Tabib Muda Dari Desa

Tabib Muda Dari Desa
BAB 32


__ADS_3

"Sudah cukuuppp....!! Kamu tidak bisa dikasih tau baik baik, jangan salahkan aku..."


Tubuh Mbah Sulaeman tiba tiba terselimuti cahaya putih menyilaukan di sertai aroma yang sangat wangi membuat siluman ular itu terkejut.


Su..Sulaemaan......


Ucap siluman ular itu sambil mengingat ingat sesuatu.


"Iyaa...ini aku..."


Jawab Mbah Sulaeman masih dengan gaya cool nya.


"Kau yang membinasakan bangsaku di tanah Jawa...jangan harap kamu bisa berbuat hal serupa disini, kau lah yang akan binasa...."


Hardik siluman ular itu dengan jumawa.


Meskipun siluman itu sudah mendengar kehebatan Mbah Sulaeman, namun dia adalah Ratu demit di hutan ini.


Kehadiran Mbah Sulaeman membuat Radit menjadi lebih fokus menyelamatkan Diana yang sedang dalam kondisi kritis.


Sedangkan Doni masih asyik memukuli demit nenek nenek itu hingga akhirnya demit itu berubah menjadi seperti debu hitam lalu hilang tertiup angin. Demit dengan wujud nenek nenek peyot itu binasa.


Siluman itu mendesis desis menjulurkan lidahnya yang bercabang kemudian mengangkat tinggi tinggi badan nya.


Binasakan tua bangka ini....


Dari belakang siluman itu muncul ratusan dedemit ber aneka ragam berteriak sahut menyahut menimbulkan suara yang menyakitkan gendang telinga, lalu menyerang Mbah Sulaeman bersamaan.


Whhuuuuzzzzz.....


Mbah Sulaeman mengibaskan jubahnya, seketika itu muncul ratusan atau bahkan ribuan jarum dengan sinar berwarna putih menyilaukan menyebar menembus demit demit dibarisan paling depan.


Teriakan dan lengkingan kematian para demit itupun kembali membahana di hutan angker itu.


Woooiiiii....bocah bocah gendeng....ini bagian kalian....!!!!


Teriak Mbah Sulaeman kepada Radit dan Doni yang hanya melongo melihat Mbah Sulaeman membinasakan sebagian anak buah siluman ular dengan sangat mudah.


Keduanya nyengir lalu melesat ke medan pertempuran. Sedangkan Mbah Sulaeman mundur mendekat ke arah Diana.


"Anak itu bisa diandalkan...."


Gumam Mbah Sulaeman sambil memeriksa kondisi Diana dengan kewaskitaan nya.


Lalu beliau menyalurkan sedikit energi penyembuhan nya ke tubuh gadis malang itu, guna mempermudah tugas Radit selanjutnya.


Radit dan Doni yang tidak ingin mengecewakan Mbah Sulaeman, menghabisi sebagian besar demit demit itu dengan sesegera mungkin.

__ADS_1


Jeritan jeritan kematian dedemit semakin memekakkan telinga, ada genderuwo yang hancur kepalanya oleh tinju Doni, ada mbak Kunti yang badan nya penuh lobang akibat tembakan mematikan dari Radit. Dan banyak lagi demit demit lainnya yang berakhir dengan cara yang sangat tragis.


Demit demit yang tewas itu seperti meledak lalu berubah menjadi gumpalan asap hitam, dan lenyap begitu saja terbawa angin.


Kini tinggal beberapa anak buah siluman ular di baris paling belakang, mereka bisa si sebut pasukan elite nya ratu siluman ular tersebut.


8 sosok pria berbadan kekar di depan siluman ular itu tiba tiba berubah menjadi macan kumbang yang langsung menyerang Radit dan Doni dari berbagai arah.


Sreeeetttt.....


Aarrgghhhh....


Radit berteriak menahan sakit, sebuah cakaran berhasil mengoyak punggung Radit, baju yang dikenakan nya sobek, dan terlihat 4 baris luka menganga akibat cakar siluman macan itu.


Radit memperbanyak aliran energinya, aura hijau terang kembali berkobar meledak ledak. Luka cakaran dipunggungnya perlahan lahan menutup dan sembuh sempurna tanpa meninggalkan bekas luka sedikitpun.


Radit belum pernah terlihat semarah ini, Hal itu membuat Doni semakin bersemangat, aura ungu Doni pun ikut berkobar.


Slaaashhhh.....


Binasalah kalian....!!!!


Radit menembak kan ribuan jarum dengan sinar hijau terang yang mustahil bisa dihindari siluman macan itu, 2 siluman macan terjatuh kembali ke wujud seperti manusia dengan ratusan lubang di seluruh tubuhnya.


Setelah memuntahkan berteguk teguk darah, 2 siluman macan tewas menyisakan debu hitam.


8 siluman macan itu benar benar dibuat mainan oleh Radit dan Doni. Siluman ular tidak menyangka pasukan elite nya dipermainkan seperti itu hanya oleh 2 orang pemuda tak jelas.


Whhuuzzzz.....booooommm.....!!!!


Kemarahan siluman ular sudah sampai ubun ubun, dia menyabetkan ekor nya ke arah Radit dan Doni, tak peduli mengenai anak buahnya juga dan menghancurkan beberapa pohon besar di sekitarnya.


Kedua pemuda itu berhasil melompat jauh kebelakang lolos dari sabetan ekor yang mengerikan tersebut.


