
Pemalak itu lari terbirit birit mendengar kalau jalan itu adalah milik kakek moyang Doni, dan mereka ber empat pun akhirnya bisa pulang tanpa gangguan.
"Nanti setelah lulus kuliah, rencananya kalian mau gimana"
Doni mengawali pembicaraan di perjalanan pulang mereka.
"Pengen nya kerja sih Don, biar ga ngrepotin orang tua terus"
Jawab Kumala ringan, namun sukses membuat Radit dan Doni tersindir, mereka berduapun hanya tersenyum garing.
"Terus, kapan rencananya kamu mau ngelamar aku Dit, hihihi...."
Fitri tak ada bosan bosan nya menjahili Radit yang selalu tanpa perlawanan.
Radit pun hanya salah tingkah, wajahnya memerah tanpa mengeluarkan jawaban.
...****************...
Tak terasa KKN di desa Sumber Wangi sudah selesai, Kumala dan kawan kawan nya akan pulang keesokan harinya.
Hari ini mereka berkeliling dari rumah ke rumah untuk berpamitan, tentu saja tidak semua rumah warga didatangi, sebatas jangkauan mereka saja, prioritas adalah rumah rumah warga disekitar mereka tinggal.
Rumah Radit dan Doni dikunjungi paling terakhir, karena letaknya memang paling ujung.
Doni yang sudah mengetahui rencana kepulangan Kumala pun memilih pergi ke rumah Radit, dia ingin berbagi kesedihan. Kebetulan bu Anik juga sedang bersama lek Pardi dan istrinya menjenguk adik Radit di pondok pesantren.
Doni rebahan di kursi tamu cukup lama tanpa berbicara, pandangan matanya menerawang entah kemana. Radit pun membiarkan sahabatnya yang sedang gundah gulana itu.
Menjelang sore, akhirnya rombongan KKN itu tiba juga di rumah Radit. Doni berjingkat segera bangun dari kursi panjang. Doni buru buru menyisir rambutnya dengan jari jari tangannya, dan langsung ikut menyambut mereka.
"Don, kok kamu disini, biasanya ngopi di warung"
Tanya Kumala sambil menyalami tangan nya.
"I...iyaa..., lagi bosen sama Kang Ahmad, hehehe..."
Jawab Doni kikuk.
Dipimpin Bagas, rombongan tersebut pun berpamitan secara formal. Tampak rona kebahagian para mahasiswa karena sudah menyelesaikan KKN mereka dengan baik.
Namun berbanding terbalik dengan Radit dan Doni, tersirat kesedihan di mata mereka. Sebentar lagi 2 gadis didepan nya akan segera pergi.
"Kalian duluan aja, bentar lagi aku nyusul"
__ADS_1
Ucap Kumala pada Bagas sambil melambaikan tangan nya. Bagas pun hanya mengacungkan jempolnya tanda mengiyakan, Bagas dan yang lain nya pun sudah paham dengan kedekatan mereka ber empat.
Ada yang beda dengan Fitri hari ini, dia sama sekali belum mengeluarkan kejahilan nya.
Fitri mengambil 2 bungkusan kado dari tas jinjingnya.
"Ini sekedar ucapan terima kasih dari kami sudah nolongin kami tempo hari, dan anggap saja sebagai kenang kenangan, biar kalian selalu ingat kami"
Ucap Kumala sambil menyerahkan bungkusan berbalut kertas kado tersebut, pun sama hal nya dengan Fitri, dia memberikan bungkusan nya pada Radit. Hening beberapa saat, mereka ber empat seperti larut dalam kesedihan.
"Buka dong..semoga kamu suka"
Pinta Fitri dengan mata berkaca kaca.
Radit dan Doni membuka bungkusan tersebut dengan sangat hati hati, setelah kertas kado berhasil terbuka, mereka melihat jaket yang sangat bagus dimata mereka.
"Pakailah, tempo hari saat kamu menggendongku, aku lihat jaketmu sobek, semoga jaket ini bisa jadi penggantinya"
Ucap Kumala yang matanya juga mulai berkaca kaca.
"Ini terlalu mahal buat kami..."
