
Radit dan Doni tiba di rumah Pak Lurah dan disambut hangat oleh Kumala dan Fitri, tampak pula Rahma disana.
"Gimana kalian, baik baik saja kan.."
Doni mengawali pembicaraan dengan mode garangan on.
"Baik kok, hanya pegel pegel aja sih, kemarin kan dikurung ga bisa rebahan dengan tenang hehehe...."
Jawab Kumala cengengesan.
"Mas Radit, kata mbak Kumala setan nya dibakar mas Radit pake doa ruqyah yaa, perasaan mas Radit ga pernah mondok deh, kok bisa..."
Tanya Rahma yang ikut nimbrung di teras.
"Oohh, itu..iyaa..aku belajar sama adek...dia kan mondok"
Radit menjawab dengan gugup sambil garuk garuk kepala, dan yang lain nya pun hanya cekikikan.
"Don, bisa minta tolong lagi ga, anterin ke pasar besar lagi, pengen beli sesuatu"
Pinta Kumala dengan suara sedikit manja.
Ciieeeee......
Fitri pun sudah kembali ke mode jahil, artinya mereka benar benar sudah baik baik saja.
"Sangaaat bisaaa..! Apa sih yang engga kalau buat Kumala"
Kini mode garangan Doni sudah naik satu level. Radit hanya mengelus dadanya sambil beristighfar melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Paling aku tho sing mbok suruh meminjam mobil lek Pardi.."
Ucap Radit yang malah dibalas dengan tertawa oleh Doni. Tak lama kemudian mereka berdua pulang, tentu saja mampir dulu ke rumah lek Pardi untuk meminjam mobil.
"Dit, awakmu opo wis ora ngefans karo Rahma tho, biasane matamu lho jelalatan kalau lihat Rahma"
Ucap Doni di sela perjalanan mereka.
"Ngene Don, Rahma kuwi pancen mempesona, tapi dekne ki diluar jangkauan, mending mundur dari pada sakit hati..."
Jawab Radit enteng namun sok bijak.
"Heleeeeh, paling karena saiki ono Fitri, yoo.. Opo oraaa...."
Raimuuu....
Mereka pun tertawa lepas seolah lupa dengan status pengangguran mereka.
...****************...
"Eh kumall, mau beli apa sih, apa cuma modus kamu aja mau ngajakin Doni jalan"
Jiwa kepo Fitri pun keluar, sangat tidak biasanya Kumala mengajak cowok jalan. Selama yang dia tau, cowok cowok yang biasanya ngemis ngemis ngajak Kumala jalan.
Adaaa deehh.....
Jawab Kumala lalu meninggalkan Fitri begitu saja dengan keheranannya.
__ADS_1
Sore pun tiba, Radit dan Doni datang dengan mengendarai mobil lek Pardi yang masih kinclong. Tak lupa mereka meminjam beberapa lembar uang kepada lek Pardi sebagai pegangan, sungguh dua pemuda yang tidak bisa diharapkan.
Tampak di teras rumah Pak Lurah, Kumala menunggu sambil membenarkan ikatan rambutnya. Kumala yang memakai pakaian kasual dengan make up tipis ala kadarnya, justru tampak sangat natural kecantikannya.
Ciiiittt....
Derit suara rem mobil yang di rem mendadak hampir saja menabrak pagar halaman Pak Lurah. Doni hilang fokus saat melihat Kumala tersenyum menyambut kedatangan nya.
"Mataneeee ilhoo, mobil pinjam inii, ati atiii..."
Ucap Radit sambil menoyor kepala Doni. Dia pun hanya cengengesan.
"Yuk berangkat, biar pulangnya ga kemaleman"
Ucap Kumala sambil membuka pintu depan, Fitri pun segera duduk di bangku belakang bersama Radit.
"Radiit sayaang, makasih kemarin udah gendong aku"
Fitri mulai jahil dengan nada bicara yang dibuat buat, Radit pun salah tingkah mau jawab apa.
"I..iyaaa sa..yaang...sama..sa..maa..."
Jawab Radit terbata bata. Fitri dan penghuni bangku depan pun tertawa terbahak bahak membuat Radit ingin keluar melompat dari dalam mobil.
"Udah deehh... kalian jadian aja, udah pas banget ini moment nya, besok besok udah ga ketemu lagi lho"
Kali ini Kumala yang berubah menjadi jahil.
"Yaudah kita jadian bareng aja, aku sama Radit kamu sama Doni"
"Kalian tunggu diluar yaah, ga lama kok"
Ucap Kumala sesampainya di depan toko pakaian paling besar di pasar itu.
