Tabib Muda Dari Desa

Tabib Muda Dari Desa
BAB 31


__ADS_3

Tiba tiba Diana bangkit dalam posisi duduk, kepalanya miring miring dengan mata melotot tajam ke arah Radit dan Doni


Suara Diana pun berubah seperti nenek nenek dengan suara serak berganda.


Kalian jangan ikut campur..,pergiii.....


"Dianaa....kuasai dirimu naak, ini ibu naak..."


Istri Pak Burhan memegang tangan Diana sambil terisak. Hati ibu mana yang tega melihat putrinya dalam kondisi seperti itu.


Diana yang sedang kerasukan demit menghempaskan ibunya sampai menabrak lemari disampingnya. Gadis yang kini kurus kering itu tiba tiba berlipat lipat tenaganya.


"Keluar dari tubuhnya nenek peyott....!!"


Radit mengeluarkan aura hijau tebal berusaha mengintimidasi si demit yang merasuki Diana.


Gadis ini milik ku.....


Kembali Diana menjawab dengan suara serak berganda. Tiba tiba dia melompat merayap di dinding kamar lalu menerjang kaca jendela hingga pecah dan belari menggunakan kedua kaki dan tangannya.


Pak Burhan dan istrinya yang berteriak histeris ditarik lek Pardi keluar dari kamar, khawatir terkena efek ledakan energi Radit dan Doni.


Kejar Doon....!!


Radit dan Doni pun melompat dari jendela lalu melesat dengan aura yang berkobar mengikuti arah Diana kabur.


"Don...kemana gadis itu, apa kamu bisa merasakan aura demit jelek itu..."


Radit celingukan mengedarkan pandangan ke segala arah, mereka sudah berada di tengah hutan tanpa penerangan sedikitpun.


Beruntung aura hijau terang yang dikeluarkan Radit sedikit membantu mereka, namun sekaligus menjadikan Radit dan Doni mudah ditemukan oleh si demit.


"Sepertinya kita kehilangan jejak Dit. Nenek nenek peyot itu menyembunyikan aura nya, aku sama sekali tidak merasakan nya.."


Pun sama hal nya dengan Radit, Doni memindai ke segala arah menajamkan penglihatannya.


Buuugghhhh....


Tiba tiba dari sebalik pohon Diana menerjang Doni dengan tendangan nya. Doni pun terhempas beberapa meter mengerang menahan sakit di pinggangnya.


Sebenarnya Doni sempat melihat datangnya serangan, namun ia ragu untuk melawan. Bagaimanapun juga demit itu masih menggunakan tubuh Diana sebagai tameng.


Dasar demit licik....


Gerutu Doni sambil bangkit lagi.


Lalu terdengar suara tawa melengking si demit sambil melompat dari satu pohon ke pohon lain nya.


"Dit...bagaimana caranya kita melawan demit itu, dia pakai tubuh gadis itu..."


Doni khawatir jika justru menyakiti Diana.


"Kita pancing demit itu untuk menyerang kamu lagi, saat dia lengah nanti kuikat seperti kunti merah kapan hari itu..."


Ucap Radit sambil mengangkat angkat sebelah alisnya ke pada Doni.


"Raimuuuu....biar demit itu menghajar aku dulu gitu maksudmu..."


Jawab Doni masih sambil mengelus elus pinggangnya yang linu.


"Wiis tho...ojo kuatir....nanti aku obatin kamu...."


Balas Radit enteng.

__ADS_1


Kedua pemuda itu bahkan masih bisa bercanda disaat genting, mereka memang agak lain seperti kata lek Pardi.


"Lha terus bagaimana cara memancing nya Dit..."


Sejenak mereka berfikir. Lalu muncul ide lagi dari Radit.


"Gampang Don, buka bajumu, provokasi saja demit itu...semoga demit nenek nenek peyot itu tertarik dengan brondong sepertimu..."


Ucap Radit sambil nyengir.