"Menjauhlah dari sini...Lindungi gadis itu, dia bagianku...."


Ucap mbah Sulaeman lalu melesat ke arah siluman tersebut dengan aura putih yang lebih berkobar dari sebelumnya.


Cakaran tangan yang bisa memanjang, ekor yang disabet sabetkan dengan kecepatan tak terukur, membuat Mbah Sulaeman kesulitan melakukan serangan balik.


Beberapa sinar putih terang laksana jarum berhasil ditembakkan ke arah siluman ular, namun dia cukup sakti. Lubang lubang bekas tembakan tadi pulih sempurna dalam waktu yang sangat singkat.


Silumam ini punya ilmu rawa rontek rupanya....


Batin Mbah Sulaeman sambil terus mencari cara untuk bisa bertarung jarak dekat dan mencabut mahkotanya.


Mbah Sulaeman sangat paham bahwa kelemahan siluman ular itu ada di atas kepalanya, jika mahkota yang tertancap dikepalanya tersebut dicabut, maka tamatlah riwayat si ratu ular itu.

__ADS_1


Kini tembakan tembakan jarum diarahkan ke mahkota ular, sebagian mengenainya namun tidak berefek banyak.


Mengetahui musuhnya sudah menemukan kelemahannya, siluman ular mundur beberapa meter ke belakang. Kedua tangan nya diangkat tinggi ke atas, lalu seketika angin berputar putar di sertai kilatan kilatan seperti petir menyelimuti tubuh siluman ular itu.


Suara sangat berisik diikuti debu dan dedaunan yang berterbangan memaksa Mbah Sulaeman beringsut kebelakang menjaga jarak.


Siluman itu seperti menangkap 2 kilatan petir di kedua tangan nya, cahaya menyilaukan itu perlahan berubah menjadi sebuah busur panah di tangan kirinya, dan sebuah anak panah di tangan kanan nya.


Keduanya berbentuk seperti ular naga yang melilit, dengan aura gelap yang begitu dahsyat. Bahkan Radit dan Doni langsung merasakan pusing dan sesak nafas akibat aura yang menindas tersebut.


Binasalah oleh panah naga iblis ini wahai tua bangkaaa.....


Dengan rambut yang berkibar kibar, siluman itu mengarahkan anak panah naga iblis itu ke arah Mbah Sulaeman.


Kau pikir hanya kamu yang punya senjata, kita lihat senjata siapa yang lebih kuat...


Tangan kanan mbah Sulaeman terangkat tinggi, tiba tiba sebuah gada berwarna emas muncul di genggaman tangan nya. Seketika aura menindas dari panah naga iblis tersapu oleh aura yang keluar dari gada emas tersebut.


Slllaaaaaassshhh........Dhhuuuaaaarrrr........


Anak panah dilepaskan dengan kecepatan tak terukur disertai suara desingan yang sangat nyaring. Mbah Sulaeman menghentak kan kakinya menyambut kedatangan anak panah mengerikan tersebut dengan pukulan gada emas nya. Menimbulkan suara dentuman laksana bom atom yang di jatuhkan.


Efek benturan dua energi dahsyat tersebut sungguh diluar nalar, dalam radius beberapa ratus meter pohon pohon disekitar mereka bertarung hancur berantakan menjadi serpihan serpihan kecil dengan kondisi hangus.


Radit dan Doni mengeluarkan energi maksimalnya berusaha menjadi tameng bagi Diana, meskipun jarak mereka sekitar 100 meter dari arena pertempuran, mereka berdua masih merasakan efek yang luar biasa. Beberapa teguk darah keluar dari mulut mereka, namun Diana berhasil mereka lindungi.


Sesaat setelah tumbukan 2 senjata pusaka terjadi, anak panah naga iblis yang mengerikan tersebut perlahan retak sedikit demi sedikit lalu hancur menjadi debu.


Siluman ular berteriak histeris tak percaya senjata pamungkasnya bisa dikalahkan, Mbah Sulaeman tidak menyia nyiakan kesempatan.


Beliau menghentak kan kaki melesat dengan gada emas terangkat tinggi lalu menghantamkannya tepat di mahkota siluman ular tersebut.


Energi siluman itu sudah habis saat dia pakai untuk mengeluarkan panah naga iblis, kini hanya lolongan dan raungan pasrah saat gada emas mbah sulaeman menghantam kepalanya.


Kraaaaaakkkk.....


Kepala siluman ular itu pecah, namun mahkota dikepala nya itu hanya retak diseluruh bagiannya terkena pukulan mengerikan dari gada pusaka, sudah tidak ada lagi jeritan dari ratu demit.


Perlahan seluruh tubuh siluman ular itu seperti retak retak, berguguran seperti debu hitam, lalu hilang tersapu angin.


"Akan sangat berbahaya jika mahkota ini jatuh ke tangan yang salah...."


Gumam Mbah Sulaeman.


Mbah Sulaeman mengambil mahkota ular yang sudah retak retak tersebut, lalu mengangkat tinggi kedua tangannya, dan seketika itu gada emas dan mahkota ditangan nya hilang entah kemana.


Urusan dengan siluman ular sudah selesai, mbah Sulaeman tiba tiba saja sudah berada di belakang Radit. Beliau menempelkan kedua tangannya di kepala Radit dan Doni yang masih tampak sangat lemas kehabisan energi.

__ADS_1


Dasar bocah bocah gendeng....


__ADS_2