
Dan betapa kagetnya Radit saat membuka kotak itu melihat beberapa gepok uang pecahan 50 ribuan. Saking kagetnya, kotak berisi uang itu terlepas dari pegangannya dan beberapa gepok uang itu jatuh ke lantai.
Duittt....Dooon.....
Mata Doni terbelalak melihat uang begitu banyak, Dia pun buru buru mengambil bungkusan yang sama di ranselnya.
"Iki juga duit Ditt...."
Ucap Doni sambil matanya melotot melihat isi bungkusan kado tersebut. Seumur umur baru pertama kali nya dia melihat uang sebegitu banyak.
Mungkin bagi sebagian orang sudah sangat terbiasa melihat atau bahkan mempunyai uang yang lebih dari itu, namun bagi Radit dan Doni yang berasal dari keluaraga yang sangat sederhana, jumlah uang tersebut sangatlah banyak.
Radit buru buru membereskan uang yang jatuh di lantai serambi masjid lalu memasuk kan nya kembali ke dalam tas, tak lupa ia mengambil beberapa lembar untuk dimasukkan ke dalam kotak masjid.
"Bos...2 anak itu punya banyak duit, mangsa empuk ini bos...."
Bisik seorang preman yang sedang nongkrong di warung kopi di dekat masjid.
"Siapkan senjata, kita akan kaya raya malam ini..."
Ucap pria yang dipanggil bos tadi dengan penuh percaya diri.
Setelah merasa cukup beristirahat mereka pun menyalakan motor mereka dan melanjutkan perjalanan. Kedua preman itu pun juga segera menyalakan motor lalu membuntuti Radit dan Doni.
Kedua preman itu menunggu saat yang tepat untuk merampas uang Radit dan Doni, jalanan masih cukup ramai.
Saat yang dinanti pun tiba, memasuki wilayah alas roban jalanan sepi dan minim penerangan. Mereka harus segera bergerak, di wilayah ini juga ada gerombolan preman yang menguasai daerah ini. Kedua preman itu tak ingin berselisih karena melanggar area kekuasaan.
Preman itu memotong laju motor Radit dan Doni tepat di depan mereka. Reflek Radit dan Doni menghentikan motor mereka.
"Berhenti kalian...!!! Serahkan tas nya pada kami..."
Bentak pria pembonceng sambil menghunus goloknya ke arah Doni.
"Mas...saya lagi capek banget...dari kemaren berantem terus aku, kalau mau uang tak kasih. Jangan halangi jalan, kami mau pulang..."
Ucap Doni kesal menghembuskan nafasnya kasar, dia mengambil uang dari dompetnya lalu dikasih kepada dua preman itu.
Plaakkk....
Preman satunya justru memukul tangan Doni yang memegang 2 lembar uang 50 ribuan.
"Aku bilang serahkan tas kalian atau ku cincang kalian..."
__ADS_1
Pria itupun juga mencabut golok di pinggangnya mencoba menakut nakuti Doni.
"Kalian budeg apa gimana...kami mau lewat...udah dikasih uang malah tambah galak..."
Doni masih berusaha mengontrol emosinya.
"Mas...tolong dengerin kata teman saya, uang itu sudah lebih dari cukup buat beli bensin sama buat beli rokok.."
Sahut Radit yang juga lagi males berantem.
"Kalian banyak omong, serahkan saja tas kalian dan kujamin kalian tidak akan kubunuh di tempat ini..!!"
Preman itu tampaknya sudah habis kesabaran menghadapi Radit dan Doni yang sama sekali tidak terlihat takut dengan ancaman golok mereka.
"Mas...tas ini isinya pakaian, juga ****** ku, lha kalau kalian minta, nanti aku ga pakai ****** piye..."
Doni pun merasa semakin kesal, Doni turun dari motor dan sekalian saja dia memprovokasi kedua preman itu.
Radit hanya geleng geleng kepala sambil menghembuskan nafasnya kasar, sebentar lagi mereka berdua pasti dibuat nangis oleh Doni.
"Biar mulutmu kusumpal dengan ******...bedebah kamu..."
Preman itu terprovokasi, dia menyabetkan golok ke tubuh Doni.
Plaaaakkk....plaaaakk....
Kembali Doni mengeluarkan aura di kedua tangannya, golok tersebut di tangkap lalu dibengkok kan sampai hampir patah.
Tangan satunya lagi menampar keras pipi preman itu beberapa kali. Preman satunya sigap langsung menyerang Doni juga.
Pleetaaakkkk....
Radit menjitak kepala nya dengan sangat keras.
"Jangan ganggu temanku, kamu serang aku saja..."
Ucap Radit kepada preman satunya dengan nada mengejek.
Masih sambil memegangi kepala atasnya yang sakit kena jitakan Radit, dia pun mencoba membabat dengan golok nya.
Sreett...sreettt....
Secepat kilat jari jari radit mengeluarkan sinar hijau seperti jarum menotok titik syaraf penyerangnya itu. Dan seketika itu juga dia sama sekali tidak bisa bergerak.
__ADS_1
Sedangkan Doni tak henti hentinya menampar preman satunya sampai pipinya kelihatan bengkak.
"Uwis Don...modyar kuwi mengko nek mbok keplaki terus..."
(Sudah Don, mati nanti dia kalau kamu pukuli terus)
Ucap Radit sambil menepuk pundak Doni dari belakang.
"Lha wong kok ngayelno lho...dikandani ora iso...penake diapake wong iki..."
(orang menjengkelkan sekali, dibilangin ga bisa. Enak nya kita apain orang ini)
Balas Doni sambil melayangkan satu lagi tamparan.
"Kae lhoo....akeh demit ning mburi wit witan kono, kekne demit kae wae, ben disodomi karo genderuwo kae..."
(Itu disana banyak demit di balik pepohonan, kita kasih saja ke mereka, biar disodomi sama genderuwo itu)
Perkataan jahil Radit langsung membuat kedua preman itu pipis dicelana. Membayangkan genderuwo saja mereka sudah ngeri, apalagi sampai di lecehkan oleh genderuwo.
Memang kawasan alas roban pada masa itu terkenal sangat angker dan sering terlihat penampakan makhluk halus. Tak jarang kendaraan yang lewat disitu mengalami kecelakaan karena gangguan dari makhluk makhluk astral.
"Ampuuun mas bosss...kami khilaf mas bos, jangan dikasih ke genderuwo ya mas bos...."
Preman itu merengek meminta pengampunan dengan badan gemetaran. Sementara temannya hanya diam saja karena memang ga bisa ngapa ngapain.
"Angkat kami menjadi muridmu mas boss...."
Kembali preman itu mengeluarkan kata kata dengan harapan Radit dan Doni berbelas kasih membiarkan mereka pergi.
"Untuk meyakinkan kalian, kubuka sedikit mata batin kalian yaa....itu mereka lagi melototin kalian...."
Entah sejak kapan Radit ketularan dengan kejahilan Doni. Dia mengeluarkan aura di telapak tangan nya lalu mengusap wajah kedua preman itu agar terbuka mata batinnya.
Lalu dia juga membuka totokan pada preman satunya.
"Whooooaaaaaa.......setaaaaaannn......"
Kedua preman itu berteriak ketakutan setelah melihat beberapa makhluk astral di antara pepohonan di pinggir jalan.
"Yuukkk kesana....tampaknya mereka suka sama kalian..."
Ucap Radit lagi sambil menarik tangan mereka.
__ADS_1
Ampuuuunnn.....mas bos.....kami tobat......