Balas Radit sambil memakai jaket yang kelihatan sangat pas dengan tubuhnya. Fitri dan Kumala hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Mereka ber empat benar benar larut dalam suasana. Radit maupun Doni tampak mengelus elus punggung kedua gadis ayu itu mencoba menenangkan tangis mereka.
"Terima kasih atas semuanya, hadiah ini tidaklah seberapa dibandingkan kebaikan kalian.."
Setelah beberapa lama, Kumala memecah kesunyian, namun masih tampak beberapa air matanya menetes.
"Oh iya, ini foto yang kita cetak kemarin, tolong kalian simpan baik baik"
Fitri kembali mengambil sebuah buku album foto dari tas jinjingnya, kemudian diserahkan kepada Radit.
"Kalian doakan kami yaah, semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi..."
Ucapan Kumala kembali seperti menyayat nyayat hati Doni maupun Radit.
"Bagaimana nanti jika aku sekedar ingin tau kabar kalian disana.."
Ucap Radit agak terbata bata, dia sekuat mungkin menahan untuk tidak meneteskan air mata.
Fitri pun mengambil secarik kertas dan bolpoin, kemudian menuliskan alamat tempat kost mereka, lengkap dengan nomor telepon kost.
__ADS_1
"Kalian sering seringlah berkirim kabar walaupun hanya lewat sepucuk surat.."
Ucap Kumala sambil memaksakan senyum di bibirnya, mencoba untuk menutupi kesedihannya.
"Eh kita foto lagi yuk, pakai jaket baru..."
Pinta Fitri memaksa. Kumala pun mengeluarkan kameranya, tampak Fitri memeluk manja pinggang Radit saat foto berdua. Pun bergantian Doni dan Kumala.
"Kami balik dulu yah, besok pagi kami semua akan pulang ke Semarang, kalau kalian sempat, datanglah ke rumah Pak Lurah"
Kumala dan Fitri akhirnya pamit dari rumah Radit. Radit dan Doni pun mengantar sampai depan rumah.
Namun baru 2 langkah, Fitri membalik kan badan dan berlari memeluk Radit dengan tangis yang semakin menjadi jadi. Kini Radit sudah tak kuasa menahan perasaannya, beberapa bulir air matanya pun jatuh.
Seakan memberi kode kepada Doni, Kumala pun menghampiri Fitri, kemudian mereka ber empat pun saling berpelukan.
Setelah beberapa saat, akhirnya Kumala dan Fitri benar benar pulang menyusul teman teman nya ke rumah Pak Lurah.
"Dit, ayo mlebu.."
Radit tampak diam memaku di halaman rumahnya, dia sama sekali tak tahu perasaan macam apa ini, belum pernah sekalipun dia merasakan nya.
Doni pun meraih tangan Radit dan membawanya masuk ke rumah.
"Iki perasaan opo tho Don, kok dada ku rasane nyeseg"
Ucap Radit dengan pandangan kosong. Doni pun menepuk nepuk pundak Radit, diapun merasakan hal yang sama, namun Doni mencoba tetap tegar.
"Kita ini cuma anak desa, pengangguran pula, apakah salah jika punya perasaan dengan cewek kuliahan dari kota"
Doni justru memperparah suasana. Keduanya lalu hening tanpa suara, mereka sibuk me-reka ulang setiap kenangan bersama Fitri dan Kumala di angan mereka.
"Jane aku pengen ngomong tresno, tapi aku sadar aku iki dudu sopo sopo"
Kembali Doni bermonolog, sedangkan Radit masih tetap diam membisu di kursinya. Mereka berdua benar benar membuat suasana menjadi lebih menyedihkan.
Tiba tiba terbit senyum kecil di bibir Radit, senyum yang penuh arti. Radit bangkit dari kursi lalu menarik tangan Doni.
"Ayo ngopi ning nggone kang Ahmad, album fotonya biar disini saja, kalau kamu yang bawa pasti rusak kamu ciumin terus"
Doni hanya menyipitkan matanya melihat Radit yang tiba tiba bisa tersenyum, ada keanehan disana.
Cah iki mencurigakan....
__ADS_1