
Sontak kalimat Pak Burhan membuat kaget lek Pardi, dia tahu betul harta kekayaan Pak Burhan cukup melimpah.
Radit dan Doni pun tak kalah kagetnya....
Saya kabulkan nazar bapak....
Jawab Radit tegas.
"Bocah iki kok saiki moto duiten yaa..."
(Anak ini kenapa sekarang jadi mata duitan)
Gumam Doni lirih, heran dengan keputusan Radit menerima pemberian Pak Burhan.
Berbeda dengan Burhan dan istrinya, mereka begitu lega karena nazar mereka sudah terbayarkan.
"Separuh harta Bapak kini sudah jadi milik saya, namun perlu Bapak ketahui, saya sudah berjanji kepada simbah saya untuk tidak menerima imbalan dari orang orang yang saya tolong..."
Lanjut Radit dengan senyuman tulusnya.
"Separuh harta Pak Burhan yang sudah menjadi milik saya, detik ini juga saya serahkan kepada Diana. Tolong jangan berdebat lagi soal ini, jangan buat saya melanggar janji saya..."
Diana yang dari tadi memperhatikan Radit dan sesekali menjadi salah tingkah saat pandangan mereka bertemu, terkejut mendengar kalimat Radit.
Pun sama halnya dengan ibu bapaknya, mereka bertiga sama sekali tidak menyangka pemuda di depan mereka bersikap seperti itu.
Doni yang dari tadi gregetan, kini bisa tersenyum lega. Lek Pardi yang menjadi saksi pelimpahan harta bolak balik itu pun tampak begitu bangga kepada keponakannya.
"Saya rasa mas Radit sudah pada keputusannya, saya akan terima pemberian mas, asalkan saya boleh menjadi adik angkat mas Radit dan mas Doni...."
Diana yang dari tadi hanya diam dan sesekali senyum senyum ga jelas, kini angkat bicara.
"Tentu saja...saya dan Doni sangat bersedia menjadi kakak angkatmu, mulai sekarang kita bersaudara..."
Radit menjawab tanpa berfikir dua kali, pun Doni juga mengiyakan permintaan Diana. Semua persoalan sudah terselesaikan, mereka bertiga pun berpamitan pulang.
Namun ada yang tidak diketahui oleh Radit dan Doni, Diana adalah gadis yang sangat cerdas. Mereka berdua terkena umpan trik dari Diana.
"Tak kiro awakmu saiki kedonyan, jebul mbok baleke maneh..."
(Kupikir kamu sekarang lebih mementingkan keduniawian, ternyata kamu balikin lagi...)
Ucap Doni cengengesan setelah keluarga Pak Burhan pergi.
Raiimuuuu Doon....
"Njaluk udud e kene..."
(Bagi rokoknya sini)
"Kalian jadi pulang besok lusa...mbok disini dulu barang seminggu lagi..."
Ucap lek Pardi di smoking area belakang rumahnya.
"Kami kerasan lek tinggal disini, tapi kami juga kangen dengan orang rumah, hehehe...."
Sahut Doni sambil cekikikan.
Keputusan mereka sudah bulat, lek Pardi pun sudah tidak ada cara lagi untuk menunda kepulangan mereka.
__ADS_1
Singkat cerita, hari kepulangan mereka pun tiba. Radit dan Doni sudah siap dengan barang bawaan nya, kini hanya tinggal menunggu lek Minto datang.
Lek Pardi memberikan sejumlah uang kepada mereka sebagai pegangan di perjalanan pulang nanti, dan itung itung sebagai imbalan karena selama di situ Radit dan Doni selalu membantu pekerjaan Pardi.
"Don...ayo pamitan karo Pak Burhan sik..."
Radit mengajak Doni kerumah pak Burhan untuk berpamitan, bagaimanapun mereka sudah mengikrarkan ikatan persaudaran dengan Diana.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, muncul sebuah mobil dari tikungan dan berhenti tepat di depan Radit dan Doni.
"Looh..Pak Burhan....baru kami mau sowan kesana, malah sudah kesini..."
Radit dan Doni pun akhirnya berbalik arah karena melihat keluarga Pak Burhan malah datang kerumah lek Pardi.
"Kemarin mbak Siti bilang ke saya kalau kalian mau balik ke jawa hari ini, jadi kami kesini..."
Ucap Bu Burhan yang ternyata sudah mendapat kabar kepulangan mereka dari istri lek Pardi.
Lalu mengambil bungkusan berisi roti dan kue buatan Bu Burhan dan Diana sekedar untuk bekal perjalanan mereka.
"Mas Radit dan Mas Doni sekarang kakak ku kan...naah aku ada hadiah untuk kakak kakak ku, ini sekedar kenang kenangan dari adik baru mu ini, ga boleh nolak...."
Ucap Diana dengan mata berkaca kaca sambil menyerahkan sebuah tas jinjing berisi 2 kotak agak besar yang dibungkus rapi dengan kertas kado.
Kata kata Diana membuat Radit dan Doni tidak kuasa menolak pemberian dari saudara angkatnya itu. Merekapun memasuk kan masing masing 1 kotak pemberian Diana tersebut dalam tas ransel tanpa bertanya apa isinya.
"Terima kasih banyak kak...Terima kasih Tuhan sudah mengirimkan 2 malaikat ini dalam kehidupanku...."
Ucap Diana sambil memeluk Radit dan Doni bergantian, dengan air mata berlinang.
"Kamu sehat terus yaa, jaga ayah ibu kamu. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi..."
Terbawa suasana haru perpisahan, mereka sampai tidak menyadari kalau Minto sudah ada disitu. Akhirnya merekapun berangkat, Minto bersama adik lelakinya duduk di depan, sedangkan Radit dan Doni memilih duduk di bak belakang.