"Lha kok aku kebagian ora enak terus..."


Gerutu Doni dengan muka masam, namun tak urung melepas baju nya mengikuti ide Radit.


"Woiiii....nenek nenek peyooottt...sini dong...mending kamu bawa aku saja, ngapain kamu bawa bawa gadis lemah..."


Doni berteriak teriak memprovokasi demit itu agar keluar dari persembunyiannya.


"Don...dia mendekat, aku bisa merasakan detak jantung gadis itu, bersiaplah..."


Rencana Radit tampaknya akan berhasil, Demit nenek nenek peyot itu mungkin saja terpesona dengan tubuh atletis Doni.


Radit menyembunyikan auranya, lalu mengalirkan sebagian besar energinya ke jari jarinya. Sementara Doni masih terus berteriak teriak dengan kata kata yang sebagian bisa bikin muntah kalau saya tulis disini.


Oouugghhhh....!!!!


Tiba tiba sekelebat bayangan menghajar perut Doni. Dia pun jatuh terduduk bertumpu pada kedua lututnya.


"Jiancuuuukkkkk....."


Kini umpatan berhasil keluar dari mulut Doni karena sakit tak terkira di perutnya.


Sedangkan Radit tidak bisa mengikat tubuh Diana karena terhalang Doni.


"Sekali lagi Don, tajamkan semua indramu, sebisa mungkin kamu tangkap tubuh gadis itu..."


Doni memejamkan matanya mencoba menajamkan seluruh indra. Dan tampak nya jebakan mereka berhasil, demit nenek nenek peyot itu benar benar berhasrat untuk menguasai tubuh Doni.


Tubuh Diana meluncur dari atas pohon dengan kaki mengarah ke leher Doni, secepat kilat doni menghindar dengan menjatuhkan tubuhnya dan menangkap sebelah kaki Diana.


Sekarang Diittt....!!!!


Sllreeettt....


Sinar berwarna hijau terang melilit tubuh Diana, sekuat tenaga Radit mempertahankan lilitan nya. Diana meronta ronta sambil mengeluarkan jeritan jeritan memekakkan telinga dengan suara serak berganda.


Sesaat kemudian, tak terdengar lagi jeritan, tubuh Diana pun tak lagi meronta ronta. Namun terjadi hal yang tidak diduga, lilitan Radit yang semula berwarna hijau terang, perlahan lahan berubah menjadi kehitaman, tubuh Radit bergetar hebat. Radit merasakan energinya seperti terhisap oleh demit itu.


Dooon.....bantu aku......!!


Radit meminta Doni membantunya dengan menyalurkan energi, Radit sudah terlihat pucat pasi karena sebagian energinya sudah berhasil tersedot.


Melihat Radit yang sudah sangat kepayahan, Doni segera memposisikan duduk bersila di belakang Radit, aura ungu pekat segera berkobar, tangan kanan nya terangkat tinggi mengambil energi alam.


Lilitan sinar di tubuh Diana hampir berubah dengan warna hitam sepenuhnya, namun perlahan warna hitam itu memudar berganti dengan warna hijau kombinasi ungu.


Aaarrrrgggghhhhh......


Rasa panas yang luar biasa serasa membakar membuat demit itu keluar dari tubuh Diana dengan jeritan yang membahana.


Aura warna ungu pekat yang berkobar di tangan Doni tiba tiba membentuk tangan dengan kuku kuku runcing melesat menangkap kedua kaki demit peyot itu.


"Sekarang giliranku nenek peyot...."

__ADS_1


Doni membanting banting demit itu ke tanah beberapa kali, lalu menyabet nyabetkan ke pohon disekitarnya. Jeritan jeritan menyayat telinga keluar dari mulut demit itu, namun Doni tidak peduli, tanpa peri kemanusiaan, karena dia bukan manusia, Doni terus saja menghajar demit itu.


