang cinta ke aku, ya aku langsung menolak nya. Terus dia malah marah marah tak jelas lalu pergi begitu saja, trus beberapa hari berikutnya aku di ganggu demit sampai sakit itu Pak..“
Jawab Diana dengan ekspresi menyesal.
Jamal memang pribadi yang sangat baik dan sopan kepada siapa saja, Diana yang anak tunggal bahkan menganggap Jamal sebagai saudara kandungnya. Sangat disesalkan, hanya karena urusan cinta, jamal terperosok ke dalam perangkap iblis.
Keesokan harinya Radit dan Doni ke rumah Pak Burhan lagi untuk memastikan kesehatan Diana. Setelah dipastikan kondisi Diana sudah jauh lebih baik, mereka berduapun memutuskan untuk pergi ke kampung sebelah bersilaturahmi ke rumah Minto.
Dengan motor trail, mereka berdua menyusuri jalanan dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Setelah beberapa kali bertanya kepada warga, akhirnya mereka sampai di depan toko lek Minto yang lumayan besar. Sedangkan rumah Minto sendiri berada tepat dibelakang toko.
Radit dan Doni memarkir motor trail mereka persis di depan toko, lalu menuju rumah Minto.
“Welhaaa….ada tamu spesial rupanya…silahkan masuk mas…”
Minto tampak begitu sumringah melihat kedatangan Radit dan Doni. Meskipun masih tersisa sedikit kengerian saat mengingat kejadian tempo hari, Minto pun memilih untuk menjaga sopan santun dengan memanggil mereka berdua Mas.
“Waah…lumayan jauh ternyata ya lek dari rumahnya lek Pardi…”
Ucap Radit berbasa basi.
Setelah agak lama bercengkrama, tiba tiba Minto dipanggil Istrinya ke toko dengan gestur aneh. Minto pun minta ijin kepada mereka berdua untuk ke toko sebentar.
“Pak, ini lho ada perlu sama bapak katanya…”
Ucap istri Minto setengah berbisik sambil menunjuk ke arah 2 orang pembeli di warungnya.
“Maaf Pak Minto...jangan salah faham yaa…motor itu kepunyaan anak saya yang dibegal sebulan yang lalu. Apakah tamu Pak Minto itu begal..?
Tanya pria itu dengan raut wajah ketakutan.
Hahahahaha…..
__ADS_1