Tabib Muda Dari Desa

Tabib Muda Dari Desa
BAB 29


__ADS_3

Matahari mulai tampak naik dari arah timur, disertai suara kicau burung memanjakan indra rungu.


Rombongan lek Pardi kembali melanjut kan perjalanan, Siti tampak sudah tak bisa lagi menahan kangen untuk segera bertemu dengan 2 putra putri nya yang tidak bisa diajak ke Jawa karena bersamaan dengan ujian akhir tahun.


Dibelakang mobil lek Pardi, Minto dan adik nya mengekor dengan mobil pick up penuh muatan beraneka macam dagangan yang dibeli nya dari pasar induk untuk dijual kembali di toko kecil nya.


2 mobil itu melaju dengan kecepatan pelan menghindari lubang lubang yang beraneka ragam variasinya.


"Iki dalan opo kali asat tho jane..."


(Ini jalanan atau sungai yang mengering)


Gerutu Doni sambil tangan nya sangat sibuk memutar kemudi ke kanan kiri.


"Ini sudah mending Don...dulu pertama kali datang kesini, roda mobil harus di lilit rantai biar bisa muter..."


Sahut lek Pardi sambil tertawa.


Kira kira sudah setengah perjalanan mereka lalui. Lek Pardi menyuruh Doni untuk menghentikan mobilnya di bawah pohon yang cukup rindang.


"Kita istirahat sebentar, mesin mobilnya juga biar dingin dulu, kalau sampai mogok di sini, bisa ribet urusan..."


Titah lek Pardi yang di iyakan oleh semuanya.


Minto pun juga ikut beristirahat disitu sejenak, tangan dan pundak nya sudah sangat capek melakukan ratusan kali manuver menghindari jalanan berlubang.


Mereka duduk lesehan diatas rumput sambil berbincang ringan menunggu mesin mobil dingin.


"Dari tadi kita sama sekali tidak berpapasan dengan kendaraan lain, apa ada jalan lain.."


Tanya Radit heran sambil mengunyah biskuit.


"Adaa, tapi memutar jauh dan kondisi jalanan nya lebih parah dari ini. Biasanya selalu ada kendaraan yang lewat sini, meskipun hanya orang nyari rumput pakai motor.."


Jawab lek Pardi celingukan, dia pun baru sadar jika dari tadi sama sekali tidak ada kendaran yang berpapasan atau menyalip mereka.


Tiba tiba terdengar suara bising knalpot beberapa motor trail dari balik pepohonan.


"Naah ituuu...baru juga diomongin..."


Ucap Minto lega.


"Suaranya dari dalam hutan sana, siapa mereka..."


Doni tampaknya curiga.


"Paling orang nyari rumput atau ga ya nyari kayu bakar..."


Jawab lek Pardi santai.


Insting Doni berkata lain. Dan benar saja, ada 6 motor trail menuju ke arah mereka dan langsung mengepung mengitari lek Pardi dan rombongan.


"Serahkan semua uang dan perhiasan kalian, cepaaaattt....!!"


Bentak seorang pria berbadan kekar sambil mengacungkan pistol rakitan ke arah lek Pardi. Sedangkan ke lima kawan nya turun dari motor dengan menenteng golok, ada yang menghunuskan badik, ada pula satu pria yang malah menyalakan rokok dengan senyum sinis nya.

__ADS_1


Mendapat todongan pistol rakitan, lek Pardi gemetaran. Siti, Minto, dan adiknya, memilih pasrah dan melempar tas maupun dompet ke arah si penodong itu.


"Doon..."


Radit memberi kode kepada doni untuk melumpuhkan pria dengan pistol rakitan terlebih dahulu. Doni mengedipkan matanya sebagai tanda paham dengan maksud Radit.


Kini hanya menunggu saat yang tepat untuk melumpuhkan mereka.


"Woiii...kamu....serahkan barang berhargamu...!!"


Begal berpistol itu membentak Doni sambil mengarahkan moncong pistol ke arah mukanya.


Kraaaakkk....buuuggghhh....


Aura ungu pekat berkobar dan dengan sekali hentakan kaki, Doni melesat tangan kanan nya secepat kilat mencengkeram dan meremas pistol rakitan beserta jari telunjuk begal itu hingga remuk.


Belum sempat jeritan keluar dari mulutnya, lutut doni sudah mendarat telak di dada pria kekar itu. Hanya terdengar lenguhan lirih dari mulutnya, lalu pria itu pingsan.


Sreeetttt.....sreeetttt....


Saat Doni beraksi, Radit pun tak mau tinggal diam, puluhan sinar seperti jarum melesat mengenai titik jalan darah 4 pria lainnya. Mereka ber empat kini tak bisa bergerak seperti patung dengan mata mendelik dan mulut melongo terkena totok syaraf.


Radit benar benar menembak kan cahaya hijau laksana jarum itu dengan sangat ter ukur, kelebihan energi sedikit saja, bisa dipastikan keempat orang itu akan bolong bolong tubuhnya tertembus tembakan dari jari Radit.