Mobil pick up Minto berjalan pelan menghindari lobang lobang yang terasa semakin banyak, sekitar 1 jam lebih dia mengemudi, tiba tiba minto menghentikan mobilnya.
Di depan ada kawanan begal yan tempo hari di ambil motornya oleh Radit dan Doni, Minto berfikir mereka akan membalas dendam. Minto dan adiknya turun dari mobil dengan gemetaran.
"Loohh, kae begal sing mbok antemi Don..."
(Itu begal yang kamu pukulin Don)
Ucap Radit yang heran karena Minto tiba tiba berhenti. Doni yang dari tadi duduk menghadap belakang pun reflek membalikkan badannya melihat 6 orang berjalan cepat menghampiri Minto yang tampak sangat ketakutan.
Radit dan Doni melompat kedepan Minto dan adiknya khawatir akan keselamatan mereka, namun dugaan mereka salah.
Para begal itu membungkuk meraih tangan mereka berempat satu persatu lalu diciumnya punggung tangan mereka bergantian.
Tentu saja mereka berempat malah bengong diperlakukan seperti itu oleh ke enam begal itu.
"Kalian masih jadi begal..."
Ucap Doni menjahili para begal itu.
"E...engga...mas....beneran....kami cuma patroli, siapa tau ada mobil mogok atau ban kempes, kami bantu, terus seikhlasnya saja mereka mau ngasih berapa..."
Jawab ketua begal itu dengan menundukkan wajah, dia sama sekali tidak punya nyali untuk bertatap muka dengan Doni.
"Lek Minto, kita istirahat dulu di bawah pohon itu..."
__ADS_1
Perintah Radit kepada Minto.
"Ayo kalian juga kesini, temani kami istirahat..."
Radit juga mengajak 6 orang begal insyaf itu untuk istirahat. Dia mengambil roti dan kue yang dikasih Diana, lalu memakan bersama ke enam orang tadi.
Doni senyum senyum ga jelas melihat para mantan begal itu yang kelihatan selalu menunduk dan salah tingkah, bahkan tangan mereka masih terlihat gemetaran saat mengambil kue yang dikasih Radit.
"Aku dan temanku ini cuma pergi sebentar, kami akan sering bolak balik kesini. Kami pergi dulu..."
Ucap Doni sedikit berbohong agar para begal itu tidak kembali ke profesi sebelumnya. Lalu mereka pun melanjutkan perjalanan. Minto memaksa untuk mengantarkan mereka sampai pelabuhan, Radit dan Doni pun hanya menurut saja.
Seperti keberangkatan mereka sebelumnya, kini mereka pun harus menunggu keesokan harinya lagi untuk menyeberang ke pulau Jawa. Mereka pun memutuskan untuk tidur di serambi masjid agar lebih menghemat pengeluaran.
Pagi hari pun datang, setelah sarapan mereka membeli 2 lembar tiket lalu masuk ke dalam kapal. Sebetulnya bisa saja mereka langsung naik bus dari terminal, dan tidak perlu repot repot membeli tiket di pelabuhan.
Setelah beberapa jam penyeberangan yang membuat Doni mabuk laut, akhirnya sampai juga mereka di pelabuhan Merak Banten.
Radit dan Doni berniat menghabiskan hari untuk sekedar jalan jalan di kota itu, lalu pulang ke Jawa Tengah keesokan harinya lagi.
"Seumur umur durung tau aku turu ning penginapan Dit, ayo njajal kepiye rasane..."
(Seumur umur belum pernah aku ngrasain tidur di penginapan, ayo kita coba bagaimana rasanya)
Ucap Doni saat nongkrong di salah satu angkringan.
"Aku yo durung Don, yawis ayoo...tapi kamar sing murah wae yoo..."
(Aku juga belum pernah Don, yasudah ayo, tapi kamar yang murah saja)
Jawab Radit lalu membayar jajanan mereka dan menuju ke sebuah hotel kelas melati dengan papan nama berkelap kelip mirip odong odong pasar malam.
Setelah check out di pagi hari, mereka pun berniat langsung menuju ke terminal bus. Namun mereka tidak tahu harus naik apa untuk bisa sampai kesana.
"Permisi Pak, mau tanya, kalau mau ke terminal dari sini naik apa yaa..."
Tanya Radit sopan kepada seorang penyapu jalan.
"Oohh, tunggu aja disini dek, nanti naik angkot nomor 2.."
Jawab bapak bapak penyapu jalan itu ramah.
Mereka pun mengikuti saran bapak bapak tersebut, mereka menunggu di depan sebuah dealer motor bekas yang lumayan besar dan lengkap dagangan motornya.
Mata Doni tak pernah lepas dari sebuah motor trail yang mirip dengan motor yang pernah dimilikinya sesaat kemarin.
Si pemilik dealer memperhatikan Doni dan Radit yang tampak tertarik dengan dagangannya, lalu membisikan sesuatu ke telinga salah seorang karyawatinya.
Dengan segera mbak mbak itu pun menghampiri Doni dan Radit.
"Silahkan mas... Mas suka motor yang mana..."
Sapa mbak dealer cantik dengan ramah.
"Cuma lihat lihat kok mbak... Pasti nya motor itu sangat mahal kan, uang saya ga cukup..hehehe....."
Jawab Doni cengengesan karena menahan malu, tapi telunjuknya mengarah ke sebuah motor trail yang walaupun second masih kelihatan seperti baru.
Silahkan pilih yang mas mas suka, ini gratis buat mas....
__ADS_1