"Emang mau beli apa sih, kok kami ga boleh ikut"
Tanya Radit penasaran.
Dalemaaan.....!!
Jawab Fitri singkat lalu masuk begitu saja ke toko. Raditpun hanya cengar cengir membayangkan daleman.
"Kumal, kamu itu mau beli apa sih"
Tanya Fitri yang dari tadi belum tahu maksud Kumala.
"Aku pengen beliin Doni sama Radit jaket, itung itung sebagai rasa terima kasih sudah nolongin kita kemarin, sekalian buat kenang kenangan"
Balas Kumala sambil membolak balik rak jaket di depan nya.
"Buat Radit, aku aja yang pilihin"
Celetuk Fitri sambil cekikikan, lalu ikut memilih jaket di hadapannya.
"Mbak, tolong dibungkus pakai kertas kado yaa, dipisah masing masing"
Pinta Kumala kepada kasir toko tersebut. Setelah dibayar, mereka pun keluar toko.
__ADS_1
"Yuk mampir beli makan yang tempo hari, sambalnya mantep disitu, aku yang traktir"
Ajak Fitri dengan nada memaksa. Mereka pun mengiyakan permintaan nya.
"Kalian ga mampir ke warnet lagi? Mumpung sekalian disini"
Tanya Doni disela sela menunggu pesanan mereka matang.
"Engga Don, bentar lagi kita juga pulang kan"
Jawab Kumala yang tanpa sadar membuat hati Doni agak sedih, dan terbaca dengan jelas oleh Fitri yang sudah lebih berpengalaman dengan urusan asmara.
"Cieeeee....ada yang sedih mo ditinggal pulang..."
Doni mengangguk pelan sambil garuk garuk kepala. Kumala pun sebenarnya paham, namun dia pura pura tidak tahu saja.
"Maaf mas, bisa minta tolong fotoin kami"
Tiba tiba Kumala mengeluarkan sebuah kamera, dia meminta tolong kepada pengunjung lain untuk mengambil foto mereka ber empat. Doni dan Radit pun tampak sangat kikuk waktu sesi pemotretan.
"Aku fotoin sama Radit dong.."
Kejahilan Fitri kembali membuat Radit deg degan, Fitri mengambil tangan Radit untuk dirangkulkan di pundak nya.
"Sekarang giliran kalian, mana kameranya"
Fitri merebut kamera dari tangan Kumala, kemudian bak seorang pengarah potografi ulung, dia merapatkan duduk Kumala dan Doni, kemudian mengambil tangan Doni untuk dirangkulkan ke pundak Kumala. Mereka berdua pun tampak seperti kepiting rebus.
Setelah selesai makan, mereka pun berniat mampir di percetakan foto kemudian segera pulang, takut membuat Pak Lurah kawatir lagi.
"Kita cetak potonya sekalian yah, biar dipasang di kamar Doni, wkwkwk...."
Goda Fitri yang semakin jahil. Tak sampai setengah jam foto ukuran kartu pos pun sudah tercetak, masing masing 2 lembar.
Mereka berempat pun masuk mobil, dan akan segera kembali ke desa, namun....
"Woiiii, enak ae arep minggat, kene mbayar parkir sik...!!"
Teriak seorang pemuda bertampang sangar sambil menggedor gedor kaca mobil disamping Kumala.
"Nggih mas ngapunten, ini uang parkirnya..."
Doni turun dari kursi kemudi lalu menghampiri pemuda sangar itu, diambilnya satu lembar uang seribuan lalu dikasihkan ke pemuda tersebut.
"Matanee.... cuma seribu, tambahi sepuluh ribu, buat beli minuman.."
Hardik pemuda sangar tersebut. Sebetulnya seribu rupiah sudah lebih dari cukup untuk sekedar bayar parkir di masa itu, namun tampaknya niat pemuda sangar tersebut bukanlah minta uang parkir, tapi pemerasan.
Kreeeekkk....!!!!
"Kowe ngerti pora, sepanjang jalan ini, dari sini sampai sana banget adalah milik simbah ku, kowe wis tak kek i duit malah ngajak ribut..."
Doni terpancing juga amarahnya karena diperas, dipelintirnya telapak tangan pemuda itu sampai dia meringis kesakitan.
Ya tentu saja jalan itu bukan milik kakek moyang Doni, dia hanya improvisasi dikala emosi.
Minggaaato kono....!!!!
__ADS_1