Satu lagi pria yang tidak memegang senjata, tiba tiba gemetar hebat melihat kelima anak buahnya dikalahkan dalam hitungan detik. Rokok disela jarinya terjatuh saking tremor nya, mulut nya mendadak gagu, dan celananya tiba tiba basah beraroma pesing.


Sementara lek Pardi, Siti, Minto maupun adiknya sama sama ketularan gagu, mereka hanya melongo tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.


Ke enam begal ini sudah sangat termasyur akan kekejaman nya, bahkan aparat enggan untuk memburu mereka. Bagaimana bisa begal yang terkenal sadis tanpa belas kasih itu dilumpuhkan dengan sangat mudah hanya dengan satu kali serangan.


"Motor mu bagus baget, sudah lama aku pengen punya yang seperti ini....kalau buat aku saja boleh ga..."


Ucap Doni sambil mengamati motor trail disamping pria ngompol itu.


"I...iiyaa....bo...leeh...am..bil...sa...jaa..."


Jawab pria itu terbata bata dengan tubuh yang semakin gemetaran.


"Aku juga mau satu, yang ini saja...boleh kan..."


Radit ikut ikutan meminta motor pada ketua begal itu, dia memilih motor yang masih tampak baru.


"Woiiii....boleh gaaaa temenku juga minta 1 motor..."


Doni menepuk pipi pria itu karena tak menjawab pertanyaan Radit.


"B...bo...leehh....si..lah..kan bawa..."


Mendapat tepukan yang lumayan keras, akhirnya dia bisa juga menjawab pertanyaan Radit.


Apa yang dilakukan Doni dan Radit membuat lek Pardi dan yang lain nya semakin melongo hanya saling berpandang pandangan.


"Minta rokoknya dong, kebetulan punyaku habis.."


Doni semakin jahil mengerjai mental pimpinan begal itu.

__ADS_1


Dengan tangan tremor hebat, pria itu dengan sangat susah payah mengambil bungkus rokok dari saku jaketnya.


Keempat pria yang kena totok itu pun sebenarnya merasakan kengerian yang hebat, hanya saja mereka sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun. Hanya keringat yang mengucur deras membasahi baju mereka.


"Leeek...ayo kesini semua, berbaris disini..."


Radit memerintahkan lek Pardi dan yang lain nya untuk mendekat ke arah mereka.


Lek Pardi dan yang lain nya pun bergegas menurut saja apa yang diperintahkan oleh Radit. Di dalam hati kecil merekapun juga merasakan kengerian yang sama seperti para begal itu.


Lalu radit mengatur pula para begal berbaris rapi berhadap hadapan dengan lek Pardi dan lain nya, kecuali seorang yang belum sadarkan diri terkena lutut Doni.


Di tepuk nya tengkuk ke empat begal yang kena totok tadi agar bisa berbicara lagi, namun tubuh mereka masih kaku tak dapat digerak kan.


"Mas mas yang baik hatii....saya minta kalian hafalkan wajah wajah di depan kalian ini. Jika suatu hari nanti kalian menyentuh sedikit saja salah satu dari mereka, maka nasib kalian akan seperti ini..."


Triiinggg......


Radit mengangkat golok dengan tangan kirinya, lalu menembak kan beberapa cahaya hijau dari ujung jarinya ke bilah golok yang cukup tebal itu tepat di depan muka kelima begal itu.


Bilah golok itupun berlubang dibeberapa bagian terkena tembakan dari jari Radit.


"Bisa kan yaa...kalian mengabulkan permintaan sederhanaku..."


Tanya Radit mempermainkan mental para begal itu.


"B..bi...saa... Bang..."


Jawab mereka serentak dengan keringat yang semakin banyak.


"Okeee....kita sudah sepakat. Beneran kan boleh aku minta motor nya..."


Kembali Doni mendekati ketua begal itu sambil alis nya diangkat angkat.


"Ba..wa.. Aja Bang..."


Jawab pria itu sambil menahan pipis nya agar tak ngompol lagi.


"Kalau begitu kami pamit dulu, terima kasih motor nya, semoga menjadi amal ibadah kalian...titip salam buat temanmu yang masih pingsan itu..."


Ucap Doni sambil menaiki motor trail idaman nya. Dan para begal itu pun hanya menunduk sopan ketika motor di bawa di depan mereka.


"Leeek....ayo pulang...Nyetir sendiri ya lek, aku bawa motor soalnya, hehehe..."


Lek Pardi seperti terkaget mendengar ucapan Doni, dia masih belum percaya dengan semua kejadian baru saja.


"Eh iyaa...jangan khawatir, kalian akan bisa bergerak lagi setelah 2 jam, kami pamit dulu yaah..."


Ucap Radit dengan nada mengejek para begal itu.


"Kalian jalan duluan, aku sama Radit di belakang saja, dan satu lagi, jangan cerita soal barusan yaa, hehehe..."


Perintah Doni kepada lek Pardi dan Minto. Mereka pun mengangguk menuruti saja permintaan Doni.


"Mas....keponakanmu dan teman nya itu manusia apa alien tho...."

__ADS_1


__ADS_2