Sementara itu, Radit mengambil sebanyak banyak nya energi disekitarnya kemudian disalurkan ke tubuh Diana yang kondisinya bisa dibilang sedang sekarat, antara hidup dan mati.


Tubuhnya penuh dengan luka, detak jantungnya sudah sangat lemah, nafas nya tersengal sengal, dan kedua matanya sudah putih semua.


"Maaf aku harus menyentuh dadamu, Semoga ini bukan hari kematianmu...."


Batin Radit menempelkan kedua telapak tangan nya di dada Diana sambil menyalurkan sebanyak banyaknya energi penyembuhan nya.


Bosan membanting banting dan menyabet nyabet, Doni mencekik leher demit itu lalu satu tangan perwujudan aura itu menghantam berkali kali ke wajah nenek keriput dengan mata hitam sempurna nya. Sepertinya Doni ingin mengahiri sepak terjang demit itu secepatnya.


Tolooong aku....Ratu......


Dengan leher tercekik, susah payah demit itu meminta pertolongan kepada Ratu nya....


Seketika terdengar gemuruh disertai petir yang menyambar nyambar seperti tanpa jeda membuat hutan itu menjadi terang benderang laksana siang.


GRRRRR.....LEPASKAN ANAK BUAHKU....!!!!


Tiba tiba muncul siluman ular dengan kemarahan yang meledak ledak. Wujud nya sangat mengerikan, perut ke atas berwujud wanita dengan wajah yang mengerikan dengan mahkota diatas kepalanya.


Pupil matanya hanya seperti garis vertikal, tampak 2 taring di masing masing sudut bibirnya. Kulit wajah maupun tubuhnya seperti sisik sisik yang mengelupas, dan bagian perut kebawah berwujud ular.


Radit dan Doni merasa sesak nafas mendapat tekanan luar biasa dari aura hitam siluman ular tersebut.


Tak juga melepaskan demit nenek nenek tersebut, tangan siluman ular itu tiba tiba memanjang hendak menyerang Doni dengan cakar tajam nya.


Dheesss....


Kurang dari satu meter tangan itu hendak meraih kepala Doni, tiba tiba selarik kain putih menghantam tangan bersisik itu hingga terpental.


Lalu muncul seorang kakek kakek dengan pakaian serba putih berdiri menghadang siluman yang hendak menyerang Doni.


"Simbaah...."


Ucap Radit dan Doni lirih hampir bersamaan.


Jangan ikut campur urusanku Pak Tua....ini daerah kekuasaanku....


Hardik siluman itu kepada Mbah Sulaeman yang hanya tersenyum mengejeknya.


"Kalau kau mengganggu manusia, maka akan jadi urusanku, ora peduli ini daerah kekuasaanmu..."


Balas Mbah Sulaeman yang tampak begitu santai.


Gadis itu sudah ditumbalkan padaku, dia milik ku....


Ucap siluman sambil menyiapkan serangan.


"Karena kamu lah yang memperdaya mereka.."


Sahut mbah Sulaeman sambil mengusap usap jenggot putihnya.


Sementara Radit kembali memanfaatkan situasi untuk menyalurkan lebih banyak lagi energi penyembuhan kepada Diana.


Siluman itu pun murka lalu menyerang Mbah Sulaeman membabi buta. Tangan yang bisa memanjang mencoba mencakar muka, lalu ekornya pun tak kalah mengerikan menyabet mengarah tubuh mbah Sulaeman.


Kakek itu hanya melompat kesana kemari dengan ringan menghindari setiap serangan dari siluman tersebut.


Berkali kali ekor yang disabetkan luput dan menghancurkan pepohonan disana.


"Sudah cukuuppp....!! Kamu tidak bisa dikasih tau baik baik, jangan salahkan aku..."

__ADS_1


Tubuh Mbah Sulaeman tiba tiba terselimuti cahaya putih menyilaukan di sertai aroma yang sangat wangi membuat siluman ular itu terkejut.


Su..Sulaemaan......


__ADS_2