
“Maaf Pak Minto...jangan salah faham yaa…motor itu kepunyaan anak saya yang dibegal sebulan yang lalu. Apakah tamu Pak Minto itu begal..?"
Tanya pria itu lirih dengan raut wajah ketakutan.
Hahahahaha…..
Minto tertawa geli mendengar pertanyaan konyol tersebut. Bahkan dia masih ingat betul bagaimana para begal itu dipecundangi oleh Radit dan Doni.
Namun seketika tawa Minto terhenti begitu saja berganti secepat kilat menjadi raut wajah penuh kegusaran.
"Bagaimana caraku menyampaikan kepada mereka berdua....kalau mereka marah, bisa diobrak abrik rumah sekalian toko ku..."
Gumam Minto lirih sambil sedikit gemetaran.
"Loohh...kenapa Pak...."
Tanya pria itu keheranan karena melihat ekspresi Minto seperti orang yang sangat ketakutan, bahkan keringat mulai menetes disekujur tubuhnya.
"Aa....anu.... Anda bilang sendiri saja sama mereka..."
Jawab Minto terbata bata.
Tak urung pria bersama anak nya itu ketularan merasakan takut, pikiran mereka sudah kemana mana, jangan jangan tamu di rumah Minto memang para begal.
"Ayo Nak....kita pulang saja, nanti kalau panen sawitnya bagus bapak belikan lagi motor yang baru..."
Pria itu tidak mau ambil resiko, dia mengajak anak nya pulang meskipun si anak tampak sangat tidak rela melihat motor kesayangan nya.
"Kae ono opo tho Don... Kok koyono ono masalah..."
(Itu pada kenapa Don, kok sepertinya ada masalah)
Ucap Radit kepada Doni, dan langsung bergegas menghampiri Minto dan Pria itu.
"Tunggu dulu Pak, saya perhatikan dari dalam, sepertinya kalian ada masalah. Siapa tahu kami bisa membantu.."
Teriak Radit menghentikan langkah pria itu. Lek Minto pun semakin gelisah melihat Radit dan Doni menghampirinya.
"Ayo kita bicara di dalam saja lek, ga enak kalau jadi tontonan orang..."
Pinta Doni yang tidak bisa ditolak oleh Minto maupun pria bersama anaknya itu.
"Sekarang coba jelaskan kepada kami, biar tidak ada masalah lagi dikemudian hari..."
Ucap Radit dengan sopan.
Melihat tingkah laku Radit dan Doni yang sangat sopan dan menghormati, pria itupun memberanikan diri untuk bicara. Sedangkan Minto semakin was was, Minto terlalu over thinking.
"Sebelumnya saya minta maaf mas... Saya sama sekali tidak ada maksud menuduh atau sejenisnya. Salah satu motor yang mas pakai adalah milik anak saya yang dibegal sebulan yang lalu, beruntung dia dan temannya bisa melarikan diri..."
Ucap pria itu dengan sangat berhati hati sambil sedikit membungkuk kan badannya.
"Hahahaha.....lha tinggal bilang gitu dari tadi kan enak Pak...."
Doni tertawa keras mendengar ucapan pria tersebut.
__ADS_1
Minto merasa sangat lega karena sama sekali tidak melihat ekspresi marah dari Radit dan Doni.
"Jadi begini Pak ceritanya, tempo hari kami meminta motor ini dari para begal di tengah hutan. Syukurlah kalau ternyata motor ini milik anak bapak, berarti masih rejeki anak bapak..."
Sahut Radit menceritakan asal mula motor itu bisa ada padanya.
Terlihat dari ekspresinya, pria itu sungguh tidak bisa mempercayai kata kata Radit. Berbeda dengan Minto, dia kembali tersenyum mengingat betapa jahilnya Radit dan Doni saat itu.
"Trus...motor satunya lagi yang itu milik siapa..?"
Tanya Doni kepada anak pria itu.
"Itu kepunyaan temenku om. Pas kami motoran di pinggiran hutan kami dibegal, motor kami tinggal begitu saja trus kami melarikan diri..."
Jawab anak itu masih dengan muka penuh harap motornya bisa segera kembali kepadanya.
"Yasudaah....kamu bawa lagi motor mu, kuncinya masih disana. Motor temenmu sementara kupinjam dulu buat pulang ke desa sebelah. Nanti biar lek Minto yang mengantar mengambil motornya..."
Jawab Doni sambil tersenyum.
Meskipun Radit dan Doni sangat mendambakan bisa mempunyai motor trail seperti itu, namun mereka sadar bahwa motor tersebut bukan lah hak mereka.
Kedua bapak anak itu pun sangat senang mendengar kata kata Radit dan Doni. Sementara Minto tampak terharu dengan sikap kedua pemuda itu.
Pria itu merogok sakunya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas pecahan 50 ribuan dengan maksud diberikan sebagai tanda terima kasih.
"Mas...tolong diterima sedikit ucapan terima kasih dari saya..."
Ucap pria itu sambil menyodorkan uang di atas meja ruang tamu Minto.
Balas Radit tersenyum sambil menyodorkan balik beberapa lembar uang tersebut.
Minto bertambah haru dengan sikap kedua pemuda itu, bahkan mata Minto mulai berkaca kaca saking terharunya.
"Satu lagi, nama saya Doni, dan teman saya ini Radit. Tolong sebut nama kami dalam doa kalian..."
Sahut Doni tersenyum, lalu tiba tiba nyengir karena saat hendak mengambil rokok dari bungkusnya, ternyata sudah kosong.
Minto pun tanggap, setengah berlari dia mengambil 2 bungkus rokok dari toko nya dan langsung menyerahkan kepada Doni.
"Saya terima amanah mas Radit dan mas Doni, sekali lagi terima kasih banyak atas kebaikan mas mas, semoga Tuhan memberikan pengganti yang jauh belipat lipat..."
Setelah kata kata panjang penuh basa basi, akhirnya pria dan anak nya itu berpamitan dengan perasaan bahagia.
Radit dan Doni pun juga hendak berpamitan, namun buru buru dicegah oleh istri Minto.
"Mass....ndak boleh pulang sebelum makan...sudah kumasakin spesial mosok mau pulang begitu saja...."
Ucap istri Minto yang tiba tiba muncul dari dapur sambil menenteng panci berisi sayur.
"Siiiik tho Diit....ojo kesusu mulih, jare simbah ora apik nolak rejeki...."
(Tunggu dulu Dit, jangan buru buru pulang, kata kakek ga baik nolak rejeki)
Raimuuuu.....Doonn.....
__ADS_1
Doni yang sudah berdiri di ambang pintu hendak pulang, malah justru kini berbalik menuju dapur membantu istri Minto membawa lauk pauk ke depan.
Sayur sop panas dengan asap tipis mengepul diatasnya, ayam dan tempe goreng, serta sambel terasi yang meneteskan air liur siapapun yang melihatnya. Sungguh perpaduan yang sangat sempurna.
Istri Minto pun tampak begitu bahagia masakan nya dimakan dengan lahap oleh Minto, Radit dan doni.
Setelah menyisakan remah remah tempe goreng, mereka berdua pun akhirmya berpamitan. Sekarang mereka harus berboncengan karena motor Radit sudah kembali kepada yang berhak.
"Loohh....motor satunya mana...mogok dijalan apa gimana..."
Tanya lek Pardi karena melihat mereka berdua berboncengan.
"Sudah kukembalikan kepada pemilik aslinya lek, tadi kebetulan dia sedang belanja di toko lek Minto, yang ini juga besok mau diambil yang punya..."
Jawab Radit santai lalu duduk di kursi teras sebelah lek Minto.
"Wahh...ya ga jadi pulang ke Jawa naik motor Dit...."
Ucap lek Pardi yang sebetulnya heran dengan keponakan nya itu. Radit sama sekali tidak menampakkan ekspresi kehilangan ataupun penyesalan, lek Pardi sangat paham kalau Radit sangat menginginkan motor trail dari dulu.
"Gapapa lek, ntar bisa bareng lek Minto kalau dia pas mau kulakan ke pasar induk.."
Kembali Radit menjawab dengan kalem.
Keesokan harinya Radit dan Doni pergi bersama lek Pardi menuju kebun sawit milik nya. Berulang kali lek Pardi membujuk keduanya untuk tinggal lebih lama disitu, bahkan dia sudah menyiapkan lahan sawit untuk digarap jika mereka mau tinggal.
Namun penolakan yang selalu didapat juga oleh lek Pardi. Radit dan Doni lebih memilih kembali ke desanya, mengabdi sebatas kemampuannya.
Menjelang sore, mereka pun pulang. Sesampainya di rumah mereka dikejutkan oleh Pak Burhan beserta anak istrinya yang sudah menunggu beberapa saat di ruang tamu bersama Siti.
"Sudah dari tadi Pak...maaf baru dari kebun. Saya tinggal mandi sebentar..."
Ucap lek Pardi berbasa basi lalu bergegas membersihkan diri, pun demikian pula Radit dan Doni.
Tampak aneka makanan dan buah buahan dibawa Pak Burhan, dan diletakkan diatas meja.
"Pak Burhan kenapa repot repot begini, saya jadi ndak enak malahan..."
Ucap lek Pardi yang sudah selesai mandi lalu duduk menemui keluarga Burhan.
"Ini sekedar sambung silaturahmi, sekaligus sebagai ucapan terima kasih kami kepada Pak Pardi dan dua mas mas ini yang sudah menyelamatkan Diana..."
Balas Pak Burhan dengan senyuman yang sumringah.
"Kami ikhlas membantu keluarga Pak Burhan, jangan dianggap sebagai hutang budi Pak..."
Sahut Radit sopan dengan sedikit senyuman di sudut bibirnya.
"Kemarin saat awal Diana sakit, sempat terucap nazar dari bibir saya. Siapa saja yang bisa menyembuhkan Diana, maka akan saya berikan separuh dari harta saya. Ijinkan saya menuaikan nazar saya..."
Lanjut Pak Burhan dengan nada memohon.
Sontak kalimat Pak Burhan membuat kaget lek Pardi, dia tahu betul harta kekayaan Pak Burhan cukup melimpah.
Radit dan Doni pun tak kalah kagetnya....
__ADS_1
Saya kabulkan nazar